Chapter 03
Cie Kiat merebahkan diri di pembaringan dengan hati yang diliputi oleh berbagai pertanyaan yang tidak terpecahkan olehnya. Lama juga Cie Kiat rebah dengan alam pikiran yang melayang-layang. Di hati pelajar she Lie ini, dia sudah mengambil suatu keputusan, bahwa biar apa saja nanti yang terjadi, dia harus menolong Wong Kian, karena tuan rumah ini sangat ramah dan baik hati sekali.
Terbukti saja tadi, tuan rumah she Wong tersebut telah memerlukan datang dan memberi tahukan bahwa kalau ada apa-apa Cie Kiat diminta jangan keluar dari kamarnya, itu menunjukkan bahwa si tuan rumah menghatiri keselamatan diri tamunya, maka dia berpesan begitu. Cie Kiat bertekad akan menolong Wong Kian, untuk membalas kebaikan hati si tuan rumah biar apa saja yang akan menimpah keluarga Wong tersebut.
Menurut dugaan Cie Kiat, Wong Kian tentunya sedang menghadapi suatu persoalan yang rumit, mungkin diri orang tua she Wong itu akan didatangi oleh seorang jago yang kosen luar biasa lebih lihay dari diri Wong Kian sendiri, maka menyebabkan orang tua she Wong itu jadi gelisah sekali. Dan orang yang berada di dalam kamar Wong Kian, yang mengeluarkan suara rintihan, tentunya kawan Wong Kian menurut dugaan Cie Kiat.
Cie Kiat jadi rebah terus penuh kewaspadaan, matanya tak terpejamkan sekejap pun. Malam semakin larut, dan hawa udara pegunungan Fung-san yang menerobos melalui kisi-kisi jendela menyebabkan Cie Kiat dapat merasakan hawa dingin itu. Tetapi suasana malam yang sunyi digunung Fung-san itu dipecahkan oleh suara tertawa yang nyaring mengerikan, karena suara tertawa itu selain melengking tinggi, juga berirama tinggi rendah tak menentu.
Semakin lama suara tertawa yang menyeramkan itu semakin mendekat. Cie Kiat jadi berwaspada, dia duga musuhnya Wong Kian telah mendatangi. Ditiupnya api penerangan kamar itu, dan kamar Cie Kiat seketika jadi gelap gulita. Suara tertawa yang mengerikan itu akhirnya terdengar berada dekat sekali dengan rumah Wong Kian. Selain dari suara tertawa yang mengerikan itu, suara lainnya tak terdengar. Sunyi sekali.
Didengar dari suara tertawa yang mengerikan itu datangnya begitu cepat, maka Cie Kiat telah dapat menduga tingginya kepandaian dari orang yang mengeluarkan suara tertawa tersebut. Tentunya Gin-kang orang itu sudah sempurna sekali. Gin-kang ialah ilmu entengi tubuh. Suara tertawa itu akhirnya lenyap, diganti oleh suara Braaaaakkkk yang berisik sekali, rupanya pintu rumah Wong Kian kena digedor oleh orang yang mengeluarkan suara tertawa itu sampai pecah berantakan.
"Anjing she Wong... keluarlah untuk menerima kematianmu!" Terdengar suara bentakan yang menyeramkan. Tidak ada sahutan, sepi sekali. Kembali terdengar suara tertawa yang mengerikan. "Apakah anjing she Wong ini telah berubah menjadi benar-benar seekor anjing yang pengecut dan tidak tahu malu? Apakah aku perlu masuk kedalam untuk mengambil jiwamu?" Terdengar suara orang yang menyeramkan itu.
Pendengaran Cie Kiat yang tajam dapat mendengar suara langkah kaki yang perlahan, mungkin Wong Kian telah melangkah keluar dari dalam kamarnya. "Bagus! Bagus! Rupanya kau belum berubah menjadi seorang Siauw-cut!!" Terdengar suara orang yang mengerikan dan mendirikan bulu tengkuk itu. "Loo-hu memang sudah lama menantikan kedatanganmu, Hek Sin Mo!!" Terdengar suara Wong Kian yang sabar sekali.
"Dan aku telah siap sedia menerima kedatanganmu ini!!" "Bagus! Bagus! Puteramu kemarin masih bernasib bagus, dia bisa terlolos dari kematian ditanganku karena ada seorang Hwee shio gundul Siauw Lim-sie yang ikut campur! Hmmm, kepala gundul itu telah kukirim ke Giam-lo-ong..... dan sekarang jiwa kalian ayah dan anak harus terbinasa ditanganku!!" "Apakah kau yakin bahwa Loo-hu akan binasa ditanganmu?" Tanya Wong Kian dengan suara yang dingin.
Kembali terdengar orang yang mempunyai suara menyeramkan itu tertawa. Saat itu Cie Kiat telah membuka pintu kamarnya, dia melompat kebelakang sebuah tiang penglarian, dan melompat keatas penglarian tersebut dengan ringan sekali, sehingga tidak terlihat oleh Wong Kian atau orang yang dipanggil oleh kakek Wong itu sebagai Hek Sin Mo atau iblis hitam.
Begitu Cie Kiat dapat melihat rupa dan wajah orang yang dipanggil Hek Sin Mo oleh Wong Kian, dia jadi terkejut dan hampir mengeluarkan seruan tertahan. Di antara cahaya lampu penerangan diruang itu, maka wajah Hek Sin Mo dapat terlihat jelas oleh Cie Kiat. Hek Sin Mo benar-benar luar biasa. Wajahnya mengerikan, seperti juga wajah iblis saja. Lagi pula sangat hitam, dan mungkin itu sebabnya dia diberi julukan Hek Sin Mo, atau iblis hitam.
Rambutnya yang terurai lepas itu sebagian menutupi wajahnya, bajunya yang bergedombrangan berkibar tertiup angin yang menerobos masuk kedalam ruangan itu. Kala itu Hek Sin Mo sedang berdiri menghadap kearah Wong Kian, menyeramkan sekali keadaannya, lebih-lebih waktu dia tertawa, tubuhnya tergoncang dengan hebat. Wong Kian juga berdiri dihadapan iblis itu dengan tenang, tetapi wajahnya tampak agak pucat.
Dipinggangnya tampak tersoren sebelah pedang, tampaknya kakek tua itu jadi gagah dan angker sekali. "Wong Kian.... telah sepuluh tahun aku mencari-cari dirimu, putera dan ayah, akhirnya dapat juga kutemui!!" Kata Hek Sin Mo dengan suara yang menyeramkan. "Hmm..... biarpun kau mempunyai sayap untuk terbang, hari ini tidak akan kubiarkan kau hidup terus.... sakit hati ayahku harus terbalas himpas!" Wong Kian tertawa tawar.
"Persoalan ayahmu sebetulnya sangat panjang kalau diceritakan, tetapi percuma saja, biarpun kuceritakan dengan jujur, tentu kau tidak akan mau mempercayainya!!" Kata Wong Kian dengan sabar. Mendengar perkataan Wong Kian, Hek Sin Mo menggedikkan kepalanya, sehingga rambutnya itu tersingkap dan tampak kedua matanya yang memancar bengis serta tajam sekali, seperti juga tusukan sebilah pisau.
"Kau ingin mengatakan bahwa dirimu tidak bersalah didalam soal kematian ayahku, bukan?" Tanya Hek Sin Mo dengan suara menyeramkan. "Bukankah kau ingin mengelakkan kematianmu dengan bermacam-macam alasan?" Wong Kian tertawa tawar, wajahnya guram sekali, tampaknya dia berduka. "Jadi sudah kukatakan, biarpun kuceritakan panjang lebar dengan penuh kejujuran, dan menyatakan bahwa aku tidak bersalah didalam soal kematian ayahmu, toh kau tidak akan mempercayainya! Baiklah..... kalau memang kau mau membunuh Loo-hu, bunuhlah! Majulah!!" Dan dari suaranya, dapat diketahui bahwa si kakek she Wong itu telah putus asa dan sangat berduka campur perasaan gusar.
Kembali Hek Sin Mo tertawa gelak-gelak dengan nada suara mengandung ejekan. "Kau tidak perlu mengeluarkan alasan-alasan yang tidak masuk akal!" Bentak Hek Sin Mo dengan suara yang menyeramkan. "Aku mempunyai banyak bukti-bukti bahwa kaulah yang telah membunuh ayahku!!" Wong Kian menarik napas berduka. "Baiklah! Karena kau telah menuduhku terus menerus bahwa diriku adalah pembunuh ayahmu, akupun tidak ingin menyangkalnya lagi! Majulah....... bunuhlah aku!!" Kata si kakek she Wong tersebut.
"Anjing she Wong, apakah kau bermaksud untuk mengadakan perlawanan disaat-saat kematianmu ini?" Bentak Hek Sin Mo dengan suara yang menyeramkan. Dia tampaknya mulai bersiap-siap akan menyerang. Kembali Wong Kian menarik napas berduka, dia mencabut pedangnya diangkatnya pedang itu, dipandanginya sesaat lamanya, kemudian tahu-tahu dia melemparkan pedangnya itu kesamping, sehingga jatuh bergontrangan dilantai? "Bunuhlah! Aku tidak akan memberikan perlawanan!" Kata Wong Kian kemudian dengan suara yang perlahan sekali, rupanya dia telah mengetahui liehaynya Hek Sin Mo, dan akan percuma saja dia memberikan perlawanan, karena akan lebih tersiksa lagi.
Si iblis tertawa menyeramkan sekali. "Bagus! Bagus!" Katanya dengan suara yang mendirikan bulu tengkuk. "Ternyata kau memang tahu diri!!" Dan setelah berkata begitu, Hek Sin Mo mengibaskan lengan jubahnya, dia bersiap-siap akan menyerang. Tetapi selagi iblis hitam itu akan menyerang Wong Kian, tiba-tiba dari dalam kamar menerobos keluar sesosok bayangan dengan cepat menubruk kearah si iblis! "Kalau memang kau mau membunuh, bunuhlah aku! Bunuhlah aku! Ayahku tidak bersalah apa-apa!!" Teriak sosok bayangan itu dengan kalap.
Wajah Wong Kian jadi pucat pasi. "Tie-jie..... kembali!" Bentak Wong Kian dengan suara yang keras. Tetapi sudah terlambat, sosok bayangan yang kalap itu telah menubruk si iblis hitam dengan sebilah pedang ditangannya, dan mata pedang tampak mengincer kearah dada Hek Sin Mo. Hek Sin Mo terkejut hanya sesaat, untuk kemudian dia tertawa dingin. Tampak si iblis menggerakkan tangannya, dan terdengarlah suara jeritan yang menyayatkan hati, mendirikan bulu tengkuk.
Tubuh Wong Kian tampak mengejang, tubuhnya gemetar dan wajahnya pucat pasi. Apa yang telah terjadi? Cie Kiat juga mementang matanya lebar-lebar untuk melihat apa yang terjadi, dan waktu dia telah dapat melihat dengan tegas, hati anak muda she Lie ini jadi menggidik sendirinya. Tampak Hek Sin Mo berdiri dengan jari-jari tangannya berlumuran darah, iblis itu telah tertawa gelak-gelak dengan suara yang menyeramkan.
Juga tampak orang yang menubruk si iblis, yang dipanggil oleh Wong Kian dengan sebutan Tie-jie, anak Tie, masih berdiri menjublek, kemudian ambruk kelantai dengan kepala berlumuran darah, rupanya batok kepalanya telah ditembusi oleh kelima jari tangan dari si iblis!! Inilah hebat! Tie-jie, anak Tie itu telah binasa dengan mengenaskan sekali! Dan, itulah suatu kematian yang benar-benar mengerikan sekali! Cie Kiat sendiri sampai menggidik melihat keganasan Hek Sin Mo.
Tampak Wong Kian masih berdiri seperti mayat hidup, wajahnya pucat dan tubuhnya gemetar, menahan perasaan sedih, gusar dan penasaran menjadi satu. Tie-jie, anak Tie, adalah putera tunggalnya, maka menyaksikan kebinasaan putera tunggalnya itu didepan matanya sendiri, bisa dibayangkan kesedihan yang diderita kakek tua she Wong ini. Kala itu si iblis hitam telah tertawa gelak-gelak lagi dengan suara yang menakutkan.