Halo!

Ibu Hantu - Chapter 39

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 39

Hal ini membuat To-hun Koay-jin kewalahan. Bagaimanapun juga, ia merasa dongkol dan gusar menjadi satu. Tubuhnya bermandi keringat, dan ia sering berteriak-teriak sambil berjingkrak. Namun, meskipun manusia bermuka tengkorak tersebut murka, ia tetap tidak berdaya. Dirinya masih terkurung rapat oleh kesepuluh pengepungnya!

Sementara itu, Oen Lay Tat, *Kauw-cu* dari Pian-sia-kay, memanfaatkan saat si manusia tengkorak itu dikepung oleh kesepuluh anak buahnya untuk melompat menjauhi arena pertempuran. Wajah *Kauw-cu* Pian-sia-kay itu masih tampak pucat pasi dan napasnya memburu. Rupanya, saat jiwanya terancam maut di tangan manusia bermuka tengkorak tadi, hatinya sangat terguncang! Orang bermarga Oen ini mengawasi jalannya pertempuran dengan hati yang tidak tenang.

Sebetulnya, jika tidak malu kepada para jagoan dari berbagai golongan yang berkumpul di sana, orang bermarga Oen ini tentu sudah melarikan diri saat si manusia tengkorak terkurung oleh kesepuluh anak buahnya. Karena takut pamornya runtuh dan ditertawakan oleh para jagoan tersebut—khawatir dianggap pengecut yang tidak berharga—Oen Lay Tat tetap berdiri tegak dengan mata mengawasi jalannya pertempuran, meski hatinya masih terguncang hebat!

Cie Kiat yang melihat jalannya pertempuran tersebut mengawasi dengan penuh perhatian. Ia melihat bahwa jika dibandingkan, kepandaian kesepuluh orang Pian-sia-kay itu masih terpaut jauh dari kepandaian si manusia tengkorak. Namun, karena kesepuluh orang Pian-sia-kay itu bertempur dengan kompak dan saling membantu, si manusia tengkorak tidak dapat segera merobohkan mereka.

Sementara itu, To-hun Koay-jin mulai bertempur sambil memperhatikan teknik lawan; ia ingin mencari kelemahan dari kesepuluh orang yang mengepungnya. Cie Kiat tahu bahwa begitu To-hun Koay-jin menemukan kelemahan mereka, ia akan dengan cepat menghabisi kesepuluh orang itu. Lama-kelamaan, To-hun Koay-jin pun mengetahui kelemahan cara bertempur kesepuluh orang tersebut.

Tiba-tiba, dengan teriakan nyaring yang mengerikan, tubuh To-hun Koay-jin melompat sangat tinggi. Kedua tangannya berputar sangat cepat menyerupai baling-baling. Sambil berputar, ia membentak, "Roboh!"

Maka terdengarlah jeritan yang mengerikan. Tampak dua sosok tubuh melayang lalu ambruk di lantai tanpa nyawa; kepala mereka hancur akibat hantaman kedua tangan si manusia tengkorak. Kedelapan orang Pian-sia-kay lainnya sangat terkejut, hati mereka terkesiap. Terutama Lay Tat, wajahnya berubah pucat pasi dan tubuhnya agak gemetar.

Tangan To-hun Koay-jin tampak berlumuran darah merah bercampur otak kedua korbannya. Ia mendengus mengejek, lalu tiba-tiba melompat lagi sambil menggerakkan kedua tangannya dan membentak, "Roboh!"

Kembali tampak tiga sosok tubuh melayang terhantam tangan To-hun Koay-jin dan ambruk di lantai dalam keadaan tak bernyawa dengan kepala yang hancur. Kelima orang yang mengepung To-hun Koay-jin—dua gadis dan tiga lelaki—sangat ketakutan. Lima rekan mereka telah binasa, sehingga timbullah rasa ngeri dalam hati mereka. Tanpa berucap sepatah kata pun, kelimanya berbalik untuk melarikan diri!

To-hun Koay-jin tertawa terbahak-bahak dengan suara yang sangat keras. Cie Kiat melihat bahwa bagaimanapun juga, kesepuluh pengepung To-hun Koay-jin itu memang tidak mungkin menang. Dengan terbunuhnya lima orang tersebut, barisan pengepung To-hun Koay-jin pecah, apalagi lima orang sisanya telah melarikan diri karena ketakutan!

Orang-orang Pian-sia-kay lainnya berdiri terpaku. Terutama Oen Lay Tat, ia berdiri terpaku dengan wajah pucat pasi. Tiba-tiba To-hun Koay-jin memutar tubuhnya menghadapi Lay Tat.

"Hei, orang bermarga Oen! Apakah kau masih tidak mau menyerahkan benda itu?" bentaknya dengan suara menggelegar.

Lay Tat berusaha menenangkan hati, meski guncangan batin masih menguasai dirinya. Namun, sebagai seorang jagoan berkepandaian tinggi sekaligus *Kauw-cu* Pian-sia-kay, ia harus tabah menghadapi segalanya. Dengan cepat Lay Tat berusaha tersenyum.

"Memang kami harus mengakui bahwa kepandaian Tuan sangat tinggi!" katanya. "Tetapi..."

Belum sempat Lay Tat menyelesaikan kalimatnya, To-hun Koay-jin sudah melompat dengan gesit; tangannya terjulur hendak mencengkeram bahu dan kepala Lay Tat. Meskipun sedang jeri dan ragu, Lay Tat bukanlah orang lemah. Ia memiliki kepandaian yang cukup tinggi sehingga mampu melihat serangan hebat itu dan secara refleks bergerak cepat untuk menghindar. Tangan To-hun Koay-jin pun menghantam tempat kosong.

Terdengar manusia tengkorak itu mendengus dengan tawa dingin. Dengan cepat ia kembali menyerang Lay Tat karena tidak ingin memberi kesempatan kepada *Kauw-cu* Pian-sia-kay itu untuk terus menghindar. Cie Kiat melihat betapa Lay Tat terdesak hebat oleh To-hun Koay-jin. Harus diakui bahwa To-hun Koay-jin memiliki kepandaian yang sangat tinggi, sehingga meskipun Lay Tat tidak lemah, ia tetap saja terdesak hebat.

Saat itu Lay Tat, sambil berseru kaget dan gelisah, menjejakkan kakinya untuk melompat ke samping guna menjauh dari To-hun Koay-jin. Namun, si manusia tengkorak tetap tidak memberi kesempatan. Ia melancarkan beberapa serangan mematikan; deru angin serangan yang disertai tenaga *lwee-kang* sempurna itu terasa memenuhi ruangan. Cie Kiat sendiri merasakan angin serangan yang berseliweran di dekatnya. Sementara itu, jagoan lainnya hanya menatap pertempuran tersebut dengan hati berdebar.

Jika Lay Tat sampai terbunuh oleh To-hun Koay-jin, urusan pasti akan menjadi lebih ricuh. Sebenarnya para jagoan itu ingin menolong Lay Tat, tetapi karena melihat betapa lihainya To-hun Koay-jin—ditambah reputasi si manusia tengkorak yang sangat kejam setiap kali turun tangan—mereka pun menjadi bimbang. Tinggallah Lay Tat yang gelagapan seorang diri menghadapi serangan mematikan To-hun Koay-jin yang bertubi-tubi. Seandainya tidak memiliki kepandaian setinggi itu, ia tentu sudah tewas dengan kepala hancur berantakan seperti anak buahnya yang dibunuh To-hun Koay-jin hingga darah dan otaknya mengalir membasahi lantai.

Suatu ketika, dengan bentakan menggelegar, To-hun Koay-jin melancarkan serangan dari dua arah secara bersamaan dengan kedua tangannya. Hati Lay Tat mencelos; ia terkesiap karena tidak melihat ada jalan keluar. Lay Tat pun menjadi putus asa, dan keputusasaan itu akhirnya berubah menjadi kenekatan.

Dengan bentakan keras, Lay Tat melompat untuk menyambut kedua serangan To-hun Koay-jin. Tangan mereka pun beradu. Kali ini Lay Tat mengerahkan hampir delapan bagian tenaga dalamnya. Oleh karena itu, tangkisan Lay Tat membawa deru angin yang sangat kuat dan bertenaga. To-hun Koay-jin sendiri terperanjat karena tangkisan *Kauw-cu* Pian-sia-kay itu benar-benar hebat hingga membuatnya terpukul mundur beberapa langkah.

Namun, akibatnya juga cukup berat bagi Lay Tat. Begitu kedua tangannya menangkis dan mereka saling mengadu tenaga dalam, Lay Tat mengeluarkan seruan tertahan. Tubuhnya terhuyung empat langkah ke belakang lalu terguling di lantai. Beruntung ia memiliki kepandaian yang mumpuni, sehingga begitu terguling, ia bisa segera melompat berdiri kembali. Dengan begitu, ia bisa berjaga-jaga seandainya si manusia tengkorak melancarkan serangan susulan yang mematikan.

Sementara itu, saat terhuyung mundur satu langkah, To-hun Koay-jin segera mengerahkan tenaga dalam ke kedua kakinya sehingga dapat menapak dengan kukuh di lantai. Ia tidak segera menyerang kembali *Kauw-cu* Pian-sia-kay tersebut, melainkan hanya mengawasi dengan tatapan mata bengis yang mengandung hawa membunuh.

Jagoan lainnya di ruangan itu juga mengawasi jalannya pertempuran; mereka tertarik melihat dua orang berkepandaian tinggi saling bertarung. Hanya Cie Kiat yang tidak begitu tertarik. Hal itu disebabkan kepandaian Cie Kiat yang sudah sangat tinggi. Ia bisa melihat bahwa meskipun nama To-hun Koay-jin sudah tersohor selama puluhan tahun di dunia persilatan serta disegani kawan maupun lawan, kepandaian si manusia tengkorak itu sebenarnya tidak terlalu luar biasa.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment