Chapter 35
Dedemit Hidup yang bertubuh gemuk dan tambun masih kewalahan menghadapi kesepuluh anak buah Lay Tat. Ia terdesak hebat oleh serangan beruntun mereka, sering kali terkejut karena dibokong. Perasaan gusar memenuhi hatinya.
Karena terdesak hebat, Dedemit Hidup menjadi nekat. Dengan pekikan nyaring yang memekakkan telinga, tubuh gemuknya melompat tinggi. Tangan kirinya mengayun ke arah kepala seorang gadis, sementara tangan kanannya menyerang dua pemuda di sisi kanan dengan serangan beruntun.
Kedua tangan Dedemit Hidup yang menyerang nekat itu luar biasa hebat. Jika serangannya mengenai sasaran, ketiga lawannya takkan punya ampun. Namun, saat lawan-lawannya terkejut dan hampir terkena serangan, dua serangan menyambar dari belakang dan satu serangan ruyung menyambar dari samping.
Jika ruyung itu berhasil menghajar iganya, tulang rusuknya akan remuk. Oleh karena itu, meskipun lihai dan kuat, Dedemit Hidup tidak berani meneruskan serangannya. Ia cepat-cepat menarik tangannya kembali. Dengan demikian, ia berhasil menghindari serangan lawan yang mengincar rusuknya, yang jika terkena berarti akan membawanya pada kebinasaan.
Lawan Dedemit Hidup juga melihat serangan mereka mengenai tempat kosong. Sebelum melompat mundur, tiga orang di antara mereka melanjutkan serangan bertubi-tubi, mengincar nyawa Dedemit Hidup. Jika terserang, ia pasti akan terbinasa atau setidaknya terluka parah.
Oen Lay Tat, yang melihat keadaan itu, tersenyum yakin orang-orangnya akan dapat merubuhkan Dedemit Hidup. Namun, saat ia tersenyum, ia dikejutkan oleh sesosok bayangan yang berkelebat di dekatnya. Ia cepat-cepat mengelak dari serangan tangan bayangan itu.
Pedang Tat-mo Kiam segera dicabutnya, membuat ruangan silau oleh pantulan cahayanya. Sambil mencabut pedang, Lay Tat berteriak mengguntur, ingin menyabetkan pedangnya ke arah bayangan yang kembali menerjangnya. Bayangan itu mengeluarkan seruan "ihhhh!" lalu melompat ke belakang untuk menghindari sabetan pedang Tat-mo Kiam.
Lay Tat membelalakkan mata untuk mengenali orang yang menerjangnya. Ia melihat seorang pria berkepala botak, seorang Hwee-shio, yang tak lain adalah It Kiang Sian-su.
"Kau It Kiang Sian-su?" tegur Lay Tat setelah melihat jelas siapa lawannya. Ia mendapati Hwee-shio berdiri dengan mata menyorot tajam ke arah pedang Tat-mo Kiam di tangannya.
"Mengapa kau punya pikiran buruk terhadap kami?" tanya Lay Tat, lalu tertawa.
It Kiang Sian-su mendengus, lalu menjejakkan kaki dan tubuhnya melesat ke arah Lay Tat. Dengan jurus Lopat-ciang, ia menyerang Lay Tat untuk merebut pedang Tat-mo Kiam. Namun, Lay Tat sudah bersiap. Meski Hwee-shio menyerang dengan hebat dan beruntun, Lay Tat selalu dapat mengelak. Ia lebih banyak mengelak, terkadang sambil tertawa dingin, seolah mengejek dan mempermainkan Hwee-shio.
Suatu kali, dengan pekikan menggelegar, It Kiang Sian-su menerjang nekat, mengulurkan tangan untuk merebut pedang. Lay Tat, melihat kenekatan itu, tertawa tawar. Dengan kecepatan luar biasa, saat Hwee-shio mengulurkan tangan untuk menyerang, Lay Tat menyabetkan pedangnya, menyerang arah tangan si Hwee-shio. Tangan pertapa dari Siauw Lim-sie itu terputus.
Kutung tangan It Kiang Sian-su jatuh ke lantai, darah merah membanjiri. It Kiang Sian-su menjerit kesakitan saat tangannya terputus oleh sabetan pedang Lay Tat. Saking sakitnya, ia melompat mundur sejauh mungkin, takut Lay Tat akan menyerangnya lagi.
Lay Tat tidak mengejar, hanya berdiri sambil tertawa dingin. "Bagaimana?" tegurnya mengejek. "Kau sebagai pertapa yang seharusnya mengambil jalan suci, ternyata punya niat busuk kepadaku. Maka dari itu, Tuhan memang maha adil dan penyayang. Orang jahat semacammu memang seharusnya terputus tangannya!"
It Kiang Sian-su terdiam dengan wajah pucat. Ia menderita kesakitan hebat karena tangannya terputus oleh pedang Tat-mo Kiam yang dipegang Lay Tat. Ia merasakan betapa tajamnya pedang itu, hingga tangannya terputus tanpa rasa sakit. Namun, setelah darah merah mengalir deras, barulah ia merasakan sakit yang luar biasa.
Dengan meringis menahan sakit, It Kiang Sian-su tetap berdiri dengan wajah pucat dan kaki gemetar. Semua jagoan melihat keadaannya. Cie Kiat juga melihat pertapa bekas murid Siauw Lim-sie itu merogoh sakunya mengeluarkan obat bubuk. Ia menaburkan obat bubuk berwarna kuning ke luka yang terkena pedang Tat-mo Kiam. Obat bubuk itu manjur, darah seketika berhenti mengalir. Hwee-shio memasukkan sisa obat bubuk kuning itu ke sakunya.
Lay Tat tertawa lagi. "Hei, pertapa busuk!" katanya nyaring. "Kau menunjukkan belangmu ternyata mengiler juga terhadap pedang Tat-mo Kiam ini. Maka dari itu, sebelum kubunuh, cepatlah menggelinding enyah!"
It Kiang Sian-su membalut luka di tangannya dengan sobekan jubahnya. Ia menoleh Lay Tat dengan tatapan tajam, alis berkerut dalam. "Kali ini aku kalah olehmu, tetapi ingatlah, suatu hari nanti aku pasti akan datang kemari lagi!" kata Hwee-shio dengan suara agak gemetar karena dendam.
Mendengar perkataan It Kiang Sian-su, Lay Tat tertawa. "Kau masih bisa banyak bicara?" bentaknya bengis. "Apakah kau menginginkan agar batang lehermu juga kutabas seperti tadi aku menabas lenganmu?"
Wajah It Kiang memerah padam, ia sangat berdendam pada Kauw-cu dari Pian-sia-kay. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia memutar tubuhnya dan menuju keluar ruangan, ke pintu sumur. Saat ia melangkah pergi, Lay Tat tertawa mengejek. "Hati-hati di jalan, karena aku khawatir kau akan menemui kebinasaanmu tanpa ada yang melihat, sehingga kau menjadi santapan burung gagak...!" kata Lay Tat nyaring, lalu tertawa keras lagi.
It Kiang Sian-su sangat murka, tetapi murka tanpa daya. Selain kepandaian Lay Tat yang berada di atasnya, Lay Tat juga memiliki senjata pusaka yang luar biasa tajam. Jika ia memaksakan diri melawannya, itu hanya akan membawanya pada kerugian. Oleh karena itu, It Kiang Sian-su tidak mau melayaninya, ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Sementara itu, Dedemit Hidup yang bertubuh gemuk dikepung hebat oleh kesepuluh anak buah Kauw-cu Oen Lay Tat. Setiap serangan yang dilancarkan oleh kesepuluh orang itu sangat berbahaya. Cara menyerang mereka yang bergilir itu teratur dan kompak. Tak heran jika Dedemit Hidup terdesak hebat. Keringat dingin membasahi kening dan wajahnya.
Sebagai jago yang kuat, Dedemit Hidup sebetulnya mengetahui bahwa kepandaian kesepuluh orang Pian-sia-kay yang mengepungnya tidak begitu tinggi. Namun, karena mereka mengepung dengan formasi ketat dan rapat, serta kerja sama yang kompak, ia terkepung seperti itu. Setiap kali Dedemit Hidup melancarkan serangan pada salah seorang dari mereka, beberapa orang dari kesepuluh orang Pian-sia-kay itu telah melancarkan serangan kepadanya. Hal ini menyebabkan ia terpaksa membatalkan serangannya kepada sasaran semula, demi menghindari serangan yang dilancarkan kepadanya.