Chapter 33
Para pengemis itu mengiyakan, dengan cepat mereka bubar.
Sam-kay dan Cong Teng San juga telah melompat masuk ke dalam sumur itu untuk membereskan keadaan di dalam ruangan dari bangunan empat persegi tersebut, yang mungkin markas dari perkumpulan pengemis Pian-sia-kay.
Sedangkan Oen Lay Tat telah menoleh kepada Cie Kiat. Ia mendengus, tetapi tidak mengatakan sepatah kata pun.
Kemudian, ia memandang kepada jago-jago silat lainnya.
"Ayo kita masuk!" katanya dengan suara yang sangat nyaring. Kemudian, ia juga menoleh kepada Si Dedemit Hidup.
"Kalau memang kau ingin menyaksikan juga benda mustika yang telah kutemukan pada beberapa saat yang lalu, kau boleh ikut masuk. Tetapi, kalau memang kau tidak mau, pergi cepat-cepat kau menggelinding dari tempat ini!" Si Dedemit Hidup tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mendengus sambil tersenyum mengejek.
Kemudian, dengan beriring-iringan, mereka kembali melompat masuk ke dalam sumur itu.
Cie Kiat berdiri ragu-ragu sesaat. Sebetulnya, ia sudah tidak mempunyai minat untuk ikut menyaksikan benda yang disebutnya mustika itu.
Tetapi akhirnya, setelah berdiri ragu-ragu sesaat lamanya di situ, Cie Kiat ikut melompat masuk ke dalam sumur itu juga.
Setelah berada di dalam ruangan dari bangunan empat persegi, semuanya memilih tempat masing-masing.
Sedangkan Oen Lay Tat telah duduk kembali di kursi yang beralaskan kulit macan.
Orang bermarga Oen itu menepuk tangannya tiga kali.
"Keluarkan benda mustika itu!" kata Lay Tat dengan suara yang nyaring. Suaranya menggema di dalam ruangan tersebut.
Terdengar orang menyahuti. Kemudian, tampak empat orang gadis keluar dari sebuah ruangan.
Mereka melangkah ke tengah ruangan sambil memukul tambur kecil.
Di belakang keempat gadis tersebut, tampak mengikuti enam orang lelaki berpakaian bersih, bukan berdandan seperti pengemis-pengemis yang menjadi anak buah dari Lay Tat.
Di tangan salah seorang lelaki itu, yang berusia masih sangat muda sekali, mungkin baru berusia dua puluh tahun, tampak memegang sebuah nampan yang lebar.
Di atas nampan itu, tampak sebuah benda bulat yang besar, ditutupi oleh sehelai kain berwarna putih.
Jago-jago yang ada di dalam ruangan tersebut tidak mengetahui benda apa yang ada di balik tutupan kain putih di atas nampan itu.
Sedang semua jago-jago itu menahan napas memandang dengan penuh perhatian kepada nampan yang dibawa oleh orangnya Oen Lay Tat, Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut malah tertawa.
"Letakkan di dekat Ceng-tok-jie!" kata Lay Tat dengan suara yang nyaring.
Pada saat itu, Ceng-tok-jie sedang mendekam di nampannya. Tubuhnya tidak bergerak-gerak, hanya matanya saja yang berkilat-kilat tanpa henti.
Si gemuk Dedemit Hidup pun memandang ke arah Ceng-tok-jie dengan mata yang tidak berkedip. Mungkin si gemuk Dedemit Hidup ini sedang memikirkan sesuatu.
Orang Oen Lay Tat yang membawa nampan itu mengiyakan perintah Lay Tat. Ia menuju ke dekat Ceng-tok-jie setelah menekuk sebelah kakinya memberi hormat kepada Lay Tat.
Empat gadis yang tadi keluar terlebih dahulu telah berdiri di tepian ruangan itu.
Sedangkan lima lelaki lainnya juga telah berdiri di dekat keempat gadis itu.
