Halo!

Ibu Hantu - Chapter 09

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 09

Cie Kiat menggunakan lidahnya untuk memecahkan kertas jendela. Dia mengintip ke dalam kamar melalui lubang yang dibuatnya itu. Tampak di dalam kamar tersebut dua orang bertubuh tinggi besar dan bermuka menyeramkan sekali. Begitu melihat kedua orang itu, Cie Kiat jadi tertawa dingin di dalam hatinya.

Ternyata kedua orang itu adalah dua orang pengeroyoknya di rumah penginapan pada siang tadi. Malah yang seorang, yang mempunyai muka menyeramkan sekali, yang cambang bauknya lebat, adalah orang yang telah menubruknya di anak tangga rumah penginapannya.

Cie Kiat mengambil sebutir batu, dilemparkan batu itu, sehingga menimbulkan suara yang nyaring. Kedua orang itu, yang tampaknya sedang melakukan tugas menjaga keamanan gedung itu, mendengar suara timpukan batu yang dilemparkan Cie Kiat. Cepat-cepat kedua orang itu menyembat senjata mereka dan keluar dari dalam kamar.

Mata mereka mencilak memain mengawasi taman itu, yang tidak tampak seorang manusia pun, karena Cie Kiat telah bersembunyi di belakang sebuah gunung-gunungan. Kedua orang itu penasaran sekali, mereka mencari-cari terus. "Lo-kiu, barangkali terlalu was-was, sebetulnya suara itu mungkin dari kucing yang melompat melalui dinding," kata salah seorang di antara kedua orang itu.

Kawannya yang dipanggil Lo-kiu, yang berberewok lebat itu menggelengkan kepalanya. "Kita tidak boleh berlaku ceroboh, Lo-ma!" Katanya. "Tadi jelas-jelas kita mendengar suara timpukan batu, pasti ada orang yang ingin memancing kita! Kita harus waspada!" Sedang dia berkata begitu, tahu-tahu telah berkelebat di hadapan mereka sesosok bayangan putih, yang tahu-tahu telah berdiri menjeglek di depan kedua orang ini.

Lo-ma dan Lo-kiu kaget sekali, mereka mengawasi untuk melihat rupa orang. Begitu melihat wajah orang yang berdiri di hadapan mereka, yang tidak lain dari Cie Kiat, keduanya jadi mengeluarkan jeritan tertahan. Mereka kaget tidak kepalang. Karena mereka telah merasakan keliehayan Cie Kiat.

Seperti telah berjanji, keduanya tahu-tahu memutar tubuh mereka untuk melarikan diri, sedang mulut mereka hampir terpentang untuk berteriak meminta pertolongan kepada kawan-kawan mereka. Tetapi Cie Kiat dapat bergerak cepat. Belum lagi kedua orang itu sempat melarikan diri dan berteriak, dia telah mengulurkan kedua tangannya, dan tubuh kedua orang itu jadi terjungkel rubuh, karena mereka telah tertotok.

Cie Kiat mencengkeram baju Lo-kiu. "Di mana kamar Liang Ban Cen?" Bentaknya dengan suara yang bengis. Lo-kiu dan Lo-ma jadi ketakutan sekali, mereka jadi tergugu. "Sekali saja kau berteriak, akan habislah riwayat kalian!" Ancam Cie Kiat. "Cepat katakan di mana kamar Liang Ban Cen!" "Siauw-jin, Siauw-jin tidak tahu!" Kata Lo-kiu dengan ketakutan.

Lo-kiu juga membahasakan dirinya dengan sebutan Siauw-jin, suatu kata-kata yang terlalu merendah, yang berarti si budak. Cie Kiat tertawa dingin. "Apakah kalian mau kusiksa dulu baru mau membuka mulut?" Bentak Cie Kiat dengan suara yang bengis. Lo-kiu dan Lo-ma jadi ketakutan. "Aku bicara! Aku mau bicara!" Kata Lo-ma dengan ketakutan, karena dia memang telah merasakan kehebatan tangan si pelajar she Lie ini.

"Cepat sebutkan!" Bentak Cie Kiat dengan suara yang bengis. "Di belakang gedung ini terdapat sebuah ranggon, dan di sebelah kanannya itu terdapat sebuah kamar, itulah kamar dari Liang Toa-ya!" Kata Lo-ma dengan cepat. "Hmmm, kalian jangan coba-coba main-main dengan diriku, kalau memang kau berdusta, hmmm, aku akan balik lagi untuk mencabut jiwa kalian!" Dan setelah berkata begitu Cie Kiat menotok jalan darah kedua orang ini, sehingga mereka tidak bisa bergerak dan berteriak.

Lo-ma dan Lo-kiu ditinggal oleh Cie Kiat mengeletak di tanah. Cie Kiat sendiri telah menuju ke belakang gedung itu. Benar saja, waktu dia sampai di belakang itu dilihatnya ada sebuah ranggon yang indah. Cie Kiat mencari-cari yang disebutkan Lo-ma. Dilihatnya kamar itu sangat gelap sekali. Cie Kiat tertawa dingin, dia menggenjotkan kakinya, tubuhnya mencelat dengan cepat lompat ke atas genting.

Tetapi baru saja Cie Kiat sampai di atas genting itu, terdengar suara yang menyeramkan dari dalam kamar itu. "Mengapa datang seperti seorang Siauw-cut! Kalau memang seorang lelaki seorang Ho-han, masuklah!" Cie Kiat tertawa dingin. "Jangan bicara tekebur orang she Liang, hari ini adalah hari kematianmu!" Kata Cie Kiat. "Keluarlah untuk menerima kematianmu!!" Cie Kiat berkata begitu, karena dia menduga bahwa yang berkata itu tentu Liang Ban Cen.

Dulu gurunya memang pernah mengatakan, bahwa Liang Ban Cen mempunyai kepandaian yang tinggi sekali, sukar diukur, dan Su-hunya berpesan bahwa Cie Kiat harus berlaku hati-hati. "Hmmm, rupanya kau memang mencari mampus berani memasuki sarang macan!" Terdengar suara yang menyeramkan itu, disusul kemudian dengan suara braakkk! suara terbukanya daun jendela.

Tampak sesosok tubuh keluar dari dalam kamar itu dengan gerakan yang gesit sekali. Cie Kiat juga melompat turun dari atas genting itu. Mereka jadi berdiri saling berhadapan. Cie Kiat melihat bahwa orang yang bernama Liang Ban Cen itu mempunyai potongan muka segi empat, bengis sekali, dan bertubuh agak pendek. Waktu melihat Cie Kiat, orang she Liang itu tertawa menyeramkan.

"Oh, rupanya kau pelajar bau yang telah menghajar anak buahku?" Bentaknya. Cie Kiat tertawa tawar. "Ya, Hak-seng yang telah menghajar orang-orangmu!" Katanya dengan suara yang dingin. Sengaja dia membahasakan dirinya dengan sebutan Hak-seng, aku si murid. Mata Ban Cen mencilak bengis. "Bagus! Bagus! Rupanya kau mengantarkan jiwa dengan cuma-cuma dan sengaja mencari mampus!" Kata Ban Cen dengan suara yang menyeramkan.

"Tinggalkan namamu, agar nanti kau tidak binasa secara penasaran!" Cie Kiat mendongkol melihat sikap orang yang tekebur begitu. Dia tidak senang melihat kecongkakan orang. "Namaku tidak berharga untuk kau dengar!" Katanya dengan tawar. "Tetapi karena kau telah menanyakan dan kalau memang kau binasa tanpa mengetahui namaku, tentu kau akan penasaran sekali, baiklah, aku akan memberitahukannya! Dengarlah baik-baik, nama tuan besar ini Cie Kiat dan she Lie!!"

Betapa gusarnya Ban Cen, tubuhnya sampai menggigil. "Pelajar setan!" Bentaknya dengan bengis, dan tangan kanannya yang mencekal sebatang ruyung telah bergerak dengan kecepatan yang luar biasa akan mengemplang kepala Cie Kiat. Tetapi mata Cie Kiat sangat jeli, dia dapat melihat gerakan lawannya itu. Dengan cepat Cie Kiat menggeser kaki kirinya ke samping dan kemudian mengibaskan lengan jubahnya.

Dengan begitu, ruyung Ban Cen jadi jatuh pada tempat kosong, dan tahu-tahu ruyungnya itu akan dilibat oleh lengan jubah si pelajar she Lie ini. Ban Cen jadi tersikap hatinya, dia cepat-cepat menarik pulang ruyungnya. Mereka jadi berdiri saling berhadapan lagi. "Hari ini adalah saat kematianmu!" Kata Cie Kiat dengan suara dingin.

"Bukankah kau akan menerima kematianmu dengan puas? Aku sengaja mau membunuhmu karena kejahatan yang kau lakukan telah luber melewati takerannya! Hmmm, dosa-dosamu sudah tidak terampunkan lagi!" Mendengar perkataan Cie Kiat muka Ban Cen jadi berubah merah padam. Dengan mengeluarkan suara bentakan yang keras. Ban Cen kembali menyerang dengan ruyungnya.

Kali ini Ban Cen menyerang dengan jurus yang berangkai, dari dua jurusan. Dia mengincer dada dan perut Cie Kiat. Cie Kiat mendengus mengeluarkan suara tertawa dingin. "Hmmm, ternyata kepandaianmu tidak seberapa!" Kata Cie Kiat mengejek untuk membangkitkan kegusaran orang she Liang itu.

Dan sambil berkata begitu, Cie Kiat juga bergerak dengan cepat. Kedua tangannya itu menyentil kedua jurusan dan terdengar suara tring-tring dua kali, ruyung Ban Cen terpental, dan orang she Liang itu merasakan telapak tangannya pedih sekali. Setelah itu Cie Kiat tidak tinggal diam, dengan terdengarnya suara sreeetttt! ditangan Cie Kiat telah tergenggam pedangnya!

Biasanya Cie Kiat paling jarang sekali menggunakan pedangnya yang tersimpan rapih di balik jubah pelajarnya itu, dia tidak akan menggunakan pedangnya kalau memang dia tidak bermaksud untuk mengambil jiwa lawannya! Dan sekarang, karena dia memang ingin merampas jiwa Ban Cen, dia jadi menggunakan pedangnya itu! Melihat Cie Kiat telah mencabut pedangnya, wajah Ban Cen jadi berubah.

Dia tadi telah melihat betapa gesit dan liehaynya anak muda she Lie ini. Dari beberapa gebrakan itu saja Ban Cen telah mengetahui bahwa kepandaiannya masih berada di sebelah bawah anak muda she Lie tersebut. Dengan sendirinya hati orang she Liang itu jadi agak tergoncang. Tetapi Ban Cen adalah seorang Ok-pak yang jahat dan kejam terhadap orang-orang lemah, maka dia sudah biasa menghadapi segala persoalan dengan keinginan menang di atas angin.

Maka menghadapi Cie Kiat kali inipun dia tidak mau memperlihatkan rasa jerinya itu. Dengan mengeluarkan suara bentakan yang luar biasa kerasnya, Ban Cen telah melompat tinggi sekali, dan ruyungnya bergerak ketika jurusan mengincer pundak, kepala dan dada si pemuda she Lie ini. Cie Kiat tidak bergerak dari tempatnya dia menantikan sampai serangan Ban Cen hampir tiba.

Dan dengan suara kecepatan yang luar biasa sekali, disaat serangan Ban Cen hampir mengenai dirinya, Cie Kiat bergerak melesat ke kamar, pedang melintang dengan kecepatan tidak terduga, tahu-tahu Ban Cen ambruk di tanah dengan perut yang pecah dan isi perut yang berhamburan di tanah!! Ternyata tadi waktu tubuh Ban Cen sedang meluncur turun, Cie Kiat telah mencuatkan mata pedangnya, pada perut Ban Cen, yang menyebabkan orang she Liang itu terbeset perutnya oleh ujung pedang Cie Kiat.

Tampak Cie Kiat sedang menyeka pedangnya, dan memasukan ke dalam sarungnya pula. Dengan begitu berakhirlah riwayat seorang Ok-pak. Dan untuk seterusnya kampung Liong-gak-chung akan aman. Dengan mengeluarkan suara siulan yang panjang, tubuh Cie Kiat melesat ke atas genting, dan melalui genting-genting penduduk, Cie Kiat kembali ke rumah penginapannya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment