Chapter 20
"Dan, dengan menyaksikan benda yang akan aku perlihatkan, maka itu termasuk suatu keberuntungan bagi Saudara-saudara sekalian!" Setelah berkata demikian, Oen Lay Tat terbatuk-batuk beberapa kali.
Semua orang tidak ada yang mengeluarkan suara; mereka hanya mengawasi. Begitu juga Cie Kiat yang berdiam diri, hanya mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh orang bermarga Oen tersebut selanjutnya.
Pada saat itu, Lay Tat melanjutkan perkataannya lagi. "Maka dari itu, pada hari ini Saudara-saudara memperoleh keberuntungan melihat sebuah mustika yang tiada taranya di dalam dunia persilatan, yang akan membuat semua jagoan di dalam rimba persilatan tergiur! Dengan sangat beruntung, aku telah menemukan benda itu dan bermaksud untuk memperlihatkannya kepada Saudara-saudara!"
Oen Lay Tat menyapu orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut dengan kilatan mata yang sangat tajam. Cie Kiat menjadi bertambah heran, benda mustika apa yang dimaksudkan oleh orang bermarga Oen tersebut? Mengapa tampaknya Lay Tat menganggap benda yang baru ditemukannya itu sebagai mustika yang tiada taranya di dalam dunia persilatan?
Apakah benda mustika yang dianggap begitu berharga oleh Lay Tat adalah pedang pusaka atau golok pusaka yang telah berusia ribuan tahun dan sangat tajam? Atau mungkin juga orang bermarga Oen ini telah menemukan peta harta yang sangat besar jumlahnya? Memang, benda itu sangat berharga, namun mengapa orang bermarga Oen tersebut sengaja mengundang jago-jago rimba persilatan untuk ikut menyaksikan benda pusaka tersebut?
Apakah Lay Tat tidak ngeri kalau nanti salah seorang di antara kedelapan belas orang yang diundangnya itu menjadi tergiur melihat benda tersebut dan berusaha untuk merebutnya? Bukankah Lay Tat sendiri yang telah mengatakan bahwa benda pusaka itu akan membuat para jagoan di dalam rimba persilatan memerah matanya dan ingin memilikinya?
Tetapi Cie Kiat tetap berdiam diri saja, walaupun di dalam hatinya, anak muda bermarga Lie ini dipenuhi oleh berbagai pertanyaan yang tidak terpecahkan. Sedangkan Oen Lay Tat, setelah mengawasi kedelapan belas jagoan itu silih berganti, tertawa lagi dengan suara yang parau dan menyeramkan. Kemudian dia menghela napas.
"Ya... tentu di hati kalian akan bertanya-tanya, mengapa aku menemukan barang mustika itu lalu ingin memperlihatkannya kepada kalian? Mengapa aku tidak menyimpannya dan secara diam-diam memilikinya untuk diriku sendiri?! Ya, bukan?" Kembali orang bermarga Oen itu tertawa. Matanya menyapu jagoan yang ada di situ dengan tatapan yang memancar tajam dan berkilat aneh.
Tetapi tetap saja tidak ada seorang pun di antara mereka yang bersuara; kedelapan belas jagoan itu masing-masing berdiam diri saja. Mereka hanya mengawasi orang bermarga Oen ini dengan sorot mata yang penuh tanya. Oen Lay Tat tertawa lagi dengan suaranya yang tidak enak didengar itu.
"Ya... aku sebagai seorang tokoh di dalam rimba persilatan, bagaimanapun juga menginginkan agar Saudara-saudara dapat ikut menyaksikan keajaiban dari mustika itu! Benar-benar hal ini sangat langka dan jarang terjadi! Nah, sebentar lagi kita akan menyaksikan benda mustika itu!" Sehabis berkata begitu, Oen Lay Tat tertawa terbahak-bahak sampai tubuhnya terguncang hebat.
Tiba-tiba, di antara kedelapan belas orang itu, berdiri seorang Hwee-shio. "Aku ingin bertanya, Kauw-cu!" teriak si Hwee-shio dengan suara yang nyaring. Dia memanggil Oen Lay Tat dengan sebutan Kauw-cu, yang berarti pemimpin dari sebuah perkumpulan atau ketua perkumpulan.
Oen Lay Tat menoleh ke arah si Hwee-shio, kedua biji matanya bergerak-gerak tidak henti. "Apa yang ingin ditanyakan oleh Toa Hwee-shio?" tanya Lay Tat dengan suara yang tetap parau dan membuat telinga sakit mendengarnya.
Si Hwee-shio berdeham sebelum bertanya. "Seperti sahabat-sahabat lainnya yang ada di sini, Pin-ceng masih belum mengerti apa maksud Kauw-cu mengundang kami kemari. Kalau memang hanya untuk menyaksikan suatu barang mustika, kurasa tidak perlu sampai Kauw-cu mengundang sekian banyak jagoan rimba persilatan seperti sekarang ini!"
Mendengar pertanyaan si Hwee-shio, Oen Lay Tat tertawa. "Loo-suhu!" katanya dengan suara yang tetap parau dan sangat perlahan. "Memang mengherankan sekali kalau aku hanya mengundang kalian untuk menyaksikan benda mustika. Tetapi harus Loo-suhu ketahui, benda mustika ini bukan sembarang benda mustika yang banyak terdapat di dalam rimba persilatan atau sungai telaga. Benda mustika yang kutemui adalah sebuah benda mustika yang benar-benar langka dan tidak akan ada duanya di dalam rimba persilatan! Lagipula, aku hanya mengundang jagoan yang kebetulan sedang mengunjungi perkampungan Liong-gak-chung saja. Maka janganlah Loo-suhu mempunyai prasangka yang tidak-tidak kepada pihak kami. Loo-suhu adalah It Kiang Sian-su dari Siauw Lim-sie, dan tentunya Loo-suhu mempunyai banyak pengalaman. Dengan melihat benda mustika yang akan kuperlihatkan itu, akan menambah pengalaman Loo-suhu!"
Setelah berkata begitu, kembali Oen Lay Tat tertawa gelak-gelak. Si Hwee-shio, yang ternyata memang benar adalah It Kiang Sian-su dari perguruan Siauw Lim-sie, mengangguk. "Baiklah! Pin-ceng jadi ingin menyaksikan juga benda mustika yang Kauw-cu katakan sangat langka dan tak akan ada duanya di dalam rimba persilatan itu," katanya.
Lay Tat mengangguk. "Duduklah tenang-tenang, Loo-suhu!" katanya dengan suara yang tetap parau. Si Hwee-shio pun duduk kembali. It Kiang Sian-su memang seorang pertapa yang selalu ingin mengetahui keganjilan dan keanehan yang ada di dalam rimba persilatan. Maka dari itu, dia memang ingin sekali menyaksikan benda mustika yang dikatakan oleh Lay Tat.
Tetapi begitu si Hwee-shio duduk kembali di kursinya, seorang Too-jin yang duduk di kursi nomor sembilan berdiri dengan cepat. "Pin-to juga ingin bertanya sedikit kepada Kauw-cu!" kata Too-jin itu dengan suara nyaring.
"Silakan! Apa yang ingin Too-tiang tanyakan?" tanya Oen Lay Tat tenang.
"Menurut Kauw-cu, benda mustika itu tidak akan ada duanya di dalam rimba persilatan. Maka dari itu, bolehkah kami mengetahui terlebih dahulu benda macam apakah itu?" tanya si Too-jin.
"Ciang Yang Cin-jin!" kata Oen Lay Tat seraya tertawa. Sikapnya tenang seperti biasa. "Kukira lebih baik Too-tiang duduk saja dengan tenang, karena sebentar lagi orang-orangku akan membawa keluar benda mustika itu. Bersabarlah sebentar lagi saja, tidak akan terlalu lama, bukan?"
Too-jin itu, yang memang bergelar Ciang Yang Cin-jin, mengangguk. "Baiklah! Pin-to akan menunggu dengan sabar, karena memang Pin-to ingin sekali melihat dan menyaksikan benda mustika yang Kauw-cu katakan itu," kata si Too-jin sambil tersenyum dan duduk kembali di kursinya.
Namun, berdiri pula seorang Nie-kauw, yakni seorang pertapa wanita. "Pin-nie juga ingin menanyakan sesuatu kepada Kauw-cu," kata Nie-kauw itu dengan suara perlahan. Nie-kauw itu berusia sekitar lima puluh lima tahun, wajahnya penuh keriput, dan tubuhnya agak membungkuk. Di tangan pertapa wanita tua ini tergenggam sebatang hoed-tim, sejenis kebutan untuk pertapa.
Lay Tat tertawa. "Sebutkanlah apa yang ingin Sian-nie ketahui?" tanya orang bermarga Oen tersebut.
Si Nie-kauw terbatuk-batuk beberapa kali sebelum memulai perkataannya. "Sebetulnya Pin-nie dapat duduk dengan tenang dan sabar menantikan sampai orang-orang Kauw-cu mengeluarkan benda mustika itu. Namun, harus Pin-nie jelaskan di sini bahwa Pin-nie masih mempunyai urusan lain yang harus diselesaikan. Maka dari itu, dengan sangat menyesal, kalau memang benda mustika itu masih terlalu lama dikeluarkan, Pin-nie akan mengundurkan diri untuk pamit. Pin-nie tidak bisa terlalu membuang waktu di sini hanya untuk menyaksikan sebuah benda yang Kauw-cu temukan itu!"
Mendengar perkataan pertapa wanita tua itu, Oen Lay Tat tertawa. "Aku memang mengetahui Sian-nie masih mempunyai urusan penting, tetapi bagaimanapun aku meminta agar Sian-nie mau memberikan sedikit waktu dengan rela guna menyaksikan benda mustika yang tiada duanya di dalam rimba persilatan! Maka dari itu, duduklah tenang-tenang dulu Sian-nie. Kalau memang nanti urusan Sian-nie menjadi berantakan disebabkan Sian-nie membuang waktu menyaksikan benda mustika itu di tempatku ini, maka aku akan bertanggung jawab dan akan memberikan bantuan sekuat tenagaku agar persoalan Sian-nie dapat selesai dengan cepat."
Mendengar perkataan orang bermarga Oen itu, tampak Nie-kauw tua itu bimbang sesaat. "Bagaimana, Peng-im Loo-nie?" tanya Lay Tat waktu melihat Nie-kauw tua itu berdiri saja dengan perasaan ragu. Si Nie-kauw memang bergelar Peng-im Loo-nie, dan dia adalah murid Go-bie Pay tingkatan ketiga.
Ditanya begitu oleh Lay Tat, si Nie-kauw Peng-im Loo-nie mengangguk. "Baiklah! Aku akan membuang waktu untuk sesaat lagi! Tetapi aku minta agar kau mempercepat waktu untuk memperlihatkan benda mustika itu. Semakin cepat semakin baik!" kata si Nie-kauw.
Lay Tat mengangguk dengan cepat. "Baik! Baik! Aku pasti akan secepatnya memperlihatkan benda mustika yang kutemui beberapa saat yang lalu! Kau tentu tidak akan menyesal menyaksikan benda mustika itu, Peng-im Loo-nie!"
Peng-im Loo-nie kembali duduk di tempatnya. Setelah itu tidak ada yang bertanya lagi, semuanya membungkam. Cie Kiat melihat itu, di hati anak muda bermarga Lie ini masih dipenuhi oleh berbagai pertanyaan yang masih belum dapat dipecahkannya. Dia pun berdiri dari duduknya.
"Kauw-cu!" panggilnya dengan suara perlahan, tetapi tegas. Dia juga memanggil Oen Lay Tat dengan sebutan Kauw-cu karena semua orang memanggil orang bermarga Oen itu demikian, sehingga dia pun mengikutinya saja.