Chapter 08
Di kampung ini, dia harus membunuh seseorang, yaitu seorang penjahat besar. Perintah itu adalah perintah gurunya yang harus ditaati, sebelum Cie Kiat turun gunung. Su-hunya pernah berpesan agar dia mendatangi kampung Liong-gak-chung untuk membunuh seorang penjahat besar yang bernama Liang Ban Cen.
Dalam waktu yang sangat cepat, Cie Kiat telah melalui sepuluh lie lebih dan dia melihat bahwa memang benar disitu terdapat sebuah lembah, seperti apa yang dikatakan oleh si pengemis tadi. Cepat-cepat Cie Kiat menuruni lembah itu. Kuda putihnya itu, Pek-ma, sangat penurut sekali dan juga sangat gesit luar biasa, disamping tenaga yang sangat kuat sekali.
Selain melakukan tugasnya untuk membunuh penjahat besar yang bernama Liang Ban Cen, Cie Kiat juga jadi tertarik untuk menyaksikan keramaian yang akan berlangsung di kampung tersebut. Dia ingin melihat perebutan kedudukan menantu bagi Siang Wang-gwee. Lagi pula, Cie Kiat juga ingin melihat rupa dari Siang Sio-cia, yang dikatakan oleh si pengemis sangat cantik itu.
Hanya beberapa lie saja, akhirnya Cie Kiat sampai juga di kampung Liong-gak-chung. Kampung ini ternyata cukup ramai. Waktu Cie Kiat sedang memasuki kampung ini, tampak disebelah utara pintu kampung itu, orang sedang sibuk menghiasi sebuah Lui-thay, sebuah panggung untuk orang Pie-bu.
Cie Kiat menduga bahwa gedung yang ada didekat Lui-thay itu tentunya gedung Siang Wang-gwee, karena tampaknya sangat ramai sekali. Cie Kiat menuju kesebuah rumah penginapan yang terdapat tidak jauh dari situ. Dia menyerahkan Pek-ma, kuda putihnya itu, kepada seorang pelayan rumah penginapan itu, dan meminta sebuah kamar untuknya.
Tetapi waktu Cie Kiat akan menaiki undakan tangga, pundaknya disenggol oleh seseorang yang sedang menuruni tangga itu. Tampaknya orang itu menyenggolkan pundaknya pada pundak Cie Kiat tanpa sengaja, tetapi Cie Kiat tahu bahwa orang itu sedang mencoba dirinya. Tenaga sentuhan pundak orang itu sangat kuat sekali, coba kalau memang orang yang ditubruknya itu orang biasa yang tidak mengerti ilmu silat, tentu akan terpental terpelanting terguling dari undakan tangga itu.
Hati Cie Kiat jadi mendongkol. Baru saja orang itu mau cepat-cepat pergi, Cie Kiat telah mengulurkan tangannya mendorong pundak orang itu. Dorongan Cie Kiat bukan sembarangan dorongan. Dorongan tangan Cie Kiat itu mengandung tenaga Lwee-kang yang kuat sekali, karena anak muda she Lie ini telah mengerahkan tenaga Lwee-kangnya tiga bagian pada telapak tangannya.
Orang itu terkejut waktu merasakan menyambarnya angin serangan pada pundaknya, tetapi belum sempat dia mengelakkan, tahu-tahu punggungnya sudah kena didorong, sehingga tanpa ampun lagi orang itu jadi terjerunuk, dan jatuh terguling dari undakan anak tangga, terbanting keras dilantai.
Orang-orang yang ada diruangan itu jadi menoleh semuanya, dan mereka datang mengerumun. Cie Kiat sendiri telah menghampiri. Orang yang terbanting keras itu telah merangkak bangun, dan Cie Kiat dapat melihat bahwa muka orang itu sangat bengis sekali. Cambang bauknya tampak tambah lebat sekali diwajahnya.
Dengan pancaran mata yang gusar, orang itu mendelik kepada Cie Kiat. Sambil tertawa Cie Kiat mendekati orang itu. "Tuan turun dari tangga itu terlalu kesusu, sehingga jatuh....!" Kata Cie Kiat tetap tertawa. "Lain kali makanya berlakulah sedikit hati-hati!" Dan setelah berkata begitu, Cie Kiat memutar tubuhnya menaiki tangga itu lagi.
Orang itu tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengawasi Cie Kiat dengan pandangan mata yang bengis sekali, penuh oleh rasa dendam. Setelah si anak muda she Lie masuk kedalam kamarnya, orang itu cepat-cepat memutar tubuhnya dan keluar dari rumah penginapan tersebut, dan menghilang dijalanan.
Cie Kiat merebahkan dirinya dipembaringan. Dia jadi heran, mengapa orang itu tadi ingin mencoba dirinya dengan menyentuhkan pundaknya pada pundak Cie Kiat?! Siapakah orang itu? Dan, apa lagi maksudnya dia melakukan hal itu? Kalau dilihat dari wajahnya, orang itu bukan termasuk orang baik-baik.
Juga tentunya orang itu tidak bermaksud baik kepada Cie Kiat, pancaran matanya tidak mengandung maksud baik terhadap pemuda she Lie itu. Tetapi Cie Kiat tidak mau terlalu memusingkan persoalan orang itu. Dia memejamkan matanya dan ingin beristirahat sesaat, guna memulihkan tenaganya, agar malam ini juga dia bisa melakukan tugasnya guna merampas jiwa dari perjahat besar yang bernama Liang Ban Cen itu.
Tetapi sedang si pemuda she Lie ini beristirahat, dia mendengar diluar suara ribut-ribut. Mulanya suara ribut-ribut itu tidak menarik perhatian Cie Kiat, tetapi akhirnya dia jadi tertarik juga, sebab dia mendengar ada yang berteriak. "Mana......?! Mana pelajar bau itu? Hu, hari ini tanganku memang sudah gatal ingin membunuh orang!!!"
Perlahan-lahan dan tenang Cie Kiat turun dari pembaringan. Dia menghampiri pintu kamarnya, dibukanya dan dia berjalan keluar dari kamarnya dengan langkah yang tenang. Dilihatnya diruangan bawah telah ada beberapa orang yang mempunyai tampang semuanya sebagai buaya darat. Tamu-tamu dipenginapan tersebut telah bubar, semuanya bersembunyi didalam kamar masing-masing.
Salah seorang diantara orang-orang itu melihat Cie Kiat. "Lihat! Orang itu bukan?" Teriaknya. Semua kawan-kawannya yang berjumlah delapan orang menoleh kearah Cie Kiat. Anak muda she Lie yang mempunyai mata tajam sekali dapat melihat diantara orang-orang itu terdapat orang yang tadi menubruknya waktu dia mau menaiki anak tangga itu.
"Hmm..... rupanya dia datang membawa kawan-kawannya untuk membalas sakit hatinya!" Pikir Cie Kiat. Sedangkan orang yang tadi telah kena dibikin malu oleh Cie Kiat telah melihat anak muda she Lie itu, dia berteriak dengan suara yang keras. "Benar! Dialah pelajar busuk yang telah mencari gara-gara denganku!"
Dengan cepat kesembilan orang itu meluruk kearah Cie Kiat, mereka beramai-ramai menaiki tangga itu. Cie Kiat tertawa dingin. Dia melompat turun dari atas loteng itu dengan tubuh yang ringan sekali, dan dengan sendirinya dia telah berada diruangan bawah. Orang-orang itu jadi merandek sejenak, tetapi akhirnya dengan mengeluarkan teriakan-teriakan yang ribut, kesembilan orang itu berlomba untuk turun kembali.
Cie Kiat berdiri dengan tenang, menantikan kedatangan kesembilan orang itu. "Hmmm, buaya darat ini semuanya harus dihajar!" Pikir Cie Kiat. "Aku harus memberi pelajaran yang lumayan kepada mereka agar lain kali mereka tidak terlalu mengumbar kejahatan mereka!!"
Sedang si anak muda she Lie ini berpikir begitu, kesembilan orang yang ingin mengeroyoknya telah sampai didekatnya. Beramai-ramai mereka menyerang Cie Kiat. Tetapi Cie Kiat sangat tenang sekali, tubuhnya tahu-tahu berkelebat-kelebat dengan cepat. Setiap Cie Kiat menggerakkan tangannya maka terdengar suara menjerit kesakitan dari salah seorang pengeroyoknya.
Dan dalam waktu yang sangat singkat sekali, sudah tampak Cie Kiat berdiri dipinggir ruangan itu dengan tenang, sedangkan kesembilan pengeroyoknya telah menggeletak dalam keadaan terluka. Mereka menderita bermacam-macam luka yang membikin mereka menjerit-jerit tak hentinya. Ada yang patah tangannya, ada yang patah kakinya, ada yang tulang rusuknya rusak terhajar oleh kepalan tangan Cie Kiat.
"Hmmm....... macam kalian ini ingin mengeroyok diriku?" Ejek Cie Kiat dengan suara yang tawar. "Apakah kalian tidak mau cepat menggelinding pergi dari sini? Apakah perlu kutambah lagi?" Kesembilan orang itu menatap Cie Kiat, dengan pandangan mata yang beringas. Rupanya mereka sangat mendendam sekali.
Tetapi mereka tidak berani untuk maju lagi. Mendengar perkataan Cie Kiat mereka jadi saling berebutan berlari keluar. Didalam waktu yang sangat singkat, ruangan itu telah sepi kembali. Tamu-tamu dirumah penginapan itu baru berani keluar, mereka memuji-muji keliehayan anak muda she Lie itu, yang dalam waktu yang sangat singkat telah dapat merubuhkan kesembilan buaya darat yang sangat terkenal kejahatannya dikampung ini.
Cie Kiat tidak mau melayani pujian-pujian dari orang-orang itu, dia telah masuk kedalam kamarnya lagi. Untuk menantikan sang malam, maka Cie Kiat tidur beberapa jam, agar semangatnya nanti terkumpul penuh, guna menghadapi Liang Ban Cen, penjahat besar yang harus dibunuhnya menurut perintah Su-hunya.
Malam itu dikampung Liong-gak-chung sangat sunyi sekali, karena semua orang lebih banyak telah bersembunyi didalam selimut yang tebal dan tertidur nyenyak didalam kamar masing-masing. Tetapi diantara kesunyian malam itu, tampak sesosok bayangan putih yang berkelebat-kelebat digenting rumah penduduk dengan gerakan yang gesit sekali.
Dia menuju kearah selatan kampung itu. Waktu sampai dimuka sebuah gedung yang besar, bayangan itu berhenti sesaat, dia memandang sekitar tempat itu. Awan yang menutupi rembulan bergeser, sehingga cahaya rembulan yang terang itu menerangi wajah sosok bayangan putih tersebut.
Ternyata orang itu adalah Lie Cie Kiat, pemuda pelajar yang berpakaian serba putih. Tadi sore dia telah menyelidiki letak rumah gedung dari Liang Ban Cen, dan dia telah mengetahui letak dari gedung itu. Keadaan gedung Liang Ban Cen sangat sunyi sekali, juga tidak ada seorang manusia disekitar tempat itu.
Tetapi sebagai seorang yang menerjunkan dirinya didalam kalangan Kang-ouw, mau tak mau Cie Kiat harus berlaku selalu waspada. Setelah mengawasi sekitar tempat itu dan memperoleh kenyataan bahwa tidak ada manusia disekitarnya, Cie Kiat mengenjotkan tubuhnya keatas dinding.
Dari dinding itulah dia memasuki gedung yang sangat besar dan mewah itu. Didalam gedung tersebut juga sangat sepi sekali. Dia menuju kearah sebuah kamar yang masih ada penerangannya.