Halo!

Ibu Hantu - Chapter 38

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 38

Begitu kedua kakinya berhasil menginjak lantai ruangan tersebut, Lay Tat mengeluarkan keringat dingin.

Ia juga menelan ludahnya beberapa kali, karena hatinya masih terguncang keras.

Coba kalau tadi ia tidak cepat-cepat melompat lagi dengan meminjam tenaga totolan pada pecahan bahan peledak itu, pasti sekarang tubuhnya telah tergeletak hancur lebur akibat ledakan itu.

Dengan lolos dari kematian, Lay Tat merasa bersyukur bahwa Thian masih melindungi dirinya.

Mata si muka tengkorak tengah mengawasi Lay Tat.

Tadi ia melihat betapa Lay Tat dapat menghindarkan dua kali serangan senjata rahasianya. Itu menunjukkan bahwa orang marga Oen tersebut memang mempunyai kepandaian yang cukup.

Orang bermuka tengkorak itu mengeluarkan suara tawa menyeramkan sekali waktu melihat Lay Tat berhasil menyelamatkan diri dari ledakan senjata peledaknya.

To-hun Koay-jin juga melihat Lay Tat telah berdiri di lantai kembali dengan wajah yang sangat pucat pasi, menandakan hatinya terguncang hebat, sedangkan kedua kaki Lay Tat juga gemetar.

"Bagaimana?" bentak si manusia bermuka tengkorak dengan tetap diselingi oleh suara tawanya yang menyeramkan.

"Apakah kau masih ingin bermimpi untuk memiliki pedang Tat-mo Kiam itu? Hmmmmm... sebentar lagi kau mampus!"

Wajah Lay Tat masih pucat, napasnya masih terengah-engah memburu. Hati dari Kauw-cu Pian-sia-kay tersebut juga masih terguncang keras.

Si gemuk tromok Dedemit Hidup dan kesepuluh pengurungnya jadi berhenti bertempur ketika mereka mendengar suara ledakan. Dengan sendirinya Dedemit Hidup dan sepuluh orang Pian-sia-kay itu berhenti bertempur, mereka menyaksikan Lay Tat sedang berhadapan dengan manusia bermuka seperti tengkorak itu.

Tetapi pada saat itu Lay Tat telah berusaha menenangkan goncangan hatinya, ia berusaha untuk tertawa.

"Kau memutar lidah seenakmu saja, seakan-akan pedang Tat-mo Kiam ini adalah milik nenek moyangmu saja! Hmmm, aku memang telah menemukan pedang ini, dan hal ini menunjukkan bahwa akulah yang berhak untuk memiliki pedang ini!!" kata Lay Tat dengan suara yang nyaring.

Tetapi meskipun Kauw-cu dari Pian-sia-kay tersebut berkata begitu, suaranya masih terdengar bergetar.

Mendengar perkataan Lay Tat, orang bermuka tengkorak itu yang mengaku bergelar To-hun Koay-jin, mendengus mengeluarkan suara tawa dinginnya.

"Apakah kau benar-benar tidak takut mampus?" tegurnya dengan suara yang menyeramkan, wajahnya juga mengerikan sekali.

Ia malah telah maju selangkah ke depan, sehingga Lay Tat tanpa disadarinya mundur satu langkah juga.

"Kau... kau akan mampus dengan tubuh tak utuh!!"

Setelah berkata begitu, orang bermuka tengkorak tersebut, To-hun Koay-jin, tertawa terbahak-bahak dan suara tawanya itu disertai oleh tenaga Lwee-kang yang dikerahkannya, sehingga ruangan tersebut seakan-akan ikut bergetar, hati para jagoan dari berbagai golongan yang ada di sana pun terguncang hebat.

Cie Kiat sendiri merasakan, ketika si manusia tengkorak, To-hun Koay-jin, tertawa terbahak-bahak demikian, hatinya jadi terguncang juga. Tetapi pemuda marga Lie ini telah cepat-cepat mengerahkan tenaga Lwee-kangnya, dalam waktu yang sangat singkat sekali, ia telah bisa menguasai goncangan hatinya itu. Suara tawa To-hun Koay-jin yang menggoncangkan ruangan tersebut dan mengerikan, jadi tak berarti apa-apa bagi Cie Kiat.

Manusia bermuka seperti tengkorak tersebut tertawa terbahak-bahak cukup lama, sampai tubuhnya terguncang keras. Ketika ia berhenti tertawa dengan mendadak, matanya jadi menatap dengan pancaran yang bengis sekali kepada semua orang yang ada di ruangan tersebut.

Semua jagoan dari berbagai golongan yang melihat pancaran mata si manusia tengkorak yang mengandung hawa pembunuhan dan mengerikan sekali, jadi merinding. Wajah si manusia tengkorak tersebut memang jelek sekali, menyerupai muka tengkorak, dan sekarang ia memandang semua jagoan yang ada di sana dengan tatapan mata yang bengis sekali, sehingga wajahnya itu jadi tambah menyeramkan sekali.

Peng-im Loo-nie sendiri sebagai seorang jagoan yang telah kawakan dan mempunyai pengalaman tempur yang luar biasa sekali, kini melihat cahaya mata dari To-hun Koay-jin jadi merinding, ia merasakan tengkuknya sangat dingin sekali.

"Hmmmm... kalian adalah manusia-manusia pengecut semuanya!" kata To-hun Koay-jin tiba-tiba dengan suara yang keras sekali. "Dalam saat menghadapi kematian ternyata tidak ada yang menunjukkan sedikit pun sifat-sifat seorang Ho-han sejati, seorang gagah dan jantan sejati!!"

Semua jagoan itu berdiam diri saja, tak ada yang menyahuti.

Kembali si manusia tengkorak To-hun Koay-jin telah berkata lagi dengan suara yang dingin. "Kali ini kalian telah melihat pedang Tat-mo Kiam, maka dengan sendirinya kalian harus mampus, karena siapa saja yang telah melihat bentuk dan rupa pedang itu, harus menemui kebinasaannya! Ini adalah sumpahku, maka tak mungkin ada seorang pun yang bisa lolos untuk hidup terus!!" katanya lagi.

Lay Tat mengerutkan alisnya.

"Kami tidak saling mengenal denganmu!" kata Lay Tat dengan suara yang nyaring sekali. "Sekarang mengapa tiba-tiba tanpa sebab kau mengatakan bahwa kami harus binasa karena telah melihat pedang Tat-mo Kiam ini?"

Kembali si manusia tengkorak itu, To-hun Koay-jin, telah tertawa lagi dengan suara yang menyeramkan. "Semua orang-orang yang ada di dalam ruangan ini memang harus mampus dengan tubuh yang utuh dan binasa secara baik, hanya kau seorang diri, yang akan binasa dengan tubuh yang hancur tak menentu, karena kau yang telah berusaha untuk memiliki pedang itu...!!"

Dan setelah berkata begitu, tiba-tiba si manusia tengkorak telah melompat sambil mengeluarkan suara jeritan yang nyaring sekali, juga kedua tangannya terulurkan seperti cengkeraman kuku garuda.

To-hun Koay-jin telah menyerang dengan hebat sekali, ia menggunakan tenaga Lwee-kang yang kuat dan sempurna. Karena sebelum kedua tangannya itu mengenai sasarannya, tenaga serangannya telah dapat dirasakan oleh Kauw-cu Pian-sia-kay tersebut.

Cepat-cepat Lay Tat menggeser kedudukan kakinya, ia telah menggerakkan tangannya menyabetkan pedang Tat-mo Kiam menyerang ke arah kedua tangan To-hun Koay-jin. Ia bermaksud untuk menebas putus kedua tangan dari To-hun Koay-jin seperti halnya ketika ia menebas tangan It Kiang Sian-su!

Tetapi kali ini Lay Tat jadi terkecoh. Karena ketika pedangnya itu melayang menebas dengan cepat, dan ketika kedua tangannya dirasakan mengenai tempat kosong, maka To-hun Koay-jin telah cepat-cepat menarik kembali kedua tangannya itu.

Tetapi si manusia tengkorak menarik kembali tangannya itu bukan berarti berdiam diri, ia telah melancarkan serangannya lagi. Ketika pedang Lay Tat lewat di sisi tubuhnya, tiba-tiba tangan si manusia tengkorak itu bergerak sangat cepat ke arah dada Lay Tat. Dengan telak dada Lay Tat kena dihajarnya.

"Dukkkk!" Tubuh Lay Tat terpental ke atas, dan terbanting di tanah.

Untung saja Lay Tat mumpuni dan lihai, ia mempunyai ilmu silat yang cukup tinggi, sehingga ia bisa melayang di udara, yang menyebabkan ia terjatuh tanpa kepala terlebih dahulu, ia jatuh dengan kedua kaki tiba terlebih dahulu di lantai ruangan tersebut.

Begitu kedua kakinya menginjak lantai, Lay Tat meringis karena ia merasakan dadanya sakit sekali, sehingga hampir saja ia terpelanting. Dengan menggigit bibir bawahnya, Lay Tat telah menahan perasaan sakit itu.

Sedangkan si manusia tengkorak itu telah mengeluarkan bentakan dan menyerang ke arah Lay Tat lagi dengan serangan yang mematikan, karena ia menyerang dengan menggunakan tenaga dalam yang kuat, tujuh bagian tenaga dalamnya.

Hati Lay Tat terkesiap, ia jadi mengeluh. Untuk mengelakkan dan menghindarkan diri dari serangan itu, jelas sudah tidak bisa, karena sudah tidak sempat. Untuk menggunakan pedang Tat-mo Kiam, ia merasakan dadanya sakit sekali ketika ia mengangkat tangannya. Maka dari itu, hati Lay Tat mencelos, ia menduga dirinya akan binasa di tangan manusia tengkorak tersebut.

Namun rupanya ajal Lay Tat belum tiba, maka di saat Kauw-cu Pian-sia-kay ini terancam bahaya kematian, sepuluh anak buah Pian-sia-kay yang tadi bertempur dengan si gemuk tromok Dedemit Hidup, telah maju menghadang dan mengepung manusia tengkorak itu. Malah tiga orang di antara kesepuluh orang itu, dua lelaki dan seorang gadis, telah menyerang si manusia tengkorak dengan hebat.

Merasakan dirinya diserang begitu, mau tak mau manusia tengkorak tersebut harus membatalkan serangannya. Ia harus menangkis serangan ketiga orang yang menyerang dirinya sekaligus. Tetapi ketika ia mengangkat tangannya, untuk menangkis ketiga serangan itu, ketiga orang itu telah melompat mundur.

Hal ini membuat manusia tengkorak itu mendongkol serta gusar, karena waktu ketiga orang itu melompat mundur maka tempatnya telah digantikan oleh keempat kawannya yang lain, yang menyerang To-hun Koay-jin tersebut dengan serangan yang hebat.

Setiap kali To-hun Koay-jin ingin menangkis serangan-serangan dari penyerangnya tersebut, mereka pasti akan melompat mundur dan beberapa lawannya telah menyerang dirinya dari arah lain. Begitulah seterusnya, pertempuran tersebut berlangsung dengan serunya.

To-hun Koay-jin boleh lihai dan mumpuni, ia boleh membanggakan dirinya bisa melawan puluhan jago silat lainnya sekaligus, tetapi kali ini karena kesepuluh orang yang mengepung dirinya dengan menggunakan Tin yang kompak, maka meskipun kepandaian kesepuluh orang itu berada di bawah manusia tengkorak tersebut, mereka masih unggul, karena mereka menyerang dengan cara main kucing-kucingan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment