Halo!

Han Bu Kong - Chapter 99

Memuat...
Han Bu Kong

Chapter 99

Perlu diketahui bahwa kawanan kakek ini, sebelum datang ke Cu-sin-to, rata-rata sudah pernah melakukan perbuatan yang menggempar-kan. Semuanya adalah tokoh Bu-lim ternama yang disegani. Begitu tiba di Cu-sin-to, karena tidak dapat lagi meninggalkan pulau ini, kitab pusaka bagi mereka dipandang sebagai barang yang tidak berguna lagi. Sebagian cuma membacanya secara iseng, bahkan ada yang sama sekali tidak tertarik.

Hari berganti hari, entah berselang berapa lama, sejauh itu belum pernah Lamkiong Peng mendengar percakapan kawanan kakek tersebut. Terkadang ia mengira mereka semua adalah orang bisu-tuli atau mayat hidup. Suatu hari mendadak turun hujan, tetapi kawanan kakek ini seperti tidak merasakan guyuran air hujan; tiada satu pun yang menyingkir ke dalam rumah. Ketika musim rontok hampir berlalu dan musim dingin hampir tiba, mereka tetap memakai baju belacu tanpa mengenal rasa dingin. Namun, Lamkiong Peng sendiri merasa menggigil. Terpaksa ia mengerahkan *lwekang* untuk menahan serangan hawa dingin.

Lewat beberapa hari kemudian, barulah ia merasa biasa. Sekarang diketahuinya bahwa kungfunya sendiri sudah jauh lebih maju. Rupanya, ilmu silat sakti yang dibacanya dari berbagai kitab di pulau ini sudah dicerna seluruhnya olehnya seperti makanan pokok. Maka, tidurnya berkurang, makannya juga semakin sedikit, namun semangatnya justru bertambah berkobar.

Suatu pagi, tiba-tiba diketahui kakek penghuni rumah di depan sudah tidak ada lagi. Siapa pun tidak tahu ke mana perginya kakek itu dan tidak ada yang menanyakannya. Mati-hidup bagi para kakek itu serupa halnya makan dan tidur saja, seperti urusan biasa. Biarpun ada orang kehilangan kepala di depan mereka, hal itu pun takkan diperhatikan oleh mereka.

Dengan cepat seratus hari telah berlalu. Pada waktu pagi, mendadak si kakek berbaju belacu muncul di depan pintu Lamkiong Peng dan berkata, "Mari, ikut padaku!" Tanpa tanya, Lamkiong Peng bangkit dan ikut berangkat. Waktu melalui lapangan luas itu, tiba-tiba diketahui beberapa kakek di antaranya menoleh dan memandangnya sekejap dengan sorot mata kagum. Hal ini tidak pernah terjadi selama Lamkiong Peng berada di pulau ini.

Mendadak terdengar suara menggeletar; suara bunyi cambuk berkumandang dari kelebatan pepohonan. Waktu Lamkiong Peng memandang ke sana, terlihat di dalam pohon terjulur tali putih. Pada tali putih yang kecil itu menggelantung tubuh Hong Man-thian yang besar. Tertampak pula si manusia kera sedang mengayun cambuk dan menyabet tubuh Hong Man-thian berulang-ulang sambil menghitung, "Dua puluh delapan... dua puluh sembilan...?" Mendadak tali putus dan Hong Man-thian jatuh terbanting ke tanah.

Si manusia kera tidak banyak urusan, segera ia memasang tali lagi dan Hong Man-thian lantas melompat ke atas. Dengan tangan memegang tali, tubuhnya lantas menggelantung pula di udara. Kembali cambuk si manusia kera bekerja lagi menghajar tubuh Hong Man-thian sambil mengulang dari semula, "Satu... dua... tiga..." Tali itu tidak besar, sedang cambuknya panjang lagi kasar. Biarpun Hong Man-thian memiliki *lwekang* yang kuat, untuk menggelantung saja sudah sulit, apalagi mesti menahan deraan cambuk. Lamkiong Peng mengikuti sejenak kejadian itu dengan menahan napas. Dilihatnya Hong Man-thian berwajah kaku dan bertahan dengan diam, serupa anak bandel yang sedang dihajar orang tuanya. Segera Lamkiong Peng melangkah ke depan karena tidak tega memandang lagi.

"Itulah hukuman bagi pelanggar hukum di sini," kata si kakek baju belacu. "Setiap hari 36 kali cambukan, harus dihajar berturut-turut selama 360 hari. Bila tali putus, harus diulang kembali. Maka, mereka yang berani coba melanggar peraturan di sini perlu bertanya dulu kepada dirinya sendiri apakah mampu menahan hajaran dan punya keberanian atau tidak?"

Lamkiong Peng diam saja dan terus melangkah ke depan. Akhirnya sampai di ujung hutan, di depan tebing gunung, tapi tidak kelihatan bayangan rumah. Si kakek mendekati tebing, ia meraba dinding tebing, pada suatu bagian yang menonjol ia menepuk tiga kali. Mendadak terjadi keajaiban pada dinding batu itu; bagian yang menonjol itu berputar, lalu merenggang dan memperlihatkan sebuah jalan tembus.

Tanpa sangsi, Lamkiong Peng terus melangkah ke dalam bersama si kakek. "Brak," dinding tebing itu merapat kembali. Terendus bau amis busuk dalam lorong rahasia ini. Sebuah lentera tergantung di dinding lorong dan memancarkan cahaya yang suram. Pada ujung lorong terdapat sebuah pintu tembaga. Waktu Lamkiong Peng menoleh, tahu-tahu si kakek baju belacu sudah menghilang. Segala sesuatu di sini seakan-akan di luar logika umum.

Tanpa pikir panjang, Lamkiong Peng melangkah lagi ke depan. Terdengar dari kedalaman ruangan berkumandang suara melengking tajam, "Kamu sudah datang?" Belum lenyap suara itu, pintu tembaga di ujung lorong lantas terbuka. Segala apa tidak terpikir lagi oleh Lamkiong Peng; dengan bersitegang leher ia masuk ke situ.

Dilihatnya di balik pintu ada lagi sebuah lorong, tapi di kedua tepi lorong ini terbuka berbagai gua sehingga serupa sarang tawon. Lubang ini berbaris panjang ke sana dan terdapat di atas serta bawah dinding lorong sehingga berapa jumlahnya sukar dihitung. Di antara lubang atau gua batu itu terkadang ada orangnya, ada yang kosong, ada yang diterangi lentera, ada yang gelap dan seram.

"Jalan terus ke depan, jangan berpaling!" terdengar suara melengking tajam tadi berseru pula.

Lamkiong Peng terus menuju ke depan dengan langkah lebar tanpa memandang lagi ke kanan-kiri. Diam-diam ia bergumam, "Apakah begini Cu-sintian yang termasyhur itu?" Belum lagi lenyap pikirannya, terdengar lagi suara tadi, "Di sini! Naik kemari!" Jelas suara itu berkumandang dari tempat ketinggian.

Waktu Lamkiong Peng mendongak, tertampak pada dinding di ujung lorong sana juga ada sebuah cekungan yang berwujud gua, tingginya dua-tiga tombak dari permukaan tanah. Segera Lamkiong Peng melompat ke atas. Semula ia ragu apakah dapat mencapai mulut gua itu, ia bermaksud mencari suatu tempat hinggapan, siapa tahu dengan enteng sekali dapatlah ia mencapai tempat setinggi itu dan menyusup ke dalam gua.

Di dalam gua, bau amis busuk bertambah keras. Di pojok sana terpasang kerai bambu. Di belakang sebuah meja batu besar di depan kerai bambu, menongol sebuah kepala berambut ubanan, mata cekung dan hidung besar, sorot mata tajam, dahi lebar, dengan dingin sedang menatap Lamkiong Peng. Tanpa terasa Lamkiong Peng agak ngeri. Ia memberi hormat dan berucap, "Cayhe Lamkiong Peng..."

Mendadak kakek ubanan itu membentak, "Ci-cui, namamu Ci-cui, ingat tidak? Begitu masuk pulau ini, engkau lantas sama sekali melepaskan diri dari dunia ramai. Harus kaulupakan segala masa lampau, tahu?" Suaranya tajam dan cepat, seperti membawa semacam daya pengaruh yang misterius. Lamkiong Peng diam saja, ia memandang kakek ubanan itu dengan tenang.

"Sungguh beruntung engkau dapat tinggal di Ci-cui-sit (ruangan air mandek)," kata si kakek dengan tertawa cerah. "Mungkin engkau tidak tahu bahwa Ci-cui-sit itu dahulu dihuni oleh Sin-tiau-tai-hiap Nyo Ko..."

"Urusan dunia ramai sudah tidak kupikirkan lagi," jawab Lamkiong Peng dingin.

"Haha, bagus, bagus!" si kakek bergelak tertawa.

Sejak datang di pulau ini untuk pertama kalinya, Lamkiong Peng mendengar orang tertawa. Tentu saja ia melongo. Terdengar si kakek berkata pula, "Berdasarkan ucapanmu ini, pantas untuk diberi minum satu cawan." Mendadak ia tepuk tangan sambil berseru, "Ambilkan arak!" Bahwa di sini juga tersedia arak, Lamkiong Peng bertambah heran.

Tertampak kerai bambu tersingkap, sesosok tubuh tinggi kurus terbalut kain putih dengan wajah tidak mirip manusia juga tidak serupa binatang muncul dengan membawa sebuah nampan kayu. Kelihatan rambutnya yang semerawut, matanya siwer, mulutnya lebar dan hampir tak berbibir. Setelah menaruh nampan dengan poci arak dan cawan, makhluk itu lalu mengundurkan diri lagi. Seketika timbul rasa ngeri Lamkiong Peng ketika dilihatnya telapak tangan makhluk itu hanya mempunyai dua jari, daun telinganya lancip kecil dan penuh berbulu. Akhir-akhir ini sudah banyak makhluk aneh setengah manusia dan setengah binatang yang dilihatnya, tidak urung ia merinding melihat makhluk seram ini.

Melihat perubahan air mukanya, si kakek terbahak, "Silakan minum!" Begitu tangan si kakek mendorong, segera secawan arak melayang ke arah Lamkiong Peng dengan tenang serupa dipegang orang. Tanpa pikir, Lamkiong Peng menangkap cawan itu dan ditenggak. Rasa arak agak pedas, tapi sedap.

"Tentu engkau tidak pernah melihat makhluk hidup semacam tadi. Ketahuilah sesungguhnya dia bukan manusia, melainkan seekor binatang," ucap si kakek dengan tertawa.

"Hah, jadi Jitko itu dan..." kembali Lamkiong Peng merinding.

"Ya, semuanya binatang," ujar si kakek dengan tertawa. "Selama hidupku mencurahkan tenaga dalam penelitian ilmu pertabiban. Hasil jerih payahku selama berpuluh tahun adalah dapat kuciptakan belasan ekor binatang menjadi serupa manusia..."

"Hah..."

Mendadak lenyap tawa si kakek, air mukanya berubah menjadi merah dan penasaran. Katanya, "Kautahu, sebabnya manusia hidup sengsara dan menjadi cacat, selain karena pengaruh lingkungan, juga banyak karena pembawaan yang jahat. Untuk merombak tingkah polah manusia harus diawali dari bentuknya."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment