Halo!

Ibu Hantu - Chapter 02

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 02

Dia menambatkan kuda putihnya, kemudian mendorong daun pintu yang tidak terkunci. Dengan langkah yang tenang, Siu-chay melangkah memasuki pekarangan rumah tersebut. Dia membungkukkan tubuhnya, dengan merangkapkan kedua tangannya, dia menjura ke arah dalam rumah itu.

"Boanpwee Lie Cie Kiat datang menghunjuk hormat kepada Loo-cianpwee!!" Katanya dengan suara yang nyaring. Terdengar orang tertawa sabar. "Selamat datang digubukku yang buruk ini! Selamat datang!!" Kata orang di dalam rumah itu. "Silahkan masuk.... anggap dirumah sendiri!!" Si Siu-chay tersenyum, dia masuk ke ruangan tengah dari rumah itu.

Begitu masuk ke ruangan tengah rumah itu, pertama-tama Siu-chay melihat perabotan rumah tangga yang sederhana dan terbuat dari bahan kayu cendana. Bersih sekali ruangan itu, dan si Siu-chay juga melihat seorang lelaki tua dengan baju panjang dan jenggot dan misainya yang panjang telah berubah putih seluruhnya itu menghampiri ke arahnya, menyambut kedatangannya.

"Oh, rupanya Loo-hu mendapat penghormatan dari seorang terpelajar yang mau singgah digubukku yang buruk ini!" Kata lelaki tua itu. "Aku girang menerima kedatanganmu, Lie Siu-chay!!" Si pelajar tersenyum, dia membalas menjura kepada lelaki tua itu. "Bolehkah Boanpwee mengetahui nama besar Loo-cianpwee dan she harum Loo-cianpwee?" Katanya.

Lelaki tua itu tersenyum ramah. "Loo-hu hanya seorang kasar tak berpendidikan, harap Lie Siu-chay jangan menertawakan diriku! Aku she Wong dan bernama tunggal Kian. Mari duduk! Silahkan duduk!" Melihat penyambutan lelaki tua yang mengaku bernama Wong Kian itu, si Siu-chay jadi malu dan jengah sendirinya, karena Wong Kian menyambut kedatangannya dengan ramah dan penuh penghormatan.

Dia duduk di sebuah kursi kayu cendana dan Wong Kian duduk di depannya. "Rupanya Lie Siu-chay habis melakukan perjalanan yang jauh?" Tanya tuan rumah dengan ramah. Si Siu-chay mengangguk. "Benar Loo-cianpwee, aku sedang melakukan perjalanan menuju ke Kang-lam!" Menyahuti Siu-chay itu, yang menurut pengakuannya bernama Lie Cie Kiat.

"Dan kebetulan Boanpwee lewat digunung Fung-san yang indah ini, maka Boanpwee mengambil kesempatan untuk menikmati pemandangan gunung Fung-san yang permai!" Laki-laki tua itu, Wong Kian, mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengurut-urut jenggotnya yang panjang dan bibirnya tersenyum. "Memang! Memang! Pemandangan gunung Fung-san memang terkenal indah! Bukankah Lie Pian, pujangga yang terkenal pada abad yang lalu pernah mengatakan, 'Hidup sehari dialam yang indah sama dengan hidup seribu tahun dineraka!!'.... dan bukankah dengan keindahan yang ada digunung Fung-san ini Hian-tee bisa panjang umur!" Dan setelah berkata begitu, Wong Kian tertawa gelak-gelak.

Lie Cie Kiat juga tertawa. Manis tertawanya anak muda she Lie ini. "Benar perkataan Loo-cianpwee!" Menyahuti dianya ini. "Perkataan Lie Pian memang benar dan indah sekali! Ternyata Loo-cianpwee berpengetahuan luas, sehingga perkataan Lie Pian yang sudah seabad itu masih Loo-cianpwee ingat!!" Wong Kian tertawa gelak-gelak mendengar perkataan si anak muda she Lie itu, dia tertawa sampai tubuhnya tergoncang.

"Kau bisa saja, Hian-tee!!" Kata Wong Kian dengan cepat. "Aku orang gunung mana bisa disamakan dengan yang terpelajar? Tentang perkataan Lie Pian itu hanya boleh kupetik cerita-cerita orang pandai yang pernah kukenal!!" Melihat orang merendahkan diri, si pelajar she Lie juga cepat mengeluarkan kata-kata yang merendah.

Dan Lie Cie Kiat merasa tabiat dan sikap orang sangat cocok dengan dirinya, juga pengetahuan Wong Kian didalam soal sastra ternyata sangat luas, sehingga mereka jadi saling tukar pikiran. Didalam waktu yang singkat sekali, mereka merasa saling cocok, dan mereka bercakap-cakap sampai menjelang sore tanpa terasa.

Waktu Lie Cie Kiat akan pamitan, Wong Kian telah menahannya, walaupun Cie Kiat telah memaksa akan berangkat, tetapi tetap saja Wong Kian menahannya. "Hari sudah menjelang senja, dan sejauh sepuluh lie Hian-tee tidak akan dapat menjumpai sebuah rumah lagipun! Maka lebih baik Hian-tee bermalam disini saja!!" Desak si tuan rumah dengan ramah.

Cie Kiat jadi tidak enak hati kalau dia menolak terus kebaikan Wong Kian. Akhirnya dia menerima juga penawaran si kakek. Cie Kiat diberikan sebuah kamar yang bersih, yang terletak sebelah menyebelah dengan kamar si kakek. Cie Kiat merebahkan dirinya dipembaringan yang bersih itu. Dia memang merasa letih, dan dengan rebah dipembaringan yang menyebabkan keletihannya itu berangsur-angsur jadi lenyap.

Hanya, yang tidak dimengerti oleh Cie Kiat, dia tidak melihat orang lainnya selain kakek yang mengaku bernama Wong Kian itu. Apakah si kakek tua hanya berseorang diri saja menetap ditempat yang begitu sepi? Lagi pula yang membuat Cie Kiat jadi heran, adalah wajah si kakek yang guram, seperti sedang menghadapi suatu persoalan yang rumit.

Walaupun tadi mereka telah berpasang omong dengan gembira, mata Cie Kiat tidak bisa dikelabui, karena dia melihat dibalik tertawa kakek itu tersimpan suatu kesedihan yang luar biasa, yang tersimpan didasar hati lelaki tua itu. Sebetulnya Cie Kiat ingin menanyakan kesulitan yang sedang dihadapi oleh Wong Kian, agar dia bisa membantu kesulitan tuan rumah yang ramah itu, namun sebagai seorang yang berkelana didalam kalangan Kang-ouw, Cie Kiat mengetahui benar, bahwa tidak boleh usil terhadap urusan orang.

Kalau memang si kakek senang mendengar bahwa dia mau menolong, tetapi kalau sebaliknya? Atau si kakek jadi tersinggung dan bergusar, bukankah akan merusak hubungan baik diantara mereka. Maka dari itu, selama si kakek tidak mau memberitahukan kesulitannya itu, Cie Kiat juga tidak mau menanyakan urusan orang.

Akhirnya, Cie Kiat jadi tertidur nyenyak, hawa gunung Fung-san yang sejuk menyebabkan pemuda pelajar she Lie ini terlena dengan nyenyak. Ketika menjelang tengah malam, Cie Kiat jadi terbangun dari tidurnya, karena dia mendengar suara gedebukan yang berisik sekali. Dengan cepat Cie Kiat melompat dari pembaringannya, tetapi dia tidak lantas keluar.

Sebagai seorang pengelana didalam kalangan Kang-ouw, maka dengan sendirinya Cie Kiat mengerti pertarungan Kang-ouw, dia tidak boleh mencampuri urusan orang. Entah kakek Wong itu didatangi oleh orang yang ingin membalas dendam atau memang kakek Wong sedang melakukan sesuatu, maka Cie Kiat tidak boleh terlalu usil mencampuri urusan orang she Wong itu, karena Cie Kiat juga melihat bahwa Wong Kian memang orang Kang-ouw yang sudah mengasingkan diri.

Kalau sampai dia keluar dan terlihat oleh Wong Kian, mungkin orang she Wong itu akan salah paham, dan bisa-bisa terjadi kericuhan. Tetapi sedang Cie Kiat memasang pendengarannya, suara gedebukan yang berisik itu telah lenyap. Suasana disekitar ruangan itu jadi sunyi kembali.

Baru saja Cie Kiat ingin kembali kepembaringan untuk melanjutkan tidurnya yang tadi terganggu, tiba-tiba daun pintu kamarnya diketuk orang dari luar. "Lie Siu-chay...... Lie Siu-chay!!" Terdengar suara Wong Kian, si tuan rumah. Cie Kiat jadi heran, disamping itu juga dia mendengar suara Wong Kian gemetar, seperti ada suatu yang hebat, yang menimpah diri orang she Wong itu.

Cepat-cepat Cie Kiat membuka pintu kamarnya itu, tampak Wong Kian berdiri dimuka dengan wajah yang agak pucat. "Ada apa, Wong Loo-cianpwee?" Tanya si pemuda she Lie ini. "Kalau nanti kau mendengar apa saja atau terjadi apa saja, janganlah Hian-tee keluar dari kamar ini! Keselamatanmu jadi tidak terganggu........" Kata Wong Kian dengan wajah yang pucat.

"Dengan berdiam diri didalam kamar, dirimu tidak akan diganggu oleh siapapun! Kau dengar Hian-tee? Jangan sekali-sekali keluar dari kamar ini?" Lie Cie Kiat jadi heran, tetapi dia tetap membawa sikap yang tenang. "Sebetulnya ada apakah, Loo-cianpwee?" Tanyanya dengan cepat. "Bolehkah Boanpwee mengetahuinya?" Kakek tua she Wong itu menarik napas dalam-dalam, tampaknya dia gelisah sekali.

"Malam ini akan terjadi keributan, rumahku akan didatangi oleh beberapa musuh, dan mereka tidak akan menganggu Lie Siu-chay, asalkan Hian-tee jangan keluar biarpun apa yang terjadi diluar kamar ini! Mudah-mudahan saja bisa menghadapi mereka..... tetapi kalau tidak dapat, mereka juga tidak akan mengapa-apakan Hian-tee...... katakan saja kepada mereka kalau sampai mereka memergoki dirimu, bahwa kau adalah seorang pelancong yang kebetulan bermalam dirumahku!!" Kata Wong Kian.

Cie Kiat mwngangguk, walaupun hatinya masih diliputi kabut keheranan. "Nah, tutuplah kembali pintu kamarmu ini, Hian-tee!" Kata Wong Kian sambil memutar tubuhnya. Cie Kiat mengawasi kakek tua she Wong itu berlalu keluar. Dikunci daun pintu kamarnya perlahan-lahan, anak muda she Lie ini jadi berpikir, peristiwa hebat apakah yang sedang dialami oleh kakek she Wong itu?

Dan Cie Kiat jadi diliputi oleh berbagai pertanyaan yang tidak terpecahkan. Dia merebahkan dirinya kembali diatas pembaringannya. Suasana pada malam itu sangat sunyi sekali. Tetapi keadaan yang sunyi itu samar-samar dipecahkan oleh suara rintihan seseorang, perlahan sekali suara rintihan itu, tetapi pendengaran Cie Kiat yang tajam tetap saja dapat menangkapnya dengan jelas.

Dia jadi tambah heran dan bingung mendengar suara rintihan itu. Siapakah yang mengeluarkan suara rintihan itu, dan kalau didengar dari suara rintihan itu menurut Lie Cie Kiat pasti luka orang itu berat sekali dan orang itu sangat menderita sekali. Saking tertariknya Cie Kiat turun dari pembaringan kembali, dia menuju kepintu, dari celah daun pintu dia mengintip keluar.

Tetapi diruang tengah tidak tampak sesuatu apapun. Rupanya orang yang mengeluarkan suara rintihan itu sedang terluka dan berada didalam kamarnya Wong Kian. Cie Kiat berdiri sesaat lamanya didekat pintu kamarnya, sampai akhirnya dia menghela napas dan kembali kepembaringan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment