Halo!

Han Bu Kong - Chapter 97

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 97

Di sekeliling ruang luas ini berderet sebaris meja, semuanya dilapisi taplak berwarna hitam. Dalam jarak dua hingga tiga kaki, tergeletak sebuah tempurung, dan di depannya terdapat sebuah *lengpai* (papan kayu bertuliskan nama orang yang sudah meninggal). Suasana tampak begitu seram.

Di tengah ruangan besar tersebut terdapat sebuah dipan. Di atasnya, berbaring seorang perempuan cantik dengan wajah pucat dan mata terpejam; ia berada dalam keadaan tidak sadar. Dari cahaya lampu yang temaram, samar-samar terlihat bahwa ia adalah Bwe Kim-soat yang seharusnya sudah mati akibat keracunan.

Sumbu lampu yang kian meredup bergoyang, ruangan sunyi senyap. Sekonyong-konyong, Bwe Kim-soat bergerak perlahan. Ia membuka mata dengan sorot yang menampilkan rasa kaget dan ngeri. Ia menyapu pandang ke sekeliling, lalu merangkak bangun.

Apakah ia sudah mati atau hidup? Setan atau manusiakah dia? Dengan langkah terhuyung, ia berjalan ke pojok ruangan, merambat di tepi meja untuk menegakkan tubuh, lalu memandang deretan *lengpai* yang tertata di atas meja. Ia melengak seolah berusaha membacanya, sebab ia mengenali nama-nama yang tertulis pada beberapa *lengpai* tersebut adalah tokoh-tokoh dunia persilatan masa lampau.

Ia merasa heran, tempat apakah ini? Mengapa *lengpai* para tokoh ini terkumpul di sini? Padahal, tokoh-tokoh itu berasal dari perguruan yang berbeda, bahkan hidup di zaman yang berlainan. Mengapa mereka bisa terdapat dan dipuja di sini?

Ia mencoba memandang lebih teliti. Mendadak, air mukanya berubah. Ia menjerit tertahan dan jatuh terduduk, air mata bercucuran. Ratapnya, "Oh, masa engkau... engkau sudah meninggal?"

Kiranya, *lengpai* terakhir yang dibacanya bertuliskan: "Lamkiong Peng". Nama ini serupa belati tajam yang menikam hulu hatinya; seketika tubuhnya terasa dingin.

Tiba-tiba terdengar suara "kriuut", pintu ruangan besar itu terbuka sedikit. Sesosok tubuh tinggi kurus dengan janggut panjang putih dan berbaju belacu menyelinap masuk layaknya bayangan halus. Meski sinar matanya menerawang terang, pandangannya tajam dan dingin tanpa perasaan. Wajahnya pun kaku seperti mayat yang baru merangkak keluar dari liang kubur.

Ia memandang Bwe Kim-soat sekejap, lalu menegur dengan kaku, "Engkau sudah mendusin?"

"Mendusin? Memangnya aku tidak mati?" Bwe Kim-soat tergetar, tangisnya tak tertahankan lagi. Jika ia tidak mati, lantas bagaimana dengan Lamkiong Peng? Apakah pemuda itu sudah mati? Si kakek berbaju belacu hanya memandanginya tanpa berniat mencegah.

"Di mana dia? Di mana jenazahnya? Aku... aku ingin mati bersama dia!" jerit Kim-soat sambil menerjang maju.

Tanpa tampak bergerak, si kakek menggeser posisi ke samping. Sahutnya ketus, "Apakah tangismu sudah cukup?"

"Lamkiong Peng, di mana dia?" ratap Kim-soat.

"Jika belum cukup menangis, silakan kau menangis sepuasnya," kata si kakek. "Kalau sudah cukup, segera kubawa kau ke atas kapal. Urusan lain tidak perlu kau tanyakan."

Mendadak Kim-soat bangkit, ia mengusap air mata, lalu tanpa bicara ia melangkah keluar.

"Hei, kau mau ke mana?" tanya si kakek.

"Engkau tidak mau menjawab, biar kucari dia sendiri. Peduli apa denganmu?" ejek Kim-soat sembari terus melangkah.

"Hm, berani kau keluar selangkah saja dari pulau ini, segera kupotong kakimu," ancam si kakek. Tanpa terlihat bergerak, tahu-tahu ia sudah mengadang di depan Bwe Kim-soat. Padahal, *ginkang* Kim-soat terkenal tiada tandingannya di dunia persilatan, maka dapat dibayangkan betapa hebat kemampuan kakek tersebut.

"Jika tidak lekas naik ke kapal dan meninggalkan tempat ini, jangan menyesal bila kuperlakukan dirimu dengan kasar," kata si kakek lagi.

Kim-soat melengak, namun biji matanya berputar. Mendadak ia tersenyum manis, "Ai, kakek setua ini masakah menggoda anak perempuan? Apa tidak malu?"

Kakek itu melongo. Belum sempat ia bersuara, Kim-soat melayang lewat di sisinya dan menerjang keluar pintu yang setengah terbuka. Sementara itu, fajar hampir menyingsing. Di tengah keremangan pagi, terlihat sebuah sungai mengalir di bawah tebing dengan pepohonan lebat di kanan-kirinya.

Selagi ia hendak melompat turun dari tebing, sekonyong-konyong seseorang membentak dari belakang, "Sungguh perempuan licin!"

Terdengar suara angin menderu; si kakek berbaju belacu sudah mengadang di depannya dengan sikap dingin.

"Dia sudah mati, mengapa tidak kauperlihatkan jenazahnya kepadaku?" ucap Kim-soat terputus-putus diiringi air mata.

Kakek itu sama sekali tidak terharu. Mendadak ia bertepuk tangan. Dari bawah tebing melompat ke atas seorang lelaki kekar bertelanjang dada, yang hanya mengenakan kulit macan tutul di pinggangnya. Sekujur tubuhnya berbulu kuning hingga tampak mengkilat, mulutnya lebar dan bersiung. Sekilas pandang, ia tampak seperti orang hutan.

"Cukong, ada perintah apa?" tanya lelaki itu.

"Sudahkah semua barang muatan dibongkar?" tanya si kakek.

Lelaki itu menjawab hormat, "Belum!"

"Lekas selesaikan tugasmu!" Si kakek memberi tanda. Secepat kilat, ia menotok *nui-moa-hiat* di pinggang Bwe Kim-soat. Karena tidak menyangka, Kim-soat menjerit dan roboh terkulai.

Si kakek lantas membawanya kembali ke ruangan seram itu dan membaringkannya di dipan. Ejeknya, "Begitu barang muatan selesai dibongkar, segera kunaikkan dirimu ke atas kapal. Sudah kuselamatkan jiwamu dengan obat mujarab, masakah engkau belum puas?" Ia perlahan menutup pintu ruangan dan pergi.

Dengan penuh rasa curiga, diam-diam Kim-soat mengerahkan tenaga dalam. Tadi, saat totokan kakek itu mengenai pinggangnya, ia sempat mengelak sedikit sehingga totokan tidak tepat telak. Maka, setelah berusaha sebentar, ia berhasil membuka *hiat-to* yang tertotok.

Segera ia melompat bangun dan berlari ke depan pintu. Ia mencoba membukanya, namun ternyata pintu tembaga itu digembok dari luar. Dinding sekelilingnya juga terbuat dari tembaga; kecuali pintu itu, tiada jalan tembus lain. Seketika ia merasa seolah tersekap kembali di dalam peti mati. Meski ukuran ruangan ini jauh lebih luas daripada peti mati, rasa seramnya tidak jauh berbeda.

Sesudah berusaha namun tetap tiada jalan keluar, ia putus asa. Kembali ia berlinang air mata. Ia mencari meja pemujaan tadi; abu jenazah di dalam kaleng masih terletak di sana. Tiba-tiba terpikir olehnya, jika barang muatan kapal belum dibongkar, kenapa jenazahnya sudah terbakar menjadi abu?

"Dia belum mati, dia pasti tidak mati!" timbul harapan baru.

Tiba-tiba terdengar suara pintu berderit pelan. Cepat ia menyusup ke kolong meja sembahyang; tabir meja yang panjang itu cukup menutupi tubuhnya. Menyusul terdengar langkah kaki seseorang masuk ke dalam. Suara si kakek berbaju belacu terdengar heran, "Hei, di mana orangnya? Huh, memangnya dia tumbuh sayap dan bisa terbang pergi? Apakah dia bisa menghilang?" Suaranya lantang, jelas dia adalah Hong Man-thian.

"Selama ratusan tahun Cu-sin-to ini tidak pernah didatangi oleh orang perempuan. Jika kau bawa perempuan ini ke sini, engkau juga yang harus membawanya pergi," ejek si kakek berbaju belacu.

"Tapi dia sudah menghilang. Bukan mustahil engkau yang melepaskan dia pergi," ujar Man-thian.

"Huh, dia justru bersembunyi di kolong meja di depanmu. Begitu kita masuk, kulihat tabir meja masih bergoyang. Memangnya dia bisa mengelabui aku?" ejek si kakek.

Belum lenyap suaranya, mendadak tabir meja tersingkap dan Bwe Kim-soat melompat keluar. Segera ia memegang bahu Hong Man-thian dan berseru, "Dia tidak mati, bukan? Di mana dia sekarang?"

Air muka Hong Man-thian tampak dingin; kini ia pun sudah berganti baju belacu. Mendadak si kakek berseru, "Betul, dia memang belum mati, tapi selama hidupmu jangan harap akan melihatnya lagi."

Sedih dan juga murka, Bwe Kim-soat hendak menyerang si kakek. Namun, Hong Man-thian mengadang di depannya dan berteriak, "Ikut padaku!"

"Ke mana?!" seru Kim-soat dan si kakek berbaju belacu bersamaan.

"Kubawa menemui dia," jawab Man-thian.

Kim-soat tertegun sejenak, serunya girang, "Apa... apa betul?"

"Tidak!" tukas si kakek baju belacu.

Hong Man-thian berpaling ke arah rekannya itu dengan sorot mata tajam, namun kakek itu tidak menghiraukannya. Ia berkata perlahan, "Hilang perasaan, hilang nafsu, hilang nama, hilang keuntungan. Keempat pantangan besar yang turun-temurun di Cu-sin-to ini masakah sudah kaulupakan?"

"Tidak, tidak pernah kulupakan," jawab Man-thian.

"Jika begitu, mengapa kau..."

"Sudah sejak 40 tahun yang lalu orang bermarga Hong tidak pernah memikirkan urusan nama, keuntungan, dan mengenai orang perempuan lagi. Tapi dalam hal perasaan, betapapun tak dapat kuhapus. Biarlah kubawa dia menemuinya. Segala akibatnya kutanggung sendiri dan takkan menyusahkanmu."

Kedua orang itu saling melotot dengan dingin. Setelah sekian lama, akhirnya si kakek berbaju belacu berkata, "Jika kau mau cari susah sendiri, terpaksa masa bodoh..." lalu ia berpaling dan berkata kepada Kim-soat, "Cuma, setelah kau lihat dia, mungkin kau pun akan menderita."

Habis berkata, ia melangkah pergi mendahului. Bwe Kim-soat dan Hong Man-thian mengikuti di belakangnya. Setelah menuruni tebing dan membelok ke kiri, tak sampai belasan tombak kemudian mereka berhenti.

"Sudah sampai," kata Man-thian.

Kim-soat berseru kegirangan dan memburu maju. Terlihat di depannya sebuah gua gelap dengan pagar jeruji tembaga. Dengan kaki telanjang dan berbaju belacu, Lamkiong Peng tampak duduk bersila di balik pagar jeruji itu. Kepalanya terbebat kain putih dan berlumuran darah.

Hati Kim-soat serasa disayat-sayat, ratapnya, "Oh... apa dosamu, mengapa mereka mengurungmu di sini?" Kulit pada wajah Lamkiong Peng tampak berkerut menahan derita, namun matanya tetap terpejam.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment