Halo!

Ibu Hantu - Chapter 10

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 10

Malam itu Cie Kiat tertidur nyenyak.

Keesokan harinya, kampung Liong-gak-chung digemparkan dengan berita terbunuhnya Liang Ban Cen. Berita itu disambut dengan gembira oleh penduduk kampung Liong-gak-chung, karena Liang Ban Cen terkenal sebagai seorang Ok-pak yang paling jahat. Dengan terbunuhnya Ok-pak she Liang itu, maka penduduk kampung Liong-gak-chung dapat hidup lebih tenang.

Sedangkan Cie Kiat tidur sampai menjelang tengah hari baru terbangun. Dia cepat-cepat mencuci muka dan menyalin pakaiannya. Kemudian Cie Kiat mencari sebuah rumah makan, dia sarapan, dan setelah mengisi penuh perutnya, Cie Kiat berjalan-jalan mengelilingi kampung yang besar tersebut. Dia juga menuju ke pintu utara dari kampung itu.

Di depan gedung Siang Wang-gwee yang tampaknya sangat ramai itu, karena para tamu telah berdatangan dan menginap di tempat yang sengaja disediakan oleh Siang Wang-gwee, Cie Kiat berhenti sesaat, dan mengawasi orang-orang yang sedang merapihkan panggung Lui-thay yang akan digunakan malam ini. Sedang Cie Kiat berdiri di situ mengawasi kemewahan gedung Siang Wang-gwee, tampak sebuah kereta berhenti di muka gedung tersebut.

Si anak muda she Lie jadi tertarik, dia mengawasi kereta itu. Tampak dari dalam kereta keluar seorang gadis yang memakai gaun merah dan wajahnya sangat cantik sekali. Melihat kecantikan gadis itu, Cie Kiat sampai berdiri terpaku, mengagumi kecantikan gadis tersebut. Alis gadis itu yang menyerupai bulan sabit, dan matanya yang gemerlapan seperti bintang bertaburan, bibirnya yang merekah dan potongan tubuhnya yang gemulai indah itu, menyebabkan semangat Cie Kiat seperti terbetot.

Gadis itu menoleh kepada Cie Kiat dan tersenyum sejenak. Semangat Cie Kiat seperti terbang. Waktu gadis itu masuk ke dalam gedung Siang Wang-gwee, Cie Kiat masih berdiri terpaku di tempatnya, dia masih mengawasi ke arah pintu gedung di mana tadi si gadis menghilang. Lama Cie Kiat berdiri di situ, menantikan kalau-kalau gadis bergaun merah itu keluar kembali.

Tetapi sampai mendekati senja, gadis itu masih belum juga keluar. Kereta yang ditumpangi gadis itu sejak tadi telah meninggalkan gedung Siang Wang-gwee. Akhirnya dengan lesu Cie Kiat kembali ke rumah penginapannya. Sejak kembali dari depan gedung Siang Wang-gwee itu, bayang-bayang gadis bergaun merah yang memasuki gedung Siang Wang-gwee selalu saja terbayang di depan mata Cie Kiat, sangat mengganggu hati anak muda she Lie tersebut.

Akhirnya, Cie Kiat mengambil keputusan, malam ini dia akan mengunjungi gedung Siang Wang-gwee, agar dapat melihat dan menikmati kecantikan gadis bergaun merah yang telah dapat membetot semangatnya.

Menjelang malam, gedung Siang Wang-gwee sangat terang menderang. Juga tamu-tamu yang berdatangan tak hentinya, sehingga ruangan tengah taman gedung Siang Wang-gwee yang memang sengaja disediakan untuk menampung tamu-tamu itu hampir tak cukup. Lui-thay yang didirikan di samping gedung juga dihiasi oleh kain-kain merah kecil dan api penerangan yang terang menderang.

Siang Wang-gwee sendiri yang menerima dan menyambut setiap tamu-tamunya. Diantara tamu-tamu yang berdatangan itu, tampak seorang pelajar yang berpakaian serba putih dan bermuka tampan. Siang Wang-gwee menyambut kedatangan pelajar berbaju putih itu dengan ramah. Tetapi setelah mengeluarkan beberapa patah perkataan, Siang Wang-gwee meminta maaf kepada pelajar itu untuk menyambut tamu yang lainnya.

Didalam pandangan mata Siang Wang-gwee bahwa pemuda pelajar berbaju putih itu tentunya murid dari seorang guru silat dan datang ke gedungnya ini juga untuk ikut mengadu nasib. Maka dari itu tidak begitu diperhatikan oleh Siang Wang-gwee. Dan orang-orang Siang Wang-gwee juga memberikan tempat untuk Siu-chay itu pada deretan anak-anak muda yang akan ikut memperebutkan kedudukan untuk menjadi menantu Siang Wang-gwee.

Sebetulnya, kalau memang Siang Wang-gwee mengetahui siapa sebenarnya pelajar itu, tentu dia akan memperlakukannya lebih hormat lagi. Dialah Lie Cie Kiat. Tetapi Cie Kiat sangat tenang dan ramah sekali, dia tidak berkecil hati Siang Wang-gwee menyambut dirinya hanya dalam waktu yang begitu pendek. Dia memaklumi bahwa Siang Wang-gwee tentu sedang repot menyambut tamu-tamu lainnya.

Dia duduk di kursi yang diperuntukkan bagi dirinya. Anak-anak muda lainnya yang sudah datang terlebih dahulu, semuanya memandang ke arah Cie Kiat dengan pandangan mata mengiri, sebab mereka melihat wajah Cie Kiat sangat tampan sekali, sehingga mereka merasa kecil diri. Cie Kiat tidak melayani tatapan mata dari anak-anak muda itu, dia hanya mengawasi tenang ke arah Lui-thay.

Para tamu yang berdatangan masih terus juga mengalir tak hentinya. Semakin lama ruangan yang disediakan oleh Siang Wang-gwee semakin penuh sesak. Semua yang menjadi tamu dari Siang Wang-gwee terdiri dari jago-jago silat berbagai golongan. Mereka juga mempunyai muka yang berbeda-beda, ada yang bermuka simpatik, ada yang bermuka bengis dan bermacam-macam lagi.

Sejak memasuki ruangan itu, Cie Kiat sudah menyapu dengan menggunakan matanya seluruh ruangan itu, mencari-cari gadis bergaun merah. Bagi para pendekar wanita yang ingin menyaksikan keramaian, disediakan tempat khusus untuk wanita, di sebelah timur ruangan itu. Tetapi di kelompok wanita itu, Cie Kiat juga tidak melihat gadis bergaun merah itu lagi.

Cie Kiat jadi tidak tenang, dia bergelisah sekali, ingin cepat-cepat dapat melihat dan menikmati wajah cantik yang dimiliki oleh gadis bergaun merah itu. Tak lama kemudian, setelah sebagian besar para tamu telah berdatangan, maka tampak Siang Wang-gwee naik ke atas Lui-thay dia menjura ke seluruh penjuru.

"Hari ini adalah hari untuk mencari menantu dari aku si tua Siang Pay Kie, maka dengan rendah hati aku mempersilahkan anak-anak muda yang belum menikah untuk main-main puteriku di dalam segi ilmu silat, kalau memang puteriku itu, Siang Kie Lan dapat dirubuhkan, maka orang itu akan menjadi menantuku! Tetapi ingat, sayembara memilih menantu ini hanya diperbolehkan bagi anak muda yang berusia paling tinggi dua puluh delapan tahun atau setinggi-tingginya tiga puluh tahun, sedangkan para golongan tua, hanya dapat menyaksikan keramaian saja..." Kata-kata Siang Wang-gwee itu disambut dengan suara tertawa dan sorak sorai yang ramai dari orang-orang yang memenuhi ruangan itu.

Siang Wang-gwee menoleh ke samping, dia mengapei tangannya. Tampak sesosok bayangan melompat ke atas panggung. Orang yang baru naik ke atas panggung itu adalah seorang gadis yang memakai baju serba hijau, dia menghadap ke dalam panggung, sehingga dia berdiri membelakangi orang-orang di bawah panggung.

"Nah kawan-kawan... semuanya bisa menjadi saksi dari hari pemilihan menantuku ini!" Kata Siang Wang-gwee lagi. "Dan kepada pemuda yang beruntung dapat mengalahkan ilmu silat puteriku ini, akan kuhadiahkan selembar peta harta yang tidak ternilai harganya!!" Kata-kata Siang Wang-gwee ini kembali disambut meriah oleh orang-orang yang ada di belakang panggung.

Lie Cie Kiat mengerutkan alisnya, dia serasa kenal dan pernah melihat puterinya Siang Wang-gwee ini, tetapi dia lupa, entah di mana, karena si gadis, Siang Kie Lan, berdiri agak miring ke arah timur, sehingga tidak bisa melihat muka gadis itu. Kalau dilihat dari potongan tubuhnya yang indah gemulai itu, tentu puteri Siang Wang-gwee ini mempunyai wajah yang cantik sekali.

Pada saat itu Siang Wang-gwee telah berkata lagi. "Sebetulnya aku malu untuk mengadakan sayembara pemilihan menantu ini, tetapi karena tabiat puteriku sangat buruk dan berhati sangat keras, terpaksa aku mengadakannya juga. Dia telah mengatakan kepadaku bahwa puteriku ini tidak akan mau tunduk kepada suami yang lebih rendah kepandaiannya! Maka dari itu, dengan jalan begini, Loo-hu, aku si tua, bisa memperoleh menantu yang berkepandaian lebih dari Lan-jie!!"

Dan setelah berkata begitu, Siang Wang-gwee menoleh kepada puterinya. "Lan-jie, cepat kau memberi hormat kepada para Cian-pwee dan kawan-kawan!!" Kata Siang Wang-gwee. Siang Kie Lan, puteri Siang Wang-gwee memutar tubuhnya, dia memberi hormat dengan membungkukkan tubuhnya dalam-dalam, tampak sikapnya agak malu-malu.

Cie Kiat hampir mengeluarkan seruan tertahan waktu dapat melihat muka Kie Lan dengan tegas. Ternyata puteri Siang Wang-gwee itu adalah gadis bergaun merah yang dicari-carinya sejak tadi. Hanya bedanya sekarang puteri Siang Wang-gwee memakai baju yang serba hijau, sehingga Cie Kiat tidak lantas dapat mengenalinya.

Tampak Siang Kie Lan tersenyum manis sekali, dia membungkukkan tubuhnya memberi hormat kepada orang banyak, yang disambut dengan riuh sekali oleh suara pujian-pujian akan kecantikan yang dimiliki oleh gadis ini. Tampaknya gadis tersebut bangga sekali, sedangkan Cie Kiat sendiri jadi seperti kesima menikmati kecantikan wajah Kie Lan.

Dia tidak menduga sebelumnya bahwa puteri Siang Wang-gwee adalah gadis yang bergaun merah, yang telah dapat membetot semangatnya, dan perkataan si pengemis yang dijumpainya di tengah jalan memang benar, jangankan anak-anak muda yang berlomba-lomba untuk memperoleh gadis ini, sedangkan kakek-kakek akan berlomba untuk memiliki gadis tersebut.

Matanya yang lentik dan indah itu, memancar bening, kedua alisnya yang melengkung seperti bulan sabit, hidungnya yang bangir seperti juga buah Tho, dan bibirnya yang merekah, rambutnya yang panjang tergelung hitam legam itu, menambah kecantikan yang dimiliki oleh gadis tersebut.

Setelah sorak sorai agak rendah, tampak Siang Wang-gwee maju ke depan, tampaknya dia bangga sekali semua orang mengagumi kecantikan puterinya itu. "Nah kawan dan saudara-saudara sekalian" kata Siang Wang-gwee dengan suara yang nyaring. "Loo-hu kira lebih baik Pie-bu ini kita mulai saja, dan akan dimulai diurut dari nama yang terdaftar, nanti pemenang tunggalnya baru akan berhadapan dengan puteriku, kalau memang orang itu berhasil menundukkan puteriku tersebut, berarti mereka akan terangkap jodoh..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment