Chapter 34
Waktu sudah turun di lantai kembali, binatang ini jadi teringsut-ingsut ke belakang dengan rupa yang sangat ketakutan.
Lay Tat tertawa.
"Lihatlah! Betapa jerinya Ceng-tok-jie kepada cahaya pedang itu! Maka dari itu, kalau kita sedang berjalan di jalan yang terdapat banyak sekali binatang berbisa, atau kita sedang berhadapan dengan binatang buas mana saja, maka kita cukup mencabut pedang ini, semuanya pasti akan melarikan diri ketakutan. Kita tidak usah jeri kalau nanti tergigit oleh binatang berbisa, karena mereka tidak akan ada yang berani mendekati kita!"
Jago-jago dari berbagai golongan mengawasi dengan mata mengiler kepada pedang itu. Cie Kiat sendiri merasa kagum akan pedang tersebut. Dia melihat betapa pedang ini mempunyai daya tarik yang hebat sekali. Dari gurunya, memang Cie Kiat pernah mendengar cerita tentang pedang Tat-mo Kiam tersebut. Anak muda marga Lie itu tidak menduga sedikit pun bahwa pedang ini ternyata sangat hebat; selain mempunyai khasiat yang luar biasa, bentuknya pun sangat aneh.
Pada saat itu, dengan tidak terduga, tahu-tahu si gemuk Dedemit Hidup telah melompat dengan tubuh yang sangat gesit ke arah anak muda yang memegang pedang pusaka itu. Sambil melompat menubruk, si gemuk juga mengulurkan tangannya untuk merebut pedang tersebut dari tangan si anak muda. Semua orang terkejut, tetapi Lay Tat tetap duduk di kursinya dengan tenang. Rupanya dia memang telah menduga bahwa akan terjadi hal semacam ini.
Sedangkan si anak muda yang memegang pedang itu melihat si gemuk Dedemit Hidup telah melompat ke arahnya dengan kedua tangan terulur ingin merebut pedang Tat-mo Kiam yang ada di tangannya, dia tidak menjadi gugup. Dengan cepat, di kala tubuh si gemuk itu sedang melompat, dia juga telah melompat ke arah lain. Dan saat dia melompat, tangannya bergerak melemparkan pedang tersebut ke arah Lay Tat.
Kauw-cu Pian-sia-kay marga Oen tersebut telah mengulurkan tangannya menyambut pedang itu sambil tertawa. Si gemuk jadi mengeluarkan suara tertahan waktu tubuhnya sedang melayang, karena dia kecele. Dan waktu dia turun ke lantai kembali, tahu-tahu dirinya telah dikurung oleh keempat orang gadis dan keenam orang anak muda yang tadi membawa nampan itu.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kesepuluh orang ini—empat gadis dan enam lelaki—telah menyerang si gemuk. Si gemuk menganggap hal ini tidak begitu berat; menghadapi mereka yang masih berusia muda, maka sudah jelas kepandaian mereka tidak begitu tinggi. Tetapi saat dirinya diserang oleh kesepuluh orang tersebut, si gemuk Dedemit Hidup jadi terkejut sendiri karena mereka menyerang dengan cara bergilir dan mengepung dirinya dengan sangat rapat. Malah yang mengejutkan si gemuk, dirinya terkurung dan tidak bisa meloloskan diri dari kepungan sepuluh orang itu.
Seketika itu juga si gemuk Dedemit Hidup menyadari bahwa dirinya dikepung oleh kesepuluh orang itu dengan menggunakan formasi yang selalu menyerang dengan tolong-menolong, sehingga dia selalu tidak bisa menyerang salah seorang di antara kesepuluh orang itu dengan benar. Setiap kali si gemuk Dedemit Hidup mau menyerang salah seorang pengepungnya, dia malah selalu diserang pula oleh beberapa orang dari berbagai jurusan, sehingga mau tidak mau dia harus membatalkan serangannya itu.
Lay Tat tertawa gelak-gelak sambil mempermainkan pedang Tat-mo Kiam itu sembari melirik ke arah jago-jago dari berbagai golongan yang tengah mengawasi pertempuran si gemuk melawan kesepuluh anak buah Lay Tat dengan penuh perhatian.
"Biar bagaimana, si gemuk yang sudah mau mampus itu tidak akan bisa meloloskan diri dari kepungan Formasi Tat-mo orang-orangku itu!" kata Lay Tat dengan suara perlahan. "Hmmm, coba kalian lihat, sebentar lagi babi gemuk yang sudah mau masuk lubang kubur itu akan mampus di tangan orang-orangku! Jangankan dia seorang diri, sedangkan kalau dia berjumlah dua puluh orang pun, tidak mungkin orang yang terkepung itu akan dapat meloloskan diri dari Formasi Tat-mo!"
Cie Kiat melirik ke arah Lay Tat, tetapi anak muda marga Lie itu tidak mengatakan apa-apa. Kemudian Cie Kiat kembali mengawasi jalannya pertempuran itu lagi. Jago-jago lainnya juga tidak mengatakan sepatah kata pun; mereka sedang diliputi oleh bermacam-macam pikiran. Ada yang sedang memikirkan cara merebut pedang Tat-mo Kiam itu dari tangan Kauw-cu Pian-sia-kay, ada pula yang ingin menantikan terjadinya suatu kekeruhan sehingga dia bisa mengail di air keruh, merebut pedang Tat-mo Kiam setelah terjadi pertempuran hebat!
Memang harus diketahui, pedang Tat-mo Kiam itu mempunyai daya tarik yang luar biasa. Dahulu saja, begitu para jago di kalangan Bu Lim dan Kang-ouw mendengar pedang Tat-mo Kiam tersebut lenyap dari kuil Siauw Lim-sie, mereka semua telah bergolak dan mencari untuk memperebutkan pedang tersebut. Malah banyak jago yang mengorbankan diri mereka hanya untuk memiliki pedang Tat-mo Kiam. Maka tidak heran kalau kali ini, begitu mereka melihat pedang pusaka itu berada di tangan Lay Tat, mereka jadi sangat tergiur untuk memperebutkannya!
Sebetulnya, Lay Tat mengundang orang-orang ini juga karena mengandung suatu maksud. Dia sengaja mengundang jago-jago tersebut hanya untuk membanggakan bahwa dia telah memperoleh pedang pusaka itu, dengan maksud agar orang-orang tersebut mau tunduk dan bekerja untuk dirinya. Tetapi dia telah mengambil jalan yang salah, salah besar sekali. Sebab dengan dipertontonkan pedang itu kepada para jago, timbul juga rasa ingin memiliki dari jago-jago tersebut.
Lebih-lebih jago-jago yang diundang oleh Lay Tat umumnya adalah jago dari golongan Hek yang mengambil jalan hitam, dan semuanya rata-rata sudah tidak diakui sebagai anggota dari perguruan mereka sendiri. Tidak heran kalau di hati jago-jago dari berbagai golongan itu timbul angan-angan untuk merebut pedang pusaka itu dari tangan Lay Tat.
It Kiang Sian-su sendiri, pendeta dari Siauw Lim-sie ini, telah timbul pikiran buruknya. Dia sangat ingin memiliki pedang Tat-mo Kiam itu dan merebutnya dari tangan Lay Tat. Harus diketahui, It Kiang Sian-su telah diusir dari perguruan Siauw Lim-sie karena kelakuannya yang sangat buruk. Maka dia berangan-angan dengan merebut pedang Tat-mo Kiam itu, mungkin dia akan dapat menjagoi dunia persilatan serta membalas sakit hatinya akibat diusir oleh Hong-thio, ketua dari Siauw Lim-sie tersebut. Pengusiran dirinya dari kuil Siauw Lim-sie benar-benar telah menyakitkan hatinya, dan dia memang berjanji suatu waktu nanti—setelah dia merasa mempunyai kepandaian yang cukup untuk menghadapi tokoh-tokoh Siauw Lim—dia akan kembali untuk melakukan pembalasan dendam.
Maka dengan sendirinya, begitu melihat pedang Tat-mo Kiam tersebut, dia jadi sangat tergiur. Hal ini menyebabkan dia sering melirik ke arah Lay Tat yang selalu mempermainkan pedang itu dengan tenang sambil menyaksikan pertempuran yang sedang berlangsung di antara anak buahnya dengan si gemuk Dedemit Hidup. Mata It Kiang Sian-su berkilat tajam; dia ingin sekali memiliki pedang Tat-mo Kiam tersebut. Maka dari itu, It Kiang Sian-su menggeser kakinya sedikit demi sedikit dan sangat perlahan, seolah tidak ingin memperlihatkan sikap yang mencurigakan, untuk mendekati Lay Tat.
Sedangkan pertempuran itu sedang berlangsung dengan hebatnya antara si gemuk melawan sepuluh murid dari partai pengemis Pian-sia-kay, yang bertempur dengan menggunakan formasi yang mengepung si Dedemit Hidup. Tampaknya si gemuk Dedemit Hidup jadi sangat terdesak oleh serangan-serangan dari sepuluh orang dari partai pengemis tersebut. Dia selalu melompat mundur dan berusaha menangkis setiap serangan yang dilancarkan kepadanya. Hal ini sudah terlihat oleh semua jago dari berbagai golongan yang berada di situ dengan perasaan kagum kepada pengepung si gemuk tersebut.
Biar bagaimana lihainya si gemuk Dedemit Hidup, tampaknya dia benar-benar kewalahan menghadapi formasi dari Pian-sia-kay. Sebetulnya sebagai seorang jago yang mempunyai kepandaian sangat tinggi, seharusnya si gemuk tidak perlu sampai terdesak hebat. Namun karena dia memang tidak mengetahui, atau tegasnya belum mengetahui formasi apa yang sedang dihadapinya ini, yang digunakan oleh keempat gadis dan keenam lelaki itu, maka dia jadi bingung sesaat dan selalu terdesak.
Berulang kali si gemuk Dedemit Hidup mengeluarkan seruan-seruan sengit; dia juga sering berjingkrak karena saking gusarnya. Biar bagaimana pun, dia penasaran sekali tidak bisa merobohkan kesepuluh orang pengepungnya yang tampaknya masih sangat muda belia dan mungkin tidak mempunyai kepandaian yang tinggi. Hanya disebabkan kesepuluh orang itu selalu bertempur dengan kompak dan mengepung secara rapat, maka terdesaklah si gemuk Dedemit Hidup.
Cie Kiat yang menyaksikan jalannya pertempuran tersebut mengawasi dengan teliti. Tiba-tiba hati anak muda itu tergerak. Dia membelalakkan matanya lebar-lebar, terus mengawasi cara-cara kesepuluh orang itu menyerang. Di otaknya, orang marga Lie ini telah memecahkan setiap kepungan dari kesepuluh orang itu dengan menggunakan ilmu silat yang baru saja diciptakannya, yang dicangkok dari Ceng-tok-jie dan Kim Tok! Dan setiap serangan dari kesepuluh orang itu selalu saja dapat dipecahkan dan dipunahkan dengan menggunakan salah satu jurus dari ilmu silat yang baru diciptakannya itu.
Maka dari itu, dengan sendirinya Cie Kiat jadi girang luar biasa. Dengan begitu, dia tidak usah jeri untuk menghadapi kepungan kesepuluh orang anak buah Lay Tat. Cie Kiat pun duduk dengan tenang di tempatnya.