Chapter 31
Ketujuh belas jago yang menjadi undangan Lay Tat merasa bingung. Mereka tidak mengetahui apa yang harus dilakukan, sehingga hanya berdiam diri di tempat masing-masing. Jika mereka melerai pertikaian itu, mereka tentu akan terlibat dalam persengketaan. Namun, jika mereka gagal mendamaikan orang-orang yang sedang terlibat dalam ancaman pertempuran tersebut, mereka juga akan menemui kesulitan.
Oleh karena itu, It Kiang Sian-su, Peng-im Loo-nie, dan Ciang Yang Too-jin beserta jago-jago lainnya hanya memandangi persengketaan itu layaknya penonton belaka. Saat itu, Cie Kiat berdiri tegak di tempatnya dengan tenang. Tak tampak sedikit pun rasa jeri pada wajahnya. Ia menanti apa yang akan dilakukan oleh orang-orang Pian-sia-kay terhadap dirinya.
Dengan pancaran mata yang sangat tajam, Cie Kiat melihat Sam-kay, Cong Teng San, dan beberapa pengemis maju perlahan dengan sikap mengancam. Cie Kiat telah mengambil keputusan untuk memberikan pelajaran pahit kepada pengemis-pengemis itu agar kelak mereka tidak terlalu jumawa dan bertindak sewenang-wenang.
Cie Kiat tidak berusaha membujuk lagi. Ia hanya memandangi para pengemis itu. Sam-kay dan Cong Teng San memang mengetahui bahwa Cie Kiat mempunyai ilmu silat yang tinggi, tetapi mereka percaya bahwa jumlah mereka yang besar akan mampu merebut kemenangan. Itulah sebabnya mereka tidak jeri untuk mengeroyok pemuda bermarga Lie itu.
Para pengemis mengurung Cie Kiat semakin rapat. Tiba-tiba, salah seorang pengemis menjejakkan kakinya dan melompat menerjang ke arah Cie Kiat. Pengemis itu menyerang dari belakang karena sang pemuda berdiri membelakanginya. Ia bermaksud membokong karena percaya bahwa dengan sekali hajar, ia akan berhasil merobohkan pemuda tersebut.
Namun, segalanya terjadi di luar dugaan. Saat diserang secara mendadak, Cie Kiat masih berdiri tegak di tempatnya, sehingga tangan pengemis itu meluncur cepat dan hampir mengenai punggungnya. Pengemis-pengemis lain menyaksikan dengan girang karena yakin serangan kawan mereka akan berhasil. Mereka telah berencana, begitu Cie Kiat tersungkur akibat pukulan bokongan itu, mereka akan serentak menyerbu dan menghajarnya. Pengemis yang menyerang pun merasa senang karena membayangkan penghargaan yang akan diterimanya dari kawan-kawannya.
Tetapi, saat tangan pengemis itu hanya berjarak beberapa inci dari punggung Cie Kiat, punggung pemuda itu seolah melejit masuk ke dalam sehingga serangan tersebut meleset mengenai tempat kosong. Karena menyerang dengan mengerahkan seluruh tenaga dan hanya mengenai angin, si pengemis kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terjerembap ke arah Cie Kiat. Tanpa memutar tubuh, Cie Kiat mengibaskan tangannya ke belakang, dan terdengarlah jeritan yang menyayat hati!
Tubuh pengemis yang membokong itu terpental tinggi ke udara bagaikan bola yang ditendang, lalu ambruk ke tanah dengan suara yang sangat keras. Debu dan batu-batu kecil bertebaran, sementara pasir mengepul tinggi. Pengemis itu terkapar tak bergerak lagi karena saat tubuhnya melambung tadi, jiwanya telah meninggalkan raga. Ia tewas seketika akibat kibasan tangan Cie Kiat!
Pengemis lainnya terpaku terkesima. Begitu pula Sam-kay dan Cong Teng San; mereka berdiri terpaku dengan hati yang tergoncang hebat. Lay Tat sendiri, yang mendengar jeritan menyayat dari anak buahnya, turut tergoncang hatinya sehingga gerakannya menjadi kacau saat menghadapi si Dedemit Hidup. Hal ini membawa keuntungan besar bagi si Dedemit Hidup karena ia dapat melancarkan serangan-serangan hebat yang terus mendesak Lay Tat.
Lay Tat kewalahan mengelak dan membela diri. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena ia segera menyadari bahwa ia harus memelihara ketenangannya, terutama saat menghadapi manusia nekat seperti si Dedemit Hidup. Lay Tat segera menenangkan hatinya dan dalam waktu singkat ia kembali dapat melayani Dedemit Hidup. Pertempuran kembali berimbang dan berlangsung seru.
Ketujuh belas jago dari berbagai golongan yang berkumpul di situ kagum melihat kehebatan pemuda bermarga Lie tersebut. Sam-kay, Cong Teng San, dan pengemis lainnya segera tersadar dari keterpakuannya, namun kesadaran itu berubah menjadi amarah.
"Marga Lie, jika hari ini kami tidak bisa mencincang tubuhmu, maka percuma kami menjadi anggota Pian-sia-kay!" teriak Sam-kay dengan kalap.
Ia segera menyerbu ke arah Cie Kiat, diikuti oleh kawan-kawannya. Dalam waktu singkat, Cie Kiat telah diserang dari berbagai penjuru. Namun, pemuda itu tidak gentar; ia tetap bersikap tenang. Saat serangan-serangan tersebut hampir mengenai dirinya, Cie Kiat mengeluarkan seruan panjang dan memutar kedua tangannya membentuk lingkaran di sekeliling tubuhnya.
Saat lawan-lawannya sudah dekat, Cie Kiat mengeluarkan siulan yang sangat panjang. Suara siulan itu menggema di sekitar tempat tersebut karena ia mengerahkan tenaga *Lwee-kang* yang telah sempurna. Bersamaan dengan itu, kedua tangannya bergerak mengikuti jurus-jurus yang baru ia ciptakan saat menyaksikan pertempuran antara Kim Tok dan Ceng-tok-jie. Walaupun jurus yang diciptakan Cie Kiat sangat sederhana dan hanya terdiri dari empat belas gerakan, hasilnya sangat luar biasa!
Hampir bersamaan, tujuh sosok pengemis terpental dan ambruk dengan luka berat. Disusul kemudian dengan jeritan menyayat, lima pengemis lainnya juga tersungkur di tanah dengan menderita luka-luka. Tak ada seorang pun di antara mereka yang tewas oleh tangkisan tangan Cie Kiat kali ini.
Sam-kay dan Cong Teng San melongo menyaksikan kehebatan peristiwa tersebut. Mereka berdiri terpaku seperti dua patung tak bernyawa dengan wajah yang sangat pucat. Beberapa pengemis lain yang sempat melompat mundur untuk menghindar juga berdiri dengan wajah pucat menyerupai mayat hidup. Cie Kiat tetap berdiri dengan tenang, namun kini wajahnya memancarkan kewibawaan yang sangat besar.
Ketujuh belas jago yang diundang Lay Tat turut tercengang. Mereka melihat gerakan pemuda itu sangat sederhana, namun tidak menduga hasilnya akan sehebat itu. Malah yang membuat mereka heran, mereka merasa pernah melihat gerakan-gerakan tersebut sebelumnya. "Dari aliran manakah pemuda ini?" pikir mereka dengan penuh tanya.
Para pengemis yang terluka berusaha merangkak bangun. Lay Tat sendiri kaget mendengar jeritan-jeritan itu, dan ia lebih terkejut lagi saat melihat anak buahnya bergelimpangan. Hatinya mencelos; ia terkesiap menyaksikan kehebatan ilmu silat Cie Kiat. Tadinya, meski ia menduga Cie Kiat memiliki kepandaian tinggi, ia tidak pernah membayangkan pemuda itu memiliki ilmu yang luar biasa sehebat ini.
Cie Kiat sendiri merasa heran sekaligus takjub. Ia hanya menggunakan tiga bagian tenaga *Lwee-kang*-nya. Jika ia menggunakan seluruh tenaga dalamnya, para pengemis itu pasti sudah menjadi mayat semua. Jelas sekali bahwa ilmu silat yang baru ia ciptakan—dan belum sempat diberi nama itu—sangatlah hebat.
Lay Tat segera melompat menjauhi Dedemit Hidup. Si gemuk Dedemit Hidup pun merasa kagum sekaligus heran melihat kehebatan pemuda yang masih sangat muda itu. Pertempuran terhenti seketika. Semua mata memandang Cie Kiat dengan tatapan kagum dan heran. Ciang Yang Cin-jin bahkan menghampiri Cie Kiat sambil merangkapkan kedua tangannya.
"Hebat sekali tenaga Sicu dan kepandaian yang telah Sicu tunjukkan!" puji sang Too-jin dengan setulus hati.