Halo!

Ibu Hantu - Chapter 17

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 17

Oey Tat benar-benar tangguh dan lihai. Meskipun dirinya terancam sedemikian rupa, ia dengan berani menggunakan tangan kirinya untuk mencengkeram kaki Cie Kiat. Tiba-tiba, ia melompat berdiri dan pada saat yang sama, tangannya bergerak hendak menotok mata Cie Kiat.

Hal ini memaksa Cie Kiat untuk mengelak dan akhirnya melompat mundur ke belakang. Dengan melompatnya Cie Kiat untuk menjauhkan diri, Oey Tat pun bisa bernapas lega sejenak. Namun, hatinya masih terguncang. Dengan mata membelalak, ia mengawasi Cie Kiat, tetapi sikapnya tidak seangkuh tadi dan juga tidak sebengis saat pertama kali ia menegur pemuda itu.

"Bocah! Ternyata kau memang mempunyai kepandaian yang lumayan!" katanya dengan suara hambar. "Tetapi aku sudah mengatakan, jika aku tidak bisa membunuh dan menghirup darahmu, aku tentu tidak akan berkelana di dalam kalangan persilatan lagi! Nah, bersiap-siaplah kau untuk menerima kematianmu!"

Setelah berkata begitu, tiba-tiba tangan Oey Tat meraba pinggangnya. Ia menarik sebatang pecut yang lemas dan bergerigi. Ternyata itu adalah tulang seekor ular yang sangat panjang, dan tulang ular itulah yang digunakan sebagai senjata pecut tersebut. Dengan tawa dingin, Oey Tat memutar-mutar senjatanya.

"Hmm, bersiap-siaplah kau untuk dijadikan sate pada pecutku ini!" katanya.

Setelah berkata demikian, tangannya terayun dengan cepat. Pecut itu melecut dan menyerang ke arah leher Cie Kiat. Cie Kiat masih tetap berdiam diri di tempatnya dengan tenang. Tadi ia hanya memperhatikan saat orang itu mencabut senjatanya, dan ketika pecut Sam-cie Sam-kun itu menyambar dirinya, ia tetap tidak bergeming.

Orang-orang yang menyaksikan di bawah panggung panggung itu menjadi sangat khawatir. Banyak yang berseru tertahan karena tegangnya suasana. Mereka mengkhawatirkan pemuda marga Lie itu akan menjadi korban pecut berduri milik Sam-cie Sam-kun.

Cie Kiat yang berdiri tenang di tempatnya memang telah bersiap-siap. Ia membuka matanya lebar-lebar dengan penuh kewaspadaan. Saat pecut dari Oey Tat menyambar dengan cepat dan sudah berada sangat dekat sambil mengeluarkan siulan panjang, tiba-tiba ia mengulurkan tangannya. Ia menyambut pecut itu dengan dua jari terbuka. Dengan kecepatan yang luar biasa, pecut itu berhasil dijepit oleh jari telunjuk dan jari tengahnya. Pecut tersebut seketika tidak bisa bergerak.

Sam-cie Sam-kun Oey Tat terkejut bukan main. Hatinya menciut karena kaget. Dengan cepat ia menyentak cambuknya, tetapi jangankan tertarik, bergerak saja tidak. Wajah Sam-cie Sam-kun menjadi merah padam. Ia mengerahkan tenaga dalamnya sekuat tenaga untuk menarik cambuk tersebut. Namun, jepitan jari tangan Cie Kiat sangat kuat, sehingga cambuk itu tetap tidak bergeming.

Cie Kiat tersenyum tawar saat melihat wajah Sam-cie Sam-kun dipenuhi butiran keringat. "Kukira permainan kita sudah cukup!" kata Cie Kiat dengan suara datar.

Bersamaan dengan perkataannya, Cie Kiat mengerahkan lima bagian tenaga dalamnya dan menyentak pecut itu. Seketika itu juga Sam-cie Sam-kun merasakan dirinya seolah terbang. Kakinya tidak lagi menginjak lantai panggung karena tubuhnya melambung tinggi tertarik ke arah Cie Kiat. Pemuda marga Lie itu menekuk kaki kirinya sehingga tubuhnya agak merendah. Saat tubuh Sam-cie Sam-kun lewat di atas kepalanya, ia mengulurkan tangan kanan dan menghajar telak dada Oey Tat.

Terdengar suara rintihan dari mulut Oey Tat, dan tubuhnya jatuh berdebum di tanah di bawah panggung. Dengan menderita kesakitan yang hebat karena merasa dadanya seperti mau remuk, Sam-cie Sam-kun berdiri perlahan-lahan. Meski dalam keadaan kesakitan, cahaya matanya masih tajam dan mendelik ke arah Cie Kiat, memancarkan dendam yang sangat mendalam.

"Bocah, kali ini kau memang dapat merobohkan diriku, tetapi ingatlah, suatu hari nanti tiga tahun lagi, aku pasti akan mencarimu!" kata Oey Tat dengan suara penuh dendam sambil melilitkan kembali pecutnya ke pinggang. "Dan budi kebaikanmu hari ini akan kubalas lipat dua nantinya!"

Cie Kiat hanya tertawa mendengar perkataan itu. Ia tidak bermaksud melayaninya lebih jauh. Dengan tersaruk-saruk, Sam-cie Sam-kun melangkah ke arah Song Kie Pa yang masih pingsan di bawah panggung. Di bawah sorotan mata orang-orang, guru dan murid itu melangkah perlahan meninggalkan tempat tersebut. Saat akan berlalu, sekali lagi Oey Tat memandang ke arah Cie Kiat dengan tatapan mata yang bengis. Setelah itu, barulah ia menjejakkan kaki, melompat ke atas dinding, lalu lenyap dari pandangan orang banyak.

Cie Kiat sendiri melompat turun dari atas panggung dan kembali ke tempat duduknya. Semua jagoan di bawah panggung memuji ketangguhan pemuda berpakaian serba putih ini, karena jarang sekali ada orang yang bisa menandingi kepandaian Sam-cie Sam-kun Oey Tat. Keberhasilan Cie Kiat merobohkan jagoan tua itu membuktikan bahwa kepandaiannya luar biasa.

Siang Wang-gwee dan Siang Kie Lan mendatangi Cie Kiat untuk memuji kelihaian pemuda itu. Cie Kiat merasa sungkan dan hanya mengeluarkan kata-kata rendah hati. Ketika Ong Kim Hok menyatakan terima kasihnya, Cie Kiat juga mengatakan bahwa pertolongan yang diberikannya sebenarnya tidak berarti apa-apa. Semua orang yang melihat sikap pemuda tersebut merasa kagum. Meskipun mempunyai kepandaian luar biasa, ia tetap rendah hati, ramah, dan tidak angkuh.

"Jika Lie Siauw-hiap berkenan, lebih baik Lie Siauw-hiap menetap di gubuk kami untuk beberapa hari, sebagai tanda kekaguman kami atas kelihaian ilmu silat Anda," kata Siang Wang-gwee.

Lie Cie Kiat menolaknya dengan rendah hati. Ia beralasan masih mempunyai urusan yang belum diselesaikan, sehingga terpaksa menolak tawaran baik dari Siang Wang-gwee.

Sesaat kemudian, adu silat dimulai lagi. Ada dua jago silat muda yang naik ke atas panggung untuk memperebutkan gelar juara demi mempersunting nona manis seperti Siang Kie Lan. Namun, hati Nona Siang itu telah terpikat pada Cie Kiat. Entah kenapa, gadis ini sering melirik ke arah tempat duduk Cie Kiat. Jika mereka kebetulan bertemu pandang, seketika itu juga si gadis menundukkan kepala dengan pipi yang memerah, lalu melempar senyum yang selalu dibalas oleh Cie Kiat.

Nona Siang berharap agar Cie Kiat ikut turun ke panggung untuk memperebutkan dirinya. Ia yakin Cie Kiat pasti akan menang karena kepandaiannya yang luar biasa. Kepandaian tinggi, wajah tampan, serta tutur kata yang menarik telah memikat hatinya. Siang Kie Lan berdoa dalam hati semoga Cie Kiat segera naik ke panggung agar ia bisa segera diumumkan sebagai tunangannya.

Namun, betapa terkejutnya hati Nona Siang ketika melihat Cie Kiat tiba-tiba berdiri dari duduknya dan melangkah menuju pintu keluar. Gadis itu menjadi gelisah. Pada saat itu, di atas panggung sedang terjadi keributan antara dua anak muda yang sedang bertanding karena senjata mereka masing-masing terlepas. Namun, hal itu tidak menarik perhatian Nona Siang. Ia segera menggoyang-goyangkan tangan ayahnya.

"Ayah... dia... dia mau pergi!" katanya dengan gugup.

Siang Wang-gwee heran melihat putrinya begitu kebingungan. Ia juga tidak tahu siapa yang dimaksud oleh Kie Lan. "Siapa maksudmu?" tanya Siang Wang-gwee.

"Itu... Lie Siauw-hiap mau pergi!" kata Siang Kie Lan dengan wajah memerah sambil cepat-cepat menundukkan kepala.

Siang Wang-gwee menoleh ke arah tempat duduk Cie Kiat dan melihat pemuda marga Lie itu memang sedang melangkah menuju pintu keluar. Siang Wang-gwee pun menjadi sibuk. Kericuhan di atas panggung tidak lagi ia hiraukan. Ia segera mengejar Cie Kiat.

"Lie Siauw-hiap! Lie Siauw-hiap!" panggilnya tergopoh-gopoh.

Cie Kiat yang mendengar namanya dipanggil segera menoleh. Dilihatnya Siang Wang-gwee dan putrinya datang mendekat dengan cepat.

"Lie Siauw-hiap, Anda hendak ke mana?" tegur Siang Wang-gwee begitu sampai di depan Cie Kiat.

Cie Kiat tersenyum tenang. "Saya rasa sudah cukup lama saya berada di sini, maka saya bermaksud melanjutkan perjalanan kembali," jawabnya.

"Apakah... tidak lebih baik jika Lie Siauw-hiap bermalam satu atau dua malam di gubuk kami?" kata Nona Siang dengan gugup.

Pada saat itu, rasa canggung dan malunya lenyap. Ia merasa berat ditinggalkan oleh pria yang telah mengetuk pintu hatinya. Meskipun baru bertemu, ia telah menyukai Cie Kiat.

Cie Kiat tersenyum mendengar perkataan gadis itu. "Terima kasih, Nona Siang," kata Cie Kiat kemudian.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment