Chapter 49
Hak-seng hanya akan memilih beberapa orang terpenting di antara penjahat tersebut untuk dibunuh secara jantan. Ia akan mengajak mereka bertempur satu lawan satu, atau jika mereka mau, mereka boleh maju sekaligus.
"Hak-seng kira Hak-seng masih bisa menghadapi mereka!" Setelah berkata begitu, Cie Kiat merangkapkan tangannya dan berpamitan sambil menjurah memberi hormat kepada penyair tua bermarga Yap tersebut.
Kemudian dengan gesit, ia melompat ke atas kudanya. Dalam waktu yang sangat singkat, ia telah lenyap dari pandangan Yap Sun Po.
Penyair tua bermarga Yap itu memandangi kepergian pemuda bermarga Lie tersebut dengan mata tak berkedip. Kemudian dia menghela napas.
"Ah... badai dan topan akan muncul di dalam dunia persilatan. Akan terjadi pergolakan di antara jago silat, dan darah akan membanjiri dunia persilatan, dunia Kang-ouw!" Penyair tua itu pun menggumamkan sebuah syair, sementara A Tauw, pelayannya, datang menghampiri.
Cie Kiat sebenarnya diperintahkan oleh gurunya untuk mencari Yap Sun Po, satu-satunya orang yang memegang buku catatan berisi daftar nama penjahat yang telah mengeroyok dan membasmi keluarga Lie.
Dalam perjalanannya mencari Yap Sun Po, ia telah mengalami berbagai peristiwa. Ia bertemu dengan Oen Lay Tat dan jago silat lainnya, bertemu dengan Wang Kouw-nio, serta menghadapi persoalan Tat-mo Kiam. Setelah melewati semua itu, akhirnya ia dapat menemui Yap Sun Po.
Setelah memperoleh buku catatan nama para penjahat yang membasmi keluarganya belasan tahun silam, ia kini memiliki petunjuk untuk menuntut balas. Dugaan Yap Sun Po benar belaka; sejak Cie Kiat memegang buku tersebut, berbagai peristiwa hebat mulai bermunculan. Dunia persilatan akan terguncang oleh peristiwa luar biasa yang membuat para jagoan terperangah, kaget, dan ngeri.
Cie Kiat segera memacu kudanya dengan pesat. Hatinya diliputi keinginan untuk segera melampiaskan dendam terhadap para musuhnya. Peristiwa pertama dari keguncangan yang akan timbul di dunia persilatan muncul di Kota Sung-lay-kwan, di mana terjadi suatu peristiwa berdarah yang menggemparkan.
Sung-lay-kwan merupakan kota yang cukup besar dan padat penduduknya. Kota ini terkenal dengan hasil araknya yang bisa menyaingi arak Hong-ciu. Di kota tersebut hidup seorang jagoan tua bermarga Bie yang bernama She Gauw. Jagoan ini memiliki kepandaian tinggi; semasa mudanya, dia pernah merajai dunia Kang-ouw. Namun, karena usianya yang semakin senja, dia memutuskan untuk hidup tenteram.
Untuk menghabiskan hari tuanya, dia menerima tiga orang murid untuk mewarisi kepandaian silatnya karena dia tidak memiliki keturunan. Ia ingin ilmunya tidak lenyap terbawa ke kubur. Ketiga murid itu adalah anak-anak yang cerdas, sebab She Gauw selalu menyeleksi muridnya dengan ketat. Meski orang luar tahu dia menerima puluhan murid, hanya tiga orang yang benar-benar menjadi muridnya karena mereka dididik di luar jam latihan murid-murid lainnya.
Pang Tiang Ho (She Gauw) hidup cukup tenteram dari uang latihan murid-muridnya. Namun, pada suatu hari, seorang pelayan keluarga Pang berlari dengan wajah pucat dan tubuh menggigil. Ia mengetuk pintu kamar nyonya Pang (Pang Hu-jin).
"Pang Thay-thay... Pang Thay-thay!" teriak pelayan itu dengan suara gemetar.
Nyonya Pang membuka pintu dengan perasaan tidak senang karena terkejut oleh sikap pelayan yang panik. "Ada apa?" tanyanya.
Pelayan itu menunjuk ke arah taman dengan suara tergugu. "Pang Toa-ya... oh... di taman itu..." Kakinya lemas hingga ia jatuh terduduk.
Pang Thay-thay merasa bingung dan heran melihat kelakuan A Bong, pelayannya. "Ada apa dengan Pang Toa-ya?" tanyanya lagi. Namun, pelayan itu tidak mampu melanjutkan perkataannya.
Karena penasaran, Pang Thay-thay bergegas menuju taman. Pelayan itu masih terduduk lemas. Begitu sampai di taman, nyonya Pang memandang sekeliling, namun tidak melihat sesuatu yang aneh. Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah benda yang tergantung di atas pohon.
Jantungnya berdesir hebat. Itu adalah sesosok tubuh yang tergantung tak bernyawa. Mayat itu mendelik lebar ke arahnya dengan lidah terjulur keluar, lehernya terikat seutas tambang. Pang Thay-thay melompat ke belakang dengan jeritan tertahan.
"Oh... apa ini... mengapa bisa terjadi begini?" keluhnya dengan lutut lemas. Saat menyadari bahwa mayat yang menggantung itu adalah suaminya sendiri, Pang Tiang Ho, nyonya Pang berteriak histeris dan jatuh pingsan.
Waktu berlalu hingga menjelang tengah hari, nyonya Pang masih tak sadarkan diri di taman. Mayat Pang Tiang Ho yang menggantung dengan wajah berubah kuning kehijauan tampak sangat menyeramkan, bergoyang-goyang tertiup angin kecil tepat di atas tubuh istrinya yang pingsan.
Ketika Pang Thay-thay akhirnya sadar, ia memandang sekeliling dan teringat akan peristiwa yang dilihatnya. Ia kembali menjerit dan menangis keras. Melihat mayat suaminya yang masih tergantung dengan mata mendelik seolah memandangnya, ia kembali histeris.
Tidak lama kemudian, murid-murid Pang Tiang Ho berdatangan untuk berlatih. Mereka terkejut melihat keadaan guru mereka yang tewas tergantung. Ciu Wie Siang, murid tertua, segera menghampiri su-bo-nya dan menanyakan mengapa guru mereka bisa mengalami hal itu. Pang Thay-thay hanya bisa menangis tersedu-sedu karena ia pun tidak mengetahui alasan suaminya tewas dengan cara yang mengenaskan.