Chapter 44
Hebat kali ini, karena yang menyambar Cie Kiat bukanlah Ho-sin-tan, melainkan sehelai ikat pinggang dari si gadis, yang entah sejak kapan telah berada di tangannya.
Ikat pinggang itu menyambar dengan cepat ke arah Cie Kiat, serangan tersebut mengandung tenaga Lwee-kang yang benar-benar kuat sekali, sehingga angin serangan dari ikat pinggang itu telah berseliweran di sekitar ruangan tersebut.
Jago-jago silat lainnya yang berdiri di pinggiran tempat itu dapat merasakan sambaran-sambaran dari angin serangan angkin yang di tangan Wang Kouw-nio.
Cie Kiat melihat ujung dari ikat pinggang itu telah menyambar cepat sekali, mengincar jalan darah Siang-tie-hiatnya di bagian pundak.
Jalan darah itu adalah jalan darah yang cukup penting, karena bersangkut-paut dengan jalannya pernapasan.
Sekali saja jalan darah itu terserang, maka biarpun orang itu mempunyai kepandaian yang cukup tinggi, toh tetap saja dia akan rubuh terguling dengan menderita gempuran di dalam.
Jalan darah Siang-tie-hiat ini merupakan jalan darah yang boleh disebut inti, dan sekali saja tertotok oleh senjata apa saja, maka dengan sendirinya di bagian dada dari orang yang tertotok jalan darahnya tersebut, orang itu akan menderita sesak napas seumur hidupnya.
Maka dari itu, Cie Kiat tidak mau membiarkan dirinya kena diserang oleh angkin gadis itu.
Dengan cepat Cie Kiat telah menjejakkan kakinya, tubuhnya melayang melompat menjauhi tempat itu.
Tetapi ujung angkin itu menyambar terus, seperti juga mempunyai mata, dan dengan cepat ujung dari angkin yang telah berubah keras itu, jadi mengincar jalan darah Pay-ma-hiat dari Cie Kiat.
Inilah kehebatan dari kepandaian Wang Kouw-nio itu, karena tanpa menarik pulang angkinnya itu, dia telah dapat melancarkan serangan lainnya lagi secara beruntun.
Tetapi Cie Kiat memang telah mempunyai kepandaian yang tinggi.
Bagaimanapun juga, dia tidak mau membiarkan dirinya itu terserang.
Dia tidak akan membiarkan dirinya menjadi korban dari totokan ujung angkin dari Wang Kouw-nio itu.
Sekarang, di saat dia mengelakkan serangan ujung angkin yang mengincar jalan darah Pay-ma-hiatnya, maka Cie Kiat tidak mengelak begitu saja.
Dia tidak berdiam diri, melainkan telah menggerakkan tangan kirinya, dia bermaksud akan mencekal dan menangkap ujung dari angkin si gadis she Wang itu.
Wang Kouw-nio jadi agak terkejut waktu dia melihat si anak muda she Lie itu masih dapat menghindarkan serangannya itu dengan mudah, dan malahan dengan cepat tampak si anak muda she Lie itu telah bermaksud akan mencekal ujung angkinnya, mungkin juga mau merebutnya, maka dengan cepat Wang Kouw-nio telah menarik pulang angkinnya, sambil menarik pulang angkinnya itu, maka dia telah mengeluarkan suara seruan yang nyaring sekali.
Wang Kouw-nio bukannya menarik pulang angkinnya itu untuk lantas berdiam diri.
Dia telah menggerakkan tangannya, dia telah menyerang dengan serangan yang sangat beruntun sekali.
Setiap serangan dari Wang Kouw-nio dengan angkinnya itu mengandung tenaga serangan yang besar sekali, juga ujung dari angkinnya itu sangat berbahaya sekali.
Harus diketahui, bahwa angkin adalah benda kain yang sifatnya lunak, tetapi di tangan seorang ahli Lwee-keh, tenaga dalam, maka angkin atau benda-benda lainnya yang lunak, bisa menjadi benda keras, keras melebihi baja.
Maka dari itu, sekarang angkin yang ada di tangan si gadis she Wang itu, yang dipakai sebagai senjatanya untuk menyerang Cie Kiat, telah berubah begitu liehay dan berbahaya karena, dengan angkinnya itu Wang Sio-cia telah menggerakkan tenaga Lwee-kangnya yang tersalur melalui angkinnya itu dan mengincar jalan darah di bagian tubuh Cie Kiat, jalan darah yang berbahaya dan bisa membahayakan jiwa dari Cie Kiat.
Tetapi Cie Kiat adalah seorang anak muda yang mempunyai kepandaian yang sangat tinggi, dia juga tidak mau terlalu turun tangan keras kepada si gadis karena dia merasa tidak enak hati.
Maka dari itu, lebih banyak Cie Kiat selalu mengelakkan diri dari setiap serangan Wang Kouw-nio yang dilancarkan kepadanya.
Pada saat itu, salah seorang jago di antara jago-jago yang ada di dalam ruangan tersebut, telah menyeletuk.
"Aha, sekarang anjing betina yang pura-pura galak itu akan dapat dirubuhkan si bocah!" Dan yang menyeletuk itu adalah Soe Tiang Ho, seorang jago silat yang mempunyai nama tidak begitu besar di dalam kalangan Kang-ouw.
Tetapi disebabkan sifat dari Soe Tiang Ho memang angkuh dan sering tinggi diri, dengan sendirinya dia selalu jadi menganggap rendah orang lain.
Wang Kouw-nio jadi berubah wajahnya, tetapi dia tidak menghentikan serangan-serangannya terhadap Cie Kiat.
Tangan kirinya saja yang bergerak, maka melesatlah beberapa butir Ho-sin-tan.
"Takkkkk!" Terdengar suara yang keras sekali.
Tampak tubuh Soe Tiang Ho terpental dan orang ini menjerit mengaduh!
Kemudian tampak berjingkrak-jingkrak sambil menjerit-jerit seperti babi yang mau dipotong.
Ternyata, tak terduga, Ho-sin-tan itu telah menghantam tepat orang she Soe tersebut.
Sebetulnya, kalau memang Soe Tiang Ho mempunyai kepandaian yang tinggi, maka dia akan dapat mengelakkan serangan Ho-sin-tan tersebut, tetapi berhubung kepandaiannya memang tidak seberapa, dan lagi pula Wang Kouw-nio itu memang mempunyai kepandaian yang tinggi, maka dari itu, timpukan Ho-sin-tan oleh Wang Kouw-nio tepat mengenai beberapa jalan darah orang she Soe itu.
Rasa dan hawa panas telah meliputi tubuh Soe Tiang Ho, orang she Soe ini seperti juga dibakar oleh kobaran api yang besar sekali.
Sambil menjerit-jerit, dia merubuhkan dirinya di lantai dan berguling-guling.
Semua orang yang menyaksikan hal itu jadi kaget dan wajah mereka semuanya jadi pucat.
Bagaimana kalau memang mereka juga terkena serangan Ho-sin-tan dari Wang Kouw-nio itu?
Lama juga Soe Tiang Ho berguling-guling begitu, dia berguling-guling sambil menjerit-jerit dengan suara yang menyayatkan hati.
Kemudian setelah berselang sesaat, semua orang melihat Soe Tiang Ho melompat tinggi, lalu tubuhnya itu jatuh ambruk di lantai lagi dengan terbanting, tubuhnya kemudian mengejang kaku, terkejang-kejang sesaat, dan kemudian diam tak berkutik, karena nyawanya telah meninggalkan raganya.
Semua orang yang melihat hal itu jadi bergidik.
Mereka tidak menduga sedikit pun bahwa Ho-sin-tan dari Wang Kouw-nio tersebut sangat ampuh dan begitu luar biasa.
Mereka juga tidak menduga bahwa Ho-sin-tan bisa menyebabkan kebinasaan orang she Soe.
Dengan sendirinya mereka jadi mengawasi Soe Tiang Ho yang sudah menjadi mayat.
Hati mereka semuanya berdebar, juga mereka mengetahui sekarang, kalau Ho-sin-tan pasti mengandung racun api yang sangat berbahaya.
Karena, begitu terserang tidak lama, Soe Tiang Ho seperti orang yang terbakar tubuhnya, menjadi hitam gosong, kemudian setelah hanya berselang beberapa menit saja, dia telah mengejang menjadi mayat.
Hal itu dapat menggambarkan, betapa hebatnya racun dari Ho-sin-tan milik gadis she Wang itu.
Budak dari Wang Kouw-nio, gadis cilik yang baru berusia di antara sembilan tahun, yang tadi pedangnya dipatahkan oleh Cie Kiat, tampak memandang mayat Soe Tiang Ho dengan puas, tampaknya dia sekarang agak senang, mungkin dia menganggap sakit hatinya agak terbalas.
Juga berulang kali dia mendengus mengeluarkan suara tertawa dingin, tampaknya sikap gadis cilik ini sangat bangga bahwa nona majikannya Wang Kouw-nio dapat merubuhkan dan membinasakan salah seorang lawannya.
Pada saat itu, Wang Kouw-nio dan Cie Kiat masih terus bertempur.
Malah sekarang serangan-serangan dari Wang Kouw-nio semakin gencar dan hebat.
Setiap ujung dari kain ikat pinggangnya yang digerakkan menyerang Cie Kiat itu mengandung tenaga Lwee-kang yang kuat luar biasa.
Juga serangan dari Wang Kouw-nio itu terdiri dari berbagai serangan yang ganas dan mematikan, sangat membahayakan jiwa.
Namun, sebagai seorang jago yang mempunyai kepandaian sangat tinggi, biarpun pengalaman tempur belum begitu matang pada diri Cie Kiat, toh tetap saja Cie Kiat dapat menghadapi si gadis she Wang itu dengan sangat baik.
Malah anak muda she Lie ini semakin lama jadi semakin lenyap kesabarannya.
Dia selalu menantikan setiap serangan dari Wang Kouw-nio.
Dan setiap kali pula Cie Kiat mengelakkan serangan-serangan itu.
Ketika dia sudah hilang kesabarannya, maka dia jadi mengambil keputusan untuk memberikan pelajaran sedikit kepada gadis itu, agar nanti tidak terlalu angkuh seperti sekarang ini.
Cie Kiat menantikan angkin dari gadis itu menyambar lagi kepadanya. Saat itu angkin Wang Kouw-nio menyambar dengan jurus Soeto, cepat dan bertenaga angkin itu menyambar ke arah Cie Kiat.
Dengan mengeluarkan suara dengusan dingin, Cie Kiat mengulurkan tangannya, dan dengan kecepatan yang sangat luar biasa dia telah mencekal ujung angkin si gadis!
Malah Cie Kiat telah menarik angkin itu sambil mengerahkan tenaga Lwee-kangnya, disertai oleh bentakannya.
"Lepas....!!"
Wang Kouw-nio jadi sangat terkejut waktu melihat angkinnya itu kena dicekal oleh si anak muda she Lie, juga dia terkejut benar dan hatinya mencelos waktu Cie Kiat menarik angkinnya dengan tenaga yang luar biasa besar.
Si gadis sampai mengeluarkan seruan tertahan.
"Ihhhhhhhhhhh!" Tanpa sadar dia jadi mengeluarkan seruan begitu, dan dia berusaha menahan dan mencekal angkinnya itu kuat-kuat.
Tetapi tenaga tarikan dari Cie Kiat sangat kuat.
Meskipun si gadis she Wang itu telah menahannya dengan tenaga yang kuat, toh tubuhnya jadi tertarik beberapa langkah ke muka.
Cie Kiat sendiri heran tarikannya dengan tenaga Lwee-kangnya itu tidak membawa hasil.
Dia melihat hanya si gadis yang terhuyung ke depan beberapa langkah.
Selain itu, angkin tersebut tidak terlepas atau lebih tepatnya tidak dapat direbutnya!
Hal ini membuat Cie Kiat jadi penasaran juga.