Halo!

Ibu Hantu - Chapter 23

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 23

Tetapi Lay Tat tetap membiarkan karena dia yakin, biarpun rusak sedikit demi sedikit, tembok itu tidak akan berhasil dijebol oleh Si Dedemit Hidup, sebab tembok itu dibangun berlapis-lapis.

"Pukullah terus sampai tanganmu itu nanti patah dan hancur!" Oen Lay Tat mengejek dengan suara hambar.

"Hajarlah terus!!" Si Dedemit Hidup semakin penasaran, dia juga sangat murka.

Wajahnya berubah merah padam, wajah lucunya lenyap, memperlihatkan kegusaran dan kebengisan yang sangat besar.

Si gemuk ini telah bergelar Si Dedemit Hidup, dapat dibayangkan, tentu hati si gemuk tersebut sama dan menyerupai dedemit juga.

Tampaknya dia sangat murka dan dengan beruntun dia telah menghajar tembok bangunan itu bolak-balik.

Dia sangat penasaran.

Kauw-cu dari Pian-sia-kay itu telah mendorong tombol besi, sehingga tembok dan kaca Tay-pian-ming tertutup kembali.

Rupanya Lay Tat sudah tidak mau memedulikan Si Dedemit Hidup yang gemuk itu.

Dia telah kembali ke kursi beralaskan kulit macannya.

Lay Tat duduk di situ dengan wajah yang tidak memperlihatkan sedikit pun perasaan, sehingga sangat sukar diterka perasaan apa yang dikandung dalam hati Kauw-cu Pian-sia-kay itu.

Kedelapan belas jago undangannya, termasuk Lie Cie Kiat, juga telah duduk kembali di kursi mereka masing-masing.

Semuanya tidak ada yang bersuara.

Mereka hanya memandang ke arah Lay Tat dengan pandangan mata mengandung banyak pertanyaan.

Cie Kiat sendiri telah berdiam diri saja.

Lay Tat menatap ke arah jago-jago itu seorang demi seorang.

Wajahnya yang buruk rupa itu menunjukkan bahwa dia sedang berusaha membaca hati dan pikiran dari setiap jago yang diundangnya.

Tetapi ketika Lay Tat melihat semuanya hanya berdiam diri saja, dia tertawa dengan tiba-tiba.

"Baiklah! Rupanya keadaan ini cukup menjemukan kalian!!" katanya dengan suara nyaring.

"Marilah kita mulai saja, aku akan segera memperlihatkan benda mustika yang telah kukatakan tadi....!" Setelah berkata begitu, Lay Tat menepuk tangannya tiga kali.

Pintu dari sebuah ruangan terbuka, tampak pengemis yang pernah bertemu dengan Cie Kiat di perut gunung Fung-san, keluar dari dalam kamar itu. Di tangannya memegang nampan, tetapi nampan itu ditutup oleh sehelai kain merah.

Sehingga jago-jago yang ada di ruangan tersebut tetap tidak bisa melihat benda apa yang ada di nampan yang dipegang oleh si pengemis.

Semua mata tertuju pada pengemis itu dengan tatapan bertanya-tanya.

Sedangkan si pengemis telah menuju ke tengah ruangan, dia meletakkan nampan yang dibawanya di atas lantai.

Kemudian si pengemis telah memutar tubuhnya, dia menghadap ke arah Lay Tat.

Dengan cepat dia menekuk sebelah kaki kirinya, dia berlutut di depan Kauw-cu Pian-sia-kay, yang menjadi ketuanya juga.

"Tee-cu telah membawa benda itu!" kata si pengemis dengan suara nyaring.

"Bagus, Sam-kay!" kata Lay Tat dengan tersenyum.

"Berdirilah kau di situ untuk menantikan benda yang satunya lagi!" Lay Tat memanggil pengemis itu dengan sebutan Sam-kay, si pengemis nomor tiga.

Si pengemis, Sam-kay, menyahuti dan mengiyakan, kemudian dia kembali mendekati nampan yang tertutup oleh kain merah itu.

Dia berdiri di samping nampan tersebut, sikapnya sangat menghormat.

Semua orang menduga benda apakah yang ada di balik kain merah itu, mereka jadi sangat ingin mengetahuinya.

Kalau dilihat dari ukurannya yang persegi empat, tentunya benda itu bukan pedang atau juga bukan benda yang panjang dan besar.

Sedang semua orang menduga-duga benda yang ada di atas nampan tertutup kain merah tersebut, tampak Lay Tat telah menepuk tangannya lagi.

Dari sebuah ruangan lainnya tampak keluar Cong Teng San, di tangan orang she Cong ini juga membawa nampan, yang atasnya ditutup oleh kain hijau.

Di belakang Teng San tampak mengikuti empat orang pengemis yang menggendong masing-masing tiga, dua, dan lima lembar karung.

Tampaknya semuanya begitu menghormati Lay Tat.

Teng San telah ke tengah ruangan, dia meletakkan nampan yang dibawanya, yang ditutup kain berwarna hijau, diletakkannya di samping nampan berpenutup warna merah yang tadi dibawa oleh Sam-kay.

Kemudian Teng San, dengan tetap diikuti oleh keempat pengemis di belakangnya, telah memutar tubuhnya, dia menekuk lututnya memberi hormat kepada Lay Tat.

Begitu juga keempat pengemis lainnya di belakang Teng San, semuanya menekuk lututnya memberi hormat kepada Kauw-cu mereka.

"Tee-cu telah membawa benda itu, Kauw-cu!!" kata Teng San dengan suara nyaring, tetapi sangat menghormat.

Lay Tat mengangguk.

"Bagus!" kata Lay Tat. "Berdirilah kau di situ!!" Teng San mengiyakan, bersama keempat pengemis itu dia kembali ke samping benda yang tadi dibawanya.

Lay Tat telah menoleh kepada jago-jago undangannya, yang kala itu sedang memandang ke arah Kauw-cu Pian-sia-kay itu dengan tatapan bertanya-tanya.

Kauw-cu she Oen itu telah tersenyum, senyumnya tanpa perasaan.

"Sahabat-sahabat, sekarang marilah kita mulai melihat benda mukjizat yang akan kuperlihatkan kepada kalian! Benda mukjizat dan pusaka yang langka sekali, jarang terdapat duanya di dalam dunia persilatan, akan kalian saksikan dengan penuh keberuntungan! Sebelum kita melihat benda mustika itu maka kita saksikan dulu sebuah pertunjukan yang tentunya akan menarik perhatian sahabat-sahabat!!" kata Lay Tat dengan suara yang sangat nyaring.

Setelah berkata begitu, Lay Tat menoleh kepada Sam-kay, si pengemis yang tadi membawa nampan yang tertutup kain merah.

"Mulailah, Sam-kay!!" kata Lay Tat dengan suara nyaring.

Kata-kata dari Kauw-cu Pian-sia-kay ini menyerupai suatu perintah.

Sam-kay mengiyakan.

Dia menundukkan kepalanya, membungkukkan tubuhnya sedikit, dan mengulurkan tangan kanannya memegang ujung kain merah penutup yang tadi dibawanya.

"Ya, mulai!" kata Lay Tat dengan suara yang tetap nyaring.

Semua mata dari kedelapan belas jago yang diundang Lay Tat, termasuk Cie Kiat, membulatkan mata mereka lebar-lebar.

Mereka ingin melihat benda apa yang disebut oleh Lay Tat sebagai benda mukjizat dan pusaka yang tiada taranya di dunia rimba persilatan, yang tiada duanya di dalam kalangan Kang-ouw (dunia persilatan).

Dengan cepat Sam-kay telah menarik kain merah penutup nampan itu.

Seketika itu juga jago-jago yang diundang oleh Lay Tat langsung membulatkan mata mereka lebar-lebar, malah di antara mereka itu ada yang mengeluarkan seruan tertahan.

Termasuk Cie Kiat sendiri yang menjadi heran melihat benda yang dipertunjukkan oleh Lay Tat.

Benda apakah itu?

Ternyata begitu kain merah penutup nampan tersebut terbuka, tampaklah sebuah binatang yang sangat aneh bercokol di atas nampan tersebut.

Binatang itu menyerupai trenggiling, tetapi bukan trenggiling, dan menyerupai juga seekor ajag atau serigala kecil pada moncongnya, tetapi bukan serigala atau ajag. Warna tubuh binatang itu kuning keemasan, memantul dengan sangat terang menyilaukan mata.

Setelah memandang binatang itu, para jago undangan Lay Tat memandang ke arah Kauw-cu Pian-sia-kay itu dengan tatapan penuh tanda tanya.

Apakah benda mustika yang tiada taranya yang disebut oleh Lay Tat hanyalah merupakan seekor binatang aneh berbentuk ini?

Pada saat itu, melihat keheranan dan tanda ketidakpuasan dari jago-jago yang diundangnya, Lay Tat telah tertawa.

"Sahabat-sahabat, ini adalah Kim Tok, si racun emas, yang racunnya sangat hebat. Siapa yang terkena racun dari binatang ini, di dalam waktu hanya beberapa saat saja, mungkin tidak sampai sepanjang satu batang hio, akan putus napasnya dan meninggal dunia!! Racun binatang ini sangat hebat, dan manusia tidak bisa main-main dengannya! Lagipula, jangan salah mengerti, binatang ini bukanlah benda pusaka yang kumaksud, ini hanyalah permulaan dari apa yang akan kalian saksikan nanti! Benda pusaka itu akan kukeluarkan dan kupertunjukkan setelah kalian menyaksikan pertunjukan yang menarik ini!!" Setelah berkata begitu, Lay Tat menoleh kepada Cong Teng San.

"Kau pun boleh mulai!!" kata Lay Tat dengan suara yang sangat nyaring.

Teng San mengiyakan sambil memberi hormat kepada Lay Tat.

Kemudian orang she Cong ini telah membungkukkan tubuhnya, mengulurkan tangan kirinya memegang ujung kain hijau yang menutupi nampan itu, dia akan menariknya terbuka.

Semua mata dari kedelapan belas jago undangan Lay Tat memandang dengan mata terbuka lebar-lebar ke arah nampan tertutup kain hijau itu.

Mereka jadi ingin mengetahui kejadian apa selanjutnya yang akan mereka lihat.

Lagipula, kedelapan belas jago rimba persilatan itu sangat ingin mengetahui, binatang aneh apa lagi yang akan dipertunjukkan oleh Lay Tat.

Cong Teng San telah menyingkap kain berwarna hijau yang tadi dipakai sebagai penutup nampan yang dibawanya.

Dan, semua orang ketika melihat apa yang ada di atas nampan itu, kembali mengeluarkan seruan heran.

Pengemis Loo-nie sendiri sampai mendengus.

"Hmmmm... hanya benda usang macam begini saja yang ingin dipertunjukkan!" katanya mengumam dengan suara perlahan.

"Sian-cay.... hanya binatang macam begini saja yang dikatakan benda mustika! Hmmmm... aku jadi hanya membuang-buang waktuku saja!" mengumam It Kiang Sian-su, pendeta dari Siauw Lim-sie itu.

"Ya... benda yang tidak ada harganya...!" menimpali Ciang Yang Cin-jin, yang duduk berdampingan dengan Bhikkhu Siauw Lim-sie.

Cie Kiat sendiri jadi mengerutkan alisnya, dia melihat di atas nampan yang tadi tertutup kain hijau, tampak di atas nampan itu seekor binatang aneh juga, bentuknya menyerupai seekor ular, tetapi bukan ular, karena binatang ini mempunyai delapan kaki, sehingga menyerupai kalajengking.

Tetapi kepala binatang tersebut, yang panjang lonjong seperti telur itu, yang mirip dengan kepala ular itu, tampak ada sebuah mutiara di tengah-tengahnya, bercahaya dengan sangat terang, memantulkan cahaya yang berwarna kehijauan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment