Halo!

Ibu Hantu - Chapter 19

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 19

Cong Teng San melangkah ke arah samping kiri rumah itu. Di situ ada sebuah sumur yang di tepiannya telah ditumbuhi alang-alang.

Teng San menghampiri sumur itu.

Cie Kiat hanya mengikuti di belakangnya saja.

Ketika sampai di dekat orang she Cong itu, Teng San menengok kepada Cie Kiat.

"Kita masuk melalui sumur ini!" katanya sambil tersenyum.

Cie Kiat mengerutkan alisnya lagi.

Dia bertambah heran.

Adakah orang yang masuk ke dalam rumah melalui sebuah sumur?

Apakah orang-orang di dalam rumah yang bentuknya pun aneh itu sinting?

Cie Kiat melongok ke dalam sumur itu. Dilihatnya, sumur itu sebuah sumur kering, yang dalamnya kurang lebih lima tombak.

Belum sempat Cie Kiat berpikir lebih jauh lagi.

Cong Teng San melompat masuk ke dalam sumur itu.

Cie Kiat melongok ke dalam sumur itu. Tampak olehnya Teng San sampai di dasar sumur itu dengan selamat, seperti dia sudah biasa melompat keluar masuk di sumur itu.

"Ayo, lompat, Lie Sian-seng!" terdengar suara Teng San berteriak dari dalam sumur.

Cie Kiat masih ragu-ragu sejenak. Dia bimbang sesaat karena bagaimanapun dia belum mengenal orang she Cong yang selalu merahasiakan dirinya.

Lagi pula, siapa yang ada di dalam rumah batu persegi empat itu juga tidak diketahui Cie Kiat dengan jelas.

Tetapi, Cie Kiat adalah seorang pemuda yang sangat berani. Walaupun dia melihat keadaan sangat misterius dan penuh diselimuti tabir rahasia, toh dia akhirnya melompat juga ke dalam sumur itu...

Tubuhnya melayang ke dalam sumur yang dalamnya kurang lebih lima tombak.

Begitu kaki Cie Kiat menginjak tanah dasar sumur tersebut, pandangan Cie Kiat agak gelap karena suasana di dalam sumur itu tidak ada penerangan.

Dengan mengandalkan Gin-kang-nya, Cie Kiat tidak mengalami kesulitan melompati sumur yang cukup dalam itu.

Teng San maju ke arah terowongan yang terbentang di hadapan mereka.

Cie Kiat hanya mengikuti dari belakang orang she Cong itu.

Seketika itu juga barulah Cie Kiat mengetahui bahwa sumur tersebut merupakan jalan rahasia menuju ke dalam rumah berbentuk empat persegi tanpa pintu dan tanpa jendela itu.

Jadi, sumur yang kering itu dijadikan sebagai pintu keluar masuk bagi orang-orang yang memasuki rumah persegi empat tersebut.

Ketika mereka keluar dari lorong sumur itu, mereka sampai di sebuah ruangan.

Begitu melihat seisi ruangan itu, hati Cie Kiat tergoncang juga.

Dilihatnya, di dalam sebuah ruangan tampak sebuah meja panjang. Di situ, di kursi masing-masing, duduk delapan belas orang.

Wajah orang-orang itu bermacam-macam bentuknya: ada Too-jin, Hwee-shio, ada yang berpakaian pengemis yang di punggungnya menggendong beberapa lembar karung, serta ada juga orang yang berdandan petani.

Dan yang luar biasa, yang membuat hati Cie Kiat tergoncang adalah wajah kedelapan belas orang yang duduk mengelilingi meja itu semuanya rata-rata jelek dan menyeramkan, pecat-pecot mengerikan, seperti muka setan.

Di samping meja panjang itu, di sebuah kursi besar beralaskan kulit macan, tampak duduk seorang berpakaian sangat aneh.

Dia memakai kun, gaun wanita berwarna-warni. Rambutnya pun terurai panjang sekali.

Wajahnya pun luar biasa sekali; mungkin dibandingkan dengan kedelapan belas orang yang duduk di meja panjang di dekatnya itu, wajah orang inilah yang paling jelek dan buruk.

Di samping orang tersebut, berdiri seorang pengemis yang menundukkan kepala.

Ketika melihat pengemis tersebut, seketika itu juga Cie Kiat teringat bahwa pengemis itu adalah pengemis yang pernah dia jumpai di perut gunung Fung-san. Cie Kiat pernah bertanya kepada pengemis ini mengenai letak kampung Liong-gak-chung.

Ketika Cie Kiat menegaskan lagi, ternyata wajah orang yang duduk di kursi macan itu selain menyeramkan, juga tampak sangat bengis.

Orang yang duduk di kursi macan itu juga mengawasi ke arah Cie Kiat dan Cong Teng San.

Wajahnya tidak sedap dipandang.

Dia tertawa terkekeh dengan wajah yang sangat bengis.

"Selamat datang di tempat kami yang buruk ini!" kata orang bermuka bengis itu.

"Dan kedatangan kalian memang sedang kami tunggu!" Cie Kiat maju beberapa langkah, sedangkan Cong Teng San telah menghampiri lebih dulu ke arah orang yang duduk di bangku beralaskan kulit macan itu.

Dia menekuk kedua kakinya dan berlutut di hadapan orang tersebut.

"Tee-cu telah kembali dan membawa orang she Lie ini menurut perintah Kauw-cu!" kata Cong Teng San.

Orang yang duduk di kursi beralaskan kulit macan itu mengangguk.

"Ya, kau telah melakukan tugas dengan sangat baik!" katanya dengan suara yang sangat perlahan.

Sikapnya acuh tak acuh. Malah kemudian, dia mengibaskan tangannya, memerintahkan Cong Teng San bangkit berdiri.

Cong Teng San bangun setelah mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali.

Dia menyingkir ke tepian.

Orang bermuka jelek ini melambaikan tangannya ke arah Cie Kiat.

"Kemari kau... mendekat," panggilnya dengan suara yang agak parau.

Walaupun dirinya sedang diliputi kesangsian yang sangat, toh Cie Kiat datang menghampiri.

"Engkaulah yang bernama Lie Cie Kiat?" tanya orang bermuka jelek itu setelah Lie Cie Kiat datang menghampiri lebih dekat.

Cie Kiat mengangguk.

"Ya!" sahutnya tegas.

"Memang aku orang yang kau maksud!"

Orang yang duduk di kursi beralaskan kulit macan itu tertawa.

Suara tertawa orang itu sangat tidak sedap. Agak menyeramkan.

"Bagus! Kaulah orang kedelapan belas yang menanyakan letak perkampungan Liong-gak-chung kepada orangku ini!" kata orang yang duduk di kursi beralaskan kulit macan itu sambil menunjuk ke arah pengemis yang berdiri tegak di sampingnya.

Cie Kiat menuruti tunjuk orang itu. Dia melihat ke arah pengemis itu.

Tampak si pengemis tersenyum ke arah Cie Kiat dan menganggukkan kepalanya.

Cie Kiat membalas senyuman si pengemis. Dia pun mengangguk.

Di dalam hati, Cie Kiat membatin.

"Hmm... pantas mereka mengetahui. Si pengemis inilah yang telah bertemu denganku di perut gunung... dan kepadanya telah kuberitahukan she dan namaku!"

Sedangkan orang yang duduk di kursi beralaskan kulit macan itu menoleh ke arah ketujuh belas orang yang duduk di meja panjang.

"Saudara-saudara! Inilah Lie Sian-seng, Lie Siu-chay, yang tadi kuceritakan! Lie Siu-chay akan termasuk salah seorang pengikut perlombaan yang akan kita adakan!" katanya dengan suara yang parau.

Ketujuh belas orang yang duduk di meja panjang itu semuanya berdiri.

Mereka merangkapkan tangannya, menjura kepada Cie Kiat.

Cie Kiat juga membalas penghormatan orang-orang itu. Dia jadi sangat repot.

Sedangkan orang yang duduk di kursi beralaskan kulit macan itu menunjuk ke sebuah kursi yang masih kosong di belakang meja panjang tersebut, yang terletak paling sudut dari urutan ketujuh belas orang lainnya.

"Itulah tempatmu, Lie Siu-chay!" kata orang itu.

"Aku, Pek-lek-ciu Oen Lay Tat, meminta dengan sangat agar kau menuruti setiap perintah dan syarat dari kami. Sebab, kalau kau tidak menuruti perintah kami, mungkin kau akan mengalami suatu rintangan dan juga akan menemui kesulitan... Kami tentu akan merasa tidak enak kepadamu, karena bagaimanapun kau adalah tamu kehormatan kami!"

Cie Kiat sedang sangat kebingungan. Dia tidak mengerti apa maksud orang bermuka jelek itu.

Di hati anak muda she Lie ini sedang dipenuhi tanda tanya akan peristiwa selanjutnya yang akan dihadapinya.

"Ini... ini...," katanya tergugu. Dia ingin meminta penjelasan.

Tetapi, orang bermuka jelek, yang di wajahnya terdapat banyak sekali cacat bekas bacokan senjata tajam, dan mengaku bernama Oen Lay Tat, telah tertawa lagi dengan suara parau menyeramkan.

"Duduklah!" katanya tegas sambil mengibaskan tangannya.

Cie Kiat ragu-ragu sesaat. Baru saja dia hendak menanyakan lagi, Oen Lay Tat sudah mengibaskan tangannya.

"Duduklah!" katanya lagi dengan suara yang lebih tegas.

Karena ingin mengetahui kelanjutan peristiwa ini, akhirnya Cie Kiat tidak banyak bertanya lagi.

Dia menghampiri ke arah kursi yang ditunjuk dan diperuntukkan bagi dirinya.

Cie Kiat duduk di situ.

Sedangkan Oen Lay Tat menoleh ke arah ketujuh belas orang lainnya.

Dia tersenyum, tetapi senyumnya itu tetap tidak enak dipandang.

Kemudian, dia juga menoleh kepada si pengemis yang berdiri di sampingnya.

Dia menganggukkan kepalanya.

Si pengemis membungkukkan tubuhnya, mendekatkan telinganya ke mulut orang she Oen itu.

Tampak Oen Lay Tat membisikkan sesuatu, dan si pengemis mengangguk-anggukkan kepalanya sambil sesekali mengiyakan.

Orang-orang lainnya yang berada di situ hanya mengawasi.

Tidak ada salah seorang di antara mereka yang membuka suara.

Sehingga untuk sementara waktu, keadaan di ruangan tersebut menjadi sangat hening.

Tampak si pengemis, setelah mendengarkan apa yang dibisikkan Oen Lay Tat, bergegas keluar dari ruangan itu, memasuki ruangan lainnya, dan menghilang di situ.

Oen Lay Tat melambaikan tangannya lagi, memanggil Cong Teng San.

Dengan cepat, orang she Cong itu menghampiri dengan sikap sangat hormat.

Kembali, Lay Tat membisikkan sesuatu kepada orang she Cong itu.

Setelah itu, tampak Cong Teng San juga bergegas keluar dari ruangan tersebut.

Setelah kedua orang itu keluar dari ruangan itu, Lay Tat kembali menoleh kepada Cie Kiat dengan seksama.

"Saudara-saudara sekalian, sebetulnya memang hal ini bukan menjadi urusan kalian, namun karena kalian memang kebetulan datang ke kampung Liong-gak-chung, aku, Oen Lay Tat, ingin meminta sedikit kerelaan kalian untuk menyaksikan sesuatu... Dan sebetulnya hal ini suatu kejadian yang langka dan jarang sekali dapat kalian temui, pula jarang terjadi di dalam dunia persilatan!"

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment