Halo!

Ibu Hantu - Chapter 37

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 37

Tiba-tiba dia mendengus.

"Tak ada yang bersalah padaku!" kata To-hun Koay-jin dengan suara nyaring.

"Tetapi karena kalian sedang menyaksikan pedang Tat-mo Kiam, mau tidak mau kalian semua harus mampus di tanganku!" Mendengar perkataan To-hun Koay-jin tersebut, wajah semua jagoan yang ada di dalam ruangan itu berubah hebat. Mereka mendongkol melihat si muka jelek yang seperti tengkorak itu berulah seolah dia jagoan nomor satu. Jagoan-jagoan di dalam ruangan tersebut seolah tidak dipandang sebelah mata oleh si muka tengkorak itu.

Lay Tat sendiri sampai mendengus beberapa kali.

"Apa sangkut pautnya Tat-mo Kiam dengan dirimu, Sahabat?" tegur Lay Tat tidak senang.

Mata orang itu berkilat saat mendengar pertanyaan Lay Tat.

"Kau menanyakan hubungan antara diriku dengan Tat-mo Kiam itu?" tanya si muka tengkorak dengan suara serak, disusul suara tawa yang sangat keras.

"Hu! Hu! Hu! Tat-mo Kiam adalah milikku dan kalian harus mampus karena telah berani melihat pedang Tat-mo Kiam di luar pengetahuanku. Hmmm... tanpa seizinku, tidak boleh seorang manusia pun melihat pedang Tat-mo Kiam. Maka siapa saja yang telah melihatnya tanpa seizinku, hmm... dia harus cepat-cepat menggorok lehernya sendiri sebelum aku membunuhnya dengan cara yang mengerikan!"

Kembali wajah semua orang di dalam ruangan itu berubah. Mereka setengah percaya dan setengah tidak percaya saat orang bermuka tengkorak itu mengaku bahwa pedang Tat-mo Kiam adalah miliknya. Sebab jika dilihat dari perawakannya, orang itu tampak seperti pengidap penyakit saraf. Karena itu, rata-rata jagoan di dalam ruangan tersebut memperlihatkan wajah yang tidak memercayai perkataan To-hun Koay-jin, si manusia tengkorak aneh itu.

To-hun Koay-jin seolah bisa membaca hati orang-orang yang ada di dalam ruangan itu satu per satu. Dia mendengus dengan raut wajah yang menyeramkan berulang kali.

"Hmmmm... kalian sepertinya tidak memercayai perkataanku! Bagus! Dengan begitu, kalian akan binasa dengan cara yang lebih mengerikan lagi!" katanya.

Lay Tat yang sudah mendongkol karena orang itu tiba-tiba mengakui Tat-mo Kiam sebagai miliknya pun menjadi sangat gusar. Apalagi si muka tengkorak tersebut telah membunuh Cong Teng San dan Sam-kay! Lay Tat pun maju mendekati orang itu.

"Hei setan jelek, apakah kau kira dirimu sedang berhadapan dengan bocah cilik yang tidak mengerti ilmu silat sedikit pun? Hmmm... bukan kami yang akan pergi menemui Giam-lo-ong, tetapi kau sendirilah yang akan terbang ke neraka untuk menebus dosa-dosamu di hadapannya!"

Mendengar perkataan Lay Tat, orang bermuka tengkorak itu tidak tertawa seperti biasanya. Dia hanya mengerutkan alisnya yang agak botak, sementara matanya memicing mengawasi dengan tajam.

"Kau bisa berkata begitu?" tanyanya dengan suara menyeramkan. "Apakah kau benar-benar berani kurang ajar kepada To-hun Koay-jin?"

Lay Tat tertawa mengejek. "Jangankan To-hun Koay-jin, biarpun To-hun Koay-hiap, tetap akan kukirim ke neraka untuk menemui Giam-lo-ong!" sahut Lay Tat.

Wajah To-hun Koay-jin berubah semakin menyeramkan. Tiba-tiba dia menggerakkan tangannya ke arah kantong senjata rahasia berwarna merah yang tergantung di pinggangnya. Lay Tat dan jagoan lainnya menyadari bahwa orang bermuka tengkorak itu pastilah lihai melemparkan senjata rahasia. Sebab Sam-kay dan Cong Teng San yang memiliki kepandaian cukup lumayan pun tidak mampu mengelak dari senjata rahasia beracun milik manusia tengkorak tersebut.

Benar saja, seraya mengeluarkan teriakan "Haaaaaa!" yang keras, orang bermuka tengkorak itu menggerakkan tangannya. Terdengar suara "serrrr, serrrr, serrrr" beruntun beberapa kali.

Semua jagoan di dalam ruangan itu telah bersiap-siap. Namun mereka tertipu, karena senjata rahasia berupa jarum-jarum halus itu ternyata hanya menyerang ke arah Lay Tat. Ketua dari Pian-sia-kay tersebut tidak berani main-main dengan To-hun Koay-jin ini. Dia telah melihat betapa hebatnya racun pada jarum-jarum itu bekerja pada tubuh Cong Teng San dan Sam-kay yang tewas seketika setelah jatuh tersungkur.

Begitu melihat jarum-jarum halus menyambar, dengan cepat Lay Tat memutar pedang Tat-mo Kiam di tangannya seperti kincir, melindungi dirinya dengan sangat rapat. Terdengar suara "tring, tring, tring" berulang kali saat jarum-jarum halus itu terpukul jatuh oleh pedang Tat-mo Kiam yang diputar hebat oleh Lay Tat.

Melihat ketua Pian-sia-kay berhasil memukul jatuh seluruh jarumnya, si muka tengkorak tertawa dengan suara yang sangat menyeramkan.

"Hebat! Benar-benar hebat kau!" katanya. "Dengan menggunakan pedang Tat-mo Kiam, jarumku memang tidak akan berdaya. Tetapi aku ingin lihat, apakah kau bisa meloloskan diri dari kematian dengan senjataku yang satu ini?"

Setelah berkata demikian, orang bermuka tengkorak itu meraba kantong merah di pinggangnya. Dia mengambil sesuatu, lalu melemparkannya ke arah Lay Tat. Para jagoan di dalam ruangan yang melihat si muka tengkorak hanya menyerang Lay Tat memutuskan untuk menepi dan tidak ikut campur. Mereka ingin menyaksikan benda apa yang dilemparkan itu, karena menurut perkataannya, senjata baru itu pastilah sangat hebat.

Tampak melesat dua benda bulat yang berputar di udara, menyambar ke arah Lay Tat. Lay Tat membelalakkan matanya dengan penuh kewaspadaan. Dari bentuknya, Lay Tat tahu bahwa senjata yang dilemparkan kali ini bukanlah jarum halus, melainkan benda yang agak besar dan bulat.

Lay Tat bersiap menyambut kedua benda yang menyambar dengan hebat itu. Dia kembali memutar pedang Tat-mo Kiam di tangannya. Namun, benda itu tidak terus menyambar ke arahnya! Seolah memiliki rem, benda itu berhenti di tengah udara, lalu kembali ke arah si muka tengkorak.

Lay Tat berhenti memutar pedangnya karena ingin melihat benda itu. Namun, senjata tersebut justru kembali berbalik menyerang ke arah dada Lay Tat. Ketua Pian-sia-kay bermarga Oen itu sampai mengeluarkan seruan kaget. Itulah semacam serangan bokongan!

Tadinya Lay Tat menduga si muka tengkorak melempar benda itu menggunakan tenaga dalamnya sehingga bisa ditarik kembali. Namun nyatanya, benda itu tidak kembali ke arah si pemilik, melainkan berbalik menyerang dada Lay Tat. Lay Tat menjerit kaget. Dia segera menjejakkan kakinya karena benda itu menyambar sangat cepat dan dekat dengan dadanya. Tubuh Lay Tat melompat ke atas untuk menghindari sambaran senjata bulat tersebut.

Lay Tat menyadari tidak akan sempat memutar pedangnya untuk melindungi diri, maka dia memilih melompat setinggi-tingginya. Namun, begitu tubuhnya membubung, hati ketua Pian-sia-kay itu mencelos. Dia kaget luar biasa! Benda bulat milik To-hun Koay-jin itu seolah memiliki mata. Tiba-tiba benda itu berputar ke atas, menyambar ke arah kemaluan Lay Tat.

Ini sangat berbahaya. Sekali saja bagian vitalnya terhajar dengan tepat oleh senjata bulat itu, seketika itu juga Lay Tat akan binasa. Beruntung Lay Tat sangat lihai dan memiliki mata yang awas. Meski senjata rahasia itu sudah menyambar sangat dekat, dia tidak gugup. Dengan cepat, dia menutukkan ujung pedangnya ke benda bulat tersebut, bermaksud menjatuhkannya.

Namun, saat pedangnya hampir mengenai sasaran, dia teringat sesuatu dan hatinya mencelos lagi. Dia ingin menahan pedangnya, tetapi sudah terlambat. Ujung pedang Lay Tat telah mengenai benda bulat tersebut dengan tepat. Benda bulat itu memang jatuh terbanting ke lantai, tetapi hati Lay Tat terguncang hebat karena ketakutan. Begitu terbentur lantai, benda itu meledak!

Lay Tat sedang meluncur turun, dan pada saat yang sama, senjata yang ternyata adalah bahan peledak itu meledak dengan suara memekakkan telinga. Lay Tat terancam kematian karena jika tubuhnya mendarat, dia akan ikut hancur bersama ledakan tersebut.

Untungnya, Lay Tat memiliki kepandaian yang mumpuni. Saat senjata itu meledak, dia menggunakan ujung pedangnya untuk menotol pecahan benda bulat tersebut. Dengan meminjam tenaga dari pecahan senjata rahasia itu, tubuh Lay Tat melambung tinggi lagi dan jatuh di tempat yang agak jauh dari pusat ledakan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment