Chapter 47
Plok, plak, plok, plak, plok, yang semakin lama jadi semakin perlahan dan samar!
Sungai Tiang-kang dengan gelombangnya.
Pegunungan Tiang-pek-san dengan pohon-pohon siongnya.
Lembah Soegay dengan pohon peknya.
Dan, seorang pendekar dengan pedang di tangan.
Itu adalah sebagian dari sebuah syair yang juga merupakan lagu rakyat yang sedang dibawakan oleh masyarakat di sekitar daerah Ho-lam, sekaligus lagu kebanggaan anak-anak di daerah tersebut.
Syair itu diciptakan oleh Yap Sun Po, seorang penyair yang telah berusia sekitar lima puluh sembilan tahun, berambut putih seluruhnya, dengan wajah segar kemerahan dan murah senyum. Penyair tersebut menetap di Kampung Ciu-ya-chung, di daerah Ho-lam. Adapun keseluruhan syairnya adalah sebagai berikut:
Sungai Tiang-kang dengan gelombangnya.
Pegunungan Tiang-pek-san dengan pohon-pohon siongnya.
Lembah Soegay dengan pohon peknya.
Dan, seorang pendekar dengan pedang di tangan.
Seorang Sio-cia dengan jarum dan benang di tangannya.
Seorang jenderal dengan panji kebesaran berkibar di tangannya.
Dan semua itu menunjukkan sifat dan kebesaran dari umat manusia.
Tak ada yang melebihi segalanya yang ada di dunia.
Tak ada kekurangan pada alam semesta.
Karena seluruhnya indah dan menarik hati.
Kekacauan dan kerusuhan akan lenyap, kalau memang keindahan itu kian cemerlang.
Di antara sungai, pedang, benang, kain sulam, lembah, dan umat manusianya, terdapat sifat yang berlawanan.
Tetapi akhirnya toh bersatu untuk memperoleh keindahan.
Di antara kesuraman, kita memperoleh cahaya.
Di antara kecemerlangan, kita melihat titik hampa.
Maka, manusia adalah manusia, aku adalah aku, si bodoh adalah si bodoh, si botak adalah si botak, dan semuanya itu adalah diri mereka masing-masing.
Pada hari itu, dengan diiringi oleh kacungnya yang berusia sebelas tahun, penyair she Yap itu berada di pinggir tebing di luar Kampung Ciu-ya-chung. Tampak pada senja itu Yap Sun Po sedang menikmati keindahan pemandangan di sekitar tebing dengan tatapan mata yang jauh. Kacungnya berdiri di samping penyair itu, ikut mengawasi keindahan pemandangan di sana.
Penyair itu menghela napas. "A Tauw!" katanya dengan suara perlahan. Dia memanggil nama kacungnya, A Tauw.
"Ya, Lo-sian-seng?" sahut A Tauw cepat. Si kacung menoleh kepada majikannya yang dia panggil dengan sebutan Lo-sian-seng atau Guru Tua.
Yap Sun Po menghela napas lagi tanpa menoleh. Matanya masih tertuju pada pemandangan di sekitar tebing. "Pemandangan ini indah sekali, udara di sekitar sini pun bersih!" kata penyair tua tersebut. "Tetapi manusia selalu mencari kerusuhan. Jika saja mereka bisa menikmati semua ini, tentu mereka akan takut untuk mati," lanjut Yap Sun Po perlahan.
"Benar, Lo-sian-seng!" kata A Tauw cepat. "Sekarang pun aku takut untuk mati!"
Mendengar perkataan murid yang merangkap kacungnya itu, Yap Sun Po tersenyum. "Kau memang terlalu perasa, kau juga tahu mana yang bagus dan mana yang jelek!" kata si penyair tua dengan suara ramah, perlahan, dan sabar. "Tetapi, kau masih terlalu muda sehingga tidak mengetahui kejahatan dan kepalsuan manusia di dunia ini."
Si kacung mengangguk. "Maka dari itu, aku masih membutuhkan bimbingan dari Lo-sian-seng! Dan jika nanti mataku telah terbuka sehingga bisa melihat kebobrokan, kejahatan, serta kepalsuan manusia di atas bumi ini, aku tentu tidak akan melupakan budi dan kebaikan Lo-sian-seng."
Penyair tua itu tersenyum lagi. "Kau masih ingat syair dari Pociu? Pada kalimat ketiga, huruf kedelapan puluh tujuh?"
Si kacung mengangguk. "Ingat!" sahutnya.
"Apa bunyinya?" tanya penyair tua itu lagi.
A Tauw tampak berpikir sebentar, lalu tersenyum. "Mudah! Aku sudah ingat!"
"Bacakan, aku ingin mendengarnya," kata penyair tua itu dengan suara tegas.
"Kebaikan berasal dari kebaikan, Oeoe-hauw, dan segala apa yang kita lakukan di dunia ini akan membawa kebaikan bagi diri kita sendiri!" kata si bocah.
"Bagus!" puji penyair tua itu tanpa menoleh, tetap menikmati pemandangan. "Memang Oeoe-hauw!"
Si kacung tampak puas dipuji; wajahnya berseri-seri. Baru saja ia hendak berbicara lagi, mendadak terdengar suara langkah kaki kuda. Penyair tua dan kacung kecil itu menoleh. Mereka melihat seseorang berpakaian pelajar tengah memacu seekor kuda yang sangat kuat. Pelajar itu tampak berusia sekitar sembilan belas atau dua puluh tahun. Wajahnya tampan dan cara duduknya di pelana menunjukkan kegagahan.
Dalam waktu singkat, pelajar berkuda putih itu telah berada di hadapan penyair tua dan kacungnya. Dengan cepat, si Siu-chay melompat turun dari kudanya dan merangkapkan kedua tangan memberi hormat.
"Lo-sian-seng!" katanya dengan suara sabar dan ramah. "Hak-seng ingin bertanya sedikit, apakah Lo-sian-seng sudi memberitahukannya?"
Penyair tua segera membalas penghormatan anak muda itu. Dia kagum karena anak muda ini sangat sopan, bahkan membahasakan dirinya sebagai Hak-seng yang berarti "si murid"—sebuah sapaan diri yang sangat rendah hati.
"Katakanlah, Kong-cu. Lo-hu pasti akan memberitahukan apa yang Lo-hu tahu," kata penyair itu cepat. "Asalkan bukan persoalan silat atau perkelahian, karena aku si tua ini tidak mengerti."
Si pelajar tersenyum. "Begitu juga dengan Hak-seng," katanya cepat. "Mengenai ilmu silat, Hak-seng tidak mengerti. Karena itu, Hak-seng tidak akan menyinggungnya. Hanya saja, Hak-seng mempunyai satu kesulitan dan ingin meminta pertolongan Lo-sian-seng. Apakah Lo-sian-seng bersedia menolong atau tidak, itu terserah kepada Lo-sian-seng."
Penyair tua itu tersenyum ramah. "Katakanlah, Kong-cu. Selama aku mengetahui persoalannya, pasti akan kubantu sepenuh tenaga dan pengetahuanku."
Anak muda berpakaian serba putih yang menyerupai seorang Siu-chay itu kembali merangkapkan tangan. "Hak-seng sebenarnya ingin menanyakan letak Kampung Ciu-ya-chung," kata si pelajar dengan suara sabar. "Di sana Hak-seng ingin mencari Yap Sun Po Lo-sian-seng, seorang penyair tua yang menetap di sana."
Mendengar perkataan anak muda itu, wajah Yap Sun Po berubah. Cepat-cepat dia merangkapkan tangan. "Jika memang Kong-cu mencari Yap Sun Po, orang itu adalah aku sendiri. Dan, bolehkah aku tahu siapakah Kong-cu sebenarnya serta apa keperluan mencari diriku?"
Mengetahui bahwa lelaki tua berpakaian pelajar di hadapannya adalah orang yang dicarinya, anak muda itu bergegas memberi hormat lagi. "Oh, sungguh rezeki Hak-seng yang bagus!" katanya dengan girang. "Sungguh tidak diduga Hak-seng bisa bertemu Lo-sian-seng di sini!"
Yap Sun Po tersenyum. "Ada keperluan apa Kong-cu mencariku?" tanyanya.
Anak muda itu teringat kembali pada urusannya; tadi saking girangnya, ia seolah melupakan keadaan sekeliling. "Hak-seng she Lie dan bernama Cie Kiat!" kata pelajar muda itu, yang memang adalah Lie Cie Kiat.
"Adapun kedatangan Hak-seng mencari Lo-sian-seng adalah untuk meminta penjelasan mengenai kejadian tiga belas tahun yang lalu di kota Hay-sie-kwan, di mana keluarga Lie telah dibasmi oleh serombongan orang jahat yang hanya disaksikan oleh Lo-sian-seng seorang. Menurut In-su-ku, hanya Lo-sian-seng yang mengetahui siapa yang telah membasmi keluarga Lie dengan kejam."
Mendengar perkataan Lie Cie Kiat, wajah Yap Sun Po berubah hebat. "Kau... apakah kau salah seorang dari keluarga Lie itu?" tanyanya dengan suara gemetar.
Cie Kiat mengangguk. "Ya. Beruntung sekali ketika penjahat-penjahat itu ingin membunuhku, datang In-su yang memberikan pertolongan. Tetapi karena sejak In-su datang para penjahat itu melarikan diri, In-su tidak mengetahui nama maupun julukan mereka. In-su hanya mendapati keluarga itu telah habis dibasmi."
Setelah berkata demikian, Cie Kiat mengawasi Yap Sun Po dengan tatapan mata yang tajam. Yap Sun Po tampak berdiri terpaku, bibirnya agak gemetar.
"Dan menurut guruku, saksi pembunuhan besar-besaran keluarga Lie adalah Yap Sun Po Lo-sian-seng. Karena itu, jika Lo-sian-seng tidak keberatan, Hak-seng ingin sekali mengetahui siapa saja yang telah ikut membasmi keluarga Hak-seng."
Yap Sun Po masih berdiri kaku, memandang dengan tatapan mata yang tampak bimbang.