Chapter 32
Pin-to ingin sekali mengetahui nama guru Sie-cu yang harum dan shenya yang besar, atau gelarannya yang menggetarkan dunia persilatan. Tentulah ada muridnya yang lihai dan tentu ada gurunya yang luar biasa! Cie Kiat menjadi sibuk membalas pemberian hormat dari si Too-jin.
Cepat-cepat ia mengeluarkan kata-kata merendah. Kolektor E-Book 134 Ia menjadi liat dan kikuk sendirinya.
"Mengenai nama In-su, guru yang berbudi, tidak dapat sembarangan Anda sebutkan!" kata Cie Kiat dengan ramah. "Anda mempunyai suatu kesulitan yang tidak bisa dijelaskan di tempat semacam ini. Maka dari itu, saya harap Anda mau memaafkannya!"
Mendengar perkataan Cie Kiat, Ciang Yang Cin-jin tertawa. Ia percaya bahwa pemuda bermarga Lie itu memang memiliki kesulitan untuk menyebutkan nama gurunya di hadapan orang banyak. Maka dari itu, Ciang Yang Cin-jin tidak mendesaknya terus.
Belum lagi ia menanyakan sesuatu lagi, It Kiang Sian-su, pendeta dari Siauw Lim-sie, telah datang menghampiri Cie Kiat. "Sian-chay... Sian-chay!" memuji si Hwee-shio kepada sang Buddha. "Hebat sekali ilmu silat Sie-cu! Kalau memang tadi jiwa Sie-cu dikuasai setan, pasti pengemis-pengemis itu telah bergelimpangan mampus! Untung saja Sie-cu ternyata welas asih, sehingga masih mempunyai perasaan kasihan dan hanya menghajar serta memberikan pelajaran yang pahit kepada mereka! Bagus sekali cara Sie-cu itu! Aku, It Kiang, si pertapa tua yang sudah mau mampus ini, dengan ini memberikan kata-kata pujian dan selamat kepada sang Buddha agar Sie-cu diberkahi panjang umur!"
Dan Hwee-shio Siauw Lim-sie ini, It Kiang Sian-su, telah merangkapkan tangannya. Ia memberi hormat kepada pemuda bermarga Lie ini. Cie Kiat menjadi gelagapan, cepat-cepat ia membalas penghormatan Hwee-shio itu. Biar bagaimana pun, Lie Cie Kiat adalah angkatan golongan muda. Maka dari itu, sebetulnya tidak pantas It Kiang Sian-su, yang termasuk golongan tua, yang memberikan penghormatan terlebih dahulu kepada Cie Kiat. Tetapi berhubung terdesak oleh rasa kagumnya, maka Hwee-shio itu tidak memperdulikan adat peradaban lagi.
Setelah membalas penghormatan si Hwee-shio, Cie Kiat juga cepat-cepat menjura kepada jago-jago lainnya yang memberikan selamat kepadanya. Di antara ketujuh belas jago itu, tampak Koay-hiap In-jin, si manusia aneh. Koay-hiap In-jin adalah seorang pendekar yang selalu membantu si lemah dari gencetan si kuat tapi jahat.
"Kalau memang ada arak, tentu kita akan lebih gembira lagi! Sayangnya arak di daerah ini telah kering terisap oleh kurcaci-kurcaci yang tidak tahu diri...!" kata Koay-hiap In-jin dengan mulut tertawa lebar.
Cie Kiat menjadi saling berkenalan dengan orang-orang atau jago-jago itu. Sedang pemuda itu repot melayani Peng-im Nie-kauw yang mendesak terus agar pemuda itu menerangkan siapa gurunya, maka pengemis-pengemis yang terluka itu telah merangkak bangun dibantu oleh Sam-kay dan Cong Teng San serta kawan-kawan mereka yang lainnya.
Kolektor E-Book 135 Berbeda dengan It Kiang dan Ciang Yang Cin-jin, begitu pemuda bermarga Lie ini keberatan untuk menyebutkan nama gurunya, maka kedua orang pertapaan ini mengetahui bahwa pemuda itu pasti mempunyai suatu kesulitan sehingga ia tidak mau menyebutkan nama gurunya. Tetapi Nie-kauw Peng-im Loo-nie berbeda sekali. Walaupun pemuda bermarga Lie ini telah berulang kali mengatakan bahwa ia masih mempunyai suatu urusan yang belum diselesaikan, sehingga ia tidak boleh memberitahukan siapa gurunya pada orang sembarangan, dan ia juga secara tidak langsung mengatakan bahwa dirinya memang telah dipesan oleh gurunya itu untuk tidak sembarangan memberitahukan gurunya itu kepada orang lain. Tetapi Peng-im Loo-nie tidak mau mengerti juga. Ia mendesak terus kepada pemuda itu, agar Cie Kiat mau menerangkan siapa gurunya.
Juga yang lainnya akhirnya ikut-ikutan meminta agar pemuda itu menyebutkan nama gurunya, karena mereka kagum sekali kepada Cie Kiat. Walaupun usia pemuda bermarga Lie ini masih sangat muda, tetapi kepandaiannya telah luar biasa sekali! Maka dari itu bisa dibayangkan, tentunya guru pemuda itu hebat sekali, tentunya salah seorang tokoh rimba persilatan yang mempunyai kepandaian luar biasa sekali! Namun, biarpun telah didesak begitu macam, toh tetap Cie Kiat keberatan untuk menyebutkan nama gurunya.
Saking kewalahan akhirnya Cie Kiat berkata, "Maafkanlah para Loo-cianpwee... bukannya saya tidak mau memberitahukan kepada para Loo-cianpwee nama In-su, guruku yang baik budi, tetapi memang saya mempunyai suatu kesulitan yang sukar untuk dijelaskan! Nanti kalau memang urusan saya telah selesai, maka saya pasti akan mendatangi tempat Loo-cianpwee seorang demi seorang... untuk meminta petunjuk-petunjuk dari Loo-cianpwee mengenai kekurangan diri saya!"
Semua jago dari berbagai golongan itu menjadi berubah wajah mereka, memperlihatkan kekecewaan yang sangat. Tetapi akhirnya mereka tidak mendesak terus. Tiba-tiba, dikala Cie Kiat sedang bercakap-cakap dengan Koay-hiap In-jin yang banyak bertanya ini dan itu, dengan sikapnya yang periang dan lucu, tampak mendatangi Lay Tat dengan wajah yang merah padam, menyeramkan serta tidak enak sekali dipandang wajah Lay Tat, sebab selain muka itu telah rusak oleh bekas bacokan-bacokan dari senjata tajam, juga memang Lay Tat sedang murka. Cie Kiat melihat kedatangan Lay Tat ke arahnya dengan wajah yang tidak sedap dipandang begitu, tetapi pemuda bermarga Lie ini tetap membawa sikap yang tenang sekali. Ia pura-pura sedang asyik bercakap-cakap dengan jago dari berbagai golongan itu, seakan juga ia tidak melihat kedatangan Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut...!
* * * Kolektor E-Book 136
Lay Tat diiringi oleh pengemis-pengemis yang tidak terluka. Pengemis-pengemis itu mengikuti di belakang Kauw-cu mereka. Sam-kay dan Cong Teng San juga tampak mengikuti di belakang Oen Lay Tat, Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut. Wajah Lay Tat sangat kecut sekali. Setelah datang menghampiri dekat sekali kepada Cie Kiat, ia membentak dengan suara yang mengguntur keras. "Hei orang bermarga Lie!" bentaknya dengan suara yang menggelegar parau, menyeramkan sekali. "Kau adalah tamuku yang kuundang secara baik-baik, mengapa sekarang kau malah telah mengacau dan mengubrak-abrik orang-orangku? Apakah perlayanan kami yang diberikan kepadamu masih kurang memuaskan, sehingga kau telah membuat onar begitu rupa?"
Cie Kiat tertawa tawar. "Hmm... aku tidak memihak pihak mana pun... aku tidak mau terdapat suatu kecurangan di antara kalian, karena Hak-seng memang tidak begitu gembira kalau melihat ada orang yang selalu kerjanya hanya membokong orang dengan sikap pengecutnya. Maka dari itu, kalau memang orang itu menemui kebinasaannya, itu sudah wajar. Ia harus menerima ganjarannya!!"
