Chapter 29
Setelah semua anak buahnya mundur, Lay Tat tertawa. "Dedemit tua bangka!" ejeknya. "Manusia sepertimu seharusnya mati. Namun, mengingat persahabatan kita beberapa puluh tahun lalu, aku akan mengampunimu. Cepat enyah dari sini! Lain kali jika berniat buruk datang lagi, meski kepalamu sepuluh, jangan harap lolos dari kematian!"
Mendengar ucapan Kauw-cu Pian-sia-kay, wajah Dedemit Hidup memerah padam. Ia sangat geram. "Orang she Oen!" serunya dengan suara tawar dan serak karena napasnya terengah. "Jangan bicara sembarangan! Biar kau kerahkan seluruh anak buahmu, mereka tidak akan bisa meruntuhkanku! Jika aku sampai terkalahkan oleh orang-orangmu, termasuk dirimu, pihak Pian-sia-kay, lebih baik aku tidak hidup lagi di dunia ini! Aku rela binasa!"
Lay Tat kembali tertawa mengejek. "Hmmmm... kau memang berkepala batu!" katanya dengan suara kesal. "Kami telah memberimu jalan hidup, tetapi kau memilih jalan kematian! Hmmmm, baiklah! Aku ingin melihat apakah setelah kepalamu terpisah dari lehermu, kau masih berani mengatakan tidak takut mati?!"
Lay Tat melangkah perlahan. Napas Dedemit Hidup masih memburu. Ia melihat lawannya mendekat. Meski lelah, ia bersiap menghadapi serangan Lay Tat. Ia merasa sudah terlanjur basah, lebih baik bertempur mati-matian daripada menerima hinaan. Jika ia pergi hanya karena belas kasihan Oen, ia akan menjadi bahan tertawaan kawan maupun lawan di Bu Lim, rimba persilatan, atau kalangan Kang-ouw.
Dengan tegas ia berkata, "Meski harus menerima kematianku, aku pun harus dapat membunuhmu, hei orang she Oen!!" katanya bengis.
Lay Tat tertawa mendengar ucapan Dedemit Hidup. "Apakah kau yakin bisa membunuhku?" tanyanya mengejek. "Hmmmm... apakah kau punya kepandaian untuk melakukan itu, maksudku, untuk membunuhku?"
Setelah bertanya dengan nada mengejek, Lay Tat tertawa terbahak-bahak, tidak memandang sebelah mata pada Dedemit Hidup. Lay Tat adalah Kauw-cu Pian-sia-kay, sebuah perkumpulan pengemis yang besar. Sesuai tabiatnya sebagai Kauw-cu yang dihormati anak buahnya, ia angkuh dan sombong, tak pernah memandang orang lain. Jika ia menyukai seseorang, ia mungkin mengalah. Namun, jika bertemu orang yang tidak disukainya, orang itu akan diperlakukan sesuka hatinya.
Wajah Dedemit Hidup memerah padam, lalu berubah pucat pasi. Berbagai perasaan campur aduk dalam dirinya: kesal, geram, murka, dan sedikit gentar jika ia dikeroyok jago-jago di belakang Lay Tat, seperti Peng-im Loo-nie, It Kiang Sian-su, Ciang Yang Too-jin, dan lainnya. Ia tahu, jika dikeroyok ramai-ramai, kesempatannya untuk hidup sangat kecil.
Tadi ia berkata bahwa ia tak mungkin terkalahkan oleh pengemis Pian-sia-kay, termasuk Lay Tat sebagai Kauw-cu-nya, sebetulnya ia menggunakan akal licik untuk memukul mundur jago-jago di belakang Lay Tat dengan kata-kata. Dengan begitu, orang akan mengerti maksud perkataannya. Ia menginginkan hanya orang Pian-sia-kay yang menyerang dan mengepungnya, bukan jago-jago yang ia kenal seperti It Kiang Sian-su, Peng-im Loo-nie, Ciang Yang Too-jin, dan lainnya.
Namun, Lay Tat sangat cerdik. Ia sengaja pura-pura tidak mengerti maksud Dedemit Hidup, berpura-pura bodoh. "Begini saja Dedemit tua bangka yang sudah mau mampus!" kata Lay Tat dengan suara nyaring. "Jika kau bisa memenangkan lima kali pertempuran di antara orang-orangku, kau boleh meminta apa pun yang kau inginkan dari kami! Bagaimana? Kau setuju atau tidak?"
Mendengar ucapan Lay Tat, wajah Dedemit Hidup kembali memerah lalu pucat. Ia mengerti kelicikan Kauw-cu Pian-sia-kay itu. "Kau sebagai seorang Kauw-cu, tetapi lagakmu seperti anak kecil!" kata Dedemit dengan suara tawar. "Hmmm... dengan bertempur secara bergilir lima kali begitu, bukankah sama saja kau mengeroyokku ramai-ramai? Mengapa kau harus menempuh jalan itu? Seranglah aku ramai-ramai, aku tentu tidak akan mundur setapak pun!"
Kata-kata Dedemit Hidup membakar semangatnya. Ia jelas sangat geram, sehingga lenyap rasa takut dan gentarnya. Ia tidak memikirkan soal hidup mati dirinya.
Lay Tat kembali tertawa tawar. Ia tidak memandang sebelah mata pada Dedemit Hidup, meskipun ia mengakui kepandaian ilmu silatnya sangat lihai. Namun, karena ia memiliki jumlah orang yang banyak, sedangkan Dedemit Hidup hanya seorang diri, ia yakin kemenangan pasti berada di pihaknya.
"Apakah kau benar-benar tidak takut mati?" ejek Lay Tat.
Wajah Dedemit Hidup memerah padam saking marahnya mendengar perkataan Lay Tat. Ia adalah tokoh rimba persilatan dengan kepandaian luar biasa. Di kalangan Kang-ouw, ia sangat disegani lawan maupun kawan. Oleh karena itu, ia lebih baik memilih kematian daripada menerima hinaan. Bisa dibayangkan betapa geramnya Dedemit Hidup, karena Lay Tat selalu memperlakukannya seperti pengecut yang gentar menghadapi kematian, dan seolah ingin memberinya belas kasihan.
Karena geram dan marahnya tidak terkendali lagi, tiba-tiba Dedemit Hidup mengeluarkan suara bentakan mengguntur. Ia menyerang Lay Tat menggunakan kedua tangannya. Tangan kirinya mengincar jalan darah Pay-yang-hiatnya, sedangkan tangan kanannya menghajar dada Lay Tat dengan sebagian besar tenaga Lwee-kang-nya.
Jika cengkeraman tangan kiri Dedemit Hidup berhasil mencengkeram jalan darah Pay-yang-hiat Kauw-cu Pian-sia-kay, Lay Tat tidak akan bisa hidup. Jalan darah itu sama pentingnya dengan jalan darah Tay-yang-hiat. Jika jalan darah itu terkena cengkeraman, Lay Tat pasti akan menemui kebinasaannya. Seandainya Lay Tat berhasil mengelak serangan tangan kiri Dedemit Hidup yang berbahaya itu, tangan kanannya telah mengancam dadanya. Jika tangan Dedemit Hidup berhasil menghajar telak dada Lay Tat, tulang dadanya pasti akan remuk hancur berantakan. Jiwa orang she Oen itu tentu tidak akan dapat dipertahankan dari tarikan tangan Giam-lo-ong yang hendak mengadili dosa-dosanya.
Jarak antara Oen Lay Tat dan Dedemit Hidup sangat dekat. Ia berdiri paling depan di antara pengemis lainnya. Saat Dedemit menyerang sambil mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur, Lay Tat sedikit terkejut. Namun, ia fokus. Meski berada dalam jarak sangat dekat, ia tidak gugup menghadapi serangan itu. Dengan cepat ia memiringkan tubuhnya ke kiri, menghindari serangan tangan kanannya yang hendak menghajar dadanya. Kemudian, dengan gerakan "Ya Ma Hun Cong" atau Kuda tua mengibaskan ibu surinya, ia mengibaskan tangan kanannya menangkis tangan kiri Dedemit Hidup yang hendak mencengkeram jalan darah Pay-yang-hiatnya. Gerakan itu dilakukan dengan satu kibasan disertai tujuh bagian tenaga dalamnya Lwee-kang. Dengan demikian, tangan kanannya berhasil menangkis tangan kiri Dedemit Hidup dengan keras, sehingga jalan darah Pay-yang-hiatnya tidak sampai tercengkeram oleh Dedemit Hidup yang bertubuh gemuk itu. Malah, akibat tangkisan tangan Kauw-cu Pian-sia-kay she Oen itu, terdengar suara benturan tangan mereka yang nyaring. Keduanya terhuyung ke belakang beberapa langkah.
Wajah Dedemit Hidup menjadi pucat. Ia merasakan kehebatan tangkisan tangan Oen Lay Tat. Sementara itu, Lay Tat cepat menguasai diri, tidak sampai terhuyung jauh. Dengan mata mendelik bengis dan mulut tersenyum mengejek, ia berkata lagi, "Huuu, huu, dengan kepandaian yang sebegitu saja kau sudah berkepala besar dan tidak tahu diri!" ejek Lay Tat dengan suara parau.