Halo!

Ibu Hantu - Chapter 46

Memuat...
Ibu Hantu

Chapter 46

Tanpa memikirkan keselamatan dirinya, apalagi kepandaiannya yang tidak seberapa, gadis berusia sembilan tahun yang menjadi pelayan Wang Kouw-nio itu menerjang Cie Kiat. Ia bermaksud menolong majikannya dari cengkeraman Cie Kiat.

Namun, kepandaian gadis cilik itu tentu tidak bisa menandingi kepandaian Cie Kiat. Majikannya sendiri sudah roboh dan tertawan oleh pemuda bermarga Lie itu.

Wang Kouw-nio mengerahkan tenaga dalamnya ke lengannya untuk menutup aliran darahnya agar terlepas dari cekalan Cie Kiat. Namun, usahanya gagal. Tenaga dalamnya selalu mandek di bahu dan mengalir kembali ke bawah. Kegagalan itu membuatnya kelabakan dan gugup luar biasa.

Saat itu, pelayan nona Wang, gadis berusia sembilan tahun itu, menerjang dan menubruk Cie Kiat dengan nekad. Akan tetapi, Cie Kiat sudah melepaskan cekalannya pada ujung angkin Wang Kouw-nio. Dengan satu tangan, ia menangkis pukulan gadis pelayan itu. Segera setelah menangkis, Cie Kiat mencekal baju gadis cilik itu, mengangkatnya, lalu melemparkannya hingga terhempas ke lantai.

Cie Kiat tidak membanting gadis itu dengan tenaga dalamnya, pun tidak bermaksud buruk. Ia melemparkannya dengan mengendalikan *lwee-kang*-nya agar jatuhnya pelayan kecil itu tidak menyakitkan.

Meski begitu, gadis pelayan Wang Kouw-nio itu rupanya sangat penasaran. Ia menerjang lagi dengan nekad. Padahal, semua orang tahu, tak peduli seberapa nekadnya ia menerjang untuk menolong majikannya, ia tak akan berhasil.

To-hun Koay-jin, Oen Lay Tat, dan para jago lainnya mengawasi dalam diam. Oen Lay Tat sudah menggenggam pedang *Tat-mo Kiam*. Kauw-cu dari Pian-sia-kay itu bersiap-siap, berjaga-jaga jika ada yang mencoba merebut pedang *Tat-mo Kiam*. Ia menggenggamnya erat, sedikit gentar kalau-kalau To-hun Koay-jin tiba-tiba menerjang untuk merampasnya.

Pertempuran antara Wang Kouw-nio dan Cie Kiat tadilah sangat menarik perhatian semua jagoan di sana. Terlebih lagi, mereka melihat keberanian gadis pelayan kecil yang menerjang nekad untuk menolong majikannya. Hal itu tentu membuat mereka terkesima.

Namun, bagi Lay Tat, hal itu tidak menarik. Ia tidak mau menyaksikannya lama-lama. Otak Kauw-cu Pian-sia-kay itu berputar mencari jalan keluar untuk meloloskan diri dari ruangan itu dan menyelamatkan pedang *Tat-mo Kiam* yang kini berada di tangannya.

Wang Kouw-nio yang jalan darah *po-lo-hiat*-nya dicekal, membuat tubuhnya kejang, kaku, dan lumpuh tak bisa bergerak. Hal ini membuatnya gugup luar biasa. Meski ia memiliki kepandaian luar biasa yang sebelumnya tak tertandingi, kini ia tak berdaya di tangan pemuda bermarga Lie itu. Ia merasa geram dan gusar karena ketidakberdayaannya.

Melihat pelayan kecilnya menerjang Cie Kiat untuk menolongnya, ia mengerahkan kembali *lwee-kang*-nya. Saat Cie Kiat sedang menjambak baju gadis pelayan itu, Wang Kouw-nio mengerahkan *lwee-kang*-nya pada lengannya, berusaha membendung dan membuka totokan jalan darah di *po-lo-hiat*-nya. Namun, ia selalu gagal.

Karena begitu gugup dan kesal, ia berteriak keras. Dengan mengerahkan hampir seluruh kepandaiannya, ia mengarahkan *lwee-kang*-nya pada tangan yang lain untuk menyerang rusuk Cie Kiat. Angkin dan ikat pinggangnya terlepas jatuh ke lantai.

Cie Kiat terkejut gadis itu masih bisa menggerakkan tangan lainnya. Biasanya, orang yang jalan darah *po-lo-hiat*-nya dicekal akan lumpuh total. Namun, mungkin karena gadis itu memiliki kepandaian tinggi, ia masih bisa menggerakkan tangannya untuk menyerang dan membebaskan diri dari cekalan Cie Kiat pada *po-lo-hiat*-nya.

Cie Kiat terkejut dan cepat-cepat berusaha mengelak dari hajaran tangan gadis bermarga Wang itu. Jika rusuknya sampai terkena, tentu akan hancur berantakan. Dasar Cie Kiat kosen dan gagah, ia berhasil mengelak dari serangan Wang Kouw-nio sambil tetap mencekal tangan gadis itu. Cekalan Cie Kiat pada jalan darah *po-lo-hiat* gadis itu tidak dilepaskannya.

Gadis bermarga Wang itu sangat penasaran. Dengan mengerahkan seluruh tenaga dalamnya dan mengeluarkan suara bentakan keras, tangannya bergerak lagi. Kali ini, sasarannya adalah biji mata Cie Kiat yang hendak ditotok dan dicungkil. Serangan gadis bermarga Wang itu benar-benar membahayakan.

Kali ini, Cie Kiat tidak bisa mengelak begitu saja. Pemuda bermarga Lie itu tidak bisa terus mencekal jalan darah *po-lo-hiat* Wang Kouw-nio. Jika ia tidak melepaskan cekalannya, matanya yang akan menjadi korban totokan tangan Wang Kouw-nio. Terpaksa, Cie Kiat melepaskan cekalannya pada jalan darah *po-lo-hiat* Wang Kouw-nio. Ia lalu melompat menjauh dari gadis itu.

Begitu *po-lo-hiat*-nya terlepas dari cekalan Cie Kiat, Wang Kouw-nio segera mengambil angkinnya yang tergeletak di lantai. Dengan cepat dan tak terduga, angkinnya meluncur ke arah Oen Lay Tat. Ujung angkin itu melilit *Tat-mo Kiam* yang ada di tangan Kauw-cu Pian-sia-kay itu.

Waktu Oen Lay Tat tersadar atau menyadari terlambat, pedang *Tat-mo Kiam* sudah terlepas dari cekalannya dan terbang menuju Wang Kouw-nio karena gadis itu menarik angkinnya. Oen Lay Tat mengeluarkan seruan tertahan. Begitu pula To-hun Koay-jin, ia berseru kaget.

Lay Tat berusaha menyambar pedang yang melayang ke arah Wang Kouw-nio, tetapi sudah terlambat. Pedang itu jatuh ke tangan gadis bermarga Wang itu dengan sangat cepat. Dengan gusar, Lay Tat menerjang Wang Kouw-nio, tetapi gadis itu dengan cepat melompat ke arah pintu. Dengan beberapa kali lompatan, ia berlari hingga ke bawah sumur. Sekali menjejakkan kaki, tubuhnya melayang keluar dari lubang sumur. Pelayan Wang Kouw-nio, gadis cilik itu, juga melayang keluar dari lubang sumur.

Para jago lainnya, terutama Lay Tat dan To-hun Koay-jin, melakukan pengejaran dengan sekuat tenaga. Mereka berusaha mengejar gadis bermarga Wang itu. Namun, ilmu melayang tubuh Wang Kouw-nio sangat tinggi, begitu pula *gin-kang* pelayannya yang gesit, sehingga Lay Tat, To-hun Koay-jin, dan beberapa jago lainnya yang mengejar tidak dapat segera menyusul keduanya.

Cie Kiat dan beberapa jago lainnya masih berada di dalam ruangan itu. Mereka tidak memiliki keinginan untuk mengikuti perkembangan persoalan itu. Setelah menunggu sesaat dan Oen Lay Tat beserta jago-jago lainnya yang mengejar Wang Kouw-nio masih belum kembali, para jago yang tertinggal saling berpamitan untuk berlalu.

Cie Kiat memang tidak berniat mengikuti persoalan pedang *Tat-mo* itu. Meskipun pedang itu sangat menarik hatinya, pemuda bermarga Lie itu tidak memiliki selera untuk memilikinya. Setelah melihat jago-jago lain berlalu, Cie Kiat ikut berlalu. Ia keluar dari dalam sumur, namun tidak langsung pergi. Ia mengawasi sekeliling tempat itu yang sunyi. Akhirnya, pemuda bermarga Lie itu menghela napas.

"Ah... hanya karena sebatang pedang *Tat-mo Kiam* saja telah menimbulkan banyak korban! Sayang! Sayang sekali! Manusia selalu diliputi hawa kemaruk dan tamaknya!" gumam pemuda bermarga Lie itu. Sambil bersenandung perlahan, Cie Kiat melangkah menghampiri kudanya. Ia melompat naik ke pelana, menarik tali kekang, sehingga kudanya berjalan perlahan meninggalkan tempat itu, menimbulkan suara tapak kaki kuda yang berirama, "plak, plak."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment