Halo!

Ibu Hantu - Chapter 04

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 04

"Puteramu memang tolol!" katanya dengan suara yang serak menyeramkan. "Tadi sore dia lolos dari tanganku, karena dia memperoleh In-jin, tuan penolong, tetapi dengan tidak terduga dia telah mengantarkan jiwanya dengan cuma-cuma! Hmmm... dasarnya memang ayah dan anak harus binasa ditanganku!!" Dan setelah berkata begitu, si iblis menatap dengan pancaran mata yang menyeramkan.

Tubuh Wong Kian jadi menggigil menahan perasaan duka dan gusar di dalam hatinya. "Kau... kau... kau benar-benar iblis laknat!!" Maki Wong Kian dengan suara yang gemetar menahan perasaan murka yang bukan main.

Melihat sikap Wong Kian, Hek Sin Mo tertawa mengejek. "Kaupun akan segera menyusul puteramu itu!!" Katanya dengan suara yang menyeramkan, karena suaranya itu tidak mengandung perasaan sedikit pun.

Wong Kian menyadari bahwa dia tidak akan sanggup melawan iblis ini, tetapi karena menyaksikan kematian putera tunggalnya itu di depan matanya sekali, maka rasa gusar dan nekad telah menguasai diri kakek ini. "Baiklah! Hari ini aku adu jiwa denganmu, iblis laknat!!" Teriak Wong Kian dengan kalap, dia mengambil pedangnya yang tadi telah dilemparkan ke atas lantai.

Hek Sin Mo mengeluarkan suara yang aneh, seperti suara raungan. Sedang si kakek membungkuk akan mengambil pedangnya, Hek Sin Mo telah menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat menubruk ke arah Wong Kian.

Maksud si iblis sebelum Wong Kian bisa menjangkau pedangnya itu, dia mau menghabiskan terlebih dahulu riwayat hidup kakek itu. Tetapi biar bagaimana Wong Kian adalah seorang jago silat yang kosen, begitu dia merasakan samberan angin dari cengkeraman tangan Hek Sin Mo pada batok kepalanya, cepat-cepat dia mengegoskan kepalanya ke samping, sehingga cengkeraman tangan Hek Sin Mo jadi jatuh pada tempat kosong.

Hek Sin Mo melihat serangannya gagal menemui tempat kosong, jadi tambah gusar. Dengan cepat dia menarik pulang tangannya itu, disusul oleh tangan lainnya yang disapukan dari samping ke arah batok kepala Wong Kian.

Tangan Hek Sin Mo yang satu ini juga bermaksud akan mencengkeram kepala Wong Kian. Kalau memang sampai batok kepala Wong Kian kena dicengkeram oleh jari-jari tangan Hek Sin Mo, maka akan habislah hidup kakek tua she Wong itu, karena kepalanya akan kena ditoblos bolong oleh kelima jari-jari tangan Hek Sin Mo yang sangat berbahaya.

Pada saat itu Wong Kian telah berhasil mengambil pedangnya, dan dia merasakan samberan angin serangan kepala pada batok kepalanya, maka tanpa menoleh lagi, disaat dia memutar tubuh, tangannya juga bergerak, ditangannya mana tercekal pedangnya, sehingga ujung pedang itu mengincer akan merobek perut Hek Sin Mo.

Si iblis agak terkejut melihat kenekadan dari Wong Kian. Jurus yang digunakan oleh kakek tua she Wong itu adalah jurus untuk mengadu jiwa. Dan dengan menggerakkan pedangnya itu, si kakek she Wong bermaksud untuk binasa bersama.

Hek Sin Mo jadi mengeluarkan seruan tertahan dan cepat-cepat mengenjotkan kakinya sehingga tubuhnya melambung tinggi, pedang Wong Kian lewat di bawah kakinya. Hek Sin Mo memang kosen sekali.

Disaat tubuhnya sedang melambung begitu, disaat dia sedang melayang tahu-tahu kedua kakinya bergerak secara berantai. Si iblis bermaksud akan menendang kedua mata Wong Kian. Kalau sampai mata Wong Kian kena ditendangnya, pasti si kakek akan kehilangan ketenangan dan keseimbangan tubuhnya, dan dengan mudah si iblis akan membinasakannya!

Tapi Wong Kian bukan orang lemah, dia bisa bergerak cepat. Waktu melihat sabetan pedangnya itu gagal mengenai sasarannya, dengan cepat dia telah melompat ke samping, sehingga tendangan kedua kaki Hek Sin Mo kembali mengenai tempat kosong.

Dan menggunakan kesempatan sedang si iblis terapung di udara, dikala kedua kakinya terulurkan dalam tendangan berantainya, maka Wong Kian menyabetkan pedangnya, dengan maksud akan memapas putus kedua kaki lawannya.

Hek Sin Mo jadi terkejut. Tetapi dia liehay, maka walaupun kedua kakinya sedang terancam bahaya buntung, toh tetap saja dia dapat bersikap tenang.

Dengan cepat dia menggunakan jurus memberati tubuh seribu kati. Dengan begitu tubuhnya jadi meluncur turun lebih cepat. Dan, disaat tubuhnya meluncur turun begitu, maka Hek Sin Mo mengulurkan tangannya, dengan menggunakan kedua jari tangannya dia menotok ke arah biji mata Wong Kian, dengan maksud akan menarik keluar biji mata lawannya!

Wong Kian terkejut juga melihat lawannya selain dapat menghindarkan serangan pedangnya, malah telah berbalik menyerang dirinya. Dia sampai mengeluarkan jeritan tertahan saking terkejut.

Untuk menarik pulang pedangnya jelas sudah tidak keburu. Dan untuk melompat menghindarkan serangan itu, juga sudah tidak akan keburu. Maka akhirnya si kakek jadi nekad.

Dengan tidak memperdulikan kedua matanya akan buta tercongkel oleh kedua jari tangan Hek Sin Mo, dia telah memutar pedangnya, yang ditusukkan kepada perut si iblis.

Hek Sin Mo memang telah bersiap-siap, maka disaat dia melihat orang akan mengadu jiwa dan pedangnya menyambar dengan cepat, maka si iblis telah mengulurkan tangannya, tangan yang satunya lagi, dipakai untuk menyentil pedang Wong Kian, sehingga pedang itu tergetar dan terpental hampir terlepas dari cekalan tangan kakek she Wong itu.

Sedangkan tangan kanannya yang dipakai untuk menotok kedua biji mata Wong Kian masih meluncur terus. Hati si iblis jadi girang, dia duga serangannya pasti akan berhasil.

Sedangkan Wong Kian sendiri waktu merasakan pedangnya kena disentil oleh si iblis sampai terpental dan menimbulkan perasaan sakit pada telapak tangannya, habislah seluruh harapan si kakek untuk hidup terus.

Dia pasrah saja dengan memejamkan matanya menunggu saat-saat kematiannya. Tetapi, berbareng dengan Wong Kian mendengar Hek Sin Mo menjerit kesakitan. Si kakek Wong, jadi heran, dia membuka matanya, dan dilihatnya si iblis sedang melompat mundur memegangi tangan kanannya, dimana kedua jari tangannya yang dipakai untuk menotok mata Wong Kian tadi, tersapat putus!

Darah tampak mengalir keluar. Wajah si iblis jadi pucat sekali. Wong Kian jadi heran, tetapi seketika itu juga dia mengetahui bahwa dirinya telah ditolong oleh seseorang yang berkepandaian tinggi sekali.

Maka hati kakek she Wong ini jadi girang sekali, dia jadi mempunyai harapan untuk hidup terus. Hati si kakek Wong Kian jadi bertanya-tanya, siapakah yang telah menolong dirinya? Tentunya orang itu seorang tokoh rimba persilatan yang mempunyai nama sangat harum, sebab telah bisa melukai si iblis hitam yang terkenal ganas dan liehay ini.

Dengan matanya, Wong Kian menatap sekeliling ruangan itu, tetapi tidak tampak seorang manusia pun!

Yang telah menolong dan menyelamatkan jiwa Wong Kian adalah pemuda pelajar yang bernama Lie Cie Kiat, yang kala itu sedang bersembunyi di penglarian tiang rumah itu. Sedangkan si iblis hitam yang telah tersapat kedua jari tangannya, jadi memandang dengan mata mencilak keseluruh ruangan itu. Tampaknya dia murka sekali.

Tadi disaat serangannya hampir mengenai sasarannya, disaat kedua jari tangannya akan berhasil mengorek biji mata Wong Kian, dengan tidak terduga, manyambar dua buah pisau kecil, yang telah menyabet dan menabas putus kedua jari tangannya. Maka dari itulah Hek Sin Mo segera mengetahui bahwa Wong Kian telah dibantu oleh seorang jago yang kosen sekali, yang tidak mau menampakkan dirinya.

Dengan murka Hek Sin Mo menatap ke arah Wong Kian. "Hmmm... aku tidak sangka bahwa kau adalah seorang manusia yang rendah sekali!" Memaki si iblis dengan suara yang menyeramkan. "Apakah dengan meminta pertolongan seseorang kau ingin membokongku? Hmm, tak mudah! Kau tetap harus binasa ditanganku!" Dan setelah berkata begitu, si iblis hitam telah melompat akan menubruk dan mencengkeram kepala Wong Kian dengan tangannya yang masih utuh.

Tetapi Wong Kian telah mantap hatinya. Ketenangannya telah pulih! Maka dari itu, dengan cepat dia menggerakkan pedangnya akan menabas tangan orang yang menyambar ke arah batok kepalanya. Tetapi Hek Sin Mo seperti telah kalap, dengan cepat dia telah menarik pulang tangannya itu, dan dipakai untuk menyerang lagi.

Kalau memang dibandingkan kepandaian Wong Kian dengan Hek Sin Mo, maka Wong Kian masih kalah satu tingkat. Itulah sebabnya, sekarang dikala si iblis telah membarengi menyerang lagi dengan nekad, si kakek she Wong itu jadi terdesak hebat.

Dengan cepat-cepat melompat mundur, dia menjauhi diri si iblis. Melihat orang melompat ke belakang menjauhi dirinya, dia tertawa mengejek. "Apakah kau masih tidak mau memperlihatkan diri?" Bentak si iblis dengan suara yang bengis.

Tetapi si iblis membentak bukannya untuk menyerang Wong Kian, melainkan tangannya itu terayun, dan terdengar suara serrrrr, serrrrr, berulang kali, rupanya dia menyerang ke arah atas penglarian tiang rumah itu dengan senjata rahasia yang berbentuk jarum yang halus-halus. Cie Kiat tadi tanpa sengaja telah mengeluarkan suara seruan tertahan, karena melihat jiwa Wong Kian terancam bahaya kematian, dan suara seruan tertahannya yang sangat perlahan sekali itu, yang mungkin tidak akan terdengar oleh manusia biasa, telah menyebabkan si iblis mengetahui tempat persembunyiannya.

Jarum-jarum halus yang dipakai oleh Hek Sin Mo untuk menimpuk Cie Kiat di atas penglarian itu, meluncur dengan kecepatan yang luar biasa. Terdengar suara iiiihhhh, disusul oleh suara tring-tring-tring berulang kali tampak jarum-jarum halus yang dilemparkan oleh Hek Sin Mo berhamburan jatuh ke atas lantai.

Si iblis terkejut. Tadi dia menyerang dengan tiba-tiba, dan itu dapat disebut setengah membokong. Tetapi orang yang diserang dan sedang bersembunyi di atas penglarian itu dapat menangkis jarum-jarum halus miliknya itu, dan itu menandakan bahwa orang yang sedang bersembunyi itu sangat kosen sekali.

Si iblis jadi terkejut juga. Dia mengawasi ke arah penglarian.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment