Chapter 26
Lay Tat melambaikan tangan kepada Sam-kay. "Kemari kau, Sam-kay!" panggilnya dengan suara nyaring. Sam-kay menghampiri, menekuk lututnya, dan memberi hormat. "Ada perintah apakah, Kauw-cu?" tanya Sam-kay cepat. Lay Tat menunjuk si Dedemit Hidup yang tampak dari kaca Tay-pian-ming di jendela rahasia itu. "Bereskan dia..." kata Lay Tat datar. Sam-kay mengiyakan, lalu berdiri dan cepat meninggalkan ruangan. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukan terhadap si Dedemit Hidup yang mengamuk, memukuli dinding bangunan hingga sempal. Lay Tat terus mengawasi dari jendela rahasia.
Sam-kay keluar dari lubang sumur, diikuti beberapa pengemis. Ternyata, sebelum keluar, ia telah mengajak beberapa pengemis lain untuk membantunya menghadapi si Dedemit Hidup. Melihat Sam-kay dan para pengemis keluar dari lubang sumur, si gemuk tromok itu segera menghampiri dengan mata mencilat. "Hmmmm... kalau begitu gubuk kalian punya pintu melalui sumur itu!" katanya dengan suara menyeramkan. "Suruh Kauw-cu kalian keluar menerima kematiannya di tanganku, karena dia tidak sedikit pun memandangku!" Sam-kay tertawa mengejek. "Apakah orang sepertimu pantas bertemu Kauw-cu kami?" katanya. "Sekarang kami ingin mengiringi dan mengirim jiwamu ke neraka!" Setelah berkata demikian, Sam-kay mengibaskan tangannya. Para pengemis yang baru keluar dari sumur segera melompat mengurung si gemuk tromok bergelar Dedemit Hidup.
Dedemit Hidup sangat gusar, sampai berjingkrak saking murkanya. Tubuhnya yang gemuk tromok itu bergetar menahan amarahnya. "Kau... kau pengemis budak! Apa kalian tidak takut mampus?" bentaknya bengis. Sam-kay tertawa mengejek, tidak meladeni perkataan si gemuk tromok. Ia mengangkat tangannya lagi, mengisyaratkan para pengemis untuk maju dan mengurung Dedemit Hidup lebih rapat. Suasana menjadi tegang. Lay Tat masih mengawasi dari jendela rahasianya dengan alis mengkerut.
Di luar gedung, Ceng-tok-jie yang sudah payah dan lemah, tiba-tiba mendapat tenaga baru. Dengan kecepatan luar biasa, ia menyerang ke arah perut Kim Tok. Kim Tok terkejut dan berusaha mengelak, tetapi karena masih menggigit perut Ceng-tok-jie, ia tidak bisa menyingkir. Gigi Ceng-tok-jie terbenam di tubuhnya. Kim Tok menjerit kesakitan. Saat ia menjerit, Ceng-tok-jie menggunakan tenaga terakhirnya menggerakkan buntutnya. Jarum kecil di buntut Ceng-tok-jie menancap seluruhnya di paha Kim Tok.
Begitu terkena buntut Ceng-tok-jie, Kim Tok menjerit melengking, lalu rubuh terguling. Gigitannya pada tubuh Ceng-tok-jie terlepas. Dalam beberapa detik, tubuh Kim Tok berubah biru, lalu menghitam. Seketika itu juga ia tewas, napasnya terputus dan jiwanya terbang menemui raja akhirat. Seekor binatang aneh luar biasa telah berpulang ke dunia Barat. Ceng-tok-jie sendiri merayap susah payah karena kehabisan tenaga, mengeluarkan erangan kesakitan, mendekati nenampan berpenutup kain hijau.
Lay Tat mendengar suara erangan dan jeritan Kim Tok saat ia binasa. Ia melihat pertempuran antara kedua binatang itu dimenangkan Ceng-tok-jie dan tersenyum sedikit. Lay Tat menoleh kepada keempat pengemis di belakang Cong Teng San. "Bereskan semuanya!" katanya. Keempat pengemis mengiyakan. Dua orang mengangkat mayat Kim Tok yang diletakkan di nenampan, lalu membawanya pergi. Dua pengemis lainnya mengangkat Ceng-tok-jie ke nenampan. Salah seorang mengeluarkan obat bubuk kuning dan mengoleskannya ke luka Ceng-tok-jie, sebagian lagi dimasukkan ke mulut binatang itu. Tenaga Ceng-tok-jie pulih kembali. Obat itu adalah penawar racun Kim Tok. Ceng-tok-jie kemudian mendekam tenang di nenampan, tidak mengeluarkan suara erangan lagi.
Kedua pengemis itu tidak segera membawa nenampan berisi Ceng-tok-jie. Mereka meletakkannya di tengah ruangan, lalu kembali berdiri di pinggir, di belakang Cong Teng San. Lay Tat mengawasi si Dedemit Hidup yang tengah dikurung semakin sempit oleh Sam-kay dan beberapa pengemis. Si gemuk tromok itu sangat gusar dan murka dikepung begitu. "Kalian... kalian, oh... apakah kalian benar-benar sudah tak sayang jiwa kalian?" bentak Dedemit Hidup dengan suara parau.
Sam-kay tertawa dingin. "Hmmmm... biar pun harus mampus di tanganmu, tetapi kau juga harus mampus di tangan kami!" katanya mengejek. Dedemit Hidup makin murka, tubuhnya gemetaran hebat. Tiba-tiba ia membentak keras, menjejakkan kakinya, melompat cepat, dan kedua tangannya menyerang Sam-kay secara bersamaan.
Melihat Dedemit Hidup menyerang dengan tenaga Lwee-kang yang kuat, Sam-kay cepat melompat menjauh. Namun, tangan Dedemit Hidup terus meluncur. Terdengar jeritan melengking dan sesosok tubuh terpental. Karena Sam-kay mengelak, pengemis yang berdiri di belakangnya menjadi korban. Pengemis itu tidak melihat serangan datang, tahu-tahu merasakan dadanya sakit sekali, napasnya seperti mandek. Seketika itu juga ia menjerit, lalu tak sadarkan diri. Jiwanya segera pergi menuju neraka menemui Giam-lo-ong. Pengemis itu tewas terkena pukulan Dedemit Hidup. Kepalanya remuk, otaknya tercecer di tanah, tulang tengkoraknya berhamburan bercampur darah dan otak.
Melihat anak buahnya terbunuh karena dirinya mengelak dari serangan Dedemit Hidup, Sam-kay menjadi sangat murka. Ia mengeluarkan seruan murka. Lima orang pengemis lainnya juga langsung menyerbu Dedemit Hidup. Sam-kay turut menyerang sambil membentak keras. Dedemit Hidup tidak tinggal diam, ia bergerak gesit. Setiap tangannya bergerak, terdengar jeritan dari salah seorang pengemis. Dedemit Hidup menyerang dengan tujuh bagian tenaga Lwee-kang, sehingga setiap korbannya yang terpukul tangannya, pasti kepalanya remuk atau tulangnya patah.
Melihat gelagat tidak baik bagi pihaknya, Lay Tat berulang kali mendengus mengejek. Ia menoleh kepada Cong Teng San, yang juga mengawasi pertempuran dengan saksama. "Teng San, pergi kau bawa orang untuk membantu Sam-kay!" perintah Lay Tat nyaring. Cong Teng San terkejut mendengar namanya dipanggil, cepat menyahuti perintah Kauw-cu-nya. Gesit seperti kijang, ia melompat keluar ruangan. Tak lama kemudian, dari Tay-pian-ming, Cong Teng San melompat keluar dari sumur, diikuti sepuluh pengemis lainnya. Tanpa berkata sepatah pun, para pengemis itu menyerbu Dedemit Hidup. Cong Teng San berdiri sambil menyerbu, berseru mengguntur, "Jangan takut Sam-kay... kami datang membantu!" Mereka mengeroyok Dedemit Hidup.
Si gemuk tromok makin murka, namun tak berdaya karena dikepung. Selain mengamuk ke sana ke mari, memukul ke sana, ia juga mencaci maki pengemis-pengemis yang mengeroyoknya dengan kata-kata kotor. Cong Teng San, Sam-kay, dan para pengemis lainnya menyerang lebih hebat, disertai amarah yang besar. Terlebih lagi, si Dedemit Hidup memaki Oen Lay Tat dengan kata-kata yang menyakitkan telinga dan membuat muka merah padam. Para pengemis menjadi makin kalap dan menyerang nekat tanpa memikirkan keselamatan jiwa mereka. Si Dedemit Hidup kewalahan menghadapi manusia-manusia kalap itu. Ia berulang kali terdesak oleh serbuan orang-orang itu. Dengan seruan murka, ia selalu berusaha menerobos dari kepungan tersebut, tetapi selalu tidak berhasil.