Chapter 41
"Jangan kurang ajar kepada nonamu!"
Semula Cie Kiat ingin berdiam diri saja, membiarkan gadis itu memukul tubuhnya. Namun, ia terkejut ketika pukulan gadis itu sudah sangat dekat dengan sasarannya. Ia merasakan sambaran tenaga dalam gadis itu yang luar biasa besarnya! Jika Cie Kiat membiarkan dirinya dihajar oleh tangan gadis itu, mungkin tulang rusuknya bisa hancur berantakan. Maka dari itu, dengan cepat Cie Kiat menarik kembali tangannya. Ia pun batal mencekal tangan gadis itu untuk diajaknya keluar.
Dengan menjejakkan kakinya, tubuh Cie Kiat melambung tinggi, sehingga pukulan tangan gadis cilik itu jatuh ke tempat kosong. Namun, gadis cilik itu tidak berhenti sampai di situ; ia menggerakkan kedua tangannya ke atas, terus menyerang ke arah Cie Kiat yang diserangnya. Tubuh Cie Kiat sedang meluncur terus, maka ia terkejut sekali saat tiba-tiba merasakan gadis itu telah menyerang dirinya dengan serangan-serangan beruntun.
"Rubuhlah kau!" Gadis cilik itu berkali-kali mengeluarkan bentakan. Tangannya pun tak henti menyerang Cie Kiat. Meskipun Cie Kiat lihai dan memiliki kepandaian tinggi, ia baru berhasil mengelakkan satu serangan gadis cilik itu, lalu sudah disusul serangan lain secara terus-menerus. Hal itu membuat Cie Kiat kewalahan juga.
Memang, jika dinilai dari ilmu silat yang dimiliki gadis cilik itu, tak seberapa jika dibandingkan dengan kepandaian Cie Kiat. Namun, cara menyerang dan ilmu meringankan tubuh dari gadis cilik ini memang benar-benar sangat luar biasa dan aneh. Itulah yang membuat Cie Kiat agak bingung.
Serangan yang biasanya digunakan oleh jago silat sebagai landasan pertahanan diri untuk bagian dalam, malah gadis cilik itu menyerang bagian luar Cie Kiat, sedangkan bagian dalamnya tidak ada penjagaan sama sekali. Cara menyerang dan menangkis atau mengelakkan diri dari gadis itu terbalik dari kebanyakan orang yang mengerti ilmu silat.
Perlu diketahui, meskipun di daratan Tiongkok terdapat banyak sekali perguruan ilmu silat, namun sebelumnya ilmu silat di daratan Tiongkok itu berasal dari sumber yang sama dan satu, tak ada perbedaan. Hanya karena orang yang menciptakannya memecahkan dan memilih jalannya masing-masing, maka dengan sendirinya ilmu silat itu berkembang menjadi bermacam-macam bentuk dan posisi. Namun, jika dilihat dari segi intinya, ilmu silat yang ada di daratan Tiongkok ini sebetulnya sama, tak ada perbedaan.
Itulah yang membuat Cie Kiat heran. Walaupun usia gadis cilik itu masih sangat kecil, toh cara menyerang dan menangkis serangan orang, gadis cilik ini menggunakan ilmu silat dari tingkatan tinggi. Juga cara mengelakkan serangan orang serta menyerang lawannya, gadis ini menggunakan ilmu silat yang cara menyerangnya terbalik dari kebiasaan yang digunakan oleh jago-jago silat di daratan Tiongkok.
Pada saat itu, tubuh Cie Kiat sedang meluncur turun, dan gadis cilik itu menyerangnya dengan tenaga serangan yang sangat kuat. Yang mengherankan Cie Kiat adalah tenaga serangan gadis cilik inilah yang kuat luar biasa, menyerangnya dengan angin serangan yang santer.
Sebetulnya, Cie Kiat sama sekali tidak memandang rendah gadis cilik ini. Namun, setelah merasakan beberapa kali serangan gadis cilik itu yang datang secara beruntun, mau tak mau ia pun berlaku hati-hati. Oleh sebab itu, saat tubuhnya sedang meluncur turun dan saat ia diserang oleh beberapa serangan beruntun dari gadis cilik itu, Cie Kiat memutar tangan kirinya setengah lingkaran.
Pada saat itu, tubuh Cie Kiat sedang berada di udara. Ia berputar dengan tenaga yang dikerahkan dari perutnya, dari Tan-tian, pusatnya. Tenaga Lwee-kang itu tersalur di tangannya, tersalur dengan sangat kuat. Saat ia memutar setengah lingkaran tangan kirinya, tenaga Lwee-kang itu melindungi dirinya dari segala serangan yang dilancarkan oleh gadis cilik itu.
Bersamaan dengan itu, tangan kanan Cie Kiat mendorong ke arah muka. Terdengar gadis cilik itu mengeluarkan seruan tertahan, tetapi ia tidak mengalami apa-apa; ia hanya melompat menjauhi Cie Kiat. Memang benar, tadi Cie Kiat mendorong hanya dengan menggunakan tiga bagian tenaga dalamnya karena ia takut akan mencelakai gadis cilik itu. Namun, dengan keberhasilan gadis cilik itu menghindarkan diri dari dorongan itu tanpa menderita apa-apa —ia hanya mengeluarkan seruan tertahan dan masih dapat melompat ke belakang— hal itu menunjukkan bahwa gadis cilik ini memang hebat!
Inilah yang membuat para jagoan di dalam ruangan itu heran dan bingung! Jika gadis ini mempunyai seorang guru dan memperoleh didikan dari guru yang lihai bagaimanapun, tidak mungkin ia bisa memiliki kepandaian seperti yang dimilikinya sekarang ini. Maka dari itu, keadaan gadis yang baru muncul ini benar-benar menimbulkan keanehan bagi semua jagoan di dalam ruangan itu.
Lay Tat dan To-hun Koay-jin pun berhenti bertempur. Mereka hanya memandang ke arah Cie Kiat dan gadis cilik itu yang luar biasa, dan bisa membuat para jagoan di dalam ruangan itu sangat heran.
Pada saat itu, ketika gadis cilik itu melompat ke belakang, Cie Kiat meluncur turun dan dapat berdiri lagi di atas lantai. Ia memandang gadis cilik itu dengan bibir tersenyum manis. Meskipun heran, Cie Kiat juga sangat kagum bahwa di usia sekecil itu, gadis cilik itu bisa memiliki kepandaian yang begitu luar biasa.
Sedangkan gadis cilik itu, yang dipandang oleh Cie Kiat dengan tatapan ramah, malah mendelik menatap ke arah Cie Kiat. "Kau... kau telah menghinaku!" kata gadis cilik itu dengan suara nyaring, mukanya cemberut menandakan ia sangat mendongkol. Sikapnya yang kekanak-kanakan itu bisa membuat orang tertawa jika ia sedang marah.
"Kau akan dihukum oleh majikanku! Hmm... apakah dengan menghina diriku begini kau kira urusan bisa selesai sampai di sini saja?"
Cie Kiat tersenyum mendengar pertanyaan gadis cilik itu. "Sabar, Siauw Sio-cia...!" kata Cie Kiat dengan sabar, karena ia menganggap bahwa ia memang sedang berhadapan dengan seorang gadis yang berusia antara sembilan tahun. Dan lagi pula, Cie Kiat memang menyukai gadis cilik itu, yang memiliki wajah sangat menyenangkan.
"Siapakah nama majikanmu itu? Dan kau ini diutus kemari untuk melakukan apa?" Gadis cilik itu tertawa dingin. Tiba-tiba, sebelum ia menjawab pertanyaan Cie Kiat, ia menjejakkan kakinya, tubuhnya melonjak ke arah Cie Kiat. Sambil melompat begitu, tiba-tiba di tangannya telah tercekal pedang pendek mungil yang digerakkan menyerang ke arah muka Cie Kiat.
Hal ini mengejutkan Cie Kiat. Ia sama sekali tidak menduga bahwa gadis cilik itu dapat bergerak begitu cepat, dan malah menggunakan sebilah pedang tajam itu menyerang ke arah mukanya! Untung saja Cie Kiat memiliki kepandaian yang tinggi dan sempurna, maka dengan cepat ia melompat menepi. Saat ia melompat ke pinggir, ujung pedang sebetulnya sudah sangat dekat dengan kulit mukanya. Hal itu menunjukkan betapa cepatnya gadis cilik itu menggerakkan tangannya.
Sebetulnya, Cie Kiat dapat merebut pedang gadis cilik itu, tetapi ia sengaja tidak mau melakukannya, karena ia takut akan membuat gadis cilik itu marah dan bisa-bisa menangis. Hal itu tentu akan merepotkannya sendiri...!
Gadis cilik itu meluncur turun ke lantai kembali. Namun, begitu ujung kakinya menyentuh lantai, ia mengentakkan tubuhnya lagi. Tubuhnya melayang dengan cepat dan gesit. Ia melompat ke arah Cie Kiat lagi, yang kala itu juga baru bisa berdiri tegak.
Cie Kiat agak terkejut melihat kegesitan gadis cilik ini. Ia tidak menyangka bahwa ilmu meringankan tubuh gadis cilik ini hampir bisa disamakan dengan kecepatan seekor burung rajawali. Kali ini Cie Kiat tidak berani ragu, ia tidak berani main-main lagi. Dengan cepat, ketika pedang gadis cilik itu menyambar ke arah bahunya, Cie Kiat mengulurkan tangannya, jari-jarinya terentang, antara jari tengah dengan jari telunjuk. Cie Kiat bermaksud menjepit bilah pedang gadis cilik itu.
Namun, gerakan gadis cilik itu juga sangat cepat, matanya pun sangat tajam. Ia tidak mau membiarkan pedangnya terjepit, maka dengan cepat ia menarik kembali pedangnya. Tiba-tiba, ia bukannya mundur ke belakang, melainkan menubruk dan menyerang dengan pedangnya ke arah perut Cie Kiat. Sekarang ia menyerang dengan cara menusuk!
Cie Kiat tidak menyangka bahwa gadis ini bisa menyerangnya dengan serangan-serangan nekad. Cie Kiat sampai mengeluarkan seruan tertahan; ia benar-benar terkejut. Untung saja ia memiliki gerakan yang cepat dan gesit, sehingga perutnya tidak sampai tertusuk oleh mata pedang gadis cilik itu...!
Hal itu juga mengejutkan para jagoan di dalam ruangan tersebut, termasuk To-hun Koay-jin dan Oen Lay Tat, si Kauw-cu dari Pian-sia-kay. Yang membuat mereka kaget bukan karena perut Cie Kiat hampir tertusuk oleh pedang gadis cilik itu. Hal itu tidak luar biasa, tetapi kepandaian gadis itu yang benar-benar membuat mereka tercengang. Bagaimanapun juga, di usia sekecil itu, gadis cilik tersebut telah memiliki kepandaian ilmu silat yang begitu luar biasa, benar-benar membuat para jagoan di dalam ruangan tersebut heran sekaligus kagum.
Jika dinilai kepandaiannya, kepandaian gadis cilik itu tidak berada di bawah kepandaian para jagoan yang ada di dalam ruangan tersebut.