Halo!

Ibu Hantu - Chapter 01

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 01

Gunung Fung-san terletak di daerah Ouw-lam, terkenal akan keindahan alamnya serta bukit-bukitnya yang terjal dengan binatang buas. Gunung ini pernah diguncang pertempuran antara para pendekar Tionggoa yang berkumpul untuk memperebutkan gelar pendekar nomor wahid. Pertemuan ini melibatkan pendekar dari berbagai aliran, baik dari golongan Hek (hitam) maupun Pek (putih), serta mereka yang berjiwa bebas dan bertindak semaunya.

Sayangnya, pertemuan akbar ini sering diwarnai intrik licik dan kerusuhan. Pertempuran besar antara pendekar seluruh Tionggoa ini baru berakhir setelah lebih dari setengah bulan, dengan Ciang-bun-jin dari Siauw Lim-sie keluar sebagai Tay-hiap-engit, pendekar besar nomor satu. Gelar ini jatuh kepada Hong-thio Siauw Lim-sie, yang dianggap wajar mengingat Siauw Lim-sie adalah pusat segala macam ilmu silat di Tionggoa.

Dahulu kala, kedatangan Cauw-su Tat-mo ke Tionggoa menyebarkan ilmu silat yang akhirnya terpecah menjadi beberapa perguruan. Meskipun Ciang-bun-jin dari Bu-tong Pay dan Kun-lun Pay memiliki kesempatan bersaing, mereka kalah selangkah dibandingkan Hong-thio Lim Sie yang saat itu dipegang oleh Pie Goan Sian-su. Akhirnya, Ciang-bun-jin dari Bu-tong Pay dan Kun-lun Pay harus mengakui keunggulan Pie Goan Sian-su.

Pertemuan besar, yang disebut Tay-hwee, ini juga dihadiri berbagai perguruan lain, termasuk Go-bie Pay, Tay-kek Pay, Siang-lun Pay, dan Eng-jiauw Pay. Dari golongan Hek-to, turut serta Hek-siang Pay, Pian-mo Pay, dan bahkan orang-orang Beng-kauw. Semua pendekar, baik perorangan maupun dari pihak kerajaan, memperebutkan gelar Tayhiong-tee-it.

Namun, Hong-thio Siauw Lim-sie menerima kabar mengejutkan bahwa para pendekar kerajaan berencana merebut kedudukan Tayhiong-tee-it di Tay-hwee demi menguasai pendekar rimba persilatan untuk kepentingan kerajaan Boan yang saat itu dijajah oleh raja Boan-ciu. Awalnya Hong-thio Siauw Lim-sie tidak berniat ikut serta, tetapi mendengar kabar tersebut membuatnya bertekad untuk memperebutkan gelar itu demi mencegah kekuasaan jatuh ke tangan pendekar kerajaan. Jika itu terjadi, seluruh pendekar rimba persilatan akan dikendalikan untuk kepentingan kerajaan.

Pada akhirnya, Hong-thio Siauw Lim-sie, Pie Goan Sian-su, berhasil merebut kedudukan Tayhiong-tee-it, dan setiap perkataannya akan dipatuhi oleh seluruh pendekar rimba persilatan.

Peristiwa di gunung Fung-san itu telah terjadi lima tahun lalu. Kini, gunung itu kembali sepi, hanya menyisakan keindahan alamnya. Banyak pendekar masih berziarah ke gunung ini untuk menikmati keindahannya, namun tidak ada lagi peristiwa besar yang terjadi. Pertemuan raksasa di kalangan Kang-ouw telah berlalu, menyisakan gunung Fung-san yang menjulang megah.

Pada suatu hari di gunung Fung-san, tampak seorang pemuda berbusana putih, berpakaian layaknya seorang Siu-chay (pelajar), menunggang kuda putih. Ia berjalan perlahan di jalan pegunungan yang sempit, menikmati pemandangan. Pemuda tampan itu, berusia sekitar delapan belas tahun, dengan alis tebal, hidung mancung, dan bibir tipis, tampak gagah di atas kudanya. Udara pagi yang segar di pegunungan mengisi paru-parunya.

"Pemandangan yang indah, dengan air terjunnya, binatang-binatang, dan pohon-pohon Siong serta kicauan burung yang merdu, sungguh menambah keindahan gunung Fung-san ini!" gumamnya. Ia menarik tali kekang kudanya, membuatnya berjalan lebih cepat. Ia menarik napas, "Sayangnya, gunung yang indah ini lima tahun lalu pernah menjadi medan laga yang dibanjiri darah para penjahat tamak yang memperebutkan gelar Tayhiong-tee-it!"

Tiba-tiba, seekor elang melintas di atas kepalanya dengan pekikan nyaring. Siu-chay menengadah memandangi elang itu, "Burung elang itu juga menambah keindahan gunung Fung-san ini!" gumamnya lagi. "Sayang, burung elang itu juga jahat dan tamak, mengincar mangsanya dari atas, seperti orang-orang lima tahun lalu yang memperebutkan gelar Tayhiong-tee-it!" Ia menghela napas, mengedut kekang kudanya, dan melarikan kudanya.

Meski kuda Siu-chay berlari kencang, tubuh pemuda itu tetap stabil di atas pelana. Namun, saat tiba di tikungan jalan pegunungan, ia menahan tali kekang kudanya hingga terhenti tiba-tiba. Kuda putihnya sangat jinak dan patuh. Siu-chay berhenti karena melihat sebuah rumah yang agak besar di sisi jalan. Hal ini cukup mengherankan, tetapi Siu-chay menduga pasti ada seorang pendekar yang mengasingkan diri di sana.

Siu-chay duduk di atas pelana kudanya, mengawasi rumah itu. Akhirnya, ia memutuskan untuk singgah. Ia perlahan mengendarai kudanya mendekati rumah tersebut. Setibanya di sana, ia melihat rumah itu sangat bersih dengan pekarangan yang ditumbuhi berbagai pohon bunga yang terawat. Siu-chay tersenyum, "Orang yang mengasingkan diri di pegunungan sunyi ini tentu pecinta keindahan. Kami pasti sejiwa, karena aku pun menyukai keindahan dan kebersihan!" pikirnya sambil turun dari kuda.

Ia menuntun kudanya perlahan mendekati rumah itu. Pintu pekarangan tertutup. Siu-chay mengulurkan tangan untuk mengetuk, namun sebelum tangannya menyentuh pintu, terdengar suara dari dalam, ramah namun jelas, menandakan orang itu memiliki kepandaian Lwee-kang yang sempurna.

"Rupanya hari ini Loo-hu memperoleh seorang tamu dari jauh!" kata orang di dalam rumah. "Silakan masuk! Silakan masuk!" Siu-chay tersenyum, ia memang sudah menduga bahwa penghuni rumah terpencil di gunung Fung-san ini adalah seorang pendekar yang telah mengasingkan diri.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment