Chapter 98
"Siapa pun yang datang ke pulau ini harus bertapa selama seratus hari sebelum diperbolehkan keluar," kata Man-thian.
Kim-soat memegang ruji pagar tembaga itu dan berseru, "Mengapa engkau tidak membuka mata? Lihatlah aku! Aku yang datang!" Namun, kedua mata Lamkiong Peng tetap terpejam tanpa suara.
Kim-soat menggoyangkan pagar tembaga hingga menimbulkan suara nyaring. Air matanya pun berderai, ratapnya pedih, "Oh, mengapa engkau tidak menggubris diriku?"
"Sekarang sudah kau lihat dia. Jelas dia tidak menghiraukan dirimu lagi, maka bolehlah kau pergi saja," kata si baju belacu.
Mendadak Kim-soat membalikkan tubuh, bertanya, "Baik, aku akan pergi. Cuma ingin kutanya padamu, engkau menawarkan racun dan menolong jiwaku, apakah untuk ini dia rela bersumpah takkan menghiraukan diriku lagi selamanya?"
"Hm, cerdik juga kau," jawab si kakek dengan dingin.
Dengan tersenyum pedih, Kim-soat memandang Lamkiong Peng lagi dan berkata, "Peng cilik, engkau salah. Masa engkau tidak tahu aku rela mati bersamamu, mati dalam pangkuanmu daripada diselamatkan oleh tangan yang kotor ini?" Muka Lamkiong Peng tampak berkerut.
Namun, si kakek baju belacu lantas berucap, "Setelah meninggalkan pulau ini, mau mati atau ingin hidup adalah urusanmu. Yang pasti, sekarang juga kau harus lekas meninggalkan pulau ini." Sembari bicara, ia pun menutuk *hiat-to* kelumpuhan Bwe Kim-soat.
Tak terduga, mendadak Hong Man-thian menangkis tutukannya dengan tongkat dan membentak, "Nanti dulu!"
"Hong *heng*, apakah engkau sudah lupa..."
"Lupa apa?" jengek Hong Man-thian.
"Masa sudah kaulupakan larangan keras di pulau ini?" kata si kakek. "Hanya dengan kekuatan kalian berdua saja ingin melawan peraturan Cu-sin-to yang kau kenal? Apakah engkau sedang bermimpi? Jika sampai para *Tianglo* di istana mengetahui tindakanmu, tatkala itu kalian pasti akan serba susah; minta mati tak bisa, ingin hidup pun takkan diluluskan."
Air muka Hong Man-thian tampak pucat, tongkat ditarik kembali.
"Peng cilik," seru Kim-soat pula, "bukankah engkau mau mati bersamaku? Lebih baik kita mati bersama daripada hidup tersiksa di sini. Bukalah matamu, pandanglah diriku..."
Namun, Lamkiong Peng tetap memejamkan mata.
"Orang hidup paling-paling cuma mati saja, memangnya sumpahmu begitu penting?" Namun, Lamkiong Peng tetap diam saja.
"Hm, kau sendiri ingin mati, tapi orang lain justru tidak mau," jengek si kakek baju belacu.
Kim-soat termenung sejenak. Mendadak ia mengusap air mata dan berucap, "Baiklah, aku pergi saja."
"Ikut padaku," kata si kakek baju belacu. Keduanya lantas menuju ke tepi laut. Hati Bwe Kim-soat hancur lebur. Ia tidak menoleh lagi; air matanya tetap berlinang tapi tidak lagi menitik.
Lamkiong Peng mendengar langkah si dia yang semakin menjauh dengan bibir terkancing rapat. Akhirnya, ia pun meratap pelan, "Oh, Kim-soat, aku... aku bersalah padamu..."
Hong Man-thian juga berdiri termangu seperti patung. Ucapnya kemudian, "Semoga dia dapat memahami kesusahan kita..."
"Kutahu dia pasti akan benci padaku seumur hidup," kata Lamkiong Peng dengan menitikkan air mata. "Tapi aku tidak menyalahkan dia. Sungguh, aku ingin dia mengetahui untuk apa aku bertindak demikian."
Apakah benar Bwe Kim-soat takkan tahu? Saat itu dia sudah mulai terombang-ambing lagi di tengah lautan; mati atau hidup sukar diramal, mungkin dia akan menanggung kehancuran hatinya itu selama hidup. Akan tetapi, untuk apa kedua lelaki sejati serupa Lamkiong Peng dan Hong Man-thian itu harus bertindak demikian?
Gua itu gelap dan lembap, sekeliling penuh tumbuh lumut hijau. Bila musim panas, gua itu penuh nyamuk dan semut. Serupa orang mati saja Lamkiong Peng duduk di dalam gua. Semula dia masih kelihatan menahan penderitaan itu, tapi kemudian perasaannya seolah sudah beku dan tidak memikirkan lagi apa yang menimpa dirinya.
Musim semi berubah menjadi musim panas. Baju belacu yang dipakainya sudah robek, kotor, dan berbau, sampai akhirnya hancur menjadi gombal pun tak terpikir olehnya. Makanan yang setiap hari diantarkan oleh "orang hutan" itu juga sukar ditelan, namun Lamkiong Peng dapat makan dan minum tanpa mengeluh.
Banyak terjadi perubahan pada fisiknya tanpa disadarinya. Hanya diketahuinya janggutnya mulai tumbuh lebat dan membuatnya kelihatan jauh lebih tua. Sejak hari itu, dia tidak melihat Hong Man-thian lagi, juga si kakek berbaju belacu.
Hari berganti hari dan entah berselang berapa lama, suatu hari ketika ia sedang duduk semadi dan segala apa terasa kosong, sekonyong-konyong terdengar suara "srek". Pagar tembaga itu terbuka, si kakek berbaju belacu berdiri di depan gua dan berkata kepadanya, "Selamat, kini Anda resmi menjadi anggota penghuni Cu-sin-to ini." Meski di mulut ia mengucapkan selamat, namun sikapnya tiada rasa gembira sedikit pun.
Dengan kaku Lamkiong Peng berdiri, sedikit pun dia tidak memandang orang tua itu.
"Mulai hari ini Anda boleh berganti tempat kediaman baru," kata si kakek.
Tanpa bicara, Lamkiong Peng ikut dia menyusuri sungai dan menuju ke suatu tempat yang rimbun. Jalan tembus ini kelihatan resik. Waktu tembus ke balik hutan sana, tampak sebuah tanah lapang yang luas mengitari empat deret rumah papan. Setiap deret terdiri dari dua puluh hingga tiga puluh rumah. Di depan setiap rumah duduk seorang tua berambut ubanan dan berbaju belacu, semuanya duduk lurus kaku.
Kawanan kakek itu beraneka ragam; ada yang tinggi, ada yang pendek, ada yang gemuk, ada yang kurus. Yang sama adalah air muka mereka, semuanya dingin kaku tanpa memperlihatkan suatu perasaan. Ada yang memandang ke langit dengan termangu-mangu, ada yang sedang membaca dengan tenang. Puluhan orang duduk bersama di situ, namun tidak terdengar suara sedikit pun.
Waktu Lamkiong Peng lewat di samping mereka, yang asyik membaca tetap membaca, yang melamun tetap melamun. Tiada seorang pun yang melirik sekejap ke arah Lamkiong Peng.
Kakek itu membawa Lamkiong Peng ke sebuah rumah papan yang terletak di ujung sana. Tampak di atas pintu tertulis dua huruf besar, "Ci Cui", yang berarti air mandek.
Sambil menunjuk tulisan itu, si kakek berkata, "Inilah tempat tinggalmu yang baru, dan ini pula namamu. Tiba waktunya akan kubawa engkau ke dalam istana, tapi sebelum waktunya engkau dilarang meninggalkan tempat ini barang selangkah pun."
Lamkiong Peng hanya mendengus pelan sebagai jawaban.
"Apakah engkau tak ingin tanya apa-apa terhadapku?" tanya si kakek.
"Tidak ada," sahut Lamkiong Peng ketus.
Si kakek memandangnya sekejap, lalu pergi menuju ke hutan yang rimbun itu. Semua orang yang berada di sini sama memakai baju belacu yang berwarna kekuningan, namun baju belacu kakek yang menghantarnya ini diwenter menjadi warna lembayung. Kiranya dia termasuk salah seorang pengurus di pulau ini, sebab itulah warna bajunya berbeda dengan kakek lain.
Pengurus pulau ini hanya tujuh orang. Hong Man-thian dan kakek itu terhitung anggota pengurus. Setiap anggota pengurus diberi seorang murid sebagai pesuruh. Si aneh yang bernama Jitko dan "orang hutan" berbulu emas itu terhitung murid merangkap pesuruh dari ketujuh anggota pengurus. Hal-hal ini baru diketahui Lamkiong Peng di kemudian hari.
Sekarang ia lantas membuka pintu rumah. Dilihatnya rumah ini hampir tidak ada isinya kecuali sebuah dipan, sebuah meja, dan sebuah bangku. Di atas meja tertaruh sepotong baju belacu, sepasang sumpit, sebuah mangkuk kayu, dan sejilid buku. Di bawah meja ada sepasang sepatu rami. Panjang dipan itu cuma lima kaki saja, tanpa kasur, tiada selimut, yang ada cuma sehelai tikar saja.
Ia menoleh dan memandang para kakek yang duduk diam itu. Pikirnya, "Apakah tempat ini tanah suci yang menurut cerita dalam dunia persilatan sebagai *Cutian* (istana para dewa)? Beginikah kehidupan *Cu-sin-to*? Pantas semakin mendekat dengan tempat tinggalnya ini, Hong Man-thian tambah sedih. Soalnya, di sini tiada orang lain yang mempunyai perasaan sebagai manusia kecuali dia saja seorang."
Kurungan selama seratus hari di gua yang terisolasi itu telah membuat Lamkiong Peng lebih tawakal dan lebih sabar. Ia memindahkan bangku ke depan pintu, diambilnya buku di atas meja itu, ia pun meniru kawanan kakek itu, mulai membaca kitab.
Namun, begitu dia membuka halaman kulit buku itu, seketika jantungnya berdebar keras. Ternyata kitab itu berjudul 'Tamosik'.
Hendaknya dimaklumi, *Tamosik* atau delapan belas jurus ciptaan Budha Darma adalah ilmu silat khas Siau-lim-si. Di dunia persilatan sekarang, hampir jarang sekali orang yang menguasai kungfu ini. Bilamana ada kitab pusaka semacam ini muncul di dunia persilatan, tentu akan menimbulkan gelombang perebutan yang ramai dan menimbulkan korban jiwa dan raga. Tapi sekarang, kitab pusaka yang diimpi-impikan orang persilatan ini, di pulau ini ternyata dipandang sebagai buku rombengan saja dan ditaruh secara sembarangan.
Seketika perhatian Lamkiong Peng tak terlepas lagi dari isi kitab itu. Dia asyik menyelami ilmu silat yang tercantum di situ. Sampai lohor, "orang hutan" itu datang dengan membawa dua ember. Para kakek lantas mengeluarkan mangkuk kayu dan sumpit, masing-masing mengisi semangkuk ransum yang diantarkan itu, lalu sibuk bersantap tanpa bicara apa pun; malahan di antara mereka juga tidak ada yang tegur sapa.
Tiga hari kemudian, "orang hutan" itu datang lagi dan menukar kitab di atas meja dengan kitab lain. Selagi Lamkiong Peng menyesal, tak terduga ketika kitab baru itu dibuka, isinya adalah kungfu yang sudah lama menghilang dari dunia persilatan, yaitu "Bukun", ilmu pukulan sakti tanpa wujud.
Begitulah selang 50-60 hari kemudian, berturut-turut kitab di atas meja Lamkiong Peng telah berganti 20-an kali. Setiap kitab selalu berisi ilmu silat yang jarang ditemui lagi di dunia persilatan sekarang. Tentu saja Lamkiong Peng sangat senang; sedapatnya, ia mengingat semua isi kitab itu.