Halo!

Ibu Hantu - Chapter 06

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 06

Cepat sekali dia bisa menguasai dirinya dan tidak menangis lagi.

Dengan muka yang berduka, dia berkata perlahan sekali, "Ah, rupanya memang sudah karma... nasib Tie-jie yang jelek, dia harus berpulang terlebih dahulu!" Mengumam kakek tua she Wong itu dengan sedih.

Cie Kiat cepat-cepat menghiburnya lagi. "Wong Loo-cianpwee!" Kata Cie Kiat akhirnya. "Bolehkah aku mengetahui persoalan yang terjadi antara Loo-cianpwee dengan iblis itu?" Si kakek she Wong menghela napas. "Ya, semuanya telah terjadi, dan kukira tidak ada salahnya kuceritakan semuanya kepadamu, Hian-tee!" Kata Wong Kian.

"Peristiwa ini sebetulnya diawali oleh suatu peristiwa pada enam belas tahun yang lalu..." Dan Wong Kian mulai menuturkan sebab musabab dari persengketaannya dengan Hek Sin Mo.

Enam belas tahun yang lalu, Wong Kian dan puteranya yang bernama Wong Siang Tie, menetap di kampung Eng-sian-chung di dalam bilangan wilayah In-lam. Wong Kian memang sudah ingin mencari suatu tempat yang sepi untuk hidup menyendiri, menjauhkan diri dari segala keramaian duniawi. Sebagai seorang jago yang kosen dan berpengalaman, Wong Kian bermaksud akan mendidik Wong Siang Tie, puteranya itu, yang kala itu berusia dua puluh tahun, dalam segi ilmu silat dan surat, agar puteranya ini menjadi Bun Bu Coan-chay, pandai ilmu surat dan pandai ilmu silat.

Tetapi Wong Siang Tie kurang cerdas, sehingga Wong Kian agak berduka, karena puteranya itu mempunyai harapan yang tipis untuk menjadi seorang pendekar yang menonjol. Maka dari itu dengan tekun, Wong Kian mendidik puteranya tersebut dengan penuh kesabaran.

Pada suatu hari, dikala Wong Kian sedang duduk berangin di muka rumahnya, karena siang itu hawa udara sangat panas, tampak berlari-lari mendatangi Loo-sam, seorang lelaki tua yang menjadi tetangganya. "Kian-heng... cepat kau lihat!" Teriak Loo-sam begitu dia sampai didekat Wong Kian, sehingga mengejutkan orang she Wong ini.

"Lihatlah Kian-heng, puteramu itu... dia berkelahi hebat sekali! Oh... sampai terjadi peristiwa berdarah!! Lihatlah cepat..." Pucat sekali wajah si Loo-sam itu. Wong Kian juga terkejut mendengar laporan Loo-sam, tanpa bertanya lebih lanjut, dengan cepat Wong Kian berlari dengan Gin-kangnya menuju ke tempat yang ditunjuk oleh Loo-sam.

Benar saja, waktu Wong Kian sampai didekat pasar, disebelah utara kampung itu, tampak Wong Siang Tie, puteranya, sedang dikeroyok oleh beberapa anak muda. Ditanah bergelimpangan empat atau lima anak muda yang telah menjadi mayat! Tampak sekali, Siang Tie sedang mengamuk dengan kalap, dan beberapa orang anak muda yang mengeroyoknya berusaha bisa merubuhkan diri Siang Tie.

Waktu Wong Kian sampai ditempat peristiwa tersebut, dia membentak dengan suara yang mengguntur, karena dia sangat gusar. "Tie-jie... tahan!!" Siang Tie jadi terkejut mendengar bentakan ayahnya, dia jadi gugup, dengan cepat dia melompat mundur ke dekat ayahnya. Anak-anak muda yang mengeroyok dirinya jadi menahan senjata masing-masing waktu melihat Wong Kian.

Salah seorang yang bernama Pie Kim Ceng, seorang anak muda yang terkenal paling bergajulan di kampung itu, yang termasuk mengeroyok Wong Siang Tie telah maju ke depan. "Wong Lo-peh!" Katanya dengan berani. "Puteramu telah membunuh beberapa kawan kami, maka biar bagaimana kami harus membunuhmu pula! Hutang jiwa harus dibayar dengan jiwa!!" Wajah Wong Kian jadi berubah merah padam.

"Sebetulnya peristiwa apakah yang telah menyebabkan kalian jadi saling hantam begini?" Tegurnya dengan tidak senang. "Puteramu pulang dalam keadaan mabok, dan tidak keruan, tidak hujan tidak angin, tahu-tahu dia menyerang kami dengan pedangnya itu, sehingga terpaksa kami mengadakan perlawanan... dan lihatlah! Beberapa kawan kami telah binasa dan kejadian ini akan berbuntut hebat, karena pembesar setempat juga tidak akan mau mengerti!!" Wajah Wong Kian jadi berubah pucat, dia menoleh kepada puteranya.

"Benarkah kau telah melakukan hal itu?" Tegur Wong Kian dengan suara yang bengis, matanya juga memancarkan cahaya yang mengerikan. Wong Siang Tie jadi gemetar melihat wajah ayahnya, sejak kecil dia memang sudah dididik keras, sehingga dia tidak berani berdusta. Maka atas pertanyaan ayahnya itu, dia mengangguk. "B... benar..." Menyahuti Siang Tie.

"Tetapi ayah... mereka yang terlebih dahulu mengolok-ngolok diriku!" "Ploookkk!" Tahu-tahu tangan Wong Kian melayang menghajar pipi puteranya. Siang Tie terkejut, dia jadi kesakitan berbareng kaget. "Thia..." Panggilnya dengan suara yang berduka. Thia berarti ayah.

Wajah Wong Kian bengis sekali. "Mengapa kau membikin huru hara?" Bentak Wong Kian dengan suara yang keras. "Aku... aku dikeroyok dengan tidak tahu menahu persoalannya, ayah!" Kata Siang Tie dengan cepat. "Mereka... mereka telah menyiksa Ye Hoa..." Ye Hoa atau nama sebenarnya adalah Hoan Ye Hoa adalah tunangan Siang Tie.

Wajah Wong Kian jadi berubah. "Dimana sekarang Hoa-jie?" Tanya Wong Kian dengan suara yang berubah agak lembut. "Dirumahnya Thia... mereka diganggu oleh anak-anak bergajulan ini!" Menyahuti Siang Tie. Wong Kian menoleh kepada anak muda berandal itu, juga menatap kepada Kim Ceng.

Baru saja dia mau menanyakan persoalan yang lebih jelas, tampak mendatangi Pie Lay, ayah Kim Ceng. Pie Lay terkenal paling memanjakan puteranya, sifatnya berangasan sekali, maka setiap kali ada sesuatu hal yang bersangkut paut dengan diri puteranya, pasti dia akan memenangkan puteranya tanpa melihat persoalannya terlebih dahulu.

Pie Kim Ceng melihat kedatangan ayahnya, jadi tambah semangat, terbangun semangatnya. "Ayah, anakmu telah dihina orang!" Dia mengadu kepada Pie Lay sambil menghampiri. Pie Lay paling berangasan, dia memang paling tidak senang kalau mendengar puteranya dihina orang.

"Mana orangnya?" Tanyanya dengan suara yang kasar. "Akan kuhajar mampus orang yang berani menghina puteraku!" Kim Ceng menunjuk kapada Wong Kian. "Mereka ayah dan anak mau mengeroyok aku!" Katanya dengan suara yang nyaring.

Tanpa menanya lebih lanjut, Pie Lay telah maju mendekati Wong Kian. Tidak mengucapkan sepatah katapun dia telah mengayunkan kepalannya yang bertenaga itu kepada Wong Kian. Melihat ini Wong Kian jadi mendongkol sekali, karena datang-datang Pie Lay menyerang dirinya tanpa menyelidiki dulu pihak mana yang bersalah.

"Tahan!!" Bentak Wong Kian mengelakkan serangan orang. Tetapi Pie Lay masih menyerang terus. Terpaksa Wong Kian harus melayaninya. Sedang Pie Kim Ceng telah bersama-sama kawannya menghampiri Siang Tie, mereka mengeroyok lagi puteranya Wong Kian ini.

Pertempuran yang pincang ini terjadi cukup seru, tetapi pihak Wong Kian yang terdesak hebat, karena pihak lawan berjumlah banyak. Lebih-lebih Siang Tie, dia terdesak hebat sekali, dia jadi kalut cara bertempurnya.

Pada suatu kali dikala pedang Kim Ceng sedang menyambar kearah dadanya, Siang Tie menangkisnya, tetapi disebabkan tenaganya telah habis bertempur sejak tadi, pedangnya terlepas dari cekalannya dengan keras. Dan dengan tidak terduga pedang itu terbang kearah Pie Lay. Orang she Pie itu jadi terkejut.

Dia berusaha menangkisnya. Tetapi gagal dan pedang itu menancap didadanya. Wong Kian yang melihat itu juga jadi mengeluarkan seruan tertahan. Tetapi dia sudah tidak keburu untuk menolong Pie Lay, sebab tubuh orang she Pie itu telah terkulai rubuh tanpa nyawa.

Pedang Siang Tie menancap tepat pada jantungnya. Semua yang menyaksikan itu jadi terkejut. Lebih-lebih Kim Ceng, dia mengeluarkan jeritan kalap, dan menyerang kepada Wong Kian. "Akan kuadu jiwa denganmu!" Serunya sambil menyerang Wong Kian, karena didalam dugaan anak muda ini ayahnya telah terbunuh oleh Wong Kian.

Wong Kian ingin menjelaskan, tetapi Kim Ceng sudah kalap benar. Sampai akhirnya Wong Kian jadi main mundur dan berlari karena dia takut nanti melukai Kim Ceng lagi. Rupanya semakin lama Kim Ceng semakin kalap, tahu-tahu dengan tidak terduga, dia telah menggorok lehernya sendiri!

Darah merah seketika juga muncrat dari lehernya! Rupanya saking gusar dan tidak bisa melampiaskan kemurkaannya itu, Kim Ceng jadi putus asa, dia telah membunuh dirinya sendiri! Semua orang yang melihat hal itu jadi terkejut sekali.

Tetapi mereka juga tidak bisa memberikan pertolongan kepada anak muda she Pie itu. Tubuh ayah dan anak yang telah menjadi mayat itu menggeletak tak bernyawa digenangi darah merah.

Tiba-tiba dari kejauhan tampak berlari-lari seorang anak muda. Dia adalah Pie Kim Siu, putera nomor dua dari Pie Lay dia melihat kematian ayah dan kakaknya itu. Dengan kalap dia mau menyerang Wong Kian, tetapi orang yang ada didekat situ telah menahanya.

Wong Kian dan Siang Tie sendiri berdiri terpaku bengong disitu, mereka jadi menyesal sekali sampai terjadi perkara jiwa begitu. Dan, sejak dari saat itulah, Wong Kian dan puteranya tidak pernah tampak lagi di kampung tersebut, mereka telah lenyap, entah kemana.

Begitu juga Kim Siu, dia rupanya mengembara untuk mencari guru pandai, guna membalas dendamnya. Itulah kejadian enam belas tahun yang lalu, dan setelah berselang sepuluh tahun kemudian dari terjadinya peristiwa keluarga Pie itu, terdengar muncul dalam kalangan Kang-ouw seorang jago yang bengis sekali kepada lawannya, kepandaiannya lihay sekali, dan tangannya sangat telengas, setiap lawannya pasti akan terbinasa ditangannya.

Iblis itu diberi gelaran Hek Sin Mo, Iblis hitam, karena wajahnya memang hitam. Wong Kian sendiri mengetahui, bahwa iblis itu Kim Sin, putera Pie Lay maka untuk menghindarkan diri dari keruwetan, dia mengasingkan diri digunung Fung-san. Tetapi tidak diduga iblis itu masih dapat mengendus tempat menetapnya itu.

Malah siangnya Siang Tie, putera dari Wong Kian, telah dilukai oleh iblis itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment