Chapter 24
Lay Tat telah melihat kekecewaan dari semua jagoan undangannya; tampaknya mereka merasa kecewa dan tidak puas dengan apa yang dipertunjukkan. Namun dengan sikap tenang, Lay Tat tertawa.
"Sahabat-sahabat, ini adalah Ceng-tok-jie!" kata Lay Tat dengan suara yang sangat nyaring. Yang dimaksud oleh Lay Tat dengan Ceng-tok-jie adalah Si Racun Hijau.
"Binatang ini memiliki kehebatan yang luar biasa! Ceng-tok-jie ini telah berusia dua ribu tahun. Seperti yang Sahabat saksikan, di kepala binatang ini terdapat sebuah Lian-cu, mutiara yang memantulkan cahaya hijau!" Sampai di situ, Lay Tat berhenti sejenak. Dia memandang ke arah Ceng-tok-jie yang sedang mendekam di nampannya tanpa bergerak sedikit pun. Hanya sesekali mata binatang itu tampak berkilat-kilat, dan ujung ekornya bergoyang perlahan.
Lay Tat tertawa lagi. "Binatang Ceng-tok-jie ini memiliki kemukjizatan yang sangat luar biasa!" kata Lay Tat dengan suara tegas. "Jika manusia atau mangsanya hanya digigit oleh mulutnya, hal itu tidak akan membahayakan nyawa korban. Namun, jika Ceng-tok-jie menggigit sambil dibarengi sengatan ekornya, maka dalam beberapa detik saja korban akan seketika meninggal! Itulah kehebatan racun Ceng-tok-jie. Jika racun di mulut dan racun di ekornya yang berbentuk seperti sebatang jarum bergabung menjadi satu, berarti napas korbannya akan putus!"
Semua jagoan undangan Lay Tat memperhatikan ekor Ceng-tok-jie. Tadinya mereka tidak memperhatikan ekor binatang itu karena kurang tertarik. Namun, setelah mendengar penjelasan mengenai keanehannya, mereka mulai memperhatikan dengan saksama. Benar saja, di ekor binatang itu tampak menonjol sebuah duri yang menyerupai sebatang jarum. Ekor tersebut bergoyang perlahan, dan jarumnya sering kali tertutup oleh ujung ekor. Jika tidak diperhatikan dengan teliti, pasti tidak akan ada yang mengetahui bahwa di balik ekor binatang aneh tersebut terdapat duri yang sangat beracun apabila kekuatannya digabungkan dengan gigitan mulutnya.
Lay Tat tertawa lagi melihat orang-orang mulai menaruh perhatian pada kedua binatang miliknya. "Bagaimana, Sahabat-sahabat?" tanya Lay Tat sambil tetap tertawa. Dia berkata dengan penuh semangat karena tahu perhatian para tamu telah tercurah sepenuhnya. "Kurasa ada baiknya sebelum Saudara-saudara melihat benda mustika yang akan kupamerkan, Sahabat sekalian menyaksikan pertempuran antara Ceng-tok-jie melawan Kim Tok."
Semua jagoan undangan terdiam sesaat, hingga akhirnya Peng-im Loo-nie dan It Kiang Sian-su menyahut hampir bersamaan, "Ya, kami ingin melihatnya!"
Lay Tat tersenyum mendengar perkataan kedua petapa itu. "Bagus! Marilah kita menyaksikan pertunjukan yang menarik!" kata Ketua Perkumpulan Pengemis Pian-sia-kay tersebut. Setelah berkata demikian, Lay Tat mengibaskan tangannya.
Sam-kay, si pengemis yang membawa nampan Kim Tok, mengerti perintah ketuanya. Dia merogoh saku dan mengeluarkan sejenis obat bubuk berwarna putih halus, lalu menebarkannya di depan Kim Tok dan Ceng-tok-jie. Seketika itu juga, Kim Tok yang tadinya mendekam tenang langsung membuka mata saat mengendus bau bubuk putih tersebut; binatang ini menjadi sangat beringas. Begitu pula dengan Ceng-tok-jie yang mulai beringsut menghampiri tumpukan bubuk putih itu. Kim Tok juga mendekat perlahan, sementara mata kedua binatang ini berubah merah memancarkan hawa ganas. Saat keduanya tiba di dekat bubuk putih tersebut, mereka pun mulai bertempur.
Ketika Ceng-tok-jie dan Kim Tok merangkak saling mendekati tumpukan bubuk putih, Lay Tat tertawa lagi dengan suara nyaring yang agak menyeramkan. "Lihatlah!" katanya dengan suara parau. "Mereka telah menghampiri bubuk putih itu! Sahabat-sahabat tahu bubuk apakah itu?"
Lay Tat menatap kedelapan belas jagoan undangannya dengan tajam. Tak ada satu pun yang menyahut karena memang mereka tidak mengetahuinya.
"Coba Ketua jelaskan!" kata It Kiang Sian-su dengan suara nyaring.
"Baik! Baik!" sahut Lay Tat cepat sambil tetap tertawa menyeramkan. "Memang aku bermaksud menjelaskannya. Bubuk putih itu adalah Pektong, ramuan racun dari Pek-coa (ular putih) dan Hek-coa (ular hitam) yang dicampur dengan racun Ang-hoa-sian (bunga merah dewata). Bubuk itu menimbulkan bau harum yang lembut. Namun, bau tersebut menyebabkan Ceng-tok-jie dan Kim Tok merasa seolah-olah sedang berhadapan dengan lawan tangguh sehingga mereka menjadi beringas. Lihatlah betapa marahnya mereka! Jika sudah sangat dekat, mereka akan segera bertarung!"
Semua jagoan terus mengawasi kedua binatang aneh itu. Mata kedua makhluk beracun tersebut tampak sangat merah dan mengandung hawa pembunuhan. Terlebih Ceng-tok-jie yang mendesis berulang kali; dia tampak bersiap menyerang karena lebih dulu melihat lawannya.
Kim Tok pun tiba-tiba melihat Ceng-tok-jie saat jarak mereka semakin dekat. Keduanya mengeluarkan suara desisan dan bersiap menyerang. Ceng-tok-jie bergerak sangat lambat, tetapi Kim Tok bergerak cepat mengelilingi lawannya. Tiba-tiba, saat Ceng-tok-jie sedang mendesis tajam, Kim Tok menerjang dengan satu lompatan. Dia bermaksud menggigit kepala ular berkaki aneh itu.
Meski gerakannya terlihat lamban, Ceng-tok-jie dapat mengelakkan tubrukan Kim Tok dengan mudah. Dia hanya menggerakkan kepala sedikit ke samping kiri, kemudian menyambut tubuh Kim Tok yang menyambar di sisinya dengan sabetan ekor, sementara kepalanya bergerak cepat hendak menggigit kaki Kim Tok.
Semua saksi mata merasa kagum. Jika diperhatikan benar-benar, gerakan Ceng-tok-jie menyerupai salah satu jurus ilmu silat dari Hoa-san Pay. Kim Tok sendiri menyadari bahwa kaki belakangnya terancam pagutan Ceng-tok-jie, sementara kepalanya juga terancam oleh ekor lawan. Dengan cepat, dia membuang diri dan bergulingan.
Walaupun hanya seekor binatang yang menyerupai trenggiling, Kim Tok sangat cerdik. Dia tahu nyawanya terancam sehingga memilih menggelinding menjauh dari Ceng-tok-jie. Melihat hal itu, para jagoan kembali memuji. Sebagai tokoh rimba persilatan berilmu tinggi, mereka kagum melihat cara Kim Tok mengelak.
"Bagus!" puji Cie Kiat tanpa sadar. Pemuda she Lie ini benar-benar kagum karena Kim Tok dapat menghindari serangan dari dua arah sekaligus. Jika diperhatikan dengan saksama, gerakan Kim Tok tadi mirip dengan jurus "Thian-bong Siang-kie" dari Thian-san Pay.
Lay Tat tampak tersenyum puas melihat kedua binatang peliharaannya menjadi pusat perhatian. Kim Tok telah berdiri kembali dan mendesis berulang kali, bersiap menyerang secara beruntun. Ceng-tok-jie pun mengeluarkan desisan. Tadi saat Kim Tok bergulingan, Ceng-tok-jie sebenarnya ingin menyerang secara nekat, namun dia membatalkan niatnya setelah melihat lawannya berhasil berdiri lagi. Kedua binatang beracun itu kini kembali saling bersiap untuk melakukan serangan berikutnya.