Chapter 36
Maka dari itu, di samping si gemuk tromok Dedemit Hidup sangat mendongkol karena dikepung seperti itu, dia juga sangat gusar kepada sepuluh anak buah Oen Lay Tat yang bisa memimpin pasukan Tin itu dengan begitu kompak.
Lay Tat telah mengawasi ke arah pertempuran itu lagi.
Dia senang sekali bahwa kesepuluh orang-orangnya itu telah dapat melumpuhkan si gemuk tromok sampai tidak berdaya meloloskan diri.
Jago-jago dari berbagai golongan juga mengawasi ke arah pertempuran itu dengan kagum. Mereka tidak menduga, meskipun keempat gadis dan keenam lelaki itu masih sangat muda, toh mereka telah dapat melumpuhkan si gemuk tromok Dedemit Hidup, seorang jago kosen, sampai tak bisa terlepas dari kepungan mereka.
Dengan sendirinya mereka memuji berkali-kali kalau melihat si gemuk Dedemit Hidup itu selalu terdesak hebat dan hampir terkena serangan dari salah satu di antara kesepuluh pengepungnya.
Cie Kiat juga melihat bahwa meskipun pasukan Tin itu tidak bisa disebut luar biasa hebat, tetapi cukup mengagumkan.
Sebagai seorang jago kawakan yang telah mempunyai banyak pengalaman tempur, Dedemit Hidup masih bisa terdesak sedemikian rupa.
Dedemit Hidup itu gusar dan murka berkali-kali, dia seperti selalu dipermainkan oleh kesepuluh pengepungnya.
Berkali-kali mengeluarkan bentakan, si gemuk tromok Dedemit Hidup sering melancarkan serangan kepada lawan-lawannya.
Tetapi semua itu dilakukannya dengan hasil nihil.
Dia tak pernah berhasil menyerang salah satu di antara kesepuluh lawannya.
Sambil bertempur, lama-kelamaan tenaga si gemuk tromok pun habis.
Dia sangat letih, sehingga napasnya terengah-engah.
Sebagai seorang jago dengan tenaga Lwee-kang yang cukup tinggi, seharusnya dia tidak bisa terdesak begitu hebat oleh kesepuluh orang pasukan Tin ini. Semua itu disebabkan ketenangan si gemuk tromok yang telah lenyap sejak awal, yang akhirnya membuatnya terdesak terus-menerus.
Ketenangan dalam suatu pertempuran memang sangat diperlukan. Ketenangan diri akan menyebabkan kita bisa mengawasi setiap gerak-gerik lawan dan mempelajari kelemahannya.
Cie Kiat sebetulnya juga telah melihat bahwa si gemuk tromok Dedemit Hidup seharusnya tidak sampai terdesak begitu. Namun, karena dia sedang memperhatikan cara bertempur kesepuluh orang tersebut—kesepuluh anggota Pian-sia-kay yang sedang mengepung si gemuk tromok—dia tidak bisa memperingatkan Dedemit Hidup untuk berlaku tenang.
Peng-im Loo-nie sendiri, Nie-kauw tua itu, juga mengawasi jalannya pertempuran dengan penuh perhatian.
Nie-kauw ini memperhatikan cara-cara kesepuluh orang itu melancarkan setiap serangan.
Dan akhirnya Nie-kauw menghela napas.
“Hai… ternyata Pian-sia-kay telah mempunyai semacam pasukan Tin seperti ini. Sungguh hebat dan lihai orang she Oen itu, yang telah mendidik kesepuluh anak muda itu untuk membela dirinya dari segala macam ancaman bahaya… Tentunya, tenaga pasukan Tin ini sangat besar faedahnya bagi Kauw-cu Pian-sia-kay tersebut,” pikir Peng-im Loo-nie.
Jago-jago lainnya juga berpikir sama seperti Peng-im Loo-nie.
Rata-rata mereka sangat kagum kepada kekompakan sepuluh orang yang mengepung si gemuk tromok Dedemit Hidup, yang membuat si gemuk tromok kewalahan.
Tetapi ketika semua orang mengawasi jalannya pertempuran itu dengan penuh perhatian, tiba-tiba Sam-kay dan Cong Teng San yang berdiri di tepian ruangan, mengawasi jalannya pertempuran, menjerit dengan suara yang menyayat pendengaran. Tampak tubuh mereka terjungkal dan rubuh tak bernyawa lagi.
Semua orang yang melihat hal itu terkejut, terlebih Lay Tat.
Cepat-cepat dia menghampiri Sam-kay dan Cong Teng San yang rebah tak bergerak.
Kauw-cu Pian-sia-kay ini berjongkok memeriksa kedua orangnya.
Dilihatnya wajah Sam-kay dan Cong Teng San sangat pucat tak berdarah, menunjukkan bahwa jiwa mereka telah direnggut oleh utusan Giam-lo-ong. Wajah mereka meringis, menandakan bahwa saat mereka binasa, mereka mengalami kesakitan yang sangat hebat.
Hati Lay Tat terguncang hebat.
Mengapa tiba-tiba kedua orangnya bisa terjungkal begitu dan menjerit dengan suara yang menyayat, kemudian rubuh terbinasa?
Padahal tadi Sam-kay dan Cong Teng San tampak masih segar bugar. Mengapa tiba-tiba mereka bisa menemui kebinasaan seperti itu?
Lay Tat memeriksa seluruh tubuh kedua anak buahnya yang telah meninggal secara aneh itu, tetapi di tubuh keduanya dia tidak menjumpai senjata yang menancap.
Lalu mengapa kedua orangnya itu bisa binasa begitu mendadak, seperti terserang senjata gelap yang sangat berbahaya?
Hal ini benar-benar mengherankan Lay Tat dan orang-orang yang ada di dalam ruangan itu.
Beberapa jago, termasuk Peng-im Loo-nie dan Cie Kiat, mendekat untuk melihat kedua mayat Sam-kay dan Cong Teng San.
Lay Tat masih memeriksa kedua mayat orangnya. Selang sesaat, tiba-tiba dia mengeluarkan seruan tertahan.
Iiiiihh!
Tampak wajah Kauw-cu Pian-sia-kay ini berubah hebat. Jago-jago yang berada di dekatnya juga melihat tubuh Kauw-cu Pian-sia-kay tersebut agak tergetar. Wajahnya pucat pasi, seperti sedang melihat jin atau hantu di tengah hari di depan matanya!
MENGAPA wajah Kauw-cu Pian-sia-kay Oen Lay Tat bisa berubah begitu pucat dan tubuhnya agak gemetar, seperti sedang menghadapi persoalan yang mengejutkan?
Ternyata, setelah dia memeriksa dengan teliti dan penasaran kedua mayat Sam-kay dan Cong Teng San, tampak olehnya di dada kedua mayat itu dua buah titik berwarna hitam gelap di kiri dan kanan.
Seketika itu juga Lay Tat mengetahui bahwa titik hitam di dada kedua mayat tersebut adalah jarum berbisa. Racun yang terdapat dalam senjata rahasia yang menyerang Sam-kay dan Cong Teng San mungkin bekerja sangat cepat, menyebabkan Sam-kay dan Cong Teng San menemui kebinasaannya setelah mengejang hanya beberapa detik saja.
Lay Tat mengerutkan alisnya. Dia tidak lantas bangkit berdiri, hanya mengawasi ke arah lubang kecil berwarna hitam di dada kedua mayat orangnya.
Otaknya berputar dan Lay Tat berpikir, siapakah orang yang telah menyerang Sam-kay dan Cong Teng San secara diam-diam seperti itu?
Jago-jago lainnya yang memandang kedua mayat itu, semuanya berdiam diri.
Dan di saat ruangan itu sunyi senyap, hanya terdengar suara bentakan-bentakan dari si gemuk tromok yang sedang repot menghadapi kesepuluh pengepungnya. Tiba-tiba terdengar suara tertawa terbahak-bahak yang memekakkan telinga, bergema di dalam ruangan tersebut.
Semua orang terkejut, begitu juga Lay Tat. Mereka hampir serentak menoleh.
Begitu melihat orang yang tertawa keras menyeramkan itu, yang kala itu sedang berdiri bertolak pinggang di muka pintu keluar, semua orang mengeluarkan seruan tertahan.
Mengapa?
Karena wajah orang yang berdiri tegak di situ sangat jelek. Tulang pipinya naik tinggi, dan matanya melesak masuk ke dalam, dengan alis yang botak, sehingga orang tersebut menyerupai muka tengkorak.
Tetapi yang lebih mengherankan dan mengejutkan, orang itu hanya memakai cawat belaka, menutupi bagian penting tubuhnya yang kurus.
Selain itu, bagian tubuhnya yang lain tidak tertutup sehelai benang pun.
Kepala orang yang berwajah seperti tengkorak dan keadaannya sangat aneh itu botak. Di pinggangnya, sebelah kanan, tergantung sebuah kantong senjata rahasia berwarna merah.
Matanya yang memandang orang-orang di dalam ruangan itu bersinar tajam.
Tampaknya orang bermuka tengkorak tersebut bengis dan kejam.
Lay Tat melompat berdiri.
Dia memandang orang bermuka tengkorak yang hanya berpakaian cawat itu dengan mengerutkan sepasang alisnya.
“Siapa kau, sahabat?” tanyanya tidak senang, karena Lay Tat menduga orang inilah yang telah membunuh Sam-kay dan Cong Teng San.
“Apakah kau yang telah membunuh kedua orangku itu?”
Orang bermuka tengkorak tersebut tertawa.
Suara tertawa orang itu sangat menyeramkan. Bahkan, wajahnya jadi semakin menyeramkan karena pipinya naik, membuat tulang pipinya semakin meninggi.
“Benar! Benar! Memang aku si To-hun Koay-jin yang telah membunuh kedua orangmu yang tak ada gunanya itu!” sahut orang bermuka tengkorak itu, yang mengakui dirinya bergelar To-hun Koay-jin, si tengkorak manusia aneh.
Wajah Lay Tat berubah merah padam, dia sangat gusar.
Tetapi, meskipun sedang dalam keadaan murka karena kedua orangnya telah dibunuh oleh To-hun Koay-jin, Lay Tat tidak berani bertindak sembrono. Dia menduga orang bermuka tengkorak itu adalah jago mumpuni dan mempunyai ilmu silat yang sangat tinggi.
“Apa salah kedua orangku itu sehingga mereka harus menemui kematian di tanganmu, sahabat?” tanya Lay Tat dengan suara keras.
“Apakah mereka membuat kesalahan terhadap dirimu?”
Orang bermuka tengkorak itu tertawa lagi. Sambil tertawa menyeramkan, mata si muka tengkorak menoleh menyapu semua orang di dalam ruangan dengan pancaran mata tajam berkilat. Satu per satu dipandanginya jago-jago dari berbagai golongan yang ada di dalam ruangan itu, termasuk Cie Kiat, anak muda she Lie ini yang paling lama dipandangi oleh manusia tengkorak To-hun Koay-jin.