Halo!

Ibu Hantu - Chapter 45

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 45

Bagaimanapun, ia adalah seorang anak muda yang memiliki ambisi besar, sehingga ia selalu ingin menang dan unggul.

Oleh karena itu, melihat tarikan pertamanya untuk merebut angkin nona Wang gagal.

Cie Kiat lantas mengerahkan beberapa bagian lagi tenaganya, ia menambah kekuatan tarikannya.

Cie Kiat juga kali ini telah menggunakan hampir tujuh bagian tenaga Lwee-kang-nya.

Ia menariknya dengan sangat keras, sambil menarik ia membentak.

"Lepaskan!" Anak muda bermarga Lie ini membetotnya dengan sangat keras.

Wang Kouw-nio sangat terkejut.

Ia terperanjat bukan kepalang karena kekuatan tarikan dari Cie Kiat sangat kuat.

Bagaimanapun juga, ia adalah seorang jagoan yang mengetahui batas kepandaian yang dimilikinya.

Selama hidupnya, belum pernah ada orang yang bisa menandingi kepandaiannya.

Dan sekarang, kekuatan tarikan Cie Kiat yang begitu besar membuatnya terhuyung ke depan.

Pada akhirnya, ketika Cie Kiat menambah kekuatan tarikannya dan membetotnya dengan sangat keras, tanpa diduga tubuh Wang Kouw-nio melesat dan terlempar ke udara!

Hal ini terjadi karena gadis bermarga Wang itu juga mempertahankan angkinnya yang digenggamnya erat sekali, sehingga ketika Cie Kiat menariknya dengan kuat, angkin itu menegang keras, bagaikan sabuk baja. Kemudian, karena kekuatan tarikan Cie Kiat sangat kuat, tubuh gadis itu tanpa bisa ditahan terlempar begitu tinggi.

Tetapi, Wang Kouw-nio memang gesit dan memiliki kepandaian tinggi.

Ia tetap tidak mau melepaskan angkinnya, walaupun tubuhnya sedang terlempar.

Bahkan, di tengah udara Wang Kouw-nio telah berpoksay.

Dan ketika tubuhnya melesat turun ke lantai, tangan kirinya telah bergerak sangat cepat, maka beberapa butir Ho-sin-tan melesat menyambar Cie Kiat.

Hawa panas juga segera menyerang Cie Kiat.

Hal ini dilakukan oleh Wang Kouw-nio hanya untuk mencegah anak muda bermarga Lie ini melakukan serangan beruntun ketika ia sedang turun ke lantai dan belum sempat mengambil posisi bertahan.

Benar saja, Cie Kiat terpaksa harus mengelakkan serangan dan sambaran Ho-sin-tan, pil yang dapat menimbulkan hawa panas seperti api neraka.

Anak muda bermarga Lie ini bergerak sangat cepat. Belum sempat sambaran Ho-sin-tan itu mengenai tubuhnya, ia telah menjejakkan kakinya, tubuhnya melambung tinggi. Ketika sedang meluncur turun, ia juga menggerakkan kedua tangannya, dari telapak tangannya, serangan yang disertai tenaga Lwee-kang menyambar.

Serangan itu menyambar keras ke arah gadis bermarga Wang yang saat itu sudah dapat berdiri di atas lantai lagi.

Wang Kouw-nio terkejut ketika ia belum sempat berdiri tegak, saat sambaran angin keras dari dorongan telapak tangan Cie Kiat telah menerjangnya.

Gadis bermarga Wang itu sampai mengeluarkan pekikan tertahan, hatinya mencelos. Untung saja ia lihai dan kosen, sehingga ia tidak gugup menghadapi hal itu.

Dengan cepat ia melompat ke samping kanan lagi, mengelak dari serangan dorongan Cie Kiat dengan melompat ke samping begitu, karena ia tidak mau membenturkan tenaga keras melawan tenaga keras.

Dengan melompat ke samping kanan itu, tenaga serangan Cie Kiat jatuh ke tempat kosong. Dengan begitu, Wang Kouw-nio tidak perlu terlalu repot membentur serangan keras Cie Kiat.

Kini keduanya sudah berdiri saling berhadapan lagi.

Mereka saling mengawasi dengan pancaran mata yang sangat jeli, karena keduanya tidak ingin jika lawan mereka menyerang terlebih dahulu.

Terlebih lagi Cie Kiat, ia memang harus bersikap hati-hati dan waspada. Sebab, jika gadis bermarga Wang itu menyerangnya dengan serangan yang membahayakan jiwanya, berarti ia akan menghadapi bahaya yang tidak kecil. Terlebih lagi jika gadis bermarga Wang itu menggunakan Ho-sin-tannya, itu akan menambah bahaya yang cukup besar bagi diri Cie Kiat.

Oen Lay Tat, To-hun Koay-jin, dan yang lainnya telah memandang jalannya pertempuran antara Cie Kiat dengan nona Wang itu dengan pandangan tak berkedip.

Mereka melihat kepandaian Cie Kiat sangat tinggi.

Tak pelak lagi, mereka sangat kagum kepada anak muda bermarga Lie itu.

Sedangkan jika dibandingkan antara kepandaian ilmu silat Cie Kiat dengan ilmu silat nona Wang, jelas terdapat perbedaan.

Hanya saja, karena nona Wang telah menggunakan Ho-sin-tan, dengan demikian, ia dapat menutup kelemahan dirinya sendiri.

Pada saat itu,

Wang Kouw-nio telah melangkah selangkah demi selangkah perlahan, matanya memancarkan cahaya dingin tak berperasaan.

Ujung angkinnya masih tercekal oleh Cie Kiat, sehingga mereka masing-masing saling mencekal ujung angkin itu satu sama lain. Angkin yang agak panjang itu tertarik tegang.

Mereka saling mengawasi dengan penuh kewaspadaan, karena mereka saling terikat dengan ujung angkin yang tercekal di tangan mereka.

Jika salah seorang di antara mereka lengah, maka yang lain dapat menggunakan kesempatan tersebut untuk membuka serangan.

Wang Kouw-nio juga sebenarnya ingin membuka serangan lagi. Ia tidak percaya bahwa dirinya kali ini tidak akan bisa merubuhkan Cie Kiat, karena seumur hidupnya gadis ini belum pernah bertemu dengan orang yang bisa menandingi ilmu silatnya.

Gadis cilik berusia sembilan tahun yang menjadi budak atau pelayan dari Wang Kouw-nio itu, mengawasi dari pinggir. Ia juga heran mengapa majikannya, Wang Kouw-nio, masih saja tidak mau menyerang dan merubuhkan musuhnya, padahal, setahu gadis cilik berusia sembilan tahun itu, nona majikannya memiliki kepandaian yang tinggi dan sangat kosen!

Cie Kiat sendiri merasa heran.

Sebenarnya, dengan kepandaiannya, jika Cie Kiat menginginkannya, ia bisa dengan mudah merubuhkan Wang Kouw-nio hanya dalam beberapa jurus saja, sebab kepandaian gadis itu masih berada dua tingkat di bawah Cie Kiat.

Persoalan Ho-sin-tan itu, sebenarnya sangat mudah dihadapi, hal itu bukan masalah bagi diri Cie Kiat.

Saat Cie Kiat berpikir begitu, tenggelam dalam kebimbangan, tiba-tiba gadis bermarga Wang itu telah menarik ujung angkin yang lain, sehingga tubuh Cie Kiat hampir saja tertarik karena tarikan yang tiba-tiba itu.

Dan tiba-tiba Wang Kouw-nio telah menjejakkan kakinya, tubuhnya melesat sangat cepat ke arah Cie Kiat.

Sambil melesat dan menerjang begitu, Wang Kouw-nio telah menggerakkan tangan kirinya, menyerang Cie Kiat beruntun dengan belasan Ho-sin-tan!

Cie Kiat juga terkejut melihat kenekadan gadis bermarga Wang itu.

Ia sampai mengeluarkan pekikan tertahan.

Tetapi berhubung lawan telah menyerang dengan serangan begitu cepat dan nekat, disertai oleh lemparan Ho-sin-tan, mau tidak mau Cie Kiat harus menghadapinya.

Seandainya lawannya seorang lelaki, ia tentu bisa menghadapinya dengan cara yang keras.

Tetapi berhubung lawannya ini seorang wanita, maka mau tidak mau harus mengalah.

Itulah yang menyebabkan Cie Kiat selalu merasa tidak enak hati untuk melakukan serangan keras.

Bagaimanapun juga, ia adalah seorang yang memiliki kepandaian yang sangat tinggi, maka dengan sendirinya ia bisa menghadapi setiap serangan dari lawannya.

Tetapi menghadapi Wang Kouw-nio ini, entah mengapa Cie Kiat banyak mengalah.

Kini, ketika si gadis menerjang kepadanya sambil melontarkan belasan Ho-sin-tan, ia juga tidak terlalu gugup.

Dengan cepat Cie Kiat telah menggeser kakinya, kaki kirinya melangkah sejauh tiga kaki, kemudian ia menggeser kaki kanannya membentuk setengah lingkaran. Lututnya sedikit tertekuk, sehingga tubuh Cie Kiat agak doyong ke belakang. Ia telah berhasil mengelakkan terjangan dari Wang Kouw-nio.

Bahkan, belasan Ho-sin-tan yang dilontarkan oleh Wang Kouw-nio juga mengenai tempat kosong, dan hal itu menyebabkan gadis bermarga Wang itu bertambah mendongkol.

Terlebih lagi, ujung dari angkinnya, ikat pinggangnya itu masih tercekal oleh Cie Kiat, menyebabkan Wang Kouw-nio bertambah mendongkol.

Dengan penasaran, dan dengan mengeluarkan suara bentakan lagi, Wang Kouw-nio telah menerjang lagi kepada Cie Kiat.

Terjangannya itu sangat hebat, memiliki kekuatan yang dahsyat, karena disertai oleh tenaga Lwee-kang yang sangat kuat. Gadis bermarga Wang ini telah mengerahkan tujuh bagian tenaga Lwee-kangnya untuk menyerang Cie Kiat!

Melihat kenekadan gadis bermarga Wang itu, Cie Kiat merasa tidak enak hati.

Ia takut jika nanti gadis bermarga Wang ini mengalami cedera di tangannya, dan hal itu akan membuat ia benar-benar tidak enak hati terhadap diri gadis tersebut.

Oleh karena itu, dengan cepat Cie Kiat mengelak lagi.

Dengan mudah ia dapat menangkis serangan-serangan si gadis.

Tetapi jika keadaan ini berlarut-larut terus, tentu akhirnya akan membawa suatu dampak yang tidak baik juga.

Suatu saat nanti si gadis pasti akan terpukul atau diserang oleh Cie Kiat, dan semuanya akan berakibat sama: tetap tidak enak hati!

Oleh karena itu, dengan cepat akhirnya Cie Kiat telah mengambil keputusan, bagaimanapun juga ia harus dapat merubuhkan gadis ini.

Dengan cepat, ketika si gadis tengah menyerangnya dengan menggunakan jari tangannya untuk menotok jalan darah Pie-ho-hiatnya yang terletak di lengan, Cie Kiat dengan cepat memiringkan tubuhnya, sehingga totokan si gadis lewat begitu saja. Dan saat tangan si gadis itu lewat di sisinya, dengan cepat Cie Kiat mengulurkan tangannya, ia mencengkeram jalan darah Po-lo-hiatnya si gadis.

Cekalan Cie Kiat tepat sekali.

Seketika itu juga si gadis merasakan tangannya kesemutan, tubuhnya seketika itu juga seperti lumpuh tak berdaya.

Wajah si gadis berubah pucat pasi.

Dengan sendirinya pertempuran terhenti.

Gadis cilik berusia sembilan tahun itu sangat terkejut, ia sampai mengeluarkan pekikan tertahan saat melihat nona majikannya tertawan oleh Cie Kiat.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment