Chapter 14
Dengan membelalakkan mata lebar-lebar, dia mengawasi ke arah orang yang baru melompat naik itu. Di depannya berdiri dengan tenang seorang *siu-chay* (pelajar) yang mengenakan pakaian serba putih dan berusia sangat muda. Wajah pelajar ini sangat tampan, memiliki hidung yang mancung, serta bibir tipis yang selalu tampak tersenyum manis.
Ong Kim Hok telah melompat berdiri dan dapat bernapas lega. Jiwanya seolah baru saja lolos dari lubang jarum, dan dia menghapus keringat yang membanjiri wajahnya. Song Kie Pa sangat murka melihat mangsanya yang hampir terbunuh telah tertolong oleh *siu-chay* berpakaian serba putih ini.
"Maafkan! Maafkan!" kata si *siu-chay* sambil tersenyum. "Sebenarnya Hakseng tidak ingin mencampuri urusan pibu ini. Namun, karena tadi Hakseng melihat bahwa pertempuran Saudara-Saudara sudah di luar garis pibu dan bisa menyebabkan jatuhnya korban jiwa, mau tidak mau Hakseng memberanikan diri untuk memisahkan kalian." Lemah lembut sekali suara si *siu-chay* ini. Dia berkata dengan suara tenang dan sikap yang sangat wajar.
Song Kie Pa sedang gusar, apalagi dia mendengar jago-jago di bawah panggung bertepuk tangan dan memaki dirinya dengan cacian yang bisa membuat telinganya memerah. Dengan mata yang memancarkan kebengisan, dia mendelik kepada si *siu-chay*.
"Siapa kau, *siu-chay* bau?" bentaknya dengan suara bengis. "Mengapa kau tidak mengenal aturan? Di dalam pibu memang akan jatuh korban di salah satu pihak. Mengapa kau mencampuri urusan kami?"
Si *siu-chay* tertawa lagi, sangat sabar dan tenang dengan senyum yang manis. Pelajar berpakaian serba putih ini merangkapkan kedua tangannya menjura kepada Song Kie Pa.
"Memang," katanya sabar. "Hakseng mengakui telah melanggar peraturan pibu. Tetapi bukankah tadi Hakseng telah mengatakan bahwa pibu kali ini, di antara Saudara berdua, adalah di luar garis pibu yang diadakan oleh Siang Wang-gwee? Maka dari itu, melihat akan ada korban jiwa di antara kalian, mau tidak mau Hakseng harus mencegahnya. Bagaimanapun kita harus menghormati Siang Wang-gwee. Kalau sampai terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, bukankah Siang Wang-gwee akan menjadi tidak enak hati?"
Pelajar itu menunjukkan sikap yang sangat sabar dan ramah. Dia menyebut dirinya dengan sebutan "Hakseng" yang berarti "aku si murid", suatu perkataan yang sangat merendahkan diri dan sopan. Tetapi Song Kie Pa adalah orang yang kasar dan berwatak keras. Dia sedang mendongkol dan sangat gusar, sehingga wajahnya memerah padam mendengar perkataan pelajar tersebut.
"Kalau memang kau ingin memperoleh nama dan mau merasakan jarum-jarumku ini, majulah! Biarlah kau menggantikan orang bermarga Ong itu untuk bertempur denganku. Sebelum kau pergi menghadap Giam Lo Ong, sebutkanlah namamu agar kau mampus tanpa penasaran!" kata Song Kie Pa dengan suara sangat bengis.
Kembali pelajar berbaju putih itu merangkapkan tangannya menjura kepada Song Kie Pa dengan ramah. "Sebenarnya nama Hakseng tidak perlu dikenal orang karena tidak ada harganya. Tetapi karena Heng-thay ingin mengetahuinya, maka lebih baik Hakseng menyebutkannya. Hakseng bermarga Lie dan bernama Cie Kiat."
"Lie Cie Kiat!" kata Song Kie Pa begitu mendengar nama itu. "Nah, jago-jago di bawah panggung telah mendengar namamu. Sebentar lagi mereka hanya akan mengingat nama itu karena kau akan ke neraka!"
Tiba-tiba, berbarengan dengan perkataannya, tangan Song Kie Pa bergerak cepat melontarkan beberapa batang jarum Bwee Hoa Ciam ke arah Lie Cie Kiat. Orang-orang di bawah panggung, termasuk Siang Kie Lan dan Siang Wang-gwee, mengeluarkan seruan tertahan. Song Kie Pa ternyata sangat licik dan jahat karena menyerang secara mendadak.
Lie Cie Kiat sendiri sangat tenang. Dia tidak terkejut karena sudah menduga Song Kie Pa akan melakukan hal tersebut. Saat melihat beberapa batang jarum melayang menerjang, dia segera mengibaskan lengan jubah pelajarnya yang lebar. Dengan suara "bret", lengan jubah itu menggulung jarum-jarum yang menyerangnya tanpa tubuhnya bergerak sedikit pun.
Setelah jarum itu tergulung, dia menurunkan tangannya perlahan sehingga jarum-jarum itu berjatuhan di lantai panggung dengan suara "tak" yang nyaring. Jarum-jarum itu amblas ke lantai panggung dan lenyap ke bawah. Wajah semua orang berubah karena terpaku melihat kejadian itu. Song Kie Pa sendiri menjadi pucat pasi. Seketika dia menyadari bahwa dia berhadapan dengan orang berkepandaian tinggi meskipun usia Cie Kiat baru belasan tahun.
Orang-orang di bawah panggung bersorak memuji kelihaian anak muda bermarga Lie itu. Ong Kim Hok pun kagum dan merasa berterima kasih atas pertolongan Cie Kiat. Sementara itu, Song Kie Pa berdiri terpaku menatap lantai panggung yang berlubang kecil-kecil akibat diterobos jarumnya sendiri yang dilemparkan kembali oleh Lie Cie Kiat. Dia sangat terkejut dengan tenaga dalam anak muda itu yang mampu membuat jarum sehalus rambut menembusi lantai kayu yang keras.
Cie Kiat tersenyum ramah. "Maaf, jarum-jarum itu beracun. Jika sampai terinjak, akan membahayakan, maka Hakseng membuangnya. Dan perlu kuterangkan kepada Heng-thay, lain kali janganlah sembarangan menggunakan jarum beracun karena itu tidak akan membawa kebaikan bagi dirimu."
Mata Song Kie Pa membelalak bengis. "Kau... kau pelajar setan!" teriaknya gusar. Dia hendak menerjang lagi, tetapi Cie Kiat tetap tenang. Tiba-tiba Cie Kiat mengangkat kakinya lalu menapakkan kembali ke lantai panggung secara perlahan. Namun, saat kaki itu menyentuh lantai, panggung berguncang pelan dan suatu pemandangan luar biasa terjadi.
Jarum-jarum yang tadi berserakan di lantai beterbangan dan menancap di tiang panggung. Kejadian menakjubkan ini membuat semua orang kagum akan ilmu tenaga dalam Lie Cie Kiat. Mereka bersorak gegap gempita. Song Kie Pa melongo dengan hati yang tergoncang. Siang Kie Lan dan Siang Wang-gwee pun sangat gembira.
"Kau... kau gunakan ilmu siluman apa ini?" tanya Song Kie Pa gusar.
Cie Kiat tetap bersikap ramah. Dia sengaja memperlihatkan sedikit kemampuannya untuk menggempur semangat lawannya. "Hakseng tidak menggunakan ilmu siluman. Kalau memang Heng-thay masih penasaran, boleh maju kita bermain beberapa jurus dulu."
Song Kie Pa sudah jeri, tetapi dia merasa malu jika harus mundur. Dengan bentakan keras, dia menerjang ke arah Cie Kiat dengan tangan terbuka seperti cakar garuda. Semua orang mengkhawatirkan keselamatan anak muda itu, mengingat kelicikan Song Kie Pa.
Namun, Cie Kiat tetap tenang. Dengan tertawa manis, dia tidak menggeser kakinya. Hanya tangan kirinya yang terangkat dan tubuhnya miring sedikit ke kanan untuk mengelak. Saat Song Kie Pa kehilangan keseimbangan karena serangannya luput, Cie Kiat melayangkan tangan kanannya. "Plak!" punggung Song Kie Pa terhantam hingga dia terjerembap ke depan, jatuh dari panggung dengan muka mencium tanah. Wajahnya seketika bengkak dan darah segar mengucur dari hidungnya.