Halo!

Ibu Hantu - Chapter 40

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 40

Tentang Kauwcu dari Pian-sia-kay itu juga, dia memiliki kepandaian yang hampir setara dengan To-hun Koay-jin. Namun, berhubung sifat To-hun Koay-jin lebih bengis dan kejam, maka manusia tengkorak ini tampak jauh lebih hebat dan gesit daripada Kauwcu Pian-sia-kay tersebut.

Pada saat itu, Lay Tat tengah berdiri tegak sambil memandang ke arah To-hun Koay-jin dengan tatapan mata yang sangat dingin. Dia memang sangat mendongkol dan gusar kepada manusia tengkorak ini. Bagaimanapun, dia adalah seorang Kauwcu dari sebuah perkumpulan, sehingga biasanya dia sangat dipatuhi. Selain dihormati, setiap perintahnya pun pasti akan dituruti dan dipatuhi oleh anak buahnya. Oleh karena itu, sifatnya menjadi agak besar kepala, dan sudah sewajarnya jika sifat Lay Tat selalu ingin memerintah.

Sekarang dia menghadapi lawan berat seperti To-hun Koay-jin, maka dengan sendirinya dia menjadi mendongkol dan penasaran sekali. Dia menyadari bahwa kepandaiannya tidak dapat mengimbangi kepandaian si manusia tengkorak. Namun, hal itu tidak menjadi halangan atau sebab bagi diri si Kauwcu dari Pian-sia-kay ini. Kalau memang dia mau, semua jagoan di dalam ruangan tersebut bisa dibunuhnya, karena dia masih memiliki cara untuk mencelakai orang-orang yang tidak disenanginya di ruangan itu.

Tetapi Lay Tat masih tidak mau menggunakan caranya itu. Dia masih ingin melihat perkembangan selanjutnya, karena dia ingin memperlihatkan bahwa Kauwcu dari Pian-sia-kay adalah seorang Ho-han, seorang lelaki sejati, yang teguh pada keadilan, kejujuran, dan kegagahan. Oleh karena itu, Lay Tat tidak mau berlaku curang dan melakukan perbuatan yang rendah, yang bisa diejek dan dihina oleh orang-orang di kalangan Kang-ouw. Kalaupun dia bermaksud melakukan rencana yang busuk dan jelek, itu akan dilakukannya diam-diam.

Pancaran mata dari Kauwcu Pian-sia-kay, Oen Lay Tat, menjadi bercahaya bengis. Dia menatap To-hun Koay-jin tak kalah galaknya. Ketika To-hun Koay-jin menghampirinya dengan langkah yang mantap, Lay Tat berpikir dengan cepat. Walaupun dia tidak memperlihatkan rasa takutnya, perasaan itu tetap membayangi hatinya. Bagaimanapun, dia akan berusaha merobohkan manusia tengkorak ini.

Namun, Lay Tat tidak bisa berpikir terlalu lama, karena dengan mengeluarkan suara bentakan yang menyeramkan, To-hun Koay-jin telah melompat menerjang Lay Tat lagi. Kali ini, To-hun Koay-jin menyerang Lay Tat dengan tenaga Lwee-kang yang benar-benar luar biasa. Dia merasakan serangan itu cukup berat, karena Lay Tat merasakan dorongan dari angin serangan itu yang membuatnya harus mundur beberapa langkah untuk mengurangi angin dorongan itu. Sambil berbuat begitu, Lay Tat telah memiringkan tubuhnya sedikit ke kanan, kemudian dengan mengeluarkan seruan, “Kena!” maka tangannya menerobos ke depan, ke arah rusuk dari To-hun Koay-jin.

Sodokan tangan dari Lay Tat hebat sekali. Bagaimanapun, dia adalah jagoan silat yang memiliki kepandaian ilmu silat dan Lwee-kang yang lumayan, sehingga setiap serangannya itu juga bisa membahayakan orang jika memang serangannya berhasil mengenai sasaran yang tepat. Kalau memang rusuk dari To-hun Koay-jin itu berhasil disodoknya, berhasil digempurnya, maka dengan sendirinya tulang-tulang iga To-hun Koay-jin akan patah hancur, dan isi dadanya akan rusak oleh getaran hajaran tangan Lay Tat, dan bisa-bisa To-hun Koay-jin menemui kebinasaannya.

Namun, To-hun Koay-jin mana mau membiarkan dirinya dihajar oleh Lay Tat begitu saja. Dengan cepat dia telah menarik pulang tangannya, dia telah mengelak ke samping, kemudian dia melompat mundur ke belakang. Mereka dengan sendirinya jadi saling terpisah beberapa kaki jauhnya. Keduanya saling memandang lagi dengan pancaran mata yang agak mengerikan. Kedua orang jago silat yang sedang bertempur itu sangat ganasnya, seperti dua ekor singa yang sedang bertarung.

Cie Kiat yang melihat pertempuran di antara kedua jago itu, memandang dengan perhatian yang tidak begitu penuh. Karena dalam pandangan matanya, kepandaian dari kedua orang tersebut tidak begitu tinggi. Mereka bertempur lebih banyak memperlihatkan segi cara bertempur untuk suatu pertunjukan di atas Lui-thay, bukan untuk merebut suatu kemenangan. Memang Lwee-kang mereka cukup kuat, namun cara mereka menggunakan tenaga dalam mereka tidak sewajarnya. Oleh karena itu, Cie Kiat hanya ingin melihat kelanjutan dari pertempuran itu. Dia juga ingin mengetahui akhir dari peristiwa memperebutkan pedang Tat-mo Kiam.

Begitu juga jago-jago lainnya, mereka terus menyaksikan pertempuran antara To-hun Koay-jin dengan Oen Lay Tat. Hanya bedanya jago-jago silat itu dengan Cie Kiat ialah, kalau si anak muda bermarga Lie itu menyaksikan pertempuran tersebut dengan maksud untuk mengetahui kelanjutan peristiwa itu, tetapi jago-jago silat lainnya yang menonton di pinggir ruangan tersebut, semuanya ingin mencari ketika yang lowong untuk merebut dan berusaha memiliki pedang Tat-mo Kiam agar menjadi milik pribadi mereka sendiri!

Suasana di dalam ruangan sangat sepi. Yang terdengar hanyalah suara bentakan-bentakan dari Lay Tat dan To-hun Koay-jin. Mereka bertempur dengan selalu mengeluarkan suara bentakan-bentakan yang keras. Juga butir-butir keringat telah memenuhi tubuh mereka. Keduanya rupanya telah mempertaruhkan jiwa mereka untuk mempertahankan pedang Tat-mo Kiam itu. Yang seorang ingin mempertahankan, dan yang seorangnya lagi, yaitu To-hun Koay-jin, ingin merebut untuk memiliki pedang Tat-mo Kiam itu. Maka dari itu, pertempuran terus berlanjut.

Angin dari pukulan-pukulan kedua orang yang sedang bertempur itu saling berseliweran keras sekali, dapat dirasakan oleh jago silat yang sedang menonton dan menyaksikan dari samping. Sedang pertempuran antara Lay Tat dengan To-hun Koay-jin berlangsung dengan cukup seru, maka tiba-tiba terdengar orang berkata, “Berhenti!” Nyaring dan melengking suara itu.

Semua orang jadi menoleh ke arah datangnya suara bentakan itu. Segera begitu melihat orang membentak itu, semua orang yang menoleh itu jadi mengeluarkan seruan tertahan. Begitu juga Lay Tat dan To-hun Koay-jin, mereka berhenti bertempur, mereka menoleh ke arah datangnya suara bentakan itu. Dan kedua jago ini juga telah mengeluarkan suara seruan kaget. Kenapa? Ternyata orang yang membentak berhenti itu adalah seorang gadis kecil berusia di antara sembilan tahun!

Wajah gadis itu manis sekali, montok dan mungil sekali. Matanya yang hitam celi memandang semua orang yang ada di dalam ruangan itu bergantian. Gadis cilik ini juga memperlihatkan senyumnya yang manis. Semua orang memandang dia dengan tatapan mata yang heran. Apa maksud kedatangan gadis cilik ini? Dan siapakah dia? Mengapa tiba-tiba telah berada di situ? Bagaimana cara kedatangannya sehingga semua jago-jago yang berada di dalam ruangan tersebut, yang biasanya memiliki pendengaran sangat tajam, tidak dapat mendengar suara langkah kakinya waktu dia mendatanginya?

Gadis itu telah tertawa dengan suaranya yang tinggi melengking. “Kalian selalu bertempur hanya untuk memperebutkan pedang Tat-mo Kiam!” kata gadis cilik itu dengan suara yang tetap tinggi. “Hmmmm… semua itu tak ada gunanya. Kata Sio-cia yang dipesankan kepadaku, memerintahkan agar kalian segera berhenti membuat ribut-ribut dan pergi menggelinding enyah dari tempat ini!”

Dan sambil berkata begitu, biarpun suaranya tegas sekali, toh dia tetap tersenyum. Malah gadis cilik ini sambil berkata begitu dia selalu mempermainkan rambutnya yang telah dianyamnya panjang, sepanjang sampai ke pinggang. Semua orang seperti terpaku mendengar perkataan gadis cilik ini. Dia menyebut-nyebut bahwa dia diperintah oleh seorang Sio-cia, nona, dan siapakah nona itu? Sedang jago-jago itu bertanya-tanya, maka si gadis telah membuka suara lagi. “Sio-ciaku itu bermarga Wang, dan dia memerintahkan kepada kalian, kalau memang kalian ini mau berkeras dan tidak mau menuruti perintahnya, maka Wang Sio-cia yang menjadi majikanku itu memberi kebebasan padaku untuk menghukum kalian!”

Mendengar perkataan si gadis cilik, jago-jago di dalam ruangan tersebut jadi hampir tertawa. Gadis cilik itu berkata seperti layaknya seorang jagoan yang memiliki kepandaian tinggi sekali, maka jago-jago di dalam ruangan tersebut mana mau mempercayai gadis sekecil itu memiliki kepandaian yang tinggi?

Cie Kiat yang telah menghampiri gadis cilik itu, dia menduga bahwa gadis cilik ini sedang main-main, berguyon, maka dia ingin meminta gadis itu untuk berlalu saja, sebab di dalam pergolakan di dalam ruangan tersebut, keselamatan gadis cilik itu bisa tidak terjamin. “Siauw Sio-cia!” kata Cie Kiat begitu dia berada di depan gadis cilik itu. Dia memanggil orang dengan sebutan Siauw Sio-cia, nona kecil. “Lebih baik kau bermain-main di luar saja, karena di sini sedang ada urusan yang bisa membahayakan jiwamu! Pergilah!”

Dan setelah berkata begitu, Cie Kiat telah mengulurkan tangannya. Dia bermaksud akan mencekal tangan gadis cilik itu untuk diajaknya dituntun keluar dari ruangan tersebut. Tetapi apa yang terjadi benar-benar di luar dugaan dari semua orang, dan di luar dugaan dari Cie Kiat juga! Kenapa? Ternyata, ketika Cie Kiat sedang mengulurkan tangannya akan menuntun si gadis cilik keluar dari ruangan itu, maka dengan tidak terduga gadis cilik itu telah menjejakkan kakinya, dia menggeser kedudukan tubuhnya, kemudian dengan tidak terduga tangannya yang kanan telah diluncurkan ke muka, dia menonjok ke arah rusuk Cie Kiat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment