Chapter 25
Kim Tok telah memutari Ceng-tok-jie lagi, entah sudah berapa kali putaran, dan mereka dalam keadaan siap siaga.
Tiba-tiba Kim Tok mengeluarkan suara auman yang keras, kemudian ia menubruk lagi ke arah Ceng-tok-jie. Kim Tok bermaksud menggigit perut bawah Ceng-tok-jie. Namun, Ceng-tok-jie tetap sangat gesit; ia dapat menggeser tubuhnya dengan cepat. Malah Ceng-tok-jie juga melakukan serangan balasan. Ia menyerang dengan mulutnya, hendak menggigit ke arah leher Kim Tok, sedangkan ekornya yang memiliki senjata jarum sangat beracun itu mematuk ke arah perut Kim Tok.
Gerakan Ceng-tok-jie sangat cepat dan gesit; ia melancarkan kedua serangan yang berlainan itu dengan tangkas. Namun, Kim Tok juga bukan binatang beracun yang lemah; ia dapat bergerak dengan sangat cepat. Setiap serangan dari Ceng-tok-jie selalu dapat dielakkannya dengan gesit. Begitulah, keduanya kembali bertempur dengan hebat.
Selama itu, Cie Kiat memperhatikan dengan saksama setiap gerakan dari kedua binatang yang sedang bertempur dengan sengit tersebut. Ia memperhatikan cara Ceng-tok-jie mengelak, cara menyerangnya, dan cara membela diri saat sedang dalam keadaan terdesak. Begitu juga Cie Kiat memperhatikan gerakan-gerakan Kim Tok. Ia merasa bahwa setiap gerakan dari kedua binatang beracun ini dapat diolah menjadi semacam gerakan silat yang lihai jika kedua macam gerakan tersebut digabungkan menjadi satu.
Cie Kiat mengawasi dan mengikuti jalannya pertempuran kedua binatang itu dengan mata tak berkedip. Ia sangat tertarik hingga seolah melupakan orang-orang yang ada di sekelilingnya. Pada suatu ketika, di saat Ceng-tok-jie sedang mengelakkan serangan Kim Tok, terdengar suara gaduh yang keras. Perhatian semua orang pun teralih. Mereka memandang ke arah Lay Tat.
Wajah Lay Tat hanya berubah sejenak saat mendengar suara gaduh yang keras itu. Namun, dengan cepat ia dapat menguasai dirinya kembali; wajahnya pulih seperti biasa.
"Tentu si Demit Hidup yang sedang menghajar dinding bangunan ini!" kata Lay Tat kepada delapan belas jagoan undangannya. "Biarlah dia menghajar dinding itu sepuas hatinya, karena bukan dinding itu yang akan hancur, bisa-bisa tangan si Demit Hidup sendiri yang akan hancur patah!"
Mendengar perkataan Ketua Pian-sia-kay tersebut, semua orang mengangguk perlahan. Perhatian mereka kembali tertuju kepada kedua binatang berbisa yang sedang bertempur untuk saling membinasakan. Semakin lama kedua binatang itu tampak semakin beringas; rupanya mereka masing-masing sangat penasaran karena belum dapat membinasakan lawan. Selain itu, suara desisan mereka terdengar sangat nyata. Ceng-tok-jie dan Kim Tok saling menyerang dengan hebat.
Cie Kiat memperhatikan dengan penuh minat dan mengingat semua gerakan kedua binatang itu. Ia hanya memandang dengan tatapan terkesima, seolah terpaku di tempat duduknya. Tadi, saat perhatian semua orang teralih kepada suara gaduh yang keras, Cie Kiat tidak menaruh perhatian sedikit pun. Suara ribut itu, menurut Lay Tat, mungkin disebabkan oleh runtuhnya dinding bangunan yang dihajar terus-menerus oleh si Demit Hidup.
Cie Kiat benar-benar tertarik melihat gerakan-gerakan dari kedua binatang berbisa itu. Di dalam hati, anak muda bermarga Lie itu seketika memiliki maksud untuk mengambil dan mencangkok gerakan-gerakan kedua binatang tersebut untuk digabungkan menjadi satu dan diciptakan menjadi jurus-jurus ilmu silat; ilmu silat yang tangguh dan lihai luar biasa, yang berbeda dari yang lain. Maka dari itu, Cie Kiat selalu mengingat betul setiap gerakan dari kedua binatang beracun itu.
Pertempuran kedua binatang berbisa peliharaan Ketua Pian-sia-kay tersebut memang benar-benar hebat dan menarik. Sering kali terdengar seruan pujian dari orang-orang yang menyaksikan kehebatan kedua binatang berbisa tersebut. Suara debuman di luar bangunan masih saja terdengar jelas. Ruangan itu sering terguncang keras; getaran pada lantai terasa sekali oleh jago-jago silat yang berkumpul di situ.
Lay Tat sendiri sering mengernyitkan alisnya saat mendengar suara gaduh yang agak keras. Sebetulnya ia ingin menarik tombol besi ruangan itu untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh si gemuk Demit Hidup itu. Namun, ia selalu membatalkan niatnya. Ia menahannya karena Lay Tat mengetahui bahwa begitu ia menarik tombol besi di sudut ruangan itu—yang akan membuka sebagian dinding yang dilengkapi dengan Tay-pian-ming atau kaca pembesar sehingga bisa memandang ke luar ruangan—maka perhatian jagoan undangannya akan segera terpecah.
Hal itulah yang tidak diinginkan oleh Lay Tat. Ia menginginkan semua orang mengagumi kehebatan dan luar biasanya kedua binatang peliharaannya. Hal ini dilakukannya karena ia memang ingin menarik hati dan menundukkan para jagoan itu agar nantinya mereka mau bekerja untuk dirinya, Ketua dari Pian-sia-kay. Sebuah maksud yang besar dari rencana pria bermarga Oen tersebut.
Kedua binatang peliharaan Oen Lay Tat itu, Kim Tok dan Ceng-tok-jie, masih terus bertempur dengan seru. Tetapi sekarang gerakan kedua binatang itu sudah tidak segesit dan sehebat semula. Mungkin hal ini disebabkan mereka sangat letih setelah bertempur begitu lama. Saat Kim Tok menubruk dengan gerakan cepat dan tubuh berputar, Ceng-tok-jie tampak sangat gugup. Ia berusaha mengelakkan serangan Kim Tok yang berbahaya karena Kim Tok mengincar perutnya, tetapi Ceng-tok-jie terlambat.
Gerakannya yang agak lambat membuatnya tidak berhasil mengelakkan serangan Kim Tok. Dengan tepat perutnya digigit oleh Kim Tok kuat-kuat dan tidak mau dilepaskan. Ceng-tok-jie mengeluarkan suara pekikan yang melengking tinggi; ia tampak gelagapan dan menderita kesakitan yang hebat. Dengan menahan rasa sakit itu, Ceng-tok-jie berusaha untuk menggigit leher Kim Tok.
Namun, Kim Tok ternyata sangat cerdik; ia tidak mau membiarkan dirinya digigit oleh lawannya. Ia selalu memutar tubuhnya setiap kali Ceng-tok-jie melancarkan gigitan. Dengan berputar begitu, Kim Tok dapat mengelakkan setiap serangan dari Ceng-tok-jie. Namun, akibatnya selalu hebat bagi Ceng-tok-jie. Setiap kali Kim Tok berputar, giginya yang terbenam dalam di perut Ceng-tok-jie akan tertarik, yang berarti perut Ceng-tok-jie juga tertarik keras hingga menimbulkan rasa sakit yang bukan main. Terpaksa Ceng-tok-jie juga selalu memutar tubuhnya mengikuti gerakan memutar dari Kim Tok.
Karena menderita kesakitan yang luar biasa, berulang kali Ceng-tok-jie berusaha menyerang dengan ekornya yang memiliki jarum berbisa, tetapi selalu gagal. Kim Tok sangat cerdik, bahkan terlalu cerdik bagi Ceng-tok-jie. Kim Tok selalu dapat mengelakkan setiap serangan yang dilancarkan oleh Ceng-tok-jie; ia dapat mematahkan setiap serangan, baik berupa gigitan mulut maupun serangan dari ekor berjarum.
Ceng-tok-jie kewalahan dan menderita kesakitan yang hebat. Semakin lama gerakannya semakin lambat dan lemah karena racun dari gigitan Kim Tok sudah mulai bekerja dengan cepat. Darah dari luka Ceng-tok-jie berceceran di lantai. Semakin lama Ceng-tok-jie semakin lemah hingga seolah tidak bertenaga. Lama-kelamaan Ceng-tok-jie sudah tidak bisa bergerak, dan tubuhnya seolah terseret-seret oleh Kim Tok.
Bersamaan dengan itu, ketika mata semua jagoan di dalam ruangan itu—termasuk Lay Tat dan Cie Kiat yang sedang mengawasi dengan mata terpentang lebar penuh ketegangan—terdengar lagi suara gaduh yang sangat keras. Wajah Lay Tat berubah lagi; ia tampak kaget. Dengan cepat, setengah melompat Lay Tat menubruk ke arah tombol besi yang ada di sudut ruangan.
Ia menariknya sehingga seketika itu juga jendela rahasia di dinding menjeblak terbuka. Tampak si gemuk Demit Hidup sedang menghajar dinding luar yang telah runtuh sebagian, memperlihatkan bahwa dinding itu dibangun dalam beberapa lapis. Setiap kali si gemuk Demit Hidup mengayunkan tangannya menghajar dinding, seketika itu juga batu-batu dinding berguguran. Hal itu juga menimbulkan getaran yang tidak kecil pada ruangan di dalam.
Lay Tat berpikir, jika si gemuk terus-menerus menghajar dinding itu hingga hancur sebagian demi sebagian, maka lama-kelamaan dinding itu pasti akan bobol juga. Cie Kiat masih terpaku memandang ke arah kedua binatang beracun peliharaan Lay Tat yang masih bergumul. Ia tidak memedulikan keadaan di sekitarnya. Sementara itu, jagoan lainnya ada yang memandang ke arah kaca pembesar di jendela rahasia; mereka tertarik melihat si gemuk Demit Hidup yang menghajar tembok hingga rontok berguguran. Lay Tat sendiri mulai memutar otak untuk memikirkan cara mencegah perbuatan si Demit Hidup itu.