Chapter 18
Lain hari, Hak-seng pasti akan mampir pula kemari.
Dan Cie Kiat merangkapkan kedua tangannya, dia menjura memberi hormat kepada Siang Wang-gwee dan Siang Kie Lan.
Melihat orang berkeras ingin berangkat, Siang Wang-gwee pun tidak bisa terus memaksa.
Dia terpaksa membalas hormat pemuda itu, dan Kie Lan pun membalas hormat Cie Kiat dengan berat hati.
Seolah telah mengetahui apa yang dirasakan oleh putrinya, sebetulnya Siang Wang-gwee sangat setuju jika Cie Kiat menjadi menantunya.
Namun setelah memberi hormat kepada Siang Wang-gwee dan Nona Siang, Cie Kiat memutar tubuhnya, melangkah meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi.
Wajah Siang Kie Lan jadi berduka, sangat muram.
Hatinya sangat berat ditinggalkan pemuda yang telah memikatnya.
Mereka mengantarkan kepergian Cie Kiat sampai di muka pintu.
Akhirnya, bayangan anak muda marga Lie itu lenyap dari pintu.
Siang Wang-gwee yang mengetahui kesusahan hati putrinya, segera menghiburnya.
Mereka kembali ke tempat duduk untuk menyaksikan pertarungan.
Pada saat itu, di Lui Thai telah diganti dua orang lain yang sedang bertempur seru untuk memperebutkan kemenangan.
Tetapi semua itu tidak menarik perhatian Siang Kie Lan; dia kemudian masuk ke dalam rumah dengan wajah berduka.
Dia tidak berselera lagi menyaksikan keramaian itu, dan seandainya di antara yang bertarung itu ada yang memperoleh kemenangan, Siang Kie Lan sudah bertekad menolaknya karena dia akan menunggu Lie Cie Kiat atau menyusul mencari pemuda marga Lie itu, sebab Cie Kiat benar-benar telah berhasil menggedor pintu hati gadis itu.
Dia telah kembali ke penginapannya, dan cepat-cepat membungkus kembali Pauw-hoknya, buntalan pakaiannya.
Dia bermaksud untuk segera berangkat meninggalkan kampung Liong Gak Chung pada saat itu juga.
Perintah gurunya untuk membunuh penjahat besar bernama Liang Ban Cen telah diselesaikan dan dilaksanakan. Oleh karena itu, masih ada beberapa perintah gurunya yang belum diselesaikannya.
Ketika pemuda marga Lie ini sedang membereskan pakaiannya yang diikat ke dalam Pauw-hok, buntalan pakaiannya, tiba-tiba dia teringat akan Nona Siang Kie Lan.
Wajah gadis marga Siang itu membayang di depan matanya.
Tetapi sesaat kemudian, Cie Kiat menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Ah, aku benar-benar tidak tahu malu!" Pikirnya. "Sudah jelas aku masih belum menyelesaikan tugas-tugas yang dibebankan In-su ke atas pundakku, kini malah memikirkan wanita! Hai, Cie Kiat, kau benar-benar tidak tahu diri! Sudahlah! Soal wanita bisa dipikirkan nanti, dua atau tiga tahun lagi, ketika semua tugas yang diberikan In-su telah selesai!"
Dan Cie Kiat tertawa lagi, kemudian meneruskan mengikat Pauw-hoknya.
Setelah membereskan segalanya, Cie Kiat keluar dari kamarnya.
Dia memerintahkan seorang pelayan untuk mempersiapkan kudanya.
Tetapi ketika dia sedang menunggu pelayan itu, tiba-tiba datang seorang lelaki bertubuh tinggi besar dan mukanya berewokan.
Wajahnya bengis sekali, matanya memancar tajam, menandakan bahwa lelaki bertubuh tinggi besar ini menguasai ilmu silat.
"Lie Sian-seng!" panggil lelaki berewok itu.
Cie Kiat menoleh dengan terkejut.
Dia merasa tidak mengenal lelaki bertubuh tinggi besar ini, tetapi mengapa orang ini mengetahui bahwa dia adalah orang marga Lie?
Siapakah lelaki bertubuh tinggi besar dan mukanya berewokan itu?
"Lie Sian-seng... ternyata kau berada di sini. Ayo ikut aku, ada sedikit persoalan yang ingin kami bicarakan denganmu!" kata lelaki bertubuh tinggi besar itu lagi.
Cie Kiat pun jadi bingung.
"Tuan... mungkin Tuan salah mengenali orang!" kata Cie Kiat dengan cepat.
"Hak-seng tidak kenal dengan Tuan dan mungkin Tuan salah lihat!" Orang itu tertawa; tawanya sangat tidak sedap.
"Salah mengenali orang? Salah lihat?" tanyanya sambil tetap tertawa. "Oh, tidak mungkin! Bukankah kau bernama Lie Cie Kiat?" Kembali Cie Kiat terkesiap hatinya. Dia bingung bercampur heran melihat orang mengetahui nama dan marganya dengan begitu jelas.
"Siapakah Tuan... mengapa Tuan mengetahui nama dan margaku?" tanya Cie Kiat dengan heran.
Lelaki berewok itu kembali tertawa.
"Jangan heran...!" kata si berewok dengan suara serak. "Kalau memang Lie Sian-seng ingin mengetahui siapa kami sebenarnya, ikutlah aku sebentar." Cie Kiat ragu sebentar.
Dia menduga di belakang orang ini tentu ada peristiwa yang cukup hebat.
"Bagaimana? Kau mau ikut atau tidak?" tanya orang bermuka berewok tersebut ketika dia melihat pemuda itu ragu.
Akhirnya Cie Kiat mengangguk juga.
"Baiklah! Jauhkah tempat yang harus kita tuju?" tanyanya.
Orang itu menggelengkan kepalanya.
"Hanya beberapa *li* saja!" Dia menyahuti.
Pada saat itu, pelayan yang membawa kuda Cie Kiat sudah sampai.
Cie Kiat memberikan imbalan kepada pelayan itu, lalu dia menuntun kudanya.
"Kau membawa kuda?" tanya Cie Kiat kepada orang berewok tersebut.
Orang berewok itu mengangguk cepat-cepat.
"Kutambatkan di muka rumah penginapan ini!" sahutnya.
"Persoalannya sangat panjang jika diceritakan. Oleh karena itu, lebih baik Lie Sian-seng melihatnya dengan mata kepala sendiri."
Cie Kiat mengangguk.
"Ya... begitu pun boleh!" kata anak muda marga Lie ini.
"Hanya yang membuatku bingung, dari mana kau mengetahui nama dan margaku?" Orang itu tersenyum.
"Sudah kukatakan, nanti Lie Sian-seng akan mengetahui dengan sendirinya!" sahut orang itu.
Cie Kiat tersenyum sambil mengangkat pundaknya, kemudian dia menuntun kudanya ke luar rumah penginapan. Setelah itu, dia melihat lelaki berewok tersebut menuju ke seekor kuda berbulu merah yang tertambat di bawah pohon.
Dengan gerakan gesit, menandakan *Gin Kang* orang tersebut tidak lemah, lelaki itu melompat naik ke atas kudanya.
Cie Kiat juga menaiki kuda putihnya.
"Ayo kita berangkat!" kata Cie Kiat sambil tersenyum. Tidak tampak sedikit pun perasaan jeri di wajah anak muda marga Lie ini, walaupun dia harus mengikuti orang berewok yang belum dikenalnya itu.
Orang berewok tersebut menarik tali kekang kudanya, dan dengan cepat kuda tunggangannya mencongklang.
Cie Kiat hanya mengikuti di belakangnya.
Orang berewok tersebut melarikan kuda tunggangannya yang berbulu merah itu menuju ke luar kampung Liong Gak Chung.
Dalam waktu sangat singkat, mereka telah berada di luar kampung Liong Gak Chung.
Tetapi lelaki berewok tersebut masih terus melarikan kuda tunggangannya itu ke arah selatan.
Cie Kiat hanya mengikuti dari belakang saja.
Anak muda marga Lie sangat penasaran. Dia sangat ingin mengetahui apa maksud lelaki berewok ini mengajaknya mengikuti dia.
Oleh karena itu, sebagai seorang jagoan dengan kepandaian sempurna, Cie Kiat tidak gentar menghadapi sesuatu kelak, karena dia percaya akan kemampuannya untuk menghadapi orang berewok itu jika memang bermaksud jahat padanya.
Lelaki berewok bertubuh tinggi besar itu cukup jauh melarikan kudanya, sampai akhirnya ketika mereka tiba di muka sebuah rumah batu terpencil yang bentuknya sangat aneh, barulah orang berewok itu berhenti di muka rumah itu.
Cie Kiat juga menarik tali kekang kudanya. Dia tidak langsung turun dari kuda tunggangannya, melainkan mengawasi rumah yang bentuknya sangat aneh itu.
Rumah itu tampak dibangun dari batu yang kuat dan kokoh sekali, namun bentuk rumah batu tersebut aneh sekali: hanya berbentuk segi empat menyerupai kotak, tanpa atap genting, tertutup seluruhnya oleh batu, dan tampaknya tidak berjendela.
Dengan bentuknya yang aneh itu, rumah tersebut menjadi luar biasa sekali.
Cie Kiat melihat lelaki berewok itu melompat turun dari kuda tunggangannya.
Dengan langkah lebar, lelaki berewok tersebut mendekati rumah batu itu.
Kemudian tampak lelaki bertubuh tinggi besar ini menekuk kedua kakinya, berlutut memberi hormat ke arah rumah batu itu.
"Tee-cu Cong Teng San dengan ini memberitahukan bahwa undangan Bunga Teratai telah dipenuhi oleh orang marga Lie yang bernama Cie Kiat itu!" Lelaki berewok yang mengaku bernama Cong Teng San tersebut mengangguk tiga kali, kemudian bangkit berdiri.
Di antara kesunyian suasana di sekitar tempat itu, terdengar suara tertawa menyeramkan dari dalam rumah berbentuk persegi empat seperti kotak itu.
"Kikikikikkk... kikikikik! Suruh masuk! Suruh masuk tamu kita yang kedelapan belas itu! Kikikikikkkk... kikikikikkkk... kikikikikkkk... kikikik!" Mendengar suara tertawa orang di dalam rumah persegi empat dari batu itu, bulu tengkuk Cie Kiat meremang berdiri. Suara tertawa orang di dalam rumah batu itu sangat menyeramkan, seperti suara tertawanya setan penasaran.
Cie Kiat memandang ke arah lelaki berewok itu, Cong Teng San, dengan sepasang alis mengerut.
Cong Teng San memutar tubuhnya menghadap ke arah Cie Kiat.
"Lie Sian-seng, mari kita masuk!" ajaknya ketika dia melihat si pelajar berbaju putih ini masih bercokol di atas kuda putihnya.
Cie Kiat mengangguk.
"Baik!" sahutnya.
"Tetapi bolehkah Hak-seng mengetahui terlebih dahulu, siapakah orang di dalam rumah itu?" Teng San tersenyum, tetapi Cie Kiat yakin dan pasti di balik senyum orang marga Cong tersebut tersimpan suatu tabir rahasia.
"Nanti Lie Sian-seng akan mengetahui dengan sendirinya!" katanya cepat.
Cie Kiat tidak bertanya lagi, melainkan melompat turun dari kuda putihnya.
Dia membiarkan kuda tunggangannya itu memakan rerumputan yang banyak tumbuh di sekitar tempat tersebut.
Dengan langkah lebar dan tanpa keraguan sedikit pun, Cie Kiat mengikuti Teng San.
Hanya yang membuat Cie Kiat bingung adalah di mana pintu rumah itu, karena rumah tersebut dibangun dalam bentuk persegi empat, dan tidak tampak pintunya.