Halo!

Ibu Hantu - Chapter 30

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 30

"Di dalam sepuluh jurus, kalau memang aku tidak bisa membuatmu mati penasaran, biarlah aku si marga Oen tidak menginjakkan kakiku di wilayah Liong-gak-chung ini lagi!" Wajah si Dedemit Hidup berubah merah padam, kemudian berubah pucat.

Ia murka sekali.

Dan dengan tidak memedulikan keselamatan dirinya lagi, ia telah melancarkan serangannya lagi.

Bahkan kali ini ia menyerang dengan serangan-serangan dari seorang jago yang sedang ingin mengadu jiwa dengan lawannya!

Oen Lay Tat beserta jago-jago lainnya yang ada di situ pun terkejut melihat kenekatan si Dedemit Hidup yang tampaknya sudah tidak memedulikan keselamatan dirinya, karena si Dedemit Hidup ini menyerang dengan hebat sekali, dengan serangan yang ditujukan langsung kepada Lay Tat tanpa menjaga diri!

Melihat kenekatan si Dedemit Hidup itu, maka pengemis lainnya, termasuk Sam-kay dan Cong Teng San, menjadi mengkhawatirkan keselamatan Ketua mereka.

Serentak mereka maju akan memberikan bantuan kepada orang marga Oen itu.

Tetapi biarpun diserang begitu hebat, dan biarpun ia terkejut, Lay Tat tidak menjadi gugup.

Dengan cepat ia menjejakkan kakinya, ia telah melompat mundur.

Dengan bergerak begitu, dengan menggunakan jurus Lee Ie Ta Teng, maka ia dapat mengelak serangan dari si Dedemit Hidup.

Tetapi si gemuk tembem Dedemit Hidup itu mana mau mengerti?

Ketika ia melihat serangannya gagal dan mengenai tempat kosong, maka dengan cepat ia telah menubruk dan menyerang lagi dengan lebih dahsyat.

Kali ini si Dedemit menyerang dengan serangan berangkai secara beruntun menyerang diri orang marga Oen itu.

Hal ini membuat Oen Lay Tat kewalahan.

Biarpun ia memiliki ilmu silat yang tinggi, tetapi karena ia sedang berhadapan dengan seorang manusia yang benar-benar nekat dan sudah tidak memikirkan keselamatan dirinya lagi, maka mau tak mau ia pun kesulitan untuk mengelak dan menangkis setiap serangan dari si Dedemit Hidup itu.

Untung saja Lay Tat memiliki kepandaian yang cukup tinggi dan sempurna, lagipula Gin-kangnya memang telah mencapai tingkat kesempurnaan, sehingga dengan ringan dan gesit ia selalu dapat mengelak serangan-serangan maut dari si Dedemit Hidup itu.

Pengemis-pengemis lainnya, Sam-kay, Cong Teng San, dan yang lainnya, telah maju mendekat, mereka bersiap-siap akan maju mengeroyok si Dedemit Hidup itu lagi.

Tetapi sebelum mereka bertindak, di hadapan pengemis-pengemis itu telah berkelebat sesosok bayangan.

Ketika Cong Teng San dan Sam-kay serta yang lainnya memastikan, mereka terkejut.

Terlebih lagi Cong Teng San, ia sampai membuka matanya lebar-lebar.

"Kau...?" tanya orang marga Cong itu dengan suara bimbang.

Sosok bayangan yang menghadang di depan pengemis-pengemis itu ternyata Lie Cie Kiat.

Anak muda bermarga Lie ini tidak senang melihat si Dedemit Hidup itu dikeroyok terus-menerus.

Tadi si Dedemit Hidup telah dikeroyok dan tenaganya telah habis terbuang percuma, lagipula ia sangat kelelahan, meskipun ia masih bisa membunuh beberapa pengemis yang masih tergeletak mayatnya di sekitar tempat itu.

"Benar, aku!" sahut Cie Kiat dengan cepat.

"Dan Hak-sheng kira, tidak perlu kalian turun tangan, lebih baik kita secara ksatria membiarkan Ketua kalian menghadapi si Dedemit Hidup itu!

Padahal, jika dipertimbangkan dengan teliti, sebetulnya pertandingan antara Ketua kalian dengan orang gemuk itu masih tidak adil, karena si Dedemit Hidup tadi baru saja bertempur melawan kalian secara dikeroyok, dan jelas semangatnya telah berkurang serta tenaganya telah habis karena kelelahan.

Sedangkan Ketua kalian masih memiliki semangat dan tenaga baru!

Maka dari itu, biarlah mereka bertempur satu lawan satu secara Ho-han... orang gagah!" Wajah Cong Teng San dan Sam-kay beserta pengemis-pengemis lainnya berubah.

"Mengapa kau mencampuri urusan kami?" bentak Sam-kay tidak senang.

"Bukankah kau tamu kehormatan kami yang diundang oleh Ketua? Mengapa sekarang kau ingin memihak orang luar?"

Mendengar pertanyaan Sam-kay, Cie Kiat tertawa hambar.

"Benar, memang Hak-sheng adalah tamu kehormatan yang mendapat undangan langsung dari Ketua kalian!

Tetapi bukan berarti Hak-sheng menjadi tamu kalian, lalu setiap tindakan kalian yang salah harus Hak-sheng benarkan!

Oh, tidak bisa begitu!

Mana ada kejadian seperti itu?

Yang salah tetap harus dipersalahkan, sedangkan yang benar harus dibenarkan!

Biarpun ayah kita sendiri, jika memang ia melakukan kejahatan, maka sang anak harus memberikan nasihat dan wejangan kepadanya!" kata Cie Kiat dengan tegas.

Anak muda bermarga Lie ini menyebut dirinya dengan sebutan Hak-sheng, yang berarti murid.

Ia menyebut dirinya begitu untuk menunjukkan kerendahan hatinya, yang selalu tidak mau berlaku angkuh dan congkak, walaupun pemuda bermarga Lie ini tahu dirinya memiliki kepandaian yang sangat tinggi, dan mungkin sulit untuk mencari tandingannya!

Wajah Sam-kay, Cong Teng San, dan beberapa pengemis lainnya berubah drastis.

"Apakah kau benar-benar akan memihak orang luar?" bentak Sam-kay dengan suara berat.

"Aku tidak mengatakan bahwa aku memihak orang luar," kata Cie Kiat dengan cepat.

Yang penting bagiku adalah kebenaran dan kejujuran!

Aku tidak mau melihat ada orang yang berbuat curang!" Cie Kiat berkata begitu karena ia sangat kesal, dan ia juga tidak lagi menyebut dirinya dengan sebutan Hak-sheng, yang berarti murid itu.

Pengemis-pengemis di belakang Sam-kay dan Cong Teng San menjadi gusar, mereka memaki-maki Cie Kiat.

Bahkan, salah seorang di antara mereka telah maju ke depan dan mengayunkan tangannya untuk menyerang Cie Kiat.

Cie Kiat tertawa melihat cara orang itu menyerang, karena segera ia mengetahui bahwa orang ini tidak memiliki permainan silat yang sempurna.

Ia hanya mengerti dasarnya saja.

Sam-kay, yang melihat pengemis itu akan menyerang Cie Kiat, hendak mencegahnya.

Namun sudah terlambat.

Ketika tangan pengemis itu meluncur dengan kecepatan luar biasa menyerang Cie Kiat, dengan mudah anak muda bermarga Lie itu mengibaskan tangannya, maka seketika itu juga terdengar jeritan yang menyayat hati, karena tubuh pengemis yang menyerang Cie Kiat itu terpental jauh sekali, agak tinggi, kemudian jatuh terbanting di tanah dengan suara gedebuk yang sangat keras, terbanting sampai lehernya patah dan ia hanya sempat mengeluarkan suara "nggeeek" di tenggorokannya, kemudian ia mati seketika itu juga!

Semua yang melihat hal itu sangat terkejut.

Begitu juga Sam-kay dan Cong Teng San serta pengemis-pengemis lainnya, mereka sangat murka.

Mereka menganggap tangan Cie Kiat terlalu kejam terhadap pengemis yang malang nasibnya itu.

Padahal persoalan yang sebenarnya adalah Cie Kiat sendiri tidak menyadari bahwa tenaga Lwee-kangnya telah bertambah dari hari ke hari.

Biasanya, jika ia menggunakan empat bagian tenaga Lwee-kangnya, seperti tadi ketika ia mengibaskan tangannya kepada pengemis yang mati itu, maka korbannya pasti hanya akan terdorong dan terjungkal.

Tetapi kali ini pengemis itu terpental begitu hebat dan terbanting sampai menemui ajalnya, hal ini juga mengejutkan Cie Kiat sendiri.

Lay Tat yang sedang bertempur dengan si gemuk tembem Dedemit Hidup itu, juga telah mendengar jeritan menyayat dari pengemis yang benar-benar sial nasibnya itu.

Ketua dari Pian-sia-kay ini melirik sedikit begitu ia memiliki kesempatan, tetapi begitu ia melihat bahwa orang yang tewas dengan leher patah tergeletak di atas tanah itu adalah pengemis yang menjadi anggota perkumpulan Pian-sia-kay yang dipimpin olehnya.

Hati Lay Tat terkesiap, ia sampai mengeluarkan seruan tertahan.

Segera ia dapat menduga siapa yang telah membunuh anak buahnya itu, karena ia seketika itu juga melihat bahwa Cie Kiat sedang dikurung oleh Sam-kay, Cong Teng San, dan pengemis-pengemis lainnya.

Wajah Sam-kay berperangai sangat bengis dan memancarkan hawa pembunuhan!

Lay Tat menjadi agak bingung juga melihat perkembangan selanjutnya dari peristiwa itu.

Sekarang persoalan semakin bergolak, jika ia tidak cepat-cepat mengambil tindakan tegas, mungkin nanti ketujuh belas jago-jago yang diundangnya untuk menyaksikan benda mustika yang belum lagi dikeluarkan itu, akan terlibat di dalam suatu pertempuran pula.

Tetapi Ketua dari Pian-sia-kay tersebut tidak bisa berpikir lama, sebab Dedemit Hidup telah menyerang lagi dengan serangan beruntun dan sangat berbahaya.

Jika Lay Tat tidak bisa bergerak cepat dan bermata jeli, mungkin ia akan terkena pukulan Tui Hong Jie Ciu atau Dua Mutiara Angin, dan ada kemungkinan dirinya mengalami kecelakaan yang tidak ringan.

Untung saja Lay Tat memang piawai dan lagipula ia juga lihai sekali ilmu silatnya, biarpun ia sedang lengah, toh akhirnya ia dapat juga mengelak setiap serangan yang dilancarkan oleh Dedemit Hidup itu.

Pada saat itu Cie Kiat tengah dikurung oleh Sam-kay, Cong Teng San, dan pengemis-pengemis lainnya.

Semakin lama pengemis-pengemis itu mengurung semakin rapat, karena mereka tidak senang hati dan murka melihat kawan mereka tewas di tangan anak muda bermarga Lie ini.

Maka dari itu, pengemis-pengemis ini bermaksud untuk membalaskan sakit hati dan penasaran atas kawan mereka yang telah tewas itu!

Sam-kay sendiri telah maju perlahan-lahan dengan sikap mengancam.

Matanya memancar bengis, mengandung hawa pembunuhan.

Begitu juga Cong Teng San dan pengemis-pengemis lainnya, mereka memang ingin mengeroyok dan menghajar habis anak muda bermarga Lie tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment