Chapter 07
Malam itu hampir saja Wong Kian terbinasa ditangan iblis tersebut jika tidak ada Lie Cie Kiat, pelajar berbaju putih itu. Yang membuat hati Wong Kian berduka sangat adalah puteranya, Wong Siang Tie, yang telah terbinasa ditangan iblis tersebut.
Setelah mendengar semua cerita Wong Kian, Cie Kiat menghela napas. Dia menghibur kakek itu dan membantu Wong Kian mengubur Siang Tie. Selama itu, wajah Wong Kian sangat berduka karena hatinya sedih.
Malam itu mereka lewati dengan pasang omong saja, karena keduanya tidak dapat tertidur. Menjelang fajar, Cie Kiat pamit dari kakek she Wong tersebut. "Kita harus tabah menghadapi segala sesuatu yang menimpa diri kita, Wong Loo-cianpwee!" kata Cie Kiat saat dia melompat ke atas kudanya.
"Dan segala kedukaan yang kita derita akan lenyap bila kita bisa mengendalikan perasaan kita itu," tambah Wong Kian, mengangguk membenarkan perkataan pemuda she Lie itu dengan sedih. "Benar Lie Hian-tee, tetapi sebagai seorang ayah, biar bagaimana aku tak bisa melenyapkan perasaan dukaku itu, karena kematian hati seorang putera akan menyebabkan hati yang telah lapuk ini akan berduka terus!" Cie Kiat menarik napas. "Ya, kau benar Wong Loo-cianpwee!" kata Cie Kiat lagi.
Cie Kiat mengelus-elus kudanya sesaat lamanya, keduanya jadi saling membisu. Tiba-tiba, Cie Kiat menoleh memandang Wong Kian. "Wong Loo-cianpwee, baiklah kita berpisah dulu, pertemuan kita ini walaupun hanya satu malam saja, toh serasa kita telah bersahabat seribu tahun! Nah, sampai jumpa lagi!" Dan Cie Kiat mengedut tali les kudanya, sehingga kuda itu larat dengan cepat.
"Selamat jalan, Lie Hian-tee!!" teriak Wong Kian dengan suara yang nyaring. Tetapi Cie Kiat sudah tidak mendengar teriakan Wong Kian, sebab dia telah melarikan kudanya dengan cepat sekali. Waktu sampai di dekat perut gunung itu, Cie Kiat menahan kekang kudanya. Pemandangan di sekitar tempat itu sangat indah sekali, lebih-lebih udara pagi yang segar menyebabkan Cie Kiat jadi berdiam diri sesaat di situ untuk menikmati keindahan gunung Fung-san.
Tiba-tiba, sedang dia duduk terpaku di pelana kudanya, terdengar suara orang bersyair dengan suara yang parau. "Tung, tung, tung. Suara tongkat terbentur batu. Tung, tung, tung. Si pengemis membawa tempurung. Burung gagak terbang mencari makan. Jenderal pergi berperang. Rakyat kecil bekerja keras mencari makan. Semuanya ingin mengisi perut. Tung, tung, tung." Syair yang dilagukan oleh orang itu tidak menyerupai syair apapun, sangat kacau dan tidak keruan sekali.
Dari balik semak belukar, tampak keluar seorang pengemis tua yang ditangannya memegang sebatang tongkat. Pengemis itu jalan dengan dibantu oleh tongkatnya itu. Cie Kiat mengawasi pengemis itu dengan tetap duduk di atas kuda tunggangannya. Pengemis itu menoleh kepadanya, dan dia berhenti menyanyi. Tampak matanya mencilak memain sesaat lamanya, kemudian dia tersenyum.
Dan kemudian dia meneruskan langkahnya, seperti juga pengemis itu tidak memperdulikan Cie Kiat. Cie Kiat memajukan kudanya menghadang di depan pengemis itu. "Lo-peh, ke arah manakah jurusan untuk menuju ke Liong-gak-chung?" tanya si pemuda sambil melompat turun dari kudanya. Pengemis itu berjalan terus, dia seperti juga tidak mendengar pertanyaan Cie Kiat.
Melihat hal ini, Cie Kiat jadi heran berbareng curiga. Dia jadi mau mengambil kesimpulan apakah si pengemis ini tuli pendengarannya?! Cepat-cepat dihadangnya lagi. "Lo-peh, kemanakah jurusan untuk menuju ke Liong-gak-chung?" tanya Cie Kiat kembali. Dia memanggil orang dengan sebutan Lo-peh, yang berarti paman.
Pengemis itu mengangkat kepalanya, dia menatap Cie Kiat lama sekali, dengan biji mata yang memain tak berhentinya. "Siapakah Kong-cu?" tanyanya kemudian. Pengemis ini memanggil Cie Kiat dengan sebutan Kong-cu, yang berarti tuan, untuk panggilan anak muda. Cepat-cepat Cie Kiat merangkapkan kedua tangannya, dia memberi hormat kepada pengemis itu.
"Siauw-tee she Lie dan bernama Cie Kiat!" menerangkan anak muda she Lie itu, dan dia juga sambil menjura begitu, sengaja dia mengerahkan sedikit tenaga dalamnya, yang menyambar ke arah si pengemis. Sengaja Cie Kiat melakukan hal itu, karena dia melihat gerak-gerik si pengemis ini lain dengan pengemis-pengemis biasanya, dan dia ingin mengujinya apakah pengemis ini mengerti ilmu silat atau tidak.
Si pengemis seperti juga tidak mengetahui bahwa dirinya sedang diuji oleh pemuda she Lie itu. Dia membungkukkan tubuhnya menjura juga kepada Cie Kiat. "Maaf! Maaf Lie Kong-cu, ada keperluan apakah Kong-cu menghadang perjalananku?" tanyanya. Dan dengan berbuat begitu, dengan membungkuk memberi hormat kepada Cie Kiat, tenaga serangan Lwee-kang Cie Kiat jadi punah.
Hati Cie Kiat jadi tercekat juga, karena biasanya, biarpun orang liehay sekali, kalau menyambut serangan tenaga Lwee-kang yang dilancarkan olehnya seperti tadi, pasti orang itu akan tergoncang tubuhnya atau setidak-tidaknya akan terhuyung mundur beberapa langkah. Namun pengemis ini sedikitpun tidak bergeming tubuhnya. Hal ini menandakan betapa tingginya tenaga dalam dari pengemis tersebut.
Maka dari itu, Cie Kiat juga tidak berani memandang rendah kepada pengemis ini. "Siauw-tee ingin menanya sedikit kepada Lo-peh," kata Cie Kiat cepat. "Kearah manakah harus kita tempuh untuk menuju ke Liong-gak-chung?" "Jadi Lie Kong-cu ingin menuju ke Liong-gak-chung?" tanya si pengemis itu dengan mengerutkan sepasang alisnya. Cie Kiat mengangguk. "Ya!" Dia menyahuti.
Si pengemis mengangguk-anggukkan kepalanya, alisnya tetap berkerut, dia juga memandangi si anak muda dengan mata yang tajam sekali. Kemudian dia baru berkata, "Apakah Kong-cu tahu bahwa di Liong-gak-chung dua hari lagi akan ada keramaian?" Cie Kiat jadi heran. "Keramaian apakah Lo-peh?" tanyanya dengan cepat.
Si pengemis kembali menatapi Cie Kiat dengan pandangan mata yang tetap tajam. "Apakah benar-benar Kong-cu tidak mengetahui keramaian apa yang akan diadakan disana?" tanyanya seperti juga dia tidak mempercayai perkataan Cie Kiat tadi. Cie Kiat mengangguk dengan pasti. "Benar Lo-peh, aku tidak mengetahui bahwa dua hari lagi di kampung Liong-gak-chung itu akan diadakan keramaian! Dan kalau boleh Siauw-tee mengetahui, keramaian apakah yang akan diadakan disana?"
Si pengemis kembali mengangguk-anggukkan kepalanya. "Dikampung itu akan diadakan Pie-bu," dia menerangkan. "Pie-bu itu diadakan oleh Siang Wang-gwee untuk memungut seorang mantu yang mempunyai kepandaian ilmu silat yang tinggi!!" "Oh, keberanian itu sudah biasa!" kata Cie Kiat tertawa setelah mendengar keterangan si pengemis.
"Benar! Kalau memang hanya Pie-bu untuk memilih menantu sudah biasa, tetapi disamping itu juga akan diadakan suatu sayembara, siapa yang dapat memenangkan pertandingan didalam Pie-bu itu, akan memperoleh selembar peta penyimpanan harta yang tidak ternilai harganya!" Cie Kiat jadi mengeratkan alisnya. "Jadi Pie-bu memilih menantu dan memperebutkan peta harta itu kedua-duanya diadakan oleh Siang Wang-gwee?" tanya Cie Kiat.
Pengemis itu mengangguk. "Benar!" Menyahuti si pengemis. "Dan itulah sebabnya pada hari-hari belakangan ini banyak berdatangan anak-anak muda ke kampung Liong-gak-chung untuk mengadu nasib, sebab kalau sampai terpilih sebagai menantu dari Siang Wang-gwee, berarti dia akan segera menjadi kaya raya!" Cie Kiat mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tertawa.
"Tetapi aku tidak mempunyai minat untuk memperebutkan kedudukan menantu Siang Wang-gwee itu, Lo-peh!" kata Cie Kiat sambil tertawa. "Aku hanya ingin mengunjungi kampung itu untuk mengurus suatu persoalan!!" Si pengemis jadi heran mendengar perkataan Cie Kiat. "Apakah kau benar-benar tidak ingin memperebutkan kedudukan menantu Siang Wang-gwee itu?" tanya seperti juga dia tidak percaya akan kata-kata si anak muda she Lie itu.
"Biasanya, jangan kata anak-anak muda seperti kau, sedangkan kakek-kakek seperti aku ini banyak juga yang berdatangan untuk mengadu nasib! Kau tahu, Siang Sio-cia, nona Siang sangat cantik sekali!!" Cie Kiat hanya tertawa tawar. "Tetapi hatiku tidak tertarik pada persoalan itu Lo-peh!" katanya dengan cepat. "Dan, kemanakah jurusan untuk menuju ke kampung Liong-gak-chung?" Si pengemis menunjuk dengan tongkatnya.
"Kau jalan terus mengikuti jalan ini, dan setelah kurang lebih sepuluh lie, kau menuruni sebuah lembah, di kaki lembah itulah kau akan menemui sebuah kampung yang besar, kampung Liong-gak-chung yang sedang kau cari itu!" menerangkan si pengemis. "Terima kasih Lo-peh!" kata Cie Kiat sambil melompat ke atas kudanya.
Si pengemis tertawa dingin waktu dia melihat anak muda she Lie itu telah berlari. Dia merogoh sakunya mengeluarkan selembar kain, di situ dia membikin sebuah lukisan bunga. Di samping lukisan bunga yang baru dibuatnya itu, telah terdapat tujuh belas lukisan bunga lainnya. "Hmm, sudah tujuh belas orang yang terlebih dahulu datang ke Liong-gak-chung, dan anak muda tadi termasuk yang kedelapan belas!" Dan si pengemis kembali tertawa dingin berulang kali.
Sedangkan mulutnya tetap mengoceh menyanyikan lagunya yang tidak keruan. "Tung tung tung, si pengemis membawa tempurung. Burung gagak terbang mencari makan, jenderal pergi berperang, rakyat kecil bekerja keras mencari makan, semuanya ingin mengisi perut, tung tung tung...." Dan langkah kaki si pengemis yang gontai itu semakin cepat, suara nyanyiannya semakin terdengar jauh samar sekali.
Lie Cie Kiat membedal kudanya dengan cepat, dia ingin cepat-cepat tiba di kampung Liong-gak-chung.