Chapter 48
Penyair tua itu menoleh kepada kacungnya yang sejak tadi masih berdiri, memandang Cie Kiat dengan tatapan mata kesima.
Setelah menghela napas, akhirnya Yap Sun Po berkata kepada kacungnya itu. "A Tauw, pergilah kau main-main.... Aku ingin bicara sebentar dengan tuan ini!" A Tauw, kacung penyair tua itu, mengangguk dengan cepat. Ia berlalu setelah memandang Cie Kiat sekali lagi.
Cie Kiat melontarkan seulas senyum kepada kacung penyair tua itu.
Setelah kacungnya itu berlalu, Yap Sun Po menunjuk ke arah sebuah pohon yang tumbuh rindang di dekat tempat itu. "Mari kita duduk-duduk di situ... Aku akan menceritakan semua peristiwa yang kuketahui ini kepadamu!" Kata Yap Sun Po dengan suara perlahan, kemudian ia menuju ke pohon itu dengan cepat. Cie Kiat mengikutinya di belakang.
Mereka duduk di bawah pohon itu. Yap Sun Po tidak lantas bercerita, ia menghela napas dulu, setelah itu barulah bercerita.
Cerita yang diceritakan oleh kakek Yap Sun Po ini mengenai riwayat keluarga Lie yang dibasmi oleh serombongan penjahat. Yang lebih hebat lagi, keluarga Lie yang terbasmi itu adalah keluarga Lie Cie Kiat!
Menurut apa yang diceritakan oleh kakek Yap Sun Po, pembunuh seluruh keluarga Lie sekeluarga itu adalah para penjahat yang bergabung menjadi satu. Para penjahat itu berasal dari berbagai golongan, dan umumnya mereka rata-rata memang setiap hari melakukan kejahatan, terjun di dalam rimba hijau, di dalam kalangan Liok-lim. Dengan sendirinya, mereka juga mempunyai kepandaian yang cukup tinggi.
Pada saat itu, yang menjadi kepala keluarga Lie adalah Lie Foe Thay. Ia merupakan seorang jago yang kepandaiannya luar biasa sekali. Karena kepandaiannya yang begitu tinggi, ia sering melakukan kebaikan, menolong kaum lemah dan membasmi kejahatan. Namun, dengan jalan hidupnya yang demikian, akhirnya perlahan-lahan Lie Foe Thay mempunyai banyak musuh.
Tahun demi tahun Foe Thay selalu dapat menghadapi musuh-musuh yang mendatangi dan menyatroni dirinya. Semua itu disebabkan Foe Thay mempunyai kepandaian yang tinggi sekali. Namun, lama-kelamaan, usia Foe Thay semakin tua dan dengan sendirinya semangat serta tenaganya berkurang.
Dengan tidak terduga, ketika Lie Foe Thay berusia lima puluh enam tahun, para penjahat yang merasa sakit hati padanya itu telah bekerja sama, bersatu, dan menyerbu untuk membalas sakit hati Lie Foe Thay. Mereka juga telah membasmi dan membakar seluruh gedung keluarga Lie.
Hanya saja, secara kebetulan, seorang pendekar bertangan tunggal lewat di tempat tersebut. Ia melihat ada beberapa penjahat yang sedang mengayunkan tangan mereka untuk membanting seorang anak kecil berusia di antara lima tahun. Pendekar bertangan tunggal itu dengan cepat telah turun tangan untuk menolongnya. Anak kecil itu ditolongnya, dan bocah cilik tersebut ternyata adalah Lie Cie Kiat!
Lie Foe Thay dan keturunannya sekeluarga telah dihancurkan, dibasmi, dan dibunuh oleh para penjahat yang telah bergabung menjadi satu itu. Pendekar bertangan tunggal itu sangat gusar sekali melihat kejadian tersebut. Dengan cepat ia telah membunuh beberapa penjahat yang tadi akan membanting hingga binasa bocah Cie Kiat. Setelah itu, pendekar bertangan tunggal yang tidak dikenal namanya itu mencari penjahat lainnya untuk melabrak mereka.
Namun, para penjahat lainnya telah menghilang. Mereka semuanya telah meninggalkan puing-puing kehancuran bangunan gedung keluarga Lie tersebut. Pendekar bertangan tunggal tersebut menjadi mendongkol dan sangat murka. Kebetulan, tanpa disengaja ia melihat seseorang sedang berdiri dan mengawasi gedung keluarga Lie yang telah menjadi puing-puing.
Pendekar bertangan tunggal tersebut menghampiri orang itu, dan ternyata orang tersebut adalah penyair Yap Sun Po yang namanya sudah terkenal di dalam kalangan sastra Tiongkok. Dengan cepat, pendekar bertangan tunggal itu menanyakan apakah penyair bermarga Yap tersebut telah melihat penjahat-penjahat yang membunuh seluruh keluarga Lie, dan penyair itu mengatakan bahwa ia tidak mengenal mereka, para penjahat itu. Ia hanya menyerahkan sejilid buku kepada pendekar bertangan tunggal itu.
"Di dalam buku ini tercatat nama-nama orang yang ikut bergabung untuk membasmi keluarga Lie. Mungkin, waktu mereka mengadakan pertemuan, masing-masing telah mencatat diri mereka di dalam buku ini agar nanti saling mengenal," katanya.
Pendekar bertangan tunggal itu mengangguk. Ia melihat buku itu, kemudian menyerahkan buku itu kepada Yap Sun Po. "Buku ini dipegang saja oleh Anda. Nanti, kalau anak ini telah dewasa dan ia telah memiliki kepandaian, aku akan memerintahkannya untuk mencari Anda guna mengambil buku itu supaya ia dapat mengetahui nama-nama musuh besarnya!"
Yap Sun Po mengiyakan. "Begitu juga boleh... Dan kalau ia mencariku, pergi saja ke Ciu-ya-chung, karena aku akan menetap di sana," kata Yap Sun Po.
Kemudian mereka berpisah. Pendekar bertangan tunggal itu, yang mempunyai kepandaian sangat tinggi dan juga merupakan seorang tokoh di dalam rimba persilatan, telah membawa Lie Cie Kiat, bocah malang itu. Ia bermaksud akan mendidiknya agar bocah itu nantinya memiliki kepandaian yang sangat tinggi!
"Dan sekarang ternyata kau telah dewasa dan benar-benar mencariku!" Kata Yap Sun Po sambil tersenyum. "Tentunya gurumu yang telah memerintahkan kepadamu agar mencariku untuk mengambil buku berisi nama-nama penjahat yang telah membunuh seluruh keluargamu itu!"
Cie Kiat mengangguk. "Benar, Loo-sian-seng!" Kata anak muda bermarga Lie ini dengan suara yang tetap. "Memang In-su yang telah memerintahkan Hak-seng untuk pergi mencari Loo-sian-seng guna mengambil buku catatan tentang penjahat-penjahat yang telah membunuh seluruh keluargaku itu, agar Hak-seng dapat juga membalas sakit hati dan penasaran dari ayah, ibu, dan anggota keluargaku lainnya!"
Yap Sun Po memandangi anak muda bermarga Lie ini dengan tatapan mata tajam, ia seolah sedang meneliti wajah Cie Kiat. Akhirnya penyair tua ini mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya, ya, memang kau sebagai keturunan tunggal keluarga Lie yang telah musnah itu, harus benar-benar dapat membalaskan sakit hati keluargamu. Tetapi... aku takut di dalam dunia persilatan akan timbul pergolakan yang sangat hebat, karena akan banyak sekali korban berjatuhan akibat dendammu!" Kata Yap Sun Po dengan suara perlahan.
Cie Kiat tersentak mendengar perkataan penyair tua tersebut. Ia lalu memandang Yap Sun Po. Namun, kemudian anak muda bermarga Lie ini menghela napas dalam-dalam. "Memang hal itu telah dipikirkan oleh Hak-seng dan seharusnya dendam serta sakit hati seorang manusia yang terpendam di hatinya harus diusahakan untuk dilenyapkan. Tetapi... berhubung sakit hati itu terlalu besar, terlampau berat, dan terlalu mendalam, yang telah menyebabkan musnahnya satu keluargaku, keluarga Lie, maka dari itu, mau tidak mau, Hak-seng harus menuntut semua dendam itu! Biar di dalam kalangan Kang-ouw terjadi suatu pergolakan yang hebat di antara para jago lainnya, namun bagaimanapun juga, Hak-seng tetap harus melaksanakan pembalasan dendam atas terbunuhnya seluruh keluarganya."
Yap Sun Po mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali, membenarkan perkataan Cie Kiat. "Perkataanmu itu memang benar!" Katanya. "Tetapi kau harus ingat, pada siapa kau harus menumpahkan dendammu itu! Kalau memang seandainya kau masih bisa memberi pengampunan kepada musuhmu itu, maka berikanlah pengampunanmu itu!"
Cie Kiat mengiyakan. "Terima kasih atas nasihat-nasihat Loo-sian-seng!" Kata Cie Kiat dengan cepat. "Dan memang benar perkataan Loo-sian-seng. Pada musuh-musuh Hak-seng yang masih bisa diberi pengampunan, Hak-seng akan mengusahakan untuk memberikan jalan hidup kepada mereka! Tetapi bagi mereka yang memang memegang peranan di dalam pembunuhan keluarganya, maka dengan sendirinya kematian adalah bagian mereka."
"Itu sudah jelas!" Kata Yap Sun Po dengan cepat. "Dan aku mengucapkan syukur bahwa kau masih bisa mempertimbangkan antara yang salah dan yang benar, sehingga aku tidak perlu mengkhawatirkan lagi bahwa kau akan melakukan pembunuhan secara sembarangan! Aku yakin bahwa kau telah memiliki kepandaian yang sangat tinggi di bawah bimbingan dan gemblengan gurumu!"
Cie Kiat tersenyum. "Mengenai soal itu, Loo-sian-seng jangan mengkhawatirkan, karena bagaimanapun juga Hak-seng telah dididik oleh In-su untuk mengambil jalan kebenaran! Mengenai buku nama-nama para penjahat yang telah membunuh keluargaku itu, apakah bisa Hak-seng ambil sekarang?"
Yap Sun Po tersenyum, ia merogoh saku jubah yang dikenakannya itu dan berkata. "Buku catatan nama-nama musuhmu itu memang selalu kubawa ke mana saja aku pergi... Maka dari itu, kau bisa mengambilnya sekarang juga!"
Yap Sun Po mengeluarkan sejilid buku kecil, diangsurkannya buku kecil itu kepada Cie Kiat. Anak muda bermarga Lie tersebut menerimanya. Wajahnya berubah-ubah, sebentar sedih, sesaat kemudian memperlihatkan kegusarannya, sebentar lagi memperlihatkan rasa duka dan amarah yang sangat mendalam.
Yap Sun Po hanya berdiam diri saja. Setelah melihat-lihat halaman-halaman buku itu, yang tertulis puluhan nama orang yang telah menjadi pembunuh keluarganya, Cie Kiat menutup kembali buku itu. Barulah setelah itu Cie Kiat merangkapkan kedua tangannya, menjurah kepada Yap Sun Po.
"Terima kasih atas bantuan Loo-sian-seng yang telah bertahun-tahun menyimpankan buku ini!" Kata Cie Kiat dengan suara penuh terima kasih. "Dan mudah-mudahan memang Hak-seng bisa membendung perasaan dan bergolaknya dendam yang selama ini terpendam di dalam hatinya."