Anak muda yang membawa nampan berisi benda yang dikatakan oleh Lay Tat adalah benda mustika, telah meletakkan nampan itu di sisi Ceng-tok-jie.
Binatang Ceng-tok-jie itu terus mendekam dengan mata yang berkilat-kilat mengawasi ke arah orang yang membawa nampan. Tetapi, tubuhnya tetap tidak bergerak; ia mendekam diam saja.
Oen Lay Tat tertawa lagi.
"Dibuka tutupnya!" perintah Lay Tat saat ia melihat orang itu telah meletakkan nampan tersebut.
Anak muda yang membawa nampan tersebut kembali mengiyakan. Ia membuka tutup kain yang menyelimuti nampan yang dibawanya.
Begitu tutup kain itu terbuka, mata semua orang yang ada di situ, di dalam ruangan tersebut, jadi mengeluarkan seruan tertahan.
Mereka sangat terkejut sekali akan benda yang diperlihatkan kepada mereka.
Dengan mata terbuka lebar-lebar, semua jago-jago silat itu mengawasi benda yang ada di atas nampan, di depan mereka, di tengah-tengah ruangan tersebut.
Ternyata, benda itu adalah sebatang pedang pendek yang seluruh kerangkanya terdapat intan permata yang berkelap-kelip mengeluarkan cahaya sangat terang.
Mengapa jago-jago dari berbagai golongan yang termasuk tokoh-tokoh di dalam rimba persilatan yang mempunyai kepandaian tidak rendah itu bisa begitu terkejut melihat pedang pendek tersebut?
Karena semua orang tersebut mengetahui bahwa pedang pendek yang kerangkanya ditaburi intan permata itu adalah Pedang Tat-mo Kiam.
Pedang ini sebetulnya adalah pedang milik Tat-mo Cauw-su, pendiri Siauw Lim-sie.
Saat datang ke daratan Tionggoan dari India, Tat-mo Cauw-su telah membawa sebatang pedang yang luar biasa sekali, yang diberi nama Pedang Tat-mo Kiam.
Bahkan, kehebatan pedang tersebut telah diketahui oleh seluruh jago-jago di daratan Tionggoan, baik kehebatan kepandaian Tat-mo Cauw-su sendiri maupun kehebatan pedang ini.
Pedang Tat-mo Kiam tersebut berukuran kecil, dan bilah pedang itu sangat tumpul.
Tetapi, karena pedang ini mempunyai khasiat yang hebat, jika digunakan oleh orang yang mempunyai kepandaian tinggi, pasti pedang ini akan berubah menjadi pedang nomor wahid di daratan Tionggoan.
Walaupun pedang mustika setajam apa pun, jika terbentur dengan Pedang Tat-mo Kiam, pasti pedang mustika itu akan terpukul patah dan terbas putus.
Beberapa puluh tahun yang lalu, Pedang Tat-mo Kiam telah lenyap dari Kuil Siauw Lim-sie, sehingga hal ini menggegerkan Hwee-shio Siauw dan jago-jago di dalam rimba persilatan.
Mereka semuanya mencari pedang itu, dengan maksud untuk memilikinya jika memang rezeki mereka baik, dan bisa menemukannya.
Disebabkan mencari pedang pusaka tersebut, telah jatuh banyak korban yang menyebabkan banjir darah di dalam dunia persilatan.
Banyak jago-jago yang sudah mengasingkan diri dari keramaian dunia, kembali terjun ikut mencari pedang mustika itu.
Semua orang di dalam Bu Lim atau Kang-ouw itu tergiur untuk memiliki pedang pusaka ini. Karena dengan memiliki pedang itu, mereka akan menjadi seorang jago nomor satu di permukaan bumi atau di dalam kalangan dunia persilatan (Kang-ouw), menjadi seorang jago nomor wahid.
Tetapi, semakin lama pergolakan mencari Pedang Tat-mo Kiam itu dari hari ke hari jadi semakin hebat, sehingga banyak sekali memakan korban.
Pedang Tat-mo Kiam tetap lenyap tak jelas keberadaannya, dan tidak ada seorang pun di antara jago-jago itu yang bisa menemukan pedang pusaka itu.
Mereka selalu bertempur memperebutkan pedang itu, seperti berebut pepesan kosong, karena pedang itu sendiri tidak diketahui entah di mana!
Maka dari itu, sangat mengherankan sekali, setelah lenyap beberapa puluh tahun, sekarang tahu-tahu pedang mustika itu berada di tangan Oen Lay Tat.
Sebab itulah tidak heran jika jago-jago dari berbagai golongan yang diundang oleh Lay Tat jadi kaget dan tercengang heran.
Melihat semua orang hanya memandang tidak berkedip, Lay Tat pun tertawa.
Ia menoleh kepada It Kiang Sian-su.
"Loo Su-hu!" kata Lay Tat dengan suara yang nyaring.
"Apakah Pedang Tat-mo Kiam itu adalah Pedang Tat-mo Kiam yang asli?" It Kiang Sian-su sedang menatap tercengang kepada pedang itu. Saat ditanya begitu oleh Lay Tat, ia jadi seperti baru tersadar dari mimpinya.
"Benar! Pedang ini memang Pedang Tat-mo Kiam!" Ia menyahuti dengan cepat.
"Saat Pin-ceng berusia lima belas tahun dan masih berdiam di Kuil Siauw Lim-sie, Pin-ceng pernah menyaksikan pedang ini!" Lay Tat mengangguk senang.
"Bagus! Dan, memang aku pun telah menduga bahwa pedang ini adalah Pedang Tat-mo Kiam yang asli!" kata ia lagi dengan suara yang nyaring.
"Tetapi karena aku belum pernah menyaksikan, maka aku telah mengundang saudara-saudara sekalian untuk ikut menyaksikan apakah pedang ini benar-benar adalah Pedang Tat-mo Kiam!" Setelah berkata begitu, Kauw-cu bermarga Oen itu tertawa lagi dengan suara yang terbahak-bahak. Ini menandakan ia sangat bergembira sekali.
"Khasiat pedang ini sangat hebat sekali!" Lay Tat menjelaskan lagi.
"Kalau memang pedang tersebut dicabut dari sarungnya, maka semua binatang berbisa di permukaan bumi ini akan sangat gentar melihat cahaya yang dipantulkan oleh bilah pedang tersebut. Nah, mari kita buktikan, Ceng-tok-jie adalah binatang peliharaanku yang cukup hebat dan sangat beracun. Kita akan melihat ia sangat ketakutan melihat cahaya yang dipantulkan oleh tubuh Pedang Tat-mo Kiam!" Setelah berkata begitu, Lay Tat mengibaskan tangannya.
Orang yang berdiri di samping Pedang Tat-mo Kiam itu mengangguk. Ia mengerti akan arti kibasan tangan Lay Tat, yang berarti ia harus memulai tugasnya.
Anak muda tersebut berjongkok di sisi pedang itu. Perlahan-lahan ia mencabut pedang tersebut dari sarungnya, dan seketika itu orang-orang di dalam ruangan jadi silau akan cahaya yang dipantulkan oleh pedang itu!
Bilah Pedang Tat-mo Kiam seperti memantulkan cahaya api.
Jago-jago dari berbagai golongan yang ada di ruangan itu memuji semuanya.
Bahkan, yang menarik perhatian adalah biarpun bilah pedang itu tampak kecil dan pendek, serta tumpul di kedua sisinya, Pedang Tat-mo Kiam tersebut sangat menarik.
Tetapi, yang lebih mengherankan adalah saat pedang tersebut dicabut oleh si anak muda, saat cahaya pedang itu memantul hebat dari bilahnya, maka dengan tidak terduga, Ceng-tok-jie telah melompat melesat sangat tinggi, hampir satu tombak.
Sambil melompat begitu, binatang tersebut mengeluarkan suara pekikan seperti ia sangat kaget.