Halo!

Ibu Hantu - Chapter 43

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 43

"Janganlah suka mempermainkan seorang anak kecil yang tidak berdaya!" Mendengar suara itu, gadis cilik itu telah melompat keluar dari gelanggang pertempuran.

"Wang Kouw-nio......!" Teriaknya sambil berlari ke pintu, di mana tampak berdiri seorang gadis dengan wajah yang cantik dan sikap yang agung sekali.

Usia gadis itu mungkin baru delapan belas tahun, tetapi cahaya dan sinar matanya menandakan bahwa dia mempunyai kepandaian silat dan Lwee-kang yang luar biasa sekali, tinggi dan sempurna.

"Wang Kouw-nio!!" Teriak si gadis cilik lagi waktu dia telah berada di depan gadis itu, yang dipanggilnya dengan sebutan Wang Kouw-nio, nona Wang.

"Dia telah menghina budakmu ini! Dia telah mematahkan pedang pemberian Kouw-nio!" Gadis itu menatap ke arah yang ditunjuk oleh gadis cilik itu, dia memandang Cie Kiat dengan tatapan mata yang dingin.

"Minggir kau!" Katanya kemudian dengan suara yang hambar, kepada gadis cilik itu, yang mana sudah lantas gadis cilik itu berdiri ke pinggir.

Gadis yang dipanggil dengan sebutan Wang Kouw-nio itu telah melangkah menghampiri ke arah Cie Kiat. Sambil melangkah begitu, matanya juga telah menyapu ke arah jago-jago lainnya yang berkumpul di dalam ruangan tersebut, juga dia memandang ke arah To-hun Koay-jin dan Oen Lay Tat.

Semua orang berdiam diri, mereka seperti terpengaruh oleh suatu kekuatan yang luar biasa, yang membuat mereka jadi berdiri seperti orang kesima. Mereka tenggelam dan kagum akan kecantikan wajah gadis itu.

Wang Kouw-nio tersebut benar-benar cantik, dia mempunyai potongan alis yang disebut alis bulan sabit, hidungnya yang disebut hidung Tiang-pie-kie, bibirnya adalah bibir yang disebut merah delima merekah dan dagunya yang lancip bulat itu disebut sebagai dagu gurun, matanya yang memancarkan cahaya yang bening itu disebut mata bintang kejora, maka dari itu, kecantikan yang dimiliki oleh gadis ini memang sulit untuk dicari duanya di dalam dunia ini!

Hanya saja, dari cahaya dan sinar matanya, maka orang akan segera mengetahui bahwa gadis tersebut mempunyai sifat dan perangai yang keras. Gadis ini, Wang Kouw-nio, tentu tidak akan mau mengalah kepada siapa saja. Dia pasti tidak akan mau sudah kalau memang urusan dirinya belum selesai dan dapat diselesaikan.

Itulah sifat-sifat si gadis yang tampak dan terlihat dari sinar matanya. Sekarang dikala dia menghampiri Cie Kiat, sinar matanya itu tajam sekali. Cie Kiat berdiri diam di tempatnya, dia seperti juga tenggelam dan terpaku oleh kecantikan yang dimiliki oleh Wang Kouw-nio tersebut.

Kalau Siang Kie Lan mempunyai wajah yang cantik, tetapi gesit dan dapat menggiurkan hati lelaki, maka kecantikan Wang Kouw-nio ini berbeda. Wang Kouw-nio ini tampaknya ayu dan agung sekali, sehingga orang tidak berani mengkhayalkan sesuatu di dalam kecantikan yang dimiliki oleh Wang Kouw-nio tersebut.

Maka dari itu, biarpun Siang Kie Lan mempunyai kecantikan yang luar biasa, toh kecantikannya itu tidak bisa memenangkan kecantikan yang dimiliki oleh kecantikan yang dimiliki oleh Wang Kouw-nio tersebut. Kedua gadis ini masing-masing mempunyai keistimewaan mereka sendiri-sendiri.

"Kau telah menghina budakku!!" Kata gadis itu, Wang Kouw-nio, dengan tiba-tiba dan suara yang agak keras, waktu dia telah berada di depan Cie Kiat. "Kau telah berani mematahkan pedang pemberianku pada budakku itu, menandakan kau sangat kurang ajar sekali, maka dari itu, perlu kiranya aku memberi hajaran kepadamu!"

Belum lagi Cie Kiat menyahuti, dan belum lagi dia memberikan penjelasan, tangan si gadis telah bergerak sedikit. Tampak melesat cahaya bening yang kecil, yang menyambar dengan cepat sekali. Cie Kiat segera juga merasakan benturan dari hawa panas yang luar biasa. Hati anak muda ini jadi terkejut sekali.

Senjata apa yang telah dilontarkan oleh gadis itu, sehingga dia merasakan samberan hawa panas, seperti api yang membakar kulitnya. Dengan terjengkit, Cie Kiat berusaha mengelakkan samberan dari senjata yang dilontarkan oleh gadis itu, oleh si Wang Kouw-nio.

Entah senjata rahasia apa yang telah disambitkan oleh Wang Kouw-nio itu, sehingga menimbulkan hawa yang panas sekali. Cie Kiat sendiri jadi terperanjat bukan main, dia tidak menduga bahwa dirinya akan diserang begitu. Cie Kiat menduga bahwa senjata kecil yang dilontarkan oleh Wang Kouw-nio itu, yang putih kecil melesat menyambar ke dirinya, adalah senjata rahasia yang mungkin juga beracun.

Maka dari itu Cie Kiat tidak berani main-main. Dia dapat mengegoskan samberan senjata rahasia yang berwarna putih itu, tetapi waktu lewat di sisi tubuhnya, Cie Kiat merasakan hawa samberan senjata rahasia itu yang panas menyerupai api!! Hal itu mengejutkan Cie Kiat, dia sampai melompat menjauhi tempat itu lagi!

Senjata itu meluncur terus, dan menyambar tiang yang ada di ruangan itu. "Taakkkk!" Tiang itu terhajar senjata rahasia yang disambitkan oleh Wang Kouw-nio tersebut. Mata semua jago-jago yang ada di dalam ruangan itu jadi mengeluarkan seruan tertahan, dan Cie Kiat juga jadi menitikkan keringat dingin, karena mereka semuanya menyaksikan, waktu membentur tiang itu, maka senjata rahasia yang berwarna putih serta kecil itu telah memercikkan api, dan di dalam waktu yang seketika itu juga tiang tersebut telah hangus oleh korban api.

Untung saja tiang tersebut terbuat dari batu seluruhnya, sehingga tidak sampai termakan oleh api. Tetapi bisa dibayangkan, kalau memang tubuh Cie Kiat yang kena kesamber oleh senjata rahasia yang aneh dari gadis itu, tentu tubuh Cie Kiat akan terbakar! Maka dari itu, semua orang jadi menggidik.

Cie Kiat memandang gadis itu, Wang Kouw-nio, dengan sinar mata yang bertanya-tanya. "Hmmmm...... pantas saja kau berani menghina orangku, nyata sekali kau mempunyai kepandaian yang lumayan!" Kata Wang Kouw-nio dengan wajah yang dingin tanpa ada seulas senyum di bibirnya, tetapi tetap cantik.

"Tetapi jangan harap sekarang kau bisa memperoleh pengampunan dan terlolos dari Ho-sin-tan, pil api, yang akan membakar dirimu!" Dan setelah berkata begitu, maka gadis tersebut telah menyentil dengan jari tangannya lagi, tampak melesat beruntun dari beberapa jurusan yang menyambar ke arah Cie Kiat.

Seketika itu juga ruangan tersebut jadi panas sekali, karena senjata rahasia yang dinamakan oleh gadis itu dengan sebutan Ho-sin-tan, menyambar dengan cepat, dari jurusan atas, bawah, tengah dan jurusan bagian tubuh yang berbahaya lainnya. Cie Kiat jadi kewalahan juga.

Kalau memang dia harus menghadapi gadis itu dengan menggunakan ilmu silat, mungkin dia tidak akan menyerah. Tetapi kali ini gadis itu, Wang Kouw-nio, telah menggunakan senjata rahasia yang aneh sekali, yang dapat menimbulkan hawa panas dan kalau memang terkena serangan, senjata itu akan meledak dan menimbulkan api!

Jangankan terserang oleh senjata itu, sedangkan orang-orang yang berada di dalam ruangan itu, dapat merasakan samberan hawa panas. Maka dari itu, dapat dibayangkan, kalau memang ada orang yang terserang oleh senjata itu, tentu seketika itu juga akan terbinasa oleh benturan senjata yang aneh tersebut.

Cie Kiat melihat bahwa senjata rahasia itu menyambar dirinya dari berbagai jurusan, dia jelas tak bisa melompat ke kiri atau ke kanan, karena jalan untuk melompat ke arah itu telah tertutup oleh menyambarnya Ho-sin-tan lainnya dari jurusan itu! Untuk menerima serangan tersebut, untuk manda terserang oleh senjata rahasia si gadis Wang Kouw-nio yang sangat berbahaya itu, jelas Cie Kiat tidak mau.

Maka dari itu, dengan mengeluarkan seruan yang panjang, dia telah mengenjotkan kakinya, tubuhnya mencelat, dan dia melambung ke atas penglarian dari ruangan tersebut. Dengan begitu, dengan sendirinya Cie Kiat dapat menghindarkan serangan senjata rahasia yang dapat menimbulkan hawa panas itu.

Terdangar suara tak, tak, takkk, takkk, tak, beberapa kali, juga tampak pijaran api yang muncrat dari benda yang membentur dinding, senjata rahasia itu berjatuhan meluruk di lantai. Semua orang yang menyaksikan hal itu jadi berdiri dengan kesima, mereka tidak tahu bagaimana seumpamanya senjata-senjata rahasia itu tadi menyambar ke diri mereka.

Pada saat yang bersamaan, tubuh Cie Kiat telah meluncur turun ke lantai lagi, dia telah berdiri di lantai dengan wajah yang tenang, tidak memperlihatkan kegugupannya sedikit pun. Hanya wajah gadis yang dipanggil Wang Kouw-nio itu saja yang telah berobah hebat dia bergusar karena serangannya yang beruntun itu masih tidak bisa merubuhkan Cie Kiat.

Biasanya kalau memang Wang Kouw-nio tersebut menyerang lawannya dengan menggunakan Ho-sin-tan, maka tak mungkin musuhnya itu dapat menghindarkan seluruh serangannya itu. Satu atau dua dari Ho-sin-tan pasti akan dapat mengenai tubuh lawannya, dan begitu kena terserang, maka lawannya itu akan kelabakan dan akan dapat dirubuhkan dengan mudah.

Tetapi kali ini sebutir Ho-sin-tan tak ada yang mengenai diri Cie Kiat. Malah tampaknya anak muda she Lie itu sangat tenang sekali waktu melompat turun. Hal itulah yang telah menyebabkan Wang Kouw-nio jadi agak mendongkol. Biar bagaimana, biasanya dia belum pernah ada yang bisa mengelakkan serangannya, sekarang dia seperti tidak dipandang sebelah mata, hal itu menyebabkan perasaan murka yang bergolak di dalam hati gadis tersebut.

"Hmmmm...... kau masih bisa mengelakkan seranganku itu!!" Kata si gadis yang bernama Wang Kouw-nio, nona Wang itu, dengan suara yang dingin sekali. Cie Kiat menatap gadis itu dengan wajah yang memperlihatkan keheranannya. "Kouw-nio.... ini..... ini....!" Katanya agak gugup.

Si gadis tertawa dingin, wajah Wang Kouw-nio ini tawar sekali. "Hmmmm...... alasan apa yang ingin kau kemukakan kepadaku?!" Te gurnya dengan suara yang tawar sekali. "Kau telah menghina dan menurunkan tangan jahat mematahkan pedang dari budakku, maka dengan sendirinya, kau juga telah menantang diriku! Hari ini biar bagaimana aku harus memberikan ganjaran yang setimpal kepadamu!!"

Dan setelah berkata begitu, maka dengan cepat tangan dari Wang Kouw-nio itu telah bergerak lagi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment