Chapter 05
Tampak sesosok bayangan putih melayang turun. Waktu Hek Sin Mo mengawasi dengan tegas, tampak olehnya di hadapannya berdiri seorang pelajar berpakaian serba putih. Wajah Siu-chay itu sangat ganteng dan gagah sekali, tampan gemulai. Mata Hek Sin Mo jadi mencilak bermain tak hentinya. Rupanya iblis tersebut sangat gusar sekali.
Siu-chay itu, yang tak lain tak bukan Lie Cie Kiat, begitu melompat turun di hadapan si iblis, dia telah tersenyum manis sekali. Sikap Cie Kiat sangat tenang sekali. "Maaf! Maaf!" Kata Cie Kiat dengan suara yang sabar. "Tadi Hak-seng telah begitu berani lancang ikut campur urusan Jie-wie.... tetapi mengingat bahwa mata adalah alat yang terpenting bagi manusia, maka kalau sampai Wong Loo-cianpwee kehilangan kedua biji matanya, bukankah itu harus dibuat sayang."
Betapa gusarnya Hek Sin Mo mendengar perkataan si pelajar berpakaian serba putih ini, tubuh si iblis jadi menggigil gemetaran menahan hawa amarahnya. "Pelajar bau, ada sangkut paut apa kau dengan anjing she Wong itu?" Tegur si iblis dengan suara yang menyeramkan. Muka Hek Sin Ho memang telah menyeramkan sekali, pandangan matanya juga sangat menakutkan, apa lagi sekarang dia sedang bergusar, maka tampaknya lebih menyeramkan lagi.
Tetapi Cie Kiat dapat bersikap tenang sekali, dia tetap tersenyum dengan manis. "Hak-seng adalah orang pelancongan, dan kebetulan Hak-seng kemalaman, sehingga Hak-seng jadi bermalam dirumah Wong Loo-cianpwee!" Menyahuti Cie Kiat dengan cepat. "Mengingat kebaikan Wong Loo-cianpwee yang telah memperlakukan diriku dengan baik serta ramah tama, maka biar bagaimana aku harus membalas budi kebaikan Wong Loo-cianpwee! Bagaimana aku bisa berdiam diri saja kalau memang jiwa Wong Loo-cianpwee terancam didepan mataku?! Maka, Hak-seng minta agar Heng-thay mau memberikan kelonggaran bagi selembar jiwa Wong Loo-cianpwee! Persoalan diantara Jie-wie memang tidak ingin Hak-seng ketahui sedikitpun dan persoalan Jie-wie memang tidak ingin Hak-seng ketahui.... dengan memberanikan diri Hak-seng ingin meminta kebijaksanaan Heng-thay agar membebaskan Wong Loo-cianpwee dari kematian!"
Wajah Hek Sin Mo yang sudah hitam jadi semakin hitam karena gusarnya. "Pelajar setan!" Bentaknya dengan suara yang menyeramkan. "Setelah kau menabas putus kedua jari tanganku, masih kau berani meminta pengampunan bagi selembar jiwa anjingnya orang she Wong itu?" Cie Kiat tetap membawa sikapnya yang tenang. "Tenang Heng-thay!" Katanya sambil tersenyum. "Kau harus berpikir dengan kepala dingin. Bukankah Heng-thay telah membunuh putera Wong Loo-cianpwee, maka kedua jari tangan Heng-thay itu adalah imbalannya saja! Sebetulnya kalau memang mau diperhitungkan hutang piutang ini, Heng-thay masih untung......!"
Tenang sikap Cie Kiat, dia membahasakan orang dengan sebutan Heng-thay, yang artinya saudara, sedangkan untuk dirinya dia membahasakan Hak-seng, suatu sebutan aku yang merendah. Wajah Hek Sin Mo jadi berubah merah padam, dia gusar sekali, sampai tubuhnya gemetaran. Atau dengan tidak terduga dia membentak keras, tahu-tahu tubuhnya telah melompat menerjang kearah Cie Kiat, jari-jari tangannya terpentang menyeramkan sekali.
