Halo!

Ibu Hantu - Chapter 15

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 15

Saat pria bermarga Song itu merangkak bangun dan mengangkat mukanya dengan tatapan mata bengis yang mengandung hawa pembunuhan, tampak darah merah telah memenuhi wajahnya.

Para jago di bawah panggung semuanya terkesima melihat betapa mudahnya Cie Kiat merobohkan Kie Pa hanya dalam satu gebrakan saja. Saat melihat keadaan Kie Pa, mereka segera tersadar. Seketika itu juga mereka bersorak riuh rendah, memaki dan mencaci pria bermarga Song tersebut. Begitu pula dengan Kie Lan dan Siang Wang-gwee yang bersorak penuh kegirangan. Malah Siang Kie Lan tidak bisa mengendalikan diri; saking gembiranya, dia bersorak sambil bertepuk tangan dan berjingkrak-jingkrak.

Cie Kiat melangkah mendekati tepian Lui-thay, lalu menjura memberi hormat ke arah Song Kie Pa. "Maafkan saya! Dengan menyesal dan tanpa sengaja, Hak-seng telah membuat Heng-thay celaka!" kata Cie Kiat sambil tersenyum. "Dan kukira luka itu cukup menyakitkan, bukan? Nah, lain kali jika bisa, sebaiknya Heng-thay jangan suka mencelakakan orang lain, karena disakiti orang itu tidak enak rasanya."

Wajah Kie Pa menjadi merah padam. Dia menganggap perkataan Cie Kiat sebagai penghinaan. Dengan teriakan mengguntur, dia menjejakkan kaki dan melesat melompat ke atas panggung Lui-thay. "Akan... akan kubunuh kau!" bentaknya dengan suara menggelegar.

Namun, Cie Kiat tetap tenang dan bersikap sangat sabar menghadapi pria bermarga Song ini. "Apakah Heng-thay masih penasaran dan mau merasakan sakit yang lebih lagi?" tanya Cie Kiat dengan nada mengejek. "Hmm... sabarlah Heng-thay, jangan dikuasai nafsu amarah karena kau sendiri yang akan celaka. Seperti tadi, jika aku ingin mencelakaimu, itu semudah membalik telapak tangan. Dengan menotok jalan darah Tay-yang-hiat-mu, pasti tadi kau sudah terbang ke neraka menghadap Giam-lo-ong!"

Namun, Song Kie Pa sudah telanjur nekat dan dikuasai amarah yang hebat. Dia tidak memedulikan perkataan Cie Kiat dan kembali menerjang dengan cepat. Kedua tangannya terulur; tangan kiri mengincar perut Cie Kiat, sedangkan tangan kanan hendak mencengkeram batok kepala pemuda bermarga Lie itu.

Akan tetapi, ilmu silat Cie Kiat sudah sempurna. Orang seperti Song Kie Pa tidak dipandangnya sebelah mata karena kemampuan mereka terpaut sangat jauh, ibarat langit dan bumi. Maka saat melihat lawan menyerang dengan dua serangan sekaligus, Cie Kiat menarik napas dalam-dalam dan berdiam di tempat menanti serangan lawan tiba.

Ketika tangan dan serangan Song Kie Pa hampir mengenainya, Cie Kiat mengeluarkan bentakan keras dan mengangkat tangannya. Dengan gerakan yang sangat cepat hingga tak terlihat mata biasa, tangan Cie Kiat menangkap kedua tangan Kie Pa. Kemudian, dengan mengerahkan empat bagian tenaga Lwee-kang, Cie Kiat menghentakkan tangan Kie Pa.

Bagaikan dihempas angin topan yang dahsyat, tubuh Kie Pa melambung tinggi ke luar area Lui-thay, lalu ambruk di tanah dengan keras. Saat tubuhnya melambung, semangat Kie Pa seolah ikut terbang. Ketika terbanting keras di tanah, dia mengeluarkan jeritan menyayat hati karena lengan kirinya seketika patah.

Dengan merangkak menahan sakit dan darah dari hidung yang membasahi baju, Kie Pa bangkit berdiri. Bersamaan dengan itu, tampak sesosok tubuh melompat ke dekat Kie Pa. "Kau tidak apa-apa, Song-jie?" tanya pendatang baru itu dengan suara parau yang mengandung amarah. Kie Pa menoleh dan melihat seorang lelaki tua berjenggot dengan rambut yang telah memutih seluruhnya mengenakan jubah panjang. "Su-hu...!" panggilnya dengan suara parau, sebelum tubuhnya menggigil dan jatuh pingsan.

Lelaki tua berambut putih yang dipanggil suhu—yang berarti guru—oleh Kie Pa itu segera berjongkok dan mengangkat tubuh muridnya, lalu meletakkannya di bawah Lui-thay. Kemudian, dia menjejakkan kaki melompat ke atas panggung. Matanya memancarkan kebengisan dengan wajah yang menyeramkan.

Cie Kiat tetap berdiri tenang sambil mengawasi lelaki tua itu. Pemuda bermarga Lie tersebut memperlihatkan senyum manis dengan sikap yang sangat sabar. "Bocah busuk!" bentak lelaki tua itu dengan suara sangat keras. "Jika hari ini aku, Sam-cie Sam-kun Oey Tat, tidak bisa membunuh dan mencincang tubuhmu, maka untuk seterusnya aku tidak akan berkelana di dunia Kang-ouw lagi; aku akan mencuci tangan!"

Mendengar orang itu mengaku sebagai Sam-cie Sam-kun—si Tiga Pukulan Tiga Jari—orang-orang di bawah panggung menjadi gempar. Sam-cie Sam-kun adalah jagoan yang menguasai wilayah Sam-say dan jarang menemui tandingan. Oey Tat terkenal akan ketelengasannya, maka tak heran jika Kie Pa menjadi bengis karena ternyata dia adalah murid Oey Tat. Namun, orang-orang heran mengapa jago tua sekelas dia ikut mencampuri urusan anak muda. Siang Wang-gwee, Siang Kie Lan, dan Ong Kim Hok pun mulai mengkhawatirkan keselamatan Cie Kiat.

Namun, Cie Kiat tetap tenang dan selalu memperlihatkan senyum manis yang sabar. Dia merangkapkan tangan menjura kepada Oey Tat. "Maaf... sebetulnya dalam persoalan ini tidak ada ganjalan di antara kami. Kami hanya sedang Pie-bu, dan dalam Pie-bu pasti ada salah satu pihak yang kalah. Jika memang orang bermarga Song itu adalah murid Loo-cianpwee, mengapa Loo-cianpwee tidak mendidiknya agar mempunyai kepandaian yang lumayan sehingga tidak sampai dirobohkan orang?"

Mendengar perkataan Cie Kiat yang bernada sindiran dan ejekan, Oey Tat makin murka. Wajahnya berubah merah padam dan tampak sangat menyeramkan. "Bocah busuk!" bentak Oey Tat dengan suara gemetar. "Kepandaian muridku memang bukan tandinganmu, tetapi kau turun tangan terlalu keras! Sebetulnya cukup jika kau hanya merobohkannya di atas lantai Lui-thay ini, tetapi mengapa kau malah melemparkannya setinggi itu? Hmm... jika sampai muridku binasa, cedera, atau cacat, apakah kau kira Sam-cie Sam-kun Oey Tat akan tinggal diam begitu saja? Mengenai kepandaian, mungkin kau punya sedikit ilmu sehingga menjadi tinggi hati. Mari kita main-main untuk membuktikan apakah ilmu silatmu memang bisa diandalkan!"

Cie Kiat tersenyum mendengar perkataan Sam-cie Sam-kun Oey Tat. Dia kembali menjura kepada jago tua itu. "Boanpwee Lie Cie Kiat tidak berani jika harus beradu dengan Loo-cianpwee," kata Cie Kiat merendah. Sam-cie Sam-kun mendengus mengejek dengan wajah yang tetap tidak enak dipandang. "Aku tidak bermaksud menghina yang muda, tetapi aku ingin melihat sampai di mana kepandaian yang kau miliki!" katanya tawar.

Jago-jago di bawah panggung berdebar kencang; suasana di sekitar terasa sangat tegang. Siang Kie Lan terus memegangi tangan ayahnya, Siang Wang-gwee, karena sangat mengkhawatirkan Cie Kiat. Sam-cie Sam-kun Oey Tat bukanlah orang yang mudah dipermainkan. Dia selalu bersikap bengis dan bertindak kejam kepada lawan. Jika sampai sesuatu terjadi pada Cie Kiat, tentu Siang Wang-gwee akan merasa sangat tidak enak hati.

Pada saat itu, Cie Kiat menjura lagi. "Jika memang Loo-cianpwee mendesak, baiklah Boanpwee menemani Loo-cianpwee main-main beberapa jurus. Namun, Boanpwee harap Loo-cianpwee berbelas kasihan dan bermurah hati kepada saya," kata Cie Kiat merendah. Kembali Sam-cie Sam-kun mendengus. "Sudah, jangan banyak cakap! Cepat mulai seranganmu!" bentaknya.

Cie Kiat tidak langsung menyerang. Dia mengawasi kakek berambut putih itu sambil berpikir harus menyerang dengan jurus apa dan apakah perlu bertindak keras. Hati pemuda bermarga Lie ini ragu; jika dia merobohkan Sam-cie Sam-kun, tentu orang tua itu akan merasa malu dan kehilangan muka, yang berujung pada dendam. Cie Kiat tidak ingin menanam permusuhan dengan siapa pun. Dia ingin mencari jalan keluar terbaik.

Sebelum menyerang, Cie Kiat menjura sekali lagi. Setelah itu, dengan jurus Yacong—Kuda Tua Mengibaskan Suri—dia membuka serangan. Melihat serangan Cie Kiat hanya jurus biasa, Sam-cie Sam-kun mendengus mengejek. Dalam hati dia membatin, "Apakah kepandaiannya memang hanya sejauh ini?"

Dengan cepat kaki Sam-cie Sam-kun bergeser ke samping. Dia bermaksud mengelak sambil melancarkan serangan balasan. Namun, hasilnya sungguh luar biasa. Tangan Cie Kiat yang semula terjulur lurus melewati Sam-cie Sam-kun dan memukul tempat kosong, tiba-tiba membalikkan telapak tangan. Dia berubah arah dengan cepat dan menyambar ke arah tulang iga Sam-cie Sam-kun!

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment