Halo!

Ibu Hantu - Chapter 11

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 11

Dan akan menjadi menantu keluarga Siang! Setelah berkata begitu, Siang Wang-gwee menoleh kepada seorang lelaki yang berdiri tak jauh dari panggung, yang mungkin juga bujang keluarga Siang tersebut.

Kiam-jie, coba kau mulai bacakan nama orang yang akan maju Pie-bu untuk yang pertama! kata Siang Wang-gwee kepada bujangnya itu, yang dipanggil Kiam-jie.

Kiam-jie mengangguk, dia maju ke tengah panggung kemudian dengan suara yang lantang, saat Siang Wang-gwee dan Kie Lan turun dari atas panggung.

Pie-bu akan segera dimulai dan orang yang memperoleh kehormatan untuk pembukaan Pie-bu ini adalah Oey Tiong Ho, berasal dari Hu-lam, dan berusia dua puluh empat tahun, melawan Sin Tiauw Jie, yang berasal dari Kwie-cu, berusia dua puluh dua tahun! Silahkan maju! Setelah berkata begitu, Kiam-jie menyingkir ke samping, sedangkan dari bawah telah melompat dua sosok tubuh ke atas panggung.

Orang-orang jadi bersorak ramai. Kedua orang itu ternyata dua anak muda bertubuh kurus dan berpakaian sebagai seorang ahli silat. Wajah pemuda yang disebut Oey Tiong Ho mempunyai muka yang keren, sedangkan pemuda yang seorangnya, yang dipanggil Sin Tiauw Jie, mempunyai muka biasa saja.

Keduanya segera saling memberi hormat setelah mereka berhadapan, kemudian mereka menjura berbareng ke arah bawah panggung memberi hormat kepada hadirin. Kiam-jie telah berteriak lagi. Pertandingan boleh dimulai, dan syarat yang harus diingat, pertandingan ini hanyalah untuk menguji kepandaian silat, maka kalau dapat jangan sampai terjadinya peristiwa berdarah.

Oey Tiong Ho membawa sikap yang tenang, sedangkan Sin Tiauw Jie tampak agak gugup. Tiong Ho mencabut sebatang pedang pendek, sedangkan Sin Tiauw Jie mencabut sebatang golok. Mereka masing-masing merangkapkan kedua tangan mereka saling memberi hormat dengan jurus silat pertama dari pintu perguruan mereka masing-masing, kemudian tanpa banyak bicara, keduanya saling gebrak.

Pedang dan golok berkelebatan dengan cepat sekali, menyilaukan mata, suara bentrokan senjata tajam itu pun terdengar nyaring. Orang-orang yang menyaksikan jadi memandang penuh perhatian. Cie Kiat mengawasi sesaat pertandingan itu, tetapi dilihatnya kepandaian kedua orang yang sedang bertanding itu tidak begitu luar biasa, mungkin kalau dipakai untuk bertempur di dalam kalangan Kang-ouw, anak-anak muda itu dengan cepat akan dipercundangkan lawannya!

Apa lagi Tiong Ho tampaknya banyak sekali menjual lagak, setiap gerakan tubuhnya dibuat-buat, sehingga membikin Cie Kiat jadi mendongkol, mungkin juga dia ingin memperlihatkan kepada Siang Kie Lan, betapa gagahnya dia! Suatu kali, dikala Sin Tiauw Jie menyerang dengan goloknya ke arah dada Tiong Ho, maka anak muda she Oey itu telah mengeluarkan suara bentakan. Lepas...! Disusul kemudian dengan suara trang yang keras, tampak golok Sin Tiauw Jie terlepas dari cekalannya, jatuh gedombrangan di lantai Lui-thay itu.

Sin Tiauw Jie tampak berdiri kejang dengan muka yang pucat, rupanya dia kaget goloknya bisa dibikin terlepas oleh Tiong Ho. Kiam-jie telah maju ke tengah, dan berkata dengan suara yang lantang. Pertandingan yang pertama kali ini dimenangi oleh Oey Tiong Ho, berasal dari Hu-lam dan berusia dua puluh empat tahun!

Semua orang bersorak dengan ramainya, sedangkan Tiong Ho telah membungkukkan tubuhnya memberi hormat dengan sikapnya yang bangga. Sin Tiauw Jie telah melompat turun dari panggung setelah dia memungut goloknya kembali. Lesu sekali anak muda she Sin tersebut. Kiam-jie pada saat itu telah berkata lagi. Setiap para pemenang harus melawan seorang lagi, dan kalau memang pertandingan yang nomor dua ini dimenangkan oleh Oey Siauw-hiap, maka dia boleh beristirahat, untuk nanti maju lagi dikala pertempuran penentuan!

Dan Kiam-jie menoleh kepada kertas yang ada di tangannya. Kali ini yang akan menjadi lawan Oey Tiong Ho Siauw-hiap adalah Bu Tie dari Kang-say, berusia dua puluh enam tahun! Silahkan maju Bu Siauw-hiap! Belum lagi suara Kiam-jie lenyap, tampak sesosok bayangan telah melompat ke atas panggung dengan gerakan yang gesit sekali.

Ternyata anak muda yang disebut she Bu itu adalah seorang anak muda bertubuh kate, pendek sekali, sikapnya juga lucu. Harap Oey-heng berlaku sedikit murah hati kepada Siauw-tee...! Katanya dengan merangkapkan kedua tangannya memberi hormat kepada Oey Tiong Ho. Tiong Ho juga cepat-cepat membalas hormat orang. Dia mengeluarkan kata-kata merendah juga.

Setelah itu, keduanya mulai bersiap-siap akan bertempur. Senjata Bu Tie adalah sepasang pedang, dia memutar-mutar kedua pedangnya sedemikian rupa, sehingga menyerupai kitiran. Lalu dengan mengeluarkan suara bentakan tampak Bu Tie menyerang dengan hebat kepada Tiong Ho. Tiong Ho terkejut melihat cara menyerang orang, tetapi dia tidak takut, karena memang anak muda she Oey ini sangat berani sekali.

Maka dari itu dia juga mulai mengeluarkan jurus-jurus ilmu silatnya. Diluar mereka tampaknya saling menghormati, tetapi ternyata mereka sedang berlomba-lomba dengan sengit ingin merebut kemenangan, karena dengan memperoleh kemenangan, mereka bisa menjadi menantu Siang Wang-gwee, yang berarti memperoleh seorang isteri yang cantik sekali seperti Kie Lan. Cie Kiat memandang ke arah jalannya pertempuran, sekali pandang saja Cie Kiat telah mengetahui bahwa Tiong Ho akan kalah ditangan Bu Tie, karena kepandaian Bu Tie satu tingkat lebih tinggi dari Tiong Ho.

Dan memang sebenarnya, tak lama kemudian, dengan mengeluarkan bentakan yang mengguntur, Bu Tie melancarkan serangan yang berangkai ke arah lawannya, sehingga Tiong Ho jadi gelagapan dan gugup sekali. Tetapi itu tidak lama, karena sesaat kemudian terdengar suara jeritan Aduh! dari Tiong Ho, tampak tubuhnya terhuyung-huyung dan wajahnya sangat pucat sekali.

Rupanya pundaknya telah kena dilukai oleh Bu Tie. Tiong Ho jadi gusar, dia memandang Bu Tie dengan pancaran mata mengandung hawa pembunuhan. Baru saja dia mau menyerang dengan kalap kepada Bu Tie. Kiam-jie telah maju berteriak dengan suaranya yang lantang. Pertandingan yang kedua ini dimenangkan oleh Bu Tie, berasal dari Kang-say, berusia dua puluh enam tahun... pemenang pertama Oey Tiong Ho Siauw-hiap kena disingkirkannya...! Teriak Kiam-jie dengan lantang.

Wajah Tiong Ho jadi pucat dan tubuhnya gemetar lesu. Dengan wajah yang masih pucat Tiong Ho melompat turun panggung. Sebelum pergi, dia menoleh kepada Bu Tie dengan tatapan mata mengandung permusuhan, rupanya dia kecewa kena dirubuhkan orang sehingga kesempatan untuk menjadi menantu Siang Wang-gwee terlepas lagi dari tangannya. Kiam-jie telah berteriak lagi. Jago nomor empat yang akan turun bertempur adalah...

Dan seterusnya Kiam-jie menyebutkan nama-nama dari jago-jago muda yang akan turut Pie-bu. Pertandingan demi pertandingan dilalui. Dan biasanya selalu saja pertandingan itu dimenangkan sekali orang seseorang, kemudian pemenang itu akan dirubuhkan kembali oleh orang selanjutnya. Begitulah seterusnya, dan orang-orang menyaksikan keramaian tersebut dengan tertarik.

Tetapi bagi Cie Kiat pertandingan itu tidak ada artinya dan tidak menarik hatinya, sebab jago-jago yang turut Pie-bu rata-rata mempunyai kepandaian biasa saja. Lie Cie Kiat lebih banyak memandang ke arah ujung sebelah Timur, di mana tampak Siang Kie Lan sedang duduk di situ dengan tenang dan memandangi jalannya pertempuran dengan penuh perhatian.

Sikap si gadis agung sekali, dia duduk bagaikan seorang dewi, cantik sekali, wajahnya pun berseri-seri. Hati Cie Kiat jadi berdebar keras, dia merasakan hatinya itu tergoncang memandangi kecantikan gadis she Siang yang menjadi puterinya Siang Wang-gwee itu. Pertandingan masih berjalan terus, dan jalannya pertempuran yang silih berganti jagonya itu, benar-benar tidak menarik perhatian Cie Kiat sedikit pun.

Selama berlangsungnya pertempuran itu, semangat Cie Kiat jadi seperti melayang-layang tak keruan, dan dia seperti juga berada di lambungi oleh alunan irama asmara, di mana dia dibenamkan ke dalam khayalan yang indah-indah... membayangkan kecantikan gadis she Siang itu...!

Suatu kali perhatian Cie Kiat jadi tertarik ke panggung juga, sebab semakin lama jago-jago yang turun bertempur di atas panggung itu semakin lihay, kepandaian mereka mulai luar biasa. Apalagi waktu pertempuran yang terakhir itu dimenangkan oleh Ma Cin tampak sesosok bayangan tinggi besar melompat ke atas panggung.

Aku juga jadi gatal telapak tanganku, aku ikut untuk main-main sebentar denganmu, orang she Ma! Terdengar orang tinggi besar itu berkata dengan suara yang nyaring. Kiam-jie terkejut, karena Pie-bu ini telah disusun menurut nama yang telah tercantum. Dia menghampiri orang yang mempunyai tubuh tinggi besar dan mempunyai wajah agak menyeramkan.

Ma Cin sendiri waktu melihat orang itu, dia jadi tergoncang hatinya. Karena ketika itu juga dia mengenali bahwa orang tersebut adalah Song Kie Pa, musuhnya beberapa tahun yang lalu, dan pertikaian di antara mereka disebabkan oleh karena memperebutkan wanita, yang akhirnya diakhiri dengan kematian wanita yang direbuti oleh mereka, karena gadis itu saking ketakutan telah membunuh diri.

Dan dulu, Ma Cin telah berhasil mengalahkan Kie Pa, itu terjadi beberapa tahun yang lalu. Sekarang Kie Pa telah menemuinya di sini, tentu orang she Song tersebut tidak mengandung maksud baik. Lagi pula, tentunya Kie Pa juga telah mempunyai kepandaian yang tinggi.

Siauw-hiap... ini... ini... Kiam-jie gugup sekali. Kie Pa menoleh kepadanya, dia tersenyum dengan tawar. Aku hanya ingin main-main sebentar dengan Ma Tay-hiap ini! Katanya dengan suara mengejek. Hmmm... jadi gatal telapak tanganku ini dan ingin bermain-main sebentar di atas panggung ini! Aku tidak bermaksud untuk memperebutkan Siang Sio-cia, jadi tegasnya aku hanya ingin main-main dengan Ma Tay-hiap di luar garis dari semestinya. Kiam-jie jadi gugup.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment