Halo!

Ibu Hantu - Chapter 12

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 12

"Tetapi... nanti bagaimana..." Dan dia benar-benar gugup sekali.

Kie Pa tertawa. "Aku hanya mengganggu sebentar saja dan lagi pula kalian akan menyaksikan suatu keramaian toh?" Tanya Kie Pa dengan cepat.

Kiam-jie tidak bisa mengambil keputusan. Dia cepat-cepat turun dari panggung menghampiri Siang Wang-gwee. Dia memberitahukan kepada hartawan she Siang itu. Dan, Siang Wang-gwee ternyata senang menyaksikan keramaian, dia mengijinkan.

Maka dari itu, Kiam-jie kembali ke atas panggung dan meneriaki dengan suara yang lantang. "Karena sesuatu hal, maka Pie-bu yang berlangsung akan diseling dulu oleh pertandingan antara Ma Siauw-hiap dengan tuan ini!! Dan, kita akan menyaksikan suatu keramaian!!" Mendengar itu Ma Cin mendongkol sekali, dia tidak bisa mengatakan tidak mau, sebab kalau terjadi hal itu, mukanya mau ditaruh dimana?

Maka dari itu terpaksa dia menghadapi Song Kie Pa juga. Pada saat itu Kie Pa telah tertawa dingin, menyeramkan sekali wajahnya. "Orang she Ma... hayo kita mulai!" Tantangnya. Ma Cin terpaksa bersiap-siap.

Cie Kiat yang menyaksikan gerakan dan gerak-gerik dari Kie Pa, dia bisa memperoleh kesan bahwa orang she Song ini tidak bermaksud baik. Dia mengawasi terus, dengan penuh perhatian. Dilihatnya Song Kie Pa tanpa sungkan-sungkan lagi, dengan mengeluarkan bentakan yang keras, dia telah merangsek menyerang menggunakan Poan-koan-pitnya.

Ma Cin cepat-cepat mengelakkan, kena ujung Poan-koan-pit dari Song Kie Pa mengincer dada dan pundaknya. Pedangnya juga diputar untuk melindungi dirinya, sedangkan kakinya digeser kesamping menjauhi Kie Pa. Didalam waktu yang sangat singkat sekali, mereka telah bertempur dengan seru.

Tetapi biar bagaimana orang telah melihat dengan jelas bahwa Ma Cin berada dibawah angin. Lagi pula, Ma Cin tampaknya sangat terdesak sekali oleh setiap serangan Kie Pa. Malah, waktu Kie Pa melancarkan serangan berangkai, butir-butir keringat dingin membanjiri muka Ma Cin.

Dia agak gugup, menangkis serangan setiap orang she Song itu. Gerakannya juga sering gugup, yang menyebabkan suatu keuntungan yang tidak kecil bagi Kie Pa. Ternyata, setelah terjadinya pertempuran yang dulu, antara Ma Cin dan Kie Pa, orang she Song itu telah mencari seorang guru dan belajar kembali dengan tekun, sehingga sekarang dia muncul dengan kepandaiannya yang khusus, yaitu Poan-koan-pit yang liehay dan berbahaya.

Ma Cin juga merasakan bahwa dia semakin lama semakin terdesak dibawah angin. Biar bagaimana dia mau mempertahankan diri jangan sampai rubuh ditangan Kie Pa. Tetapi setiap serangan Kie Pa selalu mematikan, dan juga sangat berbahaya. Hal itu membikin Ma Cin jadi terdesak hebat.

Malah pedang Ma Cin jadi sering menyerang tempat kosong, dia kalah gesit kalau dibandingkan dengan diri Song Kie Pa. Suatu kali, dengan mengeluarkan seruan panjang, Kie Pa melompat tinggi. Poan-koan-pitnya menotok kearah batok kepala Ma Cin.

Ma Cin melihat ancaman bahaya itu, kalau memang dia kena diserang, niscaya jiwanya bisa melayang ditangan orang she Song ini. Maka dari itu, cepat-cepat dia menggeser kakinya, dengan cepat dia melompat kesamping untuk menghindarkan diri dari serangan Song Kie Pa.

Namun, tangan Kie Pa ternyata liehay sekali, dia mementangkan tangannya lebar-lebar sehingga waktu Ma Cin melompat kesamping, tetap saja Poan-koan-pit Kie Pa mengikuti sasarannya itu terus. Ma Cin kaget sekali, hatinya mencelos, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan, rupanya dia kaget sekali.

Kalau memang kepalanya itu berhasil ditotok oleh ujung Poan-koan-pit Kie Pa, maka jiwanya akan melayang dengan penasaran. Dan didalam keadaan terdesak begitu Ma Cin cepat-cepat melemparkan dirinya bergulingan dilantai Lui-thay, dia sudah tidak memperdulikan rasa malu lagi dan harga diri, yang penting dia mau menyelamatkan dirinya.

Kie Pa telah meluncur turun, dan belum sampai Ma Cin berdiri tetap, Kie Pa telah melancarkan serangan yang berangkai kembali. Ma Cin jadi terperanjat, semangatnya terbang, karena waktu dia berdiri tahu-tahu ujung Poan-koan-pit lawan telah berada di dekat dadanya.

Dia berusaha membuang diri lagi kebelakang, dan Poan-koan-pit itu dapat dielakkan, hanya topinya yang masih sempat terkait oleh ujung Poan-koan-pit Song Kie Pa. Ma Cin jadi mengeluarkan keringat dingin dan hatinya tergoncang hebat, sedangkan orang-orang yang menyaksikan pertempuran yang seru ini jadi bersorak dengan gembira.

Cie Kiat juga melihat, bahwa tak lama lagi Ma Cin pasti akan rubuh ditangan Kie Pa. Siang Kie Lan mengikuti jalan pertempuran itu dengan penuh perhatian, rupanya dia tertarik sekali. Cie Kiat juga melihat, berulang kali gadis she Siang ini mengeluarkan seruan kaget waktu Ma Cin terdesak dan terancam jiwanya.

Sedangkan Song Kie Pa masih terus melancarkan serangan-serangan yang mematikan. Akhirnya dengan mengeluarkan bentakan yang keras, kembali dia melancarkan serangannya. Ma Cin yang telah terdesak hebat, dan juga terancam bahaya mati atau bercelaka, dia jadi nekad.

Waktu melihat Poan-koan-pit lawan meluncur menyerang dirinya lagi, dia memutar kakinya setengah lingkaran, tahu-tahu dia mendekam, dan pedangnya berkelebat! Itulah suatu jurus ilmu silat yang akan mengadu jiwa! Hal itu bisa menyebabkan lawan dan dirinya akan mati bersama-sama.

Orang-orang dibawah panggung yang melihat kenekatan Ma Cin, jadi mengeluarkan seruan tertahan. Sedikitpun orang-orang itu tidak menyangka bahwa Ma Cin akan bisa berlaku senekad begitu. Tampak Kie Pa tidak menarik pulang serangannya, dia meneruskannya.

Tampak pedang dan Poan-koan-pit berkelebat dengan cepatnya, terdengar suara jeritan yang menyayatkan hati! Tampak Kie Pa terhuyung-huyung dengan bahu yang terluka mengeluarkan darah, dan Ma Cin masih rebah dilantai Lui-thay dengan tidak bernyawa lagi, karena dadanya telah kena ditoblos oleh Poan-koan-pit Kie Pa, yang nembus sampai kebelakang, kejantungnya, sehingga seketika itu juga orang she Ma direnggut nyawanya oleh utusan Giam-lo-ong, si raja akherat.

Semua orang yang menyaksikan hal itu jadi seperti kesima, mereka mengawasi terpaku, sampai akhirnya orang-orang dibawah panggung tersadar dengan cepat dan mengeluarkan suara seruan-seruan yang berisik. Kiam-jie sendiri kaget melihat ada korban yang jatuh didalam pertandingan itu. Lebih-lebih Siang Wang-gwee.

Dia melompat keatas panggung dengan muka yang guram, memperlihatkan ketidaksenangan hatinya. "Siapakah Heng-thay, mengapa kau membunuh saudara Ma yang sedang melakukan Pie-bu didalam perlombaan ini?" Tanya Siang Wang-gwee dengan tak senang, suara si hartawan she Siang juga tawar sekali.

Kie Pa masih memegangi bahunya yang terluka, dia tersenyum. "Maaf Siang Wang-gwee, hal itu tak sengaja kulakukan!" Kata Kie Pa dengan cepat. "Dan harap Siang Wang-gwee mau mengerti, setiap pertempuran tentu ada yang kalah ada yang menang, ada yang terluka ada yang mati! Maka dari itu, kebinasan saudara Ma itu adalah biasa didalam suatu pertempuran."

Mendengar perkataan Kie Pa, Siang Wang-gwee jadi tambah mendongkol. Tetapi belum lagi dia sempat berkata, telah melompat keatas panggung sesosok tubuh. Belum lagi kakinya menginjak lantai Lui-thay, sosok tubuh itu telah berkata. "Benar! Didalam pertempuran memang ada yang mati dan ada yang terluka! Itu memang wajar! Dan aku Ong Kim Hok ingin sekali berkenalan dan main-main sebentar dengan saudara!!"

Tampak orang yang berteriak itu seorang anak muda bertubuh tegap, walaupun tidak begitu tinggi. Anak muda yang mengaku bernama Ong Kim Hok itu mempunyai muka yang tampan dengan rambut yang tersisir rapih, dia memakai baju ringkas berwarna kuning gading. Sikapnya gagah sekali.

Kie Pa menoleh kepada orang itu, dia mengerutkan alisnya. Sedangkan anak muda she Ong itu telah menoleh kepada Siang Wang-gwee. "Siang Wang-gwee, biarkanlah aku main-main sebentar dengan saudara ini!!" Katanya dengan cepat. "Dan, kalau memang aku harus rubuh dan terbinasa ditangan saudara itu aku rela.......!"

"Tetapi ini... ini..." Siang Wang-gwee jadi serba salah. "Didalam suatu pertempuran memang harus ada yang terluka dan menang. Itu wajar... maka biarlah Siauw-tee ingin main-main sebentar dengan saudara itu, untuk menambah pengalaman!!" Dan setelah berkata begitu, Ong Kim Hok menoleh kepada Kie Pa, dia tersenyum tenang sekali, katanya. "Saudara, siapakah she dan nama saudara!"

"Aku she Song dan bernama Kie Pa... dan kukira antara kau dengan diriku tidak ada sangkutan apa-apa, kita seumpama air sumur dan air kali, yang tidak saling bertemu dan tidak saling mengganggu, mengapa kau ingin mencampuri urusan ini?" Ong Kim Hok tertawa tenang. "Aku sebetulnya datang kemari hanyalah untuk menyaksikan keramaian, tetapi tadi kulihat perbuatanmu kurang jujur, sebelum kau bunuh saudara Ma Cin, kau telah melemparkan segenggam jarum, sehingga dia jadi gugup dan menggunakan kesempatan itu kau telah menusuk dadanya sehingga dia binasa! Coba kalau tidak, mungkin kau yang akan terbinasa!"

Ditegur begitu, wajah Kie Pa jadi berubah pucat, bibirnya gemetar. "Kau... kau seenakmu menuduhku!" Bentak Kie Pa dengan gugup. Ong Kim Hok tertawa tawar, sikapnya tenang sekali. "Hmmm... apakah kau anggap para Loo-cianpwee yang duduk dibawah panggung itu tidak mempunyai mata dan buta semuanya?" Balik tanya Kim Hok dengan suara yang keras.

"Apakah kau anggap para Loo-cianpwee itu semuanya orang tolol yang tidak bisa melihat perbuatan busukmu?!" Hmmm... coba kau dengar! Dan Kim Hok menoleh kebawah panggung. "Para Loo-cianpwee dan saudara-saudara lainnya, apakah diantara saudara-saudara ada yang melihat perbuatan busuk orang she Song ini?" Tanya Kim Hok dengan suara yang nyaring.

"Benar! Benar! Orang she Song itu sangat busuk sekali, dia menggunakan jarum Bwee-hoa-ciam untuk merubuhkan Ma Cin!!" Terdengar beberapa suara yang membenarkan perkataan Kim Hok.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment