Chapter 21
Aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepada Kauw-cu dan agar Kauw-cu mau memberikan penjelasan. Melihat anak muda she Lie ini yang bertanya, wajah Kauw-cu Oen Lay Tat itu jadi berubah sedikit, tetapi kemudian dengan cepat dia tersenyum.
"Apakah yang ingin ditanyakan oleh Lie Siu-chay?" Tanyanya. Lay Tat memanggil Lie Cie Kiat dengan sebutan Lie Siu-chay, yang berarti pelajar she Lie.
Cie Kiat ragu-ragu sesaat, tetapi kemudian dia berkata juga. "Sebetulnya memang tak seharusnya aku menanyakan beberapa pertanyaan yang akan kutanyakan kepada Kauw-cu, namun karena aku benar-benar ragu tidak mengerti dan tidak paham apa yang sedang Kauw-cu kerjakan ini, mau tak mau aku harus menanyakannya juga."
Lay Tat tertawa tawar. "Tanyakanlah!" Katanya kemudian.
"Menurut Kauw-cu bahwa jago-jago yang berada disini dan sahabat-sahabat lainnya semua ini berada disini adalah atas undangan Kauw-cu untuk ikut menyaksikan mustika yang luar biasa sekali menurut Kauw-cu tetapi kalau memang seumpamanya ada salah seorang sahabat diantara kami yang menolak untuk ikut menghadiri diperlihatkan mustika itu, dan kami tidak bersedia menghadirinya, apakah itu tak menjadi halangan? Bolehkah itu?"
Lay Tat mengerutkan alisnya, dia berdiam sesaat, tangannya mempermainkan beberapa lembar dari kumisnya. "Bagaimana Kauw-cu?" Tanya Cie Kiat lagi dengan cepat waktu dia melihat Oen Lay Tat tidak lantas menjawab pertanyaannya itu.
Lay Tat menghela napas. "Ya... sebetulnya memang aku tidak bisa memaksa mengenai kehadiran atau kemudian kalian untuk ikut menyaksikan barang mustika itu... akupun tidak bisa berbuat apa-apa kalau memang salah seorang diantara kalian keberatan untuk ikut menyaksikan mustika itu dan menolak undanganku, aku tentunya tidak akan bisa berbuat apa-apa atas diri kalian."
Setelah menyahuti sampai disitu, Lay Tat berdiam sesaat. Dia mengawasi Cie Kiat dengan mata yang tajam sekali, wajahnya jadi semakin tidak enak untuk dilihat.
Cie Kiat balas memandang orang she Oen itu yang sedang menatapnya, dia menentang pandangan mata Oen Lay Tat yang tajam berkilat. Tetapi kemudian Lay Tat menghela napas, dia tersenyum pahit.
"Seumpamanya kalau memang diantara kalian ada yang menolak undanganku maka hal itu tentu akan menyinggung perasaan pribadiku! Secara baik-baik kami ingin sekali mengundang kalian, dan malah telah mengundangnya dengan cara yang baik sekali, lalu kalian menolaknya, bagaimana perasaanku? Dengan begitu, berarti orang yang tidak bersedia menghadiri undanganku itu tidak memandang sebelah mata kepadaku!"
Cie Kiat tertawa, manis sekali tertawa anak muda she Lie ini waktu dia mendengar perkataan dari orang she Oen itu. "Kauw-cu jangan salah mengerti!" Kata Cie Kiat dengan cepat. "Kalau memang ada orang yang tidak bersedia untuk menghadiri atau memenuhi undangan Kauw-cu, bukanlah berarti dia tidak memandang sebelah mata atau tidak mengindahkan Kauw-cu... seumpamanya orang itu sedang menghadapi suatu persoalan penting, soal mati hidupnya, lalu dia menerima undangan Kauw-cu ini yang mau tak mau akan membuang waktunya, apakah orang itu bersalah juga kalau memang dia menolak?"
Disanggapi begitu oleh Cie Kiat, Oen Lay Tat jadi mengerutkan alisnya. "Tetapi diantara kalian yang kuundang ini tidak ada seperti apa yang Lie Siu-chay katakan itu, bukan?" Dia balik bertanya.
Cie Kiat tersenyum lagi, dan tetap senyum anak muda she Lie ini sangat manis, menambah kecakapan wajah Cie Kiat, lagi pula sikapnya sangat tenang sekali, sangat sabar dan wajar sekali. "Memang... mungkin diantara kami dari jago-jago yang diundang oleh Kauw-cu tidak ada yang seperti kukatakan itu!!" Katanya sabar, suaranya juga tenang, sabar.
"Tetapi yang ingin kuketahui kalau memang sampai ada juga diantara kami yang begitu, lalu langkah apa yang akan Kauw-cu ambil terhadap orang tersebut?" Kembali Lay Tat mengerutkan sepasang alisnya, dia dihadapi oleh pertanyaan yang agak sulit bagi dirinya.
Tetapi dengan cepat orang she Oen ini telah dapat memikirkan apa yang harus dijawabnya. "Baiklah, Lie Siu-chay... lebih baik lagi sekarang ini kalau memang kita bicara secara blak-blakan dan tanpa tedeng aling-aling... kita bicara terus terang saja! Kalau memang tadi seumpamanya ada salah seorang diantara kalian yang menolak undanganku, maka... dengan sangat menyesal harus kukatakan, bahwa aku sebetulnya tidak mau melihat ada orang yang tidak memandang diriku, dan juga aku memang tidak mau kalau sampai terjadi ada orang yang tidak mau memenuhi undanganku, karena kalau memang sampai hal itu terjadi, tentu orang-orangku tidak akan mau mengerti dan aku tidak akan bisa membendung mereka dari hawa amarah...!"
Mendengar perkataan Oen Lay Tat, wajah Cie Kiat jadi berobah. Tetapi dengan cepat anak muda she Lie itu telah dapat merubah wajahnya sebagai mana biasa lagi. Dia malah telah dapat tersenyum lagi.
Ketujuh belas jago yang telah diundang oleh Lay Tat juga jadi berobah wajahnya. Biar bagaimana mereka jadi tak begitu senang melihat sikap keras dan tak menyenangkan dari kata-kata Oen Lay Tat.
Cie Kiat telah tertawa lagi dengan cepat, sikapnya juga sangat wajar. "Baiklah Kauw-cu!" Kata Cie Kiat dengan suara yang tetap biasa, tenang dan sabar. "Salah satu persoalan yang membuatku tidak mengerti telah dapat dijelaskan oleh Kauw-cu. Jadi tegasnya kalau memang ada orang yang menolak undangan Kauw-cu untuk hadir menyaksikan mustika yang akan diperlihatkan oleh Kauw-cu, maka orang itu akan mengalami kecelakaan! Bukankah begitu, Kauw-cu?"
Lay Tat tertawa dingin, wajahnya tak sedap dipandang. Wajahnya yang memang telah menyeramkan disebabkan mukanya itu pecat-pecot akibat terluka senjata tajam, jadi tambah menyeramkan lagi. "Begitulah!" Dia menyahuti dengan cepat. "Kukira memang begitu!!"
Dan setelah berkata begitu, Lay Tat menyapa semua jago-jago undangannya, matanya memandang tajam dan bengis sekali, memperlihatkan sifatnya yang keras dan kejam. "Dan kalau memang ada yang menolak undanganku, telah kutegaskan, tentu mereka akan repot menghadapi orang-orangku... karena orang-orangku itu tidak mau melihat kalau sampai Kauw-cu mereka tidak dipandang sebelah mata oleh orang lain! Mereka tentu akan mengambil tindakan masing-masing diluar tahuku! Dan orang yang berani menolak undanganku itu tentu akan menghadapi suatu kesulitan yang tidak kecil...!!"
Mendengar perkataan Oen Lay Tat, wajah ketujuh belas jago undangan orang she Oen itu, beserta Lie Cie Kiat, jadi berobah kembali wajah mereka. "Jadi tegasnya tak boleh ada seorangpun yang menolak undangan Kauw-cu?!" Tanya Cie Kiat dengan suara yang tawar.
"Tak salah!" Menyahuti Oen Lay Tat. "Dan kalau memang ada juga orang yang menolak undanganku, berarti dia ingin menentang diriku dan mencari setori untuk bentrok!!" Cie Kiat tertawa dingin. "Kau salah paham kalau begitu Kauw-cu!!" Kata Cie Kiat lagi.
"Bukankah tadi telah kukatakan bahwa kalau memang ada orang yang menolak undanganmu itu, belum berarti orang itu tidak memandang sebelah mata kepadamu! Toh tadi telah kukatakan, mungkin orang itu sedang menghadapi suatu urusan yang sangat penting sekali, sehingga dia tidak bisa membuang-buang waktu lagi! Maka dari itu, tak bisa kalau memang Kauw-cu sudah lantas menuduh bahwa orang itu tidak mau mengindahkan dan tidak mau memandang mata memberikan muka kepada Kauw-cu... lagi pula orang-orang Kauw-cu tidak bisa lantas untuk membawa cara mereka untuk mempersulit orang tersebut...!"
Mendengar perkataan Cie Kiat yang sangat berani sekali itu, wajah Oen Lay Tat jadi berobah hebat, menyeramkan sekali wajah orang she Oen itu. "Baiklah Lie Siu-chay!" Kata Lay Tat dengan cepat. "Jadi apa maksud Lie Siu-chay dengan bertanya begitu?" Si Kauw-cu she Oen ini bertanya begitu dengan suara yang dingin dan tawar sekali, menandakan bahwa dia sangat tak senang hati.
Tetapi Cie Kiat masih tetap membawa lagak yang tenang. Dia juga masih bisa tersenyum dengan manis menarik, sabar sekali tampaknya Cie Kiat. "Aku tak mempunyai maksud-maksud tertentu bertanya begitu, Kauw-cu!" Menyahuti Cie Kiat dengan cepat. "Aku hanya ingin mengetahui saja!!"
Lay Tat mendengus dengan suara tertawa mengejek yang tawar sekali. "Masih ada satu pertanyaanku lagi, Kauw-cu!" Kata Cie Kiat dengan cepat waktu dia melihat Oen Lay Tat hanya mendengus belaka, tanpa berkata-kata.
Wajah Lay Tat jadi berobah lagi, silih ganti pucat dan merah padam berulang kali, rupanya dia mulai tak menyukai anak muda she Lie tersebut. "Apa lagi yang ingin ditanyakan oleh Lie Siu-chay?" Tanyanya tawar.
Cie Kiat masih berusaha tersenyum. "Tak banyak yang akan kutanyakan padamu, Kauw-cu, aku hanya ingin mengetahui sedikit, benda apakah yang Kauw-cu sebut itu sebagai benda mustika yang langka dan tidak ada duanya didalam rimba persilatan atau didalam kalangan Kang-ouw? Bolehkah aku si orang she Lie mengetahui benda itu?"
Wajah Kauw-cu she Oen tersebut jadi berobah hebat dia tidak lantas menyahuti. Hanya sepasang alisnya yang mengkerut dalam-dalam, matanya memancar tajam. Juga wajalnya itu menyeramkan sekali. Suasana jadi tegang.
Jago-jago lainnya yang melihat keadaan tersebut, jadi berdebar hati mereka. Biar bagaimana wajah si Kauw-cu yang buruk sekali itu, sangat mengerikan. Walaupun didalam ruangan tersebut diantara kedelapan belas jago-jago yang diundang oleh Lay Tat ada yang mempunyai muka sangat jelek dan buruk, tetapi wajah Lay Tat yang paling buruk dan menyeramkan.
Apa lagi dia dalam keadaan sedang mendongkol semacam itu. Cie Kiat tidak memperdulikan wajah orang yang telah berobah merah padam dan tidak sedap untuk dipandang itu. Dia malah tertawa kecil. "Bagaimana Kauw-cu...?" Tanyanya lagi dengan cepat waktu dia melihat Oen Lay Tat hanya menatap dia dengan pandangan mata yang bengis sekali.
"Tentu kau tidak akan keberatan untuk memberitahukan padaku nama benda mustika yang kau sebutkan itu bukan?" Lay Tat akhirnya dapat menguasai kemendongkolan hatinya disebabkan anak muda she Lie tersebut terlalu banyak bertanya.