WONG KIAN sejak Cie Kiat muncul dengan tiba-tiba dan dirinya tertolong dari kematian oleh pemuda pelajar ini, hatinya jadi tergoncang hebat, dia jadi menatap kesima kepada Cie Kiat, karena sedikitpun dia tidak menyangka bahwa pelajar yang lemah gemulai itu liehay sekali ilmu silatnya. Maka dari itu, waktu melihat Hek Sin Mo menyerang dengan hebat kepada Cie Kiat, tanpa disadarinya Wong Kian jadi berteriak. "Hati-hati Lie Hian-tee!!"
Cie Kiat menoleh dan tersenyum kepada Wong Kian, menyatakan rasa terima kasihnya atas perhatian si kakek terhadap keselamatan dirinya. Setelah itu, dikala cengkeraman tangan Hek Sin Mo yang telah sampai dekat dengan batok kepalanya dan disertai angin yang keras sekali, Cie Kiat dengan cepat menggeser kakinya setindak kesamping, dan dengan berputar setengah lingkaran, dia telah dapat mengelakan serangan si iblis. Hek Sin Mo terkejut melihat cara mengelakkan serangan dari si anak muda pelajar itu. Dia juga heran, karena gerakan Cie Kiat begitu gesit dan lincah sekali.
Tetapi karena dia telah dikuasai oleh hawa amarah yang meluap-luap, maka dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras, kembali dia menerjang menyerang. Kedua tangannya sekaligus terjulur, jari-jari tangannya terpentang lebar seperti juga kuku garuda yang terpentang. Jari tangannya yang terluka tertabas putus, masih tampak mengalirnya si darah merah, sehingga dengan muka yang hitam legam dan rambut yang terurai lepas itu, benar-benar si iblis jadi menyeramkan sekali.
Cie Kiat tertawa dingin, dia melihat orang selalu menyerang dengan jurus yang mematikan. Pelajar she Lie ini jadi gusar juga. Dia lihat orang telengas dan tidak boleh diberi hati. Maka dari itu, sambil mengeluarkan suara siulan yang panjang, tahu-tahu tubuh pemuda ini berputar, kaki kirinya tertekuk dalam-dalam, dan tahu-tahu tangannya yang kanan telah menerobos dengan kuat akan menggempur dada si iblis hitam tersebut. Hek Sin Mo kembali jadi terkejut. Dia sampai mengeluarkan seruan tertahan dan cepat-cepat menarik pulang serangannya. Dia melompat kebelakang dengan mandi keringat dingin.
Tak diduga olehnya, didalam usia begini muda ternyata pelajar she Lie itu telah mempunyai kepandaian yang luar biasa liehaynya. Dengan mata yang bengis dan sambil mengerutkan sepasang alisnya dia mengawasi Lie Cie Kiat dengan penuh kegusaran. "Siapa kau sebetulnya, bocah?" Bentak Hek Sin Mo dengan suara keras mengguntur. Cie Kiat tertawa, dia mengibaskan bajunya perlahan-lahan, menyentil bajunya yang putih bersih itu dengan jari tangannya.
"Hak-seng she Lie dan bernama Cie Kiat, dan bolehkah Hak-seng mengetahui nama besar Heng-thay?" Kata Cie Kiat tetap tersenyum. Betapa gusarnya si iblis, karena orang selalu bersikap tenang dan seperti tidak memandang sebelah mata padanya, maka dengan mendengus sengit, dia berteriak dengan suara yang melengking tinggi. "Orang she Lie...... terimalah kematianmu!" Dan kedua tangan Hek Sin Mo telah bergerak menyerang dengan hebat lagi.
Tetapi biar bagaimana Lie Cie Kiat adalah seorang pemuda yang perkasa, kosen sekali, maka dia melihat datangnya serangan itu dengan bibir tetap tersungging senyuman. Didalam hati si pemuda she Lie ini juga berpikir bahwa dia tidak berlaku terlalu sungkan dan baik hati terhadap si iblis, karena tanpa dihajar si iblis tentu tidak akan jeri. Maka dari itu, Cie Kiat menunggu tibanya serangan dari si iblis hitam tersebut.
Disaat kedua serangan tangan Hek Sin Mo hampir mengenai sasarannya, maka Cie Kiat tahu-tahu mengeluarkan suara siulan, tubuhnya berputar-putar dengan cepat seperti juga bayangan, sehingga Hek Sin Mo jadi terkejut. Saking kagetnya Hek Sin Mo jadi merandek, dan mengawasi saat kearah berputarnya Cie Kiat, agar dia dapat menyerang lagi. Tetapi si iblis telah melakukan suatu kesalahan besar didalam seumur hidupnya. Karena dia merandek begitu, tahu-tahu dukkkkk! tangan Cie Kiat telah menggempur dada si iblis, gempuran Cie Kiat kuat sekali, sehingga Hek Sin Mo bersuara hekkk dan tubuhnya terguling, terjerembab dilantai.
Tetapi Hek Sin Mo adalah seorang iblis yang liehay sekali, dia bisa bergerak dengan cepat, begitu tubuhnya menyentuh lantai, dia sudah melompat bangun dengan jurus Ieeteng atau ikan gabus meletik dan waktu sudah dapat berdiri tetap kembali, tampak wajah Hek Sin Mo sangat pucat serta bibirnya bergemetaran. "Kau.... kau...." Suara si iblis tidak lampias waktu dia berkata begitu. Cie Kiat tertawa kecil melihat lagak si iblis. Sikap pemuda she Lie ini tenang luar biasa.
"Tadi Hak-seng telah katakan, kalau dihitung laba-ruginya, maka Heng-thay masih beruntung hanya kukutungi kedua jari tanganmu saja." Kata Cie Kiat dengan suara yang sabar. "Coba kalau memang aku bermaksud jahat, bukankah dengan mudah aku dapat membunuhmu? Membinasakan diri Heng-thay sama mudahnya seperti juga membalik telapak tangan..... Heng-thay masih memerlukan latihan selama tiga puluh tahun untuk dapat menandingi diriku! Hmm, kepandaian yang dimiliki oleh Heng-thay itu sama sekali tak ada artinya untukku!"
Betapa gusar dan mendongkolnya Hek Sin Mo. Seumur hidupnya baru kali ini dia dihina orang tanpa daya. "Orang she Lie!" Akhirnya dia membentak dengan suara yang bengis. "Baiklah hari ini aku rubuh ditanganmu, tetapi kau ingat, tiga tahun lagi aku akan mencarimu! Biarpun kau lari keujung bumi atau belahan bumi mana saja, hmmm, aku pasti akan berada disitu juga! Tentang jiwa anjing orang she Wong itu biarlah kuberi pengampunan selama tiga tahun, nanti setelah membinasakan dirimu baru akan kubinasakan dia!"
Dan setelah berkata begitu tahu si iblis hitam telah mengenjotkan kakinya, tubuhnya melesat keluar, didalam waktu yang singkat sekali dia telah lenyap ditelan kegelapan malam. Melihat si iblis telah berlalu, Wong Kian cepat-cepat menghampiri Lie Cie Kiat. Dia menekuk kedua kakinya berlutut didepan Cie Kiat. "In-jin telah menolong selembar jiwa tuaku.... dan aku berterima kasih sekali, entah dengan apa Loo-hu harus membalas budi kebaikan In-jin ini!!" Kata si kakek dengan suara yang berduka sekali, wajahnya juga sangat pucat.
Cie Kiat cepat-cepat menyingkir kesamping, dia tidak mau menerima pemberian hormat dari si kakek. "Jangan begitu, Wong Loo-cianpwee!" Kata Cie Kiat dengan cepat. "Tadi kebetulan memang aku ingin menghajar iblis jahat itu..... hanya sayang, aku tidak keburu untuk menolong jiwa puteramu itu.....!!" Dan Cie Kiat melirik kearah mayat Tie-jie yang masih menggeletak dilantai dengan bermandian darah merah yang telah membeku.
Mendengar disebutnya puteranya itu, air mata si kakek she Wong jadi tidak bisa dibendung lagi. Dia menangis dengan tubuh yang tergetar, sedangkan Cie Kiat jadi repot membujuknya. Sebagai seorang jago kawakan, maka dengan cepat Wong Kian dapat menguasai perasaannya.