Chapter 13
Kim Hok tertawa tawar dan menoleh kembali kepada Song Kie Pa. "Bagaimana orang she Song? Apakah kau masih mau mungkir lagi bahwa kau telah melakukan suatu perbuatan busuk sehingga menyebabkan jatuhnya korban jiwa?" Dibongkar tipu busuknya, Kie Pa menjadi murka sekali, tubuhnya sampai gemetaran.
Dia memang dendam kepada Ma Cin dan sudah mengambil keputusan untuk membunuh orang she Ma itu, dan ternyata niatnya itu terkabul. Tetapi dia memang telah menggunakan jarum-jarum Bwee-hoa-ciam yang ditimpakkan kepada muka Ma Cin, membuat orang she Ma itu menjadi gugup. Jarum-jarum Bwee-hoa-ciam yang dilemparkan oleh Song Kie Pa sangat halus sekali, sehingga kalau bukan seorang ahli yang sudah sempurna ilmu silatnya, tentu tidak akan mengetahui permainan busuk dari orang she Song itu.
"Aku... aku tidak akan serendah begitu untuk melakukan perbuatan busuk yang kau katakan itu!" bentak Song Kie Pa dengan gusar. Kembali Kim Hok tertawa tawar, membawa sikap yang mengejek. "Apakah kau ingin bukti?" tanyanya. Kie Pa bimbang sesaat, tetapi kemudian dia membentak, "Coba kau buktikan... kalau memang kau tidak bisa membuktikan perkataanmu itu, hmmmm, akan kubunuh lumat padamu!!"
Kim Hok tidak melayani orang she Song itu lagi dan menghampiri ke arah mayat Ma Cin. Dia berjongkok disitu untuk mencabut beberapa jarum Bwee-hoa-ciam yang menancap dikening dan dimata Ma Cin. Tetapi waktu Kim Hok sedang berjongkok untuk mengambil jarum-jarum itu, tampak Song Kie Pa sangat gelisah sekali. Karena saking gugupnya, takut kalau tipu busuknya yang digunakan untuk membunuh Ma Cin terbongkar, Kie Pa dengan nekad telah menusukkan Poan-koan-pitnya menyerang jalan darah Tay pie-hiatnya si anak muda she Ong.
Kim Hok sedang berjongkok, tetapi dia lihai sekali, dia dapat mendengar angin serangan yang datang menyerang dirinya. Juga Kim Hok mendengar beberapa orang mengeluarkan seruan tertahan, termasuk Siang Wang-gwee sendiri. Sengaja Kim Hok tidak membalikkan tubuhnya, dia membiarkan serangan sampai datang dekat benar. Disaat ujung Poan-koan-pit dari Song Kie Pa hampir berhasil menotok jalan darah Tay pie-hiatnya, dengan tidak terduga tubuh Kim Hok agak doyong kemuka, dan tahu-tahu dia berputar dalam posisi tetap berjongkok, dan kakinya melayang ke arah perut Kie Pa, sedangkan tangannya berhasil merampas senjata orang.
Kie Pa sendiri terkejut, tahu-tahu dia merasakan pitnya kena dirampas oleh Kim Hok dan perutnya dirasakan sakit sekali, karena kaki anak muda she Ong itu telah bersarang di perutnya. Tubuh Kie Pa terhuyung-huyung dan ambruk dilantai Lui-thay. Kim Hok pada saat itu telah berdiri, menatap Kie Pa dengan tatapan mata yang mengejek dan dia juga tersenyum dingin. "Hmmm... rupanya kau benar-benar seorang Siauw-cut yang tidak tahu malu!" kata Kim Hok dengan mendongkol.
Siauw-cut berarti penjahat kecil. "Untuk apa kau menyerang orang secara membokong begitu?" Wajah Kie Pa pucat sekali, dia tahu bahwa anak muda she Ong ini kosen sekali ilmu silatnya, berada di sebelah atas dirinya. Kim Hok menimang-nimang kedua Poan-koan-pit Song Kie Pa yang direbutnya, dipandanginya sesaat sambil tertawa dingin, kemudian dia melemparkannya ke samping. "Senjata yang tidak ada harganya!" kata Kim Hok dengan suara tawar. "Percuma kau menggunakan senjata kalau kau bertempur selalu menggunakan akal licikmu...! Hmmm, kematian dari Ma Cin harus kau tebus dengan jiwamu juga!!"
Dan waktu berkata begitu, wajah Kim Hok jadi bengis, tampak hawa pembunuhan, rupanya dia mendongkol tadi menyaksikan Kie Pa berbuat suatu kecurangan, melakukan sesuatu yang tidak jujur di dalam pertempurannya dengan Ma Cin, yang menyebabkan kematian orang she Ma itu. Lebih-lebih tadi waktu Kim Hok berjongkok, orang she Song itu telah menyerangnya secara membokong, maka hal itu menambah kegusaran anak muda she Ong tersebut.
Orang-orang di bawah panggung pun sangat gusar sekali kepada Song Kie Pa, mereka semuanya memaki dengan makian yang menyakitkan anak telinganya. Kie Pa telah merangkak berdiri, wajahnya pucat sekali, dan tubuhnya agak menggigil. Dilihatnya oleh Kie Pa bahwa Kim Hok telah maju selangkah demi selangkah ke arahnya. Dan Song Kie Pa menyadari bahwa dirinya bukan menjadi tandingan Kim Hok.
Lagi pula dia tahu, kalau sampai dia kena dibekuk hidup-hidup oleh anak muda she Ong, pasti akan disiksa oleh orang banyak yang kala itu sedang bergusar kepadanya. Dengan mempunyai pikiran begitu, dan lagi pula dia sedang ketakutan, tahu-tahu di hatinya timbul suatu kenekadan. Diawasinya Kim Hok yang sedang menghampiri dirinya selangkah demi selangkah. Waktu dilihatnya anak muda she Ong itu telah berada dekat sekali dengan dirinya, dengan tidak terduga Song Kie Pa menerjang menyerudukkan kepalanya ke arah perut Kim Hok!
Dia ingin mengadu jiwa dengan Kim Hok! Orang-orang yang berada di bawah panggung jadi mengeluarkan seruan tertahan, semuanya kaget dan menguatirkan keselamatan diri anak muda she Ong itu. Kim Hok sendiri juga menyadari bahwa orang she Song itu sangat licik sekali. Dan, dia melihat orang menyeruduk ke arahnya dengan cepat, Kim Hok tidak jadi gugup, dia cepat-cepat mengulurkan tangannya akan menempeleng kepala orang she Song itu, dan kalau tempelengannya itu berhasil mengenai kepala Song Kie Pa, maka dengan sendirinya kepala orang she Song tersebut akan pecah hancur terpukul tangan Kim Hok.
Tetapi belum lagi tangan Kim Hok berhasil memukul kepala Song Kie Pa, tahu-tahu meluncur dekat sekali beberapa titik-titik halus ke mukanya. Kim Hok terperanjat, segera juga dia menyadari bahwa titik-titik yang menyerang dirinya itu adalah jarum-jarum Bwee-hoa-ciam yang dilepas oleh Song Kie Pa! Terpaksa Kim Hok menarik pulang tangannya, dan untuk melindungi dirinya dari serangan jarum-jarum yang halus-halus itu, dia membuang diri ke samping, bergulingan di lantai Lui-thay.
Song Kie Pa tidak mau melepaskan anak muda she Ong itu terlolos dari jarum-jarumnya itu, dengan cepat dia telah menggerakkan tangannya lagi akan menyerang dengan jarum-jarumnya itu. Ong Kim Hok jadi kelabakan sekali, dia gugup bukan main. Kalau memang tubuhnya itu terserang oleh jarum-jarum Bwee-hoa-ciam yang halus dan mungkin mengandung racun itu, dirinya tentu akan terbinasa, arwahnya akan terbang ke dunia Barat, akan pulang ke neraka untuk menjumpai Giam-lo-ong!
Maka dari itu dengan sekuat dirinya dia bergulingan di lantai panggung Lui-thay tersebut. Jarum-jarum menyambar terus, sedangkan orang-orang di bawah panggung jadi sengit dan gusar kepada orang she Song itu, mereka memaki-maki Kie Pa. Tetapi Kie Pa telah nekad dan kalap, dia sudah tidak memperdulikan segala makian-makian dari orang-orang di bawah panggung.
Malah Siang Kie Lan dan Siang Wang-gwee sendiri jadi mendongkol serta murka kepada orang she Song itu, mereka menguatirkan keselamatan Ong Kim Hok. Siang Kie Lan sendiri sudah bangkit dari duduknya, dia mau melompat naik ke atas panggung untuk memberikan pertolongan kepada Kim Hok. Tetapi tangan Kie Lan telah dicekal oleh Siang Wang-gwee. "Ayah...!" Si gadis menoleh kepada ayahnya dan menatap Siang Wang-gwee dengan pandangan tidak mengerti.
"Jiwa... jiwa orang she Ong itu sedang terancam bahaya kematian...!" Siang Wang-gwee mengangguk, dia dapat membawa sikap yang tenang walaupun dia bergusar sekali kepada Song Kie Pa yang selalu berbuat curang di dalam pertempuran Pie-bu itu! "Duduklah dulu!" kata Siang Wang-gwee. "Orang she Ong itu tidak celaka, dia pasti akan ada yang tolong! Jago-jago di bawah panggung Lui-thay tentu tidak akan memandangi saja kematian anak muda she Ong itu dengan berpeluk tangan!"
Si gadis she Siang itu duduk kembali, tetapi sikapnya gelisah sekali. Tampak dia masih menguatirkan sekali akan keselamatan jiwa Kim Hok. Sedangkan Kim Hok jadi gelagapan menghindarkan dari serangan-serangan jarum-jarum halus yang dilontarkan oleh Song Kie Pa. Di samping repot bergulingan, Kim Hok juga jadi murka sekali. Sebetulnya anak muda she Ong ini ingin menerjang jarum-jarum halus itu, dan sedang menerjang begitu dia akan membarengi dengan menyerang orang she Song tersebut.
Tetapi akhirnya Ong Kim Hok tidak mengambil jalan nekad begitu, karena dia pikir untuk mengadu jiwa dengan orang she Song tersebut tak ada gunanya. Song Kie Pa sendiri jadi semakin kalap melihat serangan jarum-jarumnya tidak mengenai sasarannya. Dia semakin menyerang dengan timpukan berangkai dari berbagai jurusan. Ong Kim Hok jadi mencelos hatinya melihat jarum-jarum itu meluncur dari berbagai jurusan, ke arah kaki, perut, dan dada serta kepalanya, sehingga sulit baginya untuk mengelakkan serangan jarum-jarum itu, sebab kalau memang dia bergulingan menghindarkan ke arah lain, tentu jarum-jarum berikutnya akan menyusul ditimpukkan oleh orang she Song itu.
Kim Hok sampai mengeluarkan seruan tertahan. Jiwa anak muda she Ong ini benar-benar terancam bahaya kematian, sekali saja dia kena terserang oleh salah satu jarum-jarum itu, pasti dia akan terbinasa. Jago-jago di bawah panggung sampai melompat berdiri dari duduk mereka. Ada beberapa jago yang ingin melompat ke atas panggung untuk menolongi Kim Hok dan menghajar Song Kie Pa.
Tetapi, belum lagi salah seorang di antara mereka melompat, tampak sesosok bayangan telah melompat dengan cepat sekali, gesit luar biasa gerakannya. Dibarengi dengan berkelebatnya sosok bayangan putih tersebut ke atas Lui-thay, terdengar suara tring-trang-tring berapa kali secara beruntun, tampak jarum-jarum yang disambitkan oleh Kie Pa ke arah Ong Kim Hok runtuh sendirinya, dan di atas panggung tampak telah tambah satu orang lagi! Song Kie Pa yang melihat Ong Kim Hok dapat meloloskan diri dari serangan jarum-jarumnya itu disebabkan tertolongnya oleh orang yang baru melompat naik ke atas panggung, maka dia jadi murka sekali.