Chapter 16
Pukulan kali ini kuat dan bertenaga sekali. Ternyata tadi Cie Kiat hanya menggunakan serangan-serangan tipu belaka; sekarang dia baru benar-benar menyerang.
Sam-cie Sam-kun sendiri sampai terkesiap hatinya; dia terkejut bukan main. Untung saja dia lihai, sehingga tidak sampai terkena serangan begitu saja. Dengan cepat dia telah dapat menjejakkan kakinya, lalu tubuhnya mencelat dengan cepat. Ketika tubuhnya sedang melambung, kedua kakinya telah menendang secara berantai. Tendangan yang datang silih berganti itu mengincar bagian tubuh Cie Kiat yang berbahaya.
Menyadari serangannya gagal mengenai sasaran, dengan cepat Cie Kiat menarik pulang tangannya. Pada saat itu, kedua kaki Sam-cie Sam-kun telah menyerang ke arah dirinya dengan serangan berangkai yang mengincar tempat berbahaya di bagian tubuhnya, sehingga dengan cepat Cie Kiat harus menyelamatkan diri.
Tetapi sebagai seorang jagoan tangguh, Cie Kiat tidak saja mengelakkan serangan Sam-cie Sam-kun. Sambil menghindari tendangan-tendangan Sam-cie Sam-kun dengan memiringkan tubuhnya ke belakang, tangan Cie Kiat menyapu setengah lingkaran. Tubuhnya ikut berputar, dan tahu-tahu tangan Cie Kiat telah mengincar untuk mencengkeram titik nadi An-tiong-hiat milik Sam-cie Sam-kun.
Hati Sam-cie Sam-kun jadi mencelos; dia kaget luar biasa. Saking kagetnya, dia sampai mengeluarkan seruan tertahan. Tetapi sebagai jagoan tua yang kawakan, Sam-cie Sam-kun tidak menjadi gugup. Dia mengetahui bahwa jika titik nadi An-tiong-hiatnya kena dicengkeram oleh anak muda bermarga Lie itu, berarti seketika itu juga dirinya akan lumpuh. Jika dia dirubuhkan seperti itu, mau ditaruh di mana mukanya? Namanya yang harum dan dipupuk selama puluhan tahun tentu akan runtuh seketika itu juga.
Dengan mengeluarkan seruan "Ihhhh!", tubuh jagoan tua berambut putih ini bergerak di udara; tahu-tahu dia telah bersalto. Dengan begitu, cengkeraman tangan Lie Cie Kiat jatuh di tempat kosong lagi. Cie Kiat juga kagum melihat gerakan Sam-cie Sam-kun Oey Tat yang begitu sebat dan cepat. Dia mengeluarkan seruan pujian, tetapi bukan hanya mulutnya yang bergerak memuji, melainkan tangannya juga telah bergerak lagi dengan kecepatan yang luar biasa. Cie Kiat tidak mau memberikan kesempatan kepada Oey Tat.
Di saat tubuh kakek tua berambut putih itu sedang bersalto di udara, dengan cepat kedua tangan Cie Kiat telah menyerang lagi. Kali ini dia menyerang dari dua jurusan; tangan kirinya mengincar titik nadi Tie-tiang-hiat Oey Tat di bagian dada, sedangkan tangan kanannya mengincar batok kepala Sam-cie Sam-kun. Jika salah satu dari kedua serangan itu mengenai sasarannya, berarti Oey Tat akan mengalami cedera dan binasa.
Oey Tat sendiri terkesiap; dia tidak menyangka bahwa Cie Kiat ternyata dapat bergerak begitu cepat dan gesit. Malah yang membuatnya bingung, serangan-serangan yang dilancarkan oleh Cie Kiat sebetulnya adalah jurus-jurus ilmu silat biasa dari perguruan Thian-san-pay, namun gerakan-gerakan si anak muda itu luar biasa sekali sehingga serangan dan jurus yang biasa itu berubah menjadi berbahaya dan mengancam jiwa si kakek.
Ketika kedua tangan Cie Kiat hampir mengenai sasarannya dan saat tubuh Sam-cie Sam-kun sedang meluncur turun, Oey Tat menangkis dengan menggunakan kedua tangannya sehingga tangan mereka saling berbenturan dengan keras. Saat terbentur itulah, Oey Tat meminjam tenaga tempur untuk mencelat lagi dan bersalto dua kali di udara, kemudian turun di lantai panggung dengan selamat.
Tetapi biarpun begitu, hati jagoan tua yang kawakan itu tergoncang hebat; keringat dingin membasahi wajahnya. Sedikit pun dia tidak menduga bahwa Cie Kiat begitu lihai. Dengan adanya pengalaman itu, Sam-cie Sam-kun tidak berani memandang rendah lagi kepada anak muda bermarga Lie tersebut.
Pada saat itu Cie Kiat tertawa; manis sekali tawa anak muda bermarga Lie ini. "Loo-cianpwee...!" katanya dengan ramah. "Ternyata kepandaian Loo-cianpwee sangat sempurna dan lihai sekali. Kalau tadi Boanpwee terlambat sedikit saja, tentu Boanpwee akan kena dirubuhkan oleh Loo-cianpwee!"
Sam-cie Sam-kun mengerutkan alisnya. Dia mengetahui bahwa Cie Kiat berkata begitu untuk melindungi muka si jagoan tua ini, sehingga seharusnya dia berterima kasih. Tetapi karena dia adalah seorang jagoan tangguh yang jarang menemui tandingan, bukannya berterima kasih, Sam-cie Sam-kun justru menganggap perkataan anak muda bermarga Lie itu sebagai suatu penghinaan baginya.
Dia mendengus dingin. Wajah Oey Tat juga sangat menyeramkan; matanya memancarkan cahaya pembunuhan. "Bocah, sebutkan nama gurumu!" bentak Sam-cie Sam-kun dengan suara parau.
Lie Cie Kiat tertawa; sikap pelajar berbaju putih bermarga Lie ini tetap ramah. "Antara Loo-cianpwee dengan Boanpwee tidak saling mengenal sebelumnya. Hubungan kita juga seperti air sumur dengan air sungai yang tidak saling mengganggu. Karena itu, kita tidak perlu terlalu mengetahui soal pribadi masing-masing... dan mengenai nama In-su Boanpwee, kurasa sulit untuk diterangkan di depan orang banyak ini...!" kata Cie Kiat dengan suara tenang. Cie Kiat membahasakan gurunya dengan sebutan In-su, guru yang berbudi.
Wajah Sam-cie Sam-kun berubah merah padam. "Bocah setan!" bentaknya memaki lagi dengan suara bengis. "Apakah aku ini tidak berharga menurut anggapanmu untuk mendengar nama gurumu yang harum dan besar itu?" ejeknya dengan mata mencalang bengis.
Tetapi Cie Kiat tetap tertawa sabar. "Jangan salah mengerti, Loo-cianpwee!" kata Cie Kiat sabar. "Sudah Boanpwee katakan, tidak leluasa bagi Boanpwee untuk menyebutkan nama In-su di muka orang banyak ini...!"
"Baiklah! Sekarang kita boleh main-main beberapa jurus lagi... dan kalau memang kau mengalami cedera di tanganku, janganlah nanti kau menyebut-nyebut nama gurumu untuk memohon belas kasihanku!" kata Sam-cie Sam-kun dengan dongkol.
Cie Kiat hanya tersenyum. Baru saja anak muda bermarga Lie ini mau menyahuti perkataan Sam-cie Sam-kun, tahu-tahu Oey Tat telah berteriak dengan suara mengguntur dan menyerang Cie Kiat dengan hebat. Dilihat dari cara menyerang Oey Tat, jagoan-jagoan di bawah panggung mengetahui bahwa jagoan tua itu ingin membinasakan Cie Kiat, sehingga mereka sangat mengkhawatirkan keselamatan jiwa pemuda tersebut.
Hebat sekali serangan-serangan Oey Tat, tetapi bagi Cie Kiat hal itu tidak berarti apa-apa. Anak muda bermarga Lie ini tersenyum, lalu tubuhnya berkelebat dengan gesit dan cepat. Setiap tangan Oey Tat bergerak disertai serangan mautnya, tubuh Cie Kiat melejit-lejit dengan penuh kelincahan.
Rupanya hal ini semakin membangkitkan kemurkaan Sam-cie Sam-kun. Dia sampai berteriak-teriak murka dan berjingkrak-jingkrak disusul oleh serangan-serangannya yang mematikan. Dia sangat dongkol dan murka, tetapi menghadapi Cie Kiat ini, Oey Tat bergusar tanpa daya karena anak muda bermarga Lie ini sangat tangguh dan lihai ilmu silatnya.
Cie Kiat selalu memperdengarkan suara tawanya. Sambil bertempur dia selalu berkata, "Sabar, Loo-cianpwee. Tidak baik orang cepat marah, karena bisa cepat tua!"
Hal ini menambah kedongkolan Sam-cie Sam-kun. Dia memperhebat setiap serangannya, tetapi selalu saja dapat dielakkan oleh Cie Kiat. Suatu ketika, saat Sam-cie Sam-kun sedang menyerang dengan sepakan kaki kirinya ke arah kemaluan Cie Kiat, dengan suara nyaring Cie Kiat berkata sambil melompat menghindar, "Sekarang sudah cukup Boanpwee mengalah!" katanya sambil tertawa. "Nah, hati-hatilah Loo-cianpwee... aku si angkatan muda akan berlaku kurang ajar!"
Dan benar saja, Cie Kiat mulai merangsek dengan pukulan berantai. Hal ini membuat Sam-cie Sam-kun gelagapan karena dia terdesak hebat. Cie Kiat sekarang sudah tidak sungkan-sungkan lagi; dengan gencar dia melancarkan serangan berangkai kepada Sam-cie Sam-kun Oey Tat. Bahkan saat Oey Tat sedang repot melompat mundur beberapa langkah untuk menghindari serangan, Cie Kiat mengeluarkan siulan panjang. Tiba-tiba tubuhnya melompat tinggi sekali, tangannya bergerak cepat, dan dia berseru dengan suara tinggi, "Kena!"
Tangannya meluncur mengincar titik nadi Pie-ma-hiat Sam-cie Sam-kun Oey Tat yang terletak di bagian dada sebelah kiri. Orang-orang yang menyaksikan terpaku kesima; mereka menduga serangan Cie Kiat pasti berhasil mengenai sasarannya.
Tetapi Oey Tat juga bukan jagoan sembarangan; dia sudah kenyang makan asam garam di dunia persilatan dan sudah beratus kali bertempur dengan jagoan lihai. Walaupun kini dalam keadaan terdesak dan jari tangan si pemuda sudah berada dekat sekali dengan dadanya, dia dengan cepat membuang diri ke belakang dan bergulingan di lantai panggung. Rasa malu dan harga diri sudah lenyap; yang penting saat itu dia dapat menghindarkan diri dari serangan Cie Kiat. Sebab, jika sampai titik nadi Pie-ma-hiatnya dicengkeram, namanya akan hancur dan dia akan menderita malu yang tak terhingga.
Tetapi Cie Kiat tidak mau melepaskan lawannya begitu saja. Dengan cepat anak muda bermarga Lie ini melompat ke arah Oey Tat. Saat lawannya sedang bergulingan, kaki Cie Kiat bergerak menendang untuk menotok titik nadi Pay-tie-hiat Oey Tat.