Halo!

Ibu Hantu - Chapter 42

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 42

Gadis cilik itu telah memiliki kepandaian yang begitu tinggi, lalu bagaimana dengan majikannya yang disebutnya dengan sebutan Nona Wang?

Pada saat itu, Cie Kiat dibuat repot menghindarkan diri dari setiap serangan yang dilancarkan gadis cilik itu secara beruntun.

Seandainya Cie Kiat mau, ia bisa menjatuhkan dan merobohkan gadis cilik tersebut di dalam satu atau dua jurus saja, bahkan melukai atau mencelakakan gadis cilik itu.

Namun, Cie Kiat tidak sampai hati melakukannya, karena ia menganggap gadis cilik itu masih terlampau kecil, sehingga tidak pantas jika ia bersikap keras terhadap gadis cilik tersebut.

Bagaimanapun, Cie Kiat adalah seorang pendekar berjiwa luhur dan berbudi kepada siapa saja, sehingga ia tidak mungkin mencelakai gadis cilik yang baru berusia sekitar sembilan tahun itu.

Tetapi setiap serangan dari gadis cilik itu benar-benar membuat Cie Kiat kewalahan.

Ia selalu berusaha mengelakkan setiap serangan gadis cilik itu, karena ia tidak ingin tubuhnya menjadi sasaran empuk mata pedang gadis cilik yang memiliki kepandaian lumayan tersebut.

Para jagoan yang berada di dalam ruangan itu menyaksikan dengan penuh perhatian. Mereka heran sekaligus kagum kepada gadis cilik itu.

Namun, lama-kelamaan Cie Kiat jemu juga menghadapi setiap serangan gadis cilik itu.

Jika ia terus melayani dan membiarkan gadis cilik itu melancarkan serangannya, maka ia tentu akan menghadapi gadis cilik itu terus-menerus, dan hal itu berarti ia akan direpotkan terus-menerus oleh gadis cilik itu.

Disaat gadis cilik tersebut melancarkan tusukan pada perut Cie Kiat sambil membentak, Cie Kiat telah mengulurkan tangannya.

Jari telunjuk dan jari tengahnya terjulur hendak menjepit pedang gadis cilik tersebut.

Gadis cilik yang aneh dan memiliki kepandaian lumayan itu terperanjat saat melihat lawannya ingin merebut pedangnya.

Cepat-cepat ia memutar tangannya, bermaksud menarik pulang pedangnya.

Namun, terlambat.

Pedangnya telah terjepit oleh Cie Kiat. Jari telunjuk dan jari tengah di tangannya telah menjepit dengan keras.

Hati gadis cilik itu mencelos.

Ia berusaha menarik pedang itu agak keras.

Namun, ia merasakan hatinya lebih terkejut dari semula.

Hal itu disebabkan pedangnya masih terjepit Cie Kiat.

Ia tidak bisa menarik pulang pedangnya, karena terjepit oleh jari tangan Cie Kiat seolah dijepit besi.

Hal ini membuat gadis cilik itu sangat gugup.

Dengan mengeluarkan seruan keras, gadis cilik ini berusaha menarik lagi.

Tetapi, tetap saja tidak terlepas.

Wajah gadis ini berubah merah padam, ia mendelik kepada Cie Kiat.

"Lepaskan pedangku!" bentak gadis cilik itu dengan suara nyaring.

Namun, Cie Kiat tidak mau melepaskannya.

Anak muda bermarga Lie ini malah tersenyum dengan sikap tenang.

"Nona Siau, kau terlalu galak!" kata Cie Kiat kemudian dengan suara sabar.

"Dengan pedang ini kau telah melancarkan serangan-serangan berbahaya dan bengis. Coba, kalau orang yang kau serang itu tidak memiliki kepandaian silat yang lumayan, bukankah ia akan menderita luka-luka?" Wajah gadis cilik itu berubah merah padam, ia tampak sangat kesal.

"Kau mau melepaskan pedangku atau tidak?" bentak gadis itu dengan suara seram.

Cie Kiat tersenyum lagi.

"Kalau aku tidak mau melepaskannya, apa yang akan kau lakukan?" tanya Cie Kiat acuh tak acuh, seolah mengejek.

Gadis cilik itu jadi makin kesal, ia sampai mengeluarkan seruan marah.

Ia mengerahkan tenaganya untuk membebaskan pedangnya dari jepitan jari tangan Cie Kiat.

Tetapi mana mungkin ia bisa menarik pulang pedangnya dari jepitan tangan Cie Kiat yang memiliki Lwekang sangat kuat?!

Jangankan dapat menarik pulang, bergoyang pun tidak.

Wajah gadis cilik itu jadi makin merah padam, rupanya ia gugup dan marah.

"Lepaskan!" bentaknya.

Cie Kiat membalasnya dengan senyum.

"Kau mau lepaskan atau tidak?" bentak gadis cilik itu dengan gusar.

"Tidak!" sahut Cie Kiat.

"Lepaskan!" "Tidak!"

Gadis cilik itu menarik pedangnya lagi, tarikannya sangat keras.

Namun, pedang itu tidak bergeming.

Wajah gadis cilik itu jadi makin merah padam, ia hampir menangis.

"Lepaskan!" teriaknya lagi dengan suara yang benar-benar penasaran.

"Sebelum kau mau mengakui kesalahanmu dan berjanji tidak akan sembarangan menyerang orang, pedangmu ini tidak akan kukembalikan! Bahkan, aku akan mematahkannya!" kata Cie Kiat.

Wajah gadis itu jadi makin merah padam.

"Lepaskan! Kataku lepaskan! Kalau Nona Wangku tahu, tentu kau akan dicincang menjadi perkedel!" teriak gadis itu seperti kalap, ia juga tampak sangat gugup.

"Baiklah, kalau kau berkepala batu dan tidak mau berjanji untuk tidak sembarangan menyerang orang lagi, aku akan mengambil tindakan tegas!" kata Cie Kiat dengan kesal, karena ia melihat, walaupun usia gadis cilik ini masih sangat muda dan kecil, ia benar-benar keras kepala, berhati keras dan tidak mau mengalah.

Semua jagoan memandang dengan tertarik, karena mereka ingin melihat apa yang akan dilakukan Cie Kiat.

Mereka menduga-duga apa yang akan dikerjakan Cie Kiat untuk membuat gadis cilik itu menyerah.

Begitu juga gadis cilik yang luar biasa itu, ia mengawasi Cie Kiat dengan pandangan mata kesal, marah, bercampur perasaan gugup serta takut, yang terpancar dari matanya.

"Bagaimana? Kau mau mengakui kesalahanmu atau tidak?" tegur Cie Kiat sambil mengawasi gadis cilik itu dengan sorot mata tajam.

Cie Kiat juga masih menjepit bilah pedang gadis cilik itu dengan kedua jari tangannya.

Gadis cilik itu jadi makin marah dan kesal.

Wajahnya tampak merah padam.

"Kau masih tidak mau mengaku salah?" bentak Cie Kiat dengan suara yang sengaja dikeraskan.

Ia sengaja masih menjepit pedang gadis cilik itu, karena ia tahu, bahwa gadis cilik itu tentu tidak akan melepaskan pedangnya begitu saja. Gadis cilik ini tentu tidak akan membiarkan pedangnya direbut Cie Kiat.

Oleh karena itu, Cie Kiat sengaja mempermainkan gadis cilik ini sesaat lamanya.

Tetapi bukannya menyahut, gadis cilik itu mengerahkan tenaganya untuk menarik pulang pedangnya dari jepitan tangan Cie Kiat.

Hal itu membuat Cie Kiat tersenyum sendiri.

"Kau benar-benar berkepala batu!" kata Cie Kiat sambil mengerahkan tenaganya pada kedua jari tangannya. Ia memutar sedikit, maka terdengar suara "tak!" yang cukup keras, pedang itu telah patah!

Begitu pedang gadis cilik itu patah, wajah gadis cilik itu seketika berubah merah padam, kemudian pucat, dan tubuhnya menggigil.

"Kau... kau... kau telah mematahkan pedang pemberian majikanku?" bentak gadis cilik itu dengan suara gemetar yang disebabkan perasaan terkejut, marah, dan kesal.

Cie Kiat tersenyum.

"Kau adalah seorang gadis cilik yang benar-benar berkepala batu!" kata Cie Kiat dengan suara sabar.

"Ini baru pedangmu yang kupatahkan, tetapi kalau kau masih tidak mau mengalah dan tidak mau mengubah kelakuanmu yang selalu menyerang orang dengan serangan-serangan bengis, hmm... dirimu sendiri yang akan kulukai dan kupatahkan juga batang lehermu!"

Tubuh gadis cilik itu makin menggigil, rupanya ia murka bukan main.

Air mata tampak menetes dari kelopak matanya. Tiba-tiba, dengan mengeluarkan seruan kalap, gadis cilik ini menubruk Cie Kiat, menyerang dengan pedangnya yang telah patah.

"Akan kuadu jiwa denganmu... akan kuadu jiwa denganmu!" teriak gadis ini dengan suara nyaring di antara tangisnya. Ia tampak kalap dan menyerang membabi buta ke arah Cie Kiat menggunakan pedangnya yang ujungnya telah patah...

Sebetulnya, Cie Kiat merasa senang dan menyukai gadis cilik ini.

Tadi, saat ia mematahkan pedang gadis cilik itu, ia menyesalinya.

Tidak seharusnya ia merusak barang milik gadis itu.

Apalagi, saat ia melihat gadis cilik itu telah mengucurkan air mata dan menangis hingga kalap menyerang dirinya, Cie Kiat jadi makin menyesal.

Tetapi, karena gadis cilik itu telah menyerang menggunakan pedang yang telah patah, Cie Kiat juga tidak bisa diam saja.

Cepat-cepat ia melompat menjauhi gadis cilik itu.

Dengan begitu, tikaman gadis cilik itu dengan pedang patahnya jadi jatuh pada tempat kosong.

Tetapi, gadis cilik itu rupanya memang telah kalap. Ia melompat dan menerjang ke arah Cie Kiat lagi.

Cie Kiat terpaksa mengelak lagi.

Dengan melompat dan menjejakkan kakinya, Cie Kiat selalu dapat menjauhkan diri dari gadis cilik itu.

Tetapi, gadis cilik itu tetap tidak mau mengerti. Ia menyerang terus-menerus tanpa mengenal lelah.

Sambil menyerang begitu, ia juga menangis terus, dan Cie Kiat jadi makin tidak enak hati.

Tetapi, tikaman gadis cilik itu memang tidak bisa dianggap remeh dan tidak boleh dipermainkan.

Sekali saja ia tertusuk, berarti ia akan cedera, sebab setiap serangan gadis itu bengis dan jatuh pada setiap titik darah berbahaya di tubuh.

Para jagoan lainnya yang melihat cara pertempuran yang tidak seimbang itu, menyaksikan dengan penuh perhatian.

Tidak ada yang bersuara di antara mereka.

Hanya di dalam hati mereka masing-masing, mereka mengakui bahwa sebetulnya kepandaian gadis cilik itu tidak rendah dan mungkin juga tidak kalah dari kepandaian mereka sendiri...

Saat gadis cilik itu menyerang terus-menerus kepada Cie Kiat, tiba-tiba terdengar suara seseorang berkata dengan nada lembut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment