Chapter 22
Dia dapat mengendalikan kemendongkolannya itu.
Dengan cepat dia mendengus tertawa tawar sekali dengan menunjukkan wajah yang tetap tak enak untuk dipandang orang.
"Baiklah! Sekarang kau dengarlah Lie Siu-chay! Benda itu tidak perlu kujelaskan kepadamu, karena sebentar lagi kau akan menyaksikan dengan mata kepalamu sendiri, maka kukira tak perlu aku menerangkan satu per satu! Duduklah tenang-tenang, nanti juga kau akan mengetahui benda mustika apakah itu! Dan kuminta agar Lie Siu-chay mau menuruti dan mengindahkan perintah dariku, yaitu janganlah terlampau banyak bertanya!"
Cie Kiat tertawa mendengar perkataan Lay Tat. "Tetapi Kauw-cu!" katanya.
Namun belum lagi perkataannya itu selesai diucapkannya, Lay Tat telah berkata dengan suara yang menunjukkan dia sangat tak senang.
"Duduklah Lie Siu-chay!" katanya.
Dan perkataan Lay Tat bernada seperti juga memerintah, keras dan bengis.
Cie Kiat jadi mengerutkan alisnya mendengar bentakan Lay Tat, tetapi baru saja dia mau berkata lagi dengan hati yang tidak senang, agak mendongkol, tiba-tiba terdengar suara tertawa yang menggema dari luar ruangan itu, menyeramkan sekali suara tertawa itu.
Malah disusul kemudian dengan perkataan, "Kauw-cu Pian-sia-kay, ternyata kau telah melupakan aku si Dedemit Hidup!" Pian-sia-kay berarti partai pengemis bercambuk.
Wajah Lay Tat jadi berubah hebat, Cie Kiat dapat melihat perubahan wajah orang bermarga Oen itu.
Sekarang Cie Kiat baru mengetahui bahwa Lay Tat adalah Kauw-cu dari perkumpulan pengemis yang bernama Pian-sia-kay. Dan Cie Kiat juga teringat akan cerita gurunya, bahwa Pian-sia-kay adalah sebuah perkumpulan pengemis yang tidak bisa disebut jahat, juga tidak bisa disebut baik, karena perkumpulan itu bertindak dengan tidak menentu. Kalau memang mereka sedang gembira, maka perkumpulan tersebut akan berbuat kebaikan. Tetapi kalau memang mereka sedang gusar atau mendongkol, maka mereka akan melakukan kejahatan yang paling terjahat di bumi ini. Pula menurut cerita gurunya itu, Cie Kiat mengetahui bahwa perkumpulan pengemis ini sering menggunakan racun sebagai senjata mereka.
Pada saat itu, di dalam ruangan tersebut tampak Oen Lay Tat telah berdiri perlahan-lahan dari kursinya yang beralaskan kulit macan. Wajahnya agak pucat, pula tampak tubuhnya bergetar sedikit. Matanya yang mencilak tak hentinya memandang ke tujuh belas jago undangannya dan juga dia mengawasi Cie Kiat pula.
Di luar dari gedung empat persegi tersebut, terdengar suara orang tertawa lagi dengan suaranya yang tinggi menyeramkan.
"Ohoi orang bermarga Oen!" teriak orang di luar itu lagi dengan suara yang nyaring sekali. "Kau tetap tiada mau menyambut keluar diriku?"
Lay Tat tertawa dingin. "Kalau memang kau ingin masuk ke dalam ruangan ini, masuklah!" kata Lay Tat dengan suara yang tawar. "Kau adalah seorang jago yang tidak kuundang, maka dari itu, kedatanganmu sebetulnya tidak kuharapkan!"
Kembali terdengar suara tertawa yang melengking tinggi. "Bagus! Rupanya kau benar-benar telah melupakan diriku si Dedemit Hidup!" Terdengar orang di luar gedung empat persegi itu berteriak lagi. "Baiklah! Aku juga memang akan masuk ke ruangan itu, biarpun kau mencegahnya! Aku memang merupakan tamu yang tidak diundang olehmu!"
Lay Tat tidak menyahuti perkataan orang itu lagi, dia menuju ke sudut ruangan, dia menarik sebuah tombol besi yang panjang, terdengar suara menjeblak. Ternyata di dekat tombol itu temboknya menjeblak terbuka selebar panjangnya pohon hio. Dari lubang itu orang di dalam ruangan tersebut dapat memandang ke arah luar. Lebih-lebih lubang yang tidak seberapa besar itu telah diperlengkapi oleh Tay-pian-ming, semacam kaca, yang kalau sekarang disebut orang sebagai kaca pembesar.
Tampak dari kaca itu seorang lelaki bertubuh gemuk dengan wajah yang lucu sedang mendatangi ke arah gedung empat persegi tersebut. Cie Kiat juga melihat orang itu. Walaupun tubuh orang yang mengakui dirinya sebagai Dedemit Hidup itu gemuk sekali, toh gerakannya sangat ringan, enteng dan ringan, gesit serta cepat sekali dia dapat berlari mendekati gedung itu. Ke tujuh belas jago-jago lainnya juga mengawasi ke arah orang gemuk itu, si Dedemit Hidup.
Waktu sudah datang dekat sekali dengan gedung itu, si Dedemit Hidup tersebut berhenti. Dia bertolak pinggang. Sedikit pun dia tidak mengetahui bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh orang di dalam ruangan tersebut, melalui kaca Tay-pian-ming.
"Hei orang bermarga Oen, apakah kau tetap tidak mau keluar menyambut diriku?" bentak si gemuk yang bergelar Dedemit Hidup tersebut. "Kalau memang kau tetap mau bercokol di dalam, hmmmm, jangan mempersalahkan diriku, tembok itu sekali kuhantam akan jebol!"
Lay Tat tertawa tawar. "Masuklah! Kau bukan merupakan tamu kehormatanku yang harus kusambut keluar!" teriak Lay Tat dengan suara yang nyaring.
Orang bermarga Oen ini, yang menjadi Kauw-cu dari Pian-sia-kay bicara dengan bibir yang bergerak biasa saja, tetapi dia telah menyalurkan tenaga Lwee-kangnya, sehingga dia bicara biarpun tampaknya biasa saja, suaranya itu dapat didengar jauh sekali oleh orang lain.
Tampak si gemuk tertawa terbahak-bahak, tubuhnya yang bulat itu tergoncang-goncang. "Bagus! Bagus! Rupanya kau memang sedang menantang diriku untuk menguji kekuatan tembok istanamu ini!" kata si gemuk. "Lihatlah, aku akan menghajarnya jebol tembok itu dan kuminta kau jangan sampai menyesali diriku, karena aku tidak mau menjadi sasaran dari rasa sesalmu itu!"
Dan setelah berkata begitu, si gemuk, yang bergelar Dedemit Hidup tersebut, telah melangkah perlahan-lahan menghampiri ke arah dinding dari rumah persegi empat tersebut. Waktu dia sudah berada dekat sekali dengan dinding dari bangunan tersebut, dia berhenti. Dari si gemuk yang bergelar Dedemit Hidup tersebut hanya terpisah beberapa depa saja dari dinding.
"Bagaimana hei orang bermarga Oen?" bentak si gemuk ini sambil tertawa lagi. "Apakah kau tetap mau melihat aku menghajar jebol tembok bangunan istanamu ini?"
Wajah Lay Tat jadi berubah hebat. Nyata sekali dia murka dan bergusar atas perkataan dari si Dedemit Hidup. "Hmmmm, kalau memang kau bisa menghajar hancur tembok bangunanku ini, maka akan kuangkat kau menjadi guruku!" kata Lay Tat lagi dengan suara yang nyaring. Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut tetap berkata dengan suara disertai tenaga Lwee-kang.
Si gemuk tampak mendongkol juga mendengar perkataan Lay Tat. Tampak dia menjejakkan kakinya, dan sedang tubuhnya melambung tinggi begitu, maka dia menarik napasnya dalam-dalam. Rupanya si gemuk yang bergelar Dedemit Hidup tersebut sedang menyalurkan tenaga dalamnya ke arah kedua lengannya. Di kala tubuhnya meluncur turun dengan cepat, maka dia mengeluarkan suara teriakan yang nyaring mengguntur, kedua tangannya terayunkan dengan cepat sekali.
"Brakkkkkkkk!" Dinding bangunan itu telah dihajar dengan keras sekali. Semua itu dapat dilihat oleh semua orang yang berada di dalam ruangan, mereka melihat bagaimana si gemuk telah menghajar dinding bangunan tersebut dengan tenaga Lwee-kang yang kuat sekali. Tetapi tembok itu tidak jebol seperti apa yang diancamnya. Hanya orang-orang di dalam ruangan tersebut, termasuk Cie Kiat dapat merasakan getaran yang hebat pada ruangan itu, akibat dari pukulan si Dedemit Hidup yang keras sekali.
Maka dari itu, dapat dibayangkan tenaga Lwee-kang si gemuk, walaupun dia tidak berhasil menghajar jebol dinding tersebut, toh dia telah dapat memukul tembok itu sampai menimbulkan getaran di dalam ruangan.
Melihat si gemuk tidak berhasil menghajar jebol tembok bangunannya, maka Lay Tat tertawa terbahak-bahak. Dia mengetahui benar, biar bagaimana besar tenaga dari si gemuk memedi hidup itu, tak mungkin dia dapat memukul jebol dinding bangunannya, karena Lay Tat mengetahui benar-benar bahwa dinding bangunan itu dibangun berlapis-lapis, sehingga tak mungkin ada tenaga manusia yang bisa menghajarnya sampai jebol, walaupun tenaga orang itu sangat besar sekali.
Si gemuk yang bergelar Dedemit Hidup itu rupanya mendengar suara Lay Tat, Kauw-cu Pian-sia-kay itu, yang terbahak-bahak. Wajah Dedemit Hidup jadi berubah merah padam, tampaknya dia sangat penasaran sekali. Dengan cepat dia memasang kuda-kudanya, lalu dia menarik napas lagi dalam-dalam, mengumpulkan tenaga dalamnya itu di Tantian, di pusat, kemudian dia menyalurkan kepada kedua lengannya. Sambil mengeluarkan bentakan yang mengguntur, si Dedemit Hidup tersebut telah melompat lagi ke arah dinding bangunan itu. Kedua tangannya terayun sekaligus dan menghajar keras sekali ke arah dinding itu.
"Brakkkk!" Dinding tersebut kena dihajarnya lagi. Tetapi dinding yang dihajarnya tersebut hanya sempilan sebagian. Orang-orang di dalam ruangan itu, serta Cie Kiat merasakan goncangan di dalam ruangan tersebut sangat keras sekali. Hal ini menandakan betapa telah sempurnanya tenaga dalam si gemuk tersebut.
Si Dedemit Hidup sangat penasaran sekali dia tidak bisa menghajar jebol tembok itu. Biasanya kalau memang tembok biasa saja, tentu sekali pukul oleh Dedemit Hidup tersebut, dia akan dapat memukulnya bobol sampai berlubang. Tetapi kali ini dia tidak berhasil dengan maksudnya itu. Dia hanya berhasil sebagian kecil saja, membikin sempilan tembok itu. Maka dari itu, disamping gusar, si Dedemit Hidup juga sangat mendongkol serta penasaran sekali.
Dengan berulang kali dia menghajar terus menerus beberapa kali tembok itu. Hal ini menimbulkan suatu bunyi "brakkk-brukkk" berulang kali juga. Cie Kiat dan orang-orang lainnya di dalam ruangan itu juga merasakan goncangan yang beruntun dan terus menerus. Kalau memang dihantam terus menerus begitu, biar bagaimana kuatnya dinding itu, pasti akan hancur juga.