Wajah Lay Tat menjadi berubah merah padam, rupanya ia mendongkol sekali mendengar perkataan Cie Kiat. "Siapa orangnya yang kau katakan telah berbuat suatu kecurangan dan selalu menyerang secara membokong?" bentak orang bermarga Oen itu dengan suara yang keras, menyatakan ketidak senangan hatinya.
Cie Kiat tersenyum. "Termasuk kau juga...!" kata Cie Kiat kemudian. "Jelas sekali si gemuk itu mencari dirimu, tetapi kau bersembunyi di belakang orang-orangmu, sehingga orang-orangmu yang telah membela dirimu itu menjadi korban dari si gemuk itu...! Kau bukan seorang Ho-han sejati, yang mau menghadapi persoalan yang rumit untuk dipecahkan dan dihadapi oleh dirinya sendiri!"
Wajah Lay Tat menjadi berubah merah padam, ia gusar dan murka sekali. "Kau... kau..." Gemetar sekali suara Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut, karena ia sedang murka dan gusar sekali. Suasana pada saat itu menjadi sangat tegang sekali. Pengemis-pengemis yang menjadi anak buah dari Lay Tat telah bersiap-siap akan melancarkan serangan mereka kepada Cie Kiat. Begitu juga Sam-kay dan Cong Teng San, mereka telah maju ke depan, mereka menantikan perintah dari Lay Tat untuk menyerbu menyerang Cie Kiat. Tetapi Cie Kiat sangat tenang sekali. Ia memang telah menduga bahwa dirinya tentu akan dikepung dan dikeroyok oleh pengemis-pengemis itu.
Kolektor E-Book 137
Muka Lay Tat juga telah bersemu merah matang, ia sedang murka, dan orang bermarga Oen ini memang akan menerjang menyerang Cie Kiat. Tetapi di dalam suasana yang tegang begitu, tiba-tiba It Kiang Sian-su telah melompat ke depan. "Omietohud! Omietohud!!" Si Hwee-shio menyebut nama sang Buddha. "Sian-chay... janganlah Sie-cu sekalian dibawa oleh hawa amarah setan... lebih baik kita mengambil jalan damai...! Bukankah Oen Kauw-cu menjanjikan kami untuk memperlihatkan semacam mustika yang langka dan tidak ada duanya di dalam dunia ini? Maka dari itu, marilah kita kembali ke dalam untuk melihat benda mustika yang Oen Kauw-cu janjikan itu!"
"Benar!" menimpali Peng-im Loo-nie beserta beberapa orang jago lainnya. "Memang benar perkataan It Kiang Sian-su!" Begitu juga Ciang Yang Cin-jin, ia telah memberikan kata-kata untuk mendinginkan suasana. Akhirnya wajah Lay Tat menjadi berubah sabar lagi, walaupun masih tampak kekesalan yang membayang di mukanya.
"Bagaimana Oen Kauw-cu?" tanya Ciang Yang Cin-jin waktu ia melihat Lay Tat berdiam diri saja. Akhirnya Lay Tat menghela napas. "Ya, kalian telah kuundang dengan cara baik-baik untuk ikut menyaksikan sebuah benda pusaka yang mungkin tiada duanya di dalam rimba persilatan, toh akhirnya terjadi suatu kericuhan semacam ini yang mengganggu ketenangan kita! Hmmmm... kalau memang aku tidak memandang pada It Kiang Sian-su serta jago-jago lainnya, tentu aku akan menarik panjang urusan ini!!" Dan setelah berkata begitu, Oen Lay Tat menoleh kepada Sam-kay. "Bubarlah kalian, karena sebentar lagi kita akan memperlihatkan benda mustika itu pada mereka! Juga biarkanlah si Dedemit Hidup yang sudah mau mampus itu ikut masuk ke dalam, kalau memang ia ingin ikut menyaksikan benda mustika itu juga!" kata Kauw-cu dari perkumpulan pengemis Pian-sia-